Author: Ummul Khairi
•Wednesday, May 25, 2011

Untuk kamu yang merasa tersisih dari lingkar pertemanan, asing sendiri saat yang lain tergelak riang, kamu yang berpikir telah dilupakan, dipinggirkan bahkan dalam nuansa candaan, baiknya berdialoglah dengan diri sekali kali;

Ada berapa panggilan yang kau abaikan? Berapa pesan dengan sengaja kau diamkan? Berapa sapaan yang kau jawab dengan keluhan? Sampai-sampai mereka mengira, mendatangimu hanya bikin kau beban.

Mereka tidak menepikanmu. Tapi kau bergerak terus ke tepi. Hingga tangan mereka tak kuasa lagi menepuk kau punya pundak.

Dunia yang kau bangun adalah asing. Tampak beda dengan dunia mereka. Dan, mereka tak menutup bagianmu dalam dunianya, kecuali kamu yang lupa menyediakan ruang untuk mereka dalam duniamu.

-Anonimous- More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Sunday, May 08, 2011

Sahabatku, dengan juntaian kata-kata ini kukirim sebuah senja untukmu. Agar kamu tahu, bahwa seberat apapun dunia meminta abdiku, aku masih ingat kamu, sederhanamu dan jiwa besarmu. Hari ini, aku melihat lagi pantai yang indah, walau tak sampai senja, walau tak ada jeda, walau bukan di tempat yang paling tinggi, aku hanya ingin berkata, aku ingat kamu, selalu dan selamanya.

Hari ini, semua sesak pada malam lalu hilang, karena hari ini aku banyak belajar tentang kejujuran. Mungkin setiap hari banyak sekali kebohongan yang di butakan oleh hati, mungkin juga karena terlalu banyak sampah yang membusuk di relung ini, mungkin itulah mengapa sinarmu selalu tertutupi. Padahal aku hanya butuh mengerti dan mencoba paham tentang yang kurasa atau setidaknya aku jujur dengan apa yang kurasa.

Langit cukup mendung, tapi sejenak kemudian semuanya tersapu awan yang bersih, jernih tanpa ada penghalang serupa belenggu. Ku pikir, perlu sedikit berjalan melintasi pasir-pasir disana. Aku menolak untuk duduk tenang. Bahkan aku tak punya alasan untuk berleha-leha sejenak. Mereka para pujangga selalu berkata, setiap sebuah perjalanan melahirkan cinta dan kedekatan padaNya. Tak ada salahnya aku coba. Jika saja aku punya mesin waktu, aku pasti akan menghadirkan senja secepat kidung awan kelabu membaluti putih awan disebelah selatan sana. Tak ada burung bangau yang kusuka melintas di kepala. Tak ada matahari. Sudah pasti tak ada rembulan karena senja masih gegas melomba waktu. Hanya ada aku sendiri berjalan di antara pasir-pasir dan tawa mereka. Juga ada sedikit ombak yang dicumbu angin.

Sahabatku yang manis, sering aku berkata, aku sangat menyukai tempat-tempat tertinggi. Bahkan sudah terhitung dua kali kita kesana, ke rumah di atas bukit. Aku dan kamu sama-sama melihat senja dengan mata tak berkedip. Sungguh indah. Dan, kita masih saja tak mau beranjak dari dudukan komidi putar itu. Ah..sebenarnya aku yang enggan melangkahkan kaki. Rasanya aku ingin selamanya berada disana dan tak ingin kembali ke kota Banda yang penuh sesak. Kamu selalu saja memutarkan kemudinya lagi dan lagi. Aku seperti anak ingusan yang sering kita lihat menaiki ayunan. Aku tak peduli, sahabatku sayang. Aku hanya ingin kemudi itu kita berdua saja yang punya. Biar mereka tau, terkadang kita semua butuh untuk tidak menjadi dewasa sesekali. Ego-ego yang kita bawa seringkali meruntuhkan segala kebebasan. Dan, aku benar-benar bisa melepaskan segala ego hanya di depanmu saja.

Katanya kamu ingin menangkap angin untukku. Aku selalu tertawa. Mana mungkin bisa, sahabatku yang lucu. Angin tak punya kemudi seolah komidi putar yang kita naiki. Biarkan saja, biarkan ia terbang sekehendak hatinya. Karena angin tidak terkungkung. Walau aku suka suara angin dan gemericik air, tapi aku tak ingin mereka menjadi milikku, karena tanpa mereka dunia akan mati. Cukup aku menghabiskan waktu berdua saja denganmu ketika senja. Ya, berdua saja. Kau dan aku. Sewaktu bangau-bangau pulang ke utara, kau berjanji akan menemaniku melihat kota Banda dari puncak sana. Kau berjanji ingin memperlihatkan kota kita seperti lilin-lilin yang tunduk pada sendu. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, betapa kota kita tak ada artinya. Segala kesombongan telah dipagar oleh sunyinya malam. Dan, kau ingin memberinya untukku lagi? Sudahlah sahabatku yang baik, aku hanya ingin senja saja. Tak lebih.

Aku masih disini sahabatku. Masih di pantai yang kucerita tadi. Masih dengan kidung awan yang menggelegar. Masih tanpa matahari. Masih belum muncul juga sinar rembulan yang tidak menusuk mata. Masih mengingat kamu yang sibuk menghadapi orang banyak. Harusnya hari ini pantai ramai. Ah..mungkin mereka takut tubuh-tubuh mereka terkena hujan dan jatuh sakit. Aku bahkan tidak peduli dengan tubuh lemahku yang tak kebal dingin. Biarkan saja. Karena ketika aku sudah tak lagi disini, tubuhku juga tidak akan bergerak selamanya. Mungkin aku perlu berjalan lebih jauh, agar suara-suara mereka tak menghalangi niatku untuk bermain pasir hari ini.

Sahabatku yang manis, sahabatku yang lucu dan menggemaskan, aku berjalan tanpa beralas tapak. Membenamkan sejenak kakiku kedalam pasir yang baru saja disapu ombak kecil. Ada beberapa terumbu yang terbawa air pasang. Juga ada bambu-bambu basah yang entah dari mana muasalnya. Aku ingin membuat sebuah istana dari pasir. Apalah arti kekokohannya. Karena sebentar lagi juga akan dimakan angin dan digerus air. Jika ada kamu disini, kamu pasti akan tertawa dan mengatakan aku seperti anak kecil. Lalu kamu akan membantu untuk membuatkan istana itu. Dan, kamu suka sekali mencandai ku sembari berkata, ini istana untuk sang putri, semoga putri hidup bahagia bersama pangeran. Sahabatku sayang, kau memang tau cara yang paling tepat untuk mengokohkan pikiranku yang kacau. Itulah mengapa aku tak peduli akan kekokohan istana pasir, karena aku tau kau selalu bersamaku untuk kembali menguatkan ketika aku lemah, ketika aku menangis, ketika aku butuh tau kenapa kau ada untukku.

Duhai, masihkah sibuk engakau disana? Masihkah aku boleh menghubungimu untuk sekedar menanya kabarmu hari ini? Sudahkah engkau makan siang tadi? Aku takut mengganggumu. Aku bahkan terlalu takut kehilanganmu. Sahabatku yang tak jengah mendengarkan, aku masih di sini. Duduk beralas pasir bersama istana pasirku. Aku ingin kamu disini. Jangan lupa selesai kamu memberi abdi pada dunia, kita akan bersama lagi. Walau sebentar saja, tapi tak apa. Aku bahagia.

Coba kamu lihat sahabatku sayang, awan sudah jernih. Tak ada lagi belenggu. Matahari juga sudah muncul. Hari ini sungguh istimewa. Meski aku tak bisa melihat senja dari sini, tapi nanti suatu hari ketika kita menginggalkan segala ego-ego yang menguap di kepala, kita akan melihat senja dari bukit tertinggi di kota kita. Ya kita, kau dan aku saja. Bersama arakan kapas putih di atas kepala, kukirim senja untukmu dari sudut hati yang paling rindu untuk bertemu denganmu lagi.

Banda Aceh, May 8th 2011. 00.10 am

More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, May 03, 2011

No body is perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Sekalipun dunia mengelukan ia orang yang paling baik. Sesekali pasti pernah berbelok, sesekali pernah untuk tidak bergerak, sesekali malas untuk bersikap wajar. Sebenarnya hati selalu memacu untuk terus melecutkan diri pada kebaikan. Karena hati manusia pasti akan lebih condong melihat dan merespon kebaikan, keindahan dan ketenangan. Mungkin sehari-hari bisa bersikap sewajarnya manusia berinteraksi dengan yang lain tanpa mengkalkulasikan sebab akibatnya. Ketika bergurau, kadang ada yang tersakiti meski tak ada satupun maksud hati untuk menyakiti. Lalu, kapan hati bisa mencapai kestabilan? Sedikit matematis, kestabilan sebuah kurva bukan ketika kurva tersebut monoton atau katakanlah linier pada satu titik. Kestabilan berarti satu titik yang tetap pada standarnya. Sekalipun titik-titik tersebut naik-turun, namun titik-titik tersebut tidak turun ekstrim atau merosot turun hingga standar terendah. Semoga hati-hati kita tetap seperti itu. Terjaga awal dan akhirnya.


Standar seperti apa yang seharusnya dipertahankan agar selalu stabil? Well, sebenarnya setiap manusia punya satu standar tersendiri untuk jadi sandaran berpijak. Satu standar tersebut yang akan menjadi titik awal ketika memulai dan mengakhiri sesuatu. Punya kertas dan pena, kan? Sekarang ambil selembar saja. Tidak perlu banyak. Tuliskan sesuatu yang menjadi satu standar, minimal untuk hari ini. Tuliskan agenda hari ini.


Jika ingin bersilaturahmi dengan teman-teman dimana saja, tuliskan juga alasan kenapa harus bertemu mereka. Ketika belajar menerima sesuatu, tuliskan kenapa hati dan pikiran harus lapang untuk tidak mengingkari sesuatu. Ketika melihat seorang tua berjalan tongkat, tuliskan kenapa harus membantunya. Ketika melihat kuntum bunga indah ditaman, tuliskan kenapa untuk tidak memetiknya. Ketika melihat seorang pencopet, tuliskan kenapa harus mengejar pencopet itu. Ketika melihat beberapa sampah di depan mata, tuliskan kenapa kita harus memungutnya. Ketika mencintainya, tuliskan seberapa banyak yang harus kau berikan bukan menerima. Ketika berbohong, tuliskan kenapa harus meminta maaf. Ketika membuatnya menangis, tuliskan kenapa harus mendiamkannya atau membiarkan sesaat meluapkan segala. Saat dunia penuh dengan ketidaksesuaian visi dan misi, tuliskan kenapa harus merenung untuk sejenak menarik diri dari miniatur dunia. Tuliskan kenapa kadang ingin untuk memanjat tebit-tebing tinggi. Tuliskan kenapa harus berteriak mengeluarkan kepahitan. Tuliskan kenapa kadang jalan yang diambil selalu bercabang. Tuliskan semuanya untuk dikeluarkan bersama jawaban. Jawaban yang tidak membutuhkan suatu hitung-hitungan matematis. Suatu jawaban yang tidak linier. Jawaban yang hanya kita masing-masing yang tau.


Kumpulkan jawaban itu di selembar kertas saja. Simpan semua kesalahan dalam sebuah kotak yang terjaga. Jangan pernah menghancurkannya sekalipun sesak menganga. Simpan agar ketika tua, kita bisa membukanya. Simpan agar kita ingat bahwa setiap diri punya kelebihan kekurangan. Simpan agar kita ingat bahwa setiap diri punya kebaikan juga keburukan. Karena, manusia tidak pernah mencapai kesempurnaan. Maka lakukan yang terbaik semampumu tanpa melupakan untuk terus selalu memperbaiki diri.

More...

Links to this post