Author: Ummul Khairi
•Thursday, March 22, 2012

Rata-rata orang jika disuruh menuliskan tentang diri pasti sulit sekali menarasikannya. Mendeskripsikan diri sendiri itu harus mengkhayalkan satu persatu tahapan hidup yang sudah dilewati. Dapat tugas dari Bang Fahri untuk mendeskripsikan diri melalui Versatile Award yang saya dapat beberapa waktu lalu, dan 7 hal ini rangkumannya.

1. Saya adalah orang yang menyelesaikan masalah di dalam kepala. Entah karena lingkungan yang selalu menuntut menganalisa menggunakan otak kiri atau karena kurang bisa berbagi. Me-time adalah waktu dimana semua beban dan solusi bisa dipecahkan secara bersamaan. Mungkin itulah mengapa saya tak bisa lepas dari diary dan cenderung melankolis dalam mengambil sikap.

2. Masih berhubungan dengan yang pertama, adik perempuan saya adalah satu-satunya orang yang bisa saya percayai untuk mengendapkan banyak cerita. Ia adalah sosok orang dewasa dalam perangkap anak kecil berumur 10 tahun. Itulah mengapa saya selalu bisa mempercayainya, Lala.

3. Kepala. Satu bagian tubuh yang terletak diatas bagian tubuh lainnya. Tuhan menciptakannya bukan tanpa sebab. Kepala Tuhan cipta agar manusia selalu mengandalkan logika untuk membaca ayat-ayat Tuhan yang tersirat dan tersurat. Untuk itulah saya butuh seorang bijak yang mampu mengimbangi ke-melankolisan ini dengan ke-logikaannya. Confuse? :D

4. Jika suatu saat nanti saya mendapat 'jatah' syurga, saya akan meminta pada Tuhan untuk diberikan sepasang sayap. Sayap melambangkan kebebasan. Jika selama ini ada jiwa yang terkungkung dalam jasad ini, saya tidak akan berhenti meneriakkan hingga seluruh beban terburai lepas.

5. Phobia darah, suka makanan manis, anime and arc addicted, lebih suka membaca buku-buku filosofis dan sejarah dari pada matematika. Hmm, segitu dulu.

6. Saya adalah anak perempuan yang dibesarkan dengan didikan ala Ayah. Sejak kecil ketika di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah selalu dijemput dengannya dengan skala keterlambatan yang cukup parah, tapi karena selalu terlambat Ayah mengajak saya duduk di warung kopi dengan teman-teman kantornya, yang tak lain adalah ayah-ayah paruh baya yang gemar minum kopi. Sedang saya, selalu bermain dibawah pohon ceri untuk mengusir penat selama mereka menyuruput pekatnya kopi. Ayah adalah pustaka pertama saya dalam membaca Al-Quran juga Ilmu Fiqh. Butuh beberapa tahun untuk 'mengenalnya' menjadi sosok yang saya kagumi. Untuk itu, lelaki yang akan menjadi imam saya kelak harus bisa mengambil hati Ayah.

7. Terakhir, saya bukan orang yang mudah memaafkan kekecewaan. Dengan kata lain saya sulit memaafkan orang yang telah membuat saya kecewa. Jeleknya, hanya dengan satu perspektif masalah, yang lainnya pun ikut terlibat. Sering kali hal ini yang menyebabkan saya menjaga jarak dengan seseorang tanpa mengkonfirmasi sebab-akibat. Inilah hal yang membuat orang banyak salah paham. Jika ingin membela diri, saya menjaga jarak karena sebenarnya saya tak mampu mengontrol diri.

Baiklah. Saatnya meneruskan tugas rumah. Maaf hanya bisa meneruskan ke-7 orang saja. Untuk teman-teman yang saya sebut, jangan bosan diberi tugas berantai ya :D

More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, March 03, 2012



Semua yang berlaku dalam batik fraktal ini menggunakan science dan teknologi. Karena saya bergelut dibidang matematika dengan fokus computer science serta penyuka seni, maka jika jempol saya punya seribu, saya akan acungkan semunya. Its amazing! Mathematics turns art. Adalah sekelompok anak muda yang memiliki latar belakang berbeda membuat karya yang luar biasa. Sekelompok anak muda yang berlatar belakang Matematika, Arsitektur dan Komunikasi menciptakan sesuatu yang baru dan satu-satunya di dunia, batik fraktal.

Mereka menciptakan sebuah software yang mampu mendesain seni batik dengan rumus matematika. Selama saya belajar di kuliah, ada beberapa mata kuliah pilihan komputasi yang saya ambil. Dan, mengekstrak apa yang kita inginkan menjadi bahasa komputer terbilang rumit. Butuh kerja ekstra dan logika. Ingin mengatakan A, butuh coding bahkan lebih dari 5 baris. Ingin mencetak A, kita harus tau ingin mencetaknya seperti apa. Ah, code itu surga sekaligus neraka. Dan, matematika itu adalah coklat dalam kue tart.

*lebih jelas tentang batik fraktal, bisa dibuka disini. More...

Author: Ummul Khairi
•Monday, December 12, 2011

Malam ini saya excited. Karena baru saja menemukan "the matter" untuk proyek akhir. Dan, taukah? Saya menemukannya ketika menonton animasi kesukaan, Naruto. Beberapa bulan kebelakang saya sering melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Hasilnya memang tidak sepadan ketika saya melakukan satu hal dengan fokus. Tapi entah kenapa, saya begitu takut membuang waktu, hingga tadi sore saya kembali menemukan "jiwa" itu. Jiwa yang kembali bersemangat untuk melakukan semuanya lagi. Melalui sitenya Marion yang saya dapat secara tidak sengaja, saya ingin sekali menulis ini. Tentang rasa terima kasih yang saya dapatkan selama ini. Tentu saja, Tuhan menempati posisi pertama. Thank's Allah.

Pada setiap senja yang terbenam dengan jingganya, juga awan, hujan, bintang-bintang dan semua goresan alam Allah yang tidak bisa saya sebut satu-persatu.

Teman-teman. Jika mereka tidak ada, saya mungkin tidak bisa "hidup" dengan bahagia.

Tugas Akhir saya. Walau begitu "kejam" terlihat, tapi saya banyak belajar untuk lebih disiplin.
Ayah, ayah dan ayah.
Dia.

Its kind of silly, my motorcycle.
Semua buku-buku yang minta dibaca ulang.

Saya rindu dedek, tapi syukur ada laptop Lab GIS yang sangat setia untuk tidak saya install antivirus sejak februari lalu. Ups!

Semua orang-orang dalam lingkaran hidup. Mereka benar-benar guru terbaik.

Oh my, i can't life without music!
Kalau dipikir-pikir, banyak sekali hal yang patut disyukuri. Dan, kenyataannya, kebahagiaan itu bukan seberapa besar yang kita dapatkan tapi seberapa berartinya kebahagiaan itu walau hanya hal-hal kecil sekalipun. Anyway, semoga "the matter" itu bisa saya develop lagi dan diterima. Amin.

More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, November 08, 2011

Orang-orang di sekitar kita pasti bertanya kapan dan mengapa.

"Kapan kamu masuk sekolah?", "Kapan kamu kuliah?", "Kapan kamu selesai skripsinya?", "Kapan kamu nikah?", "Kapan kamu kerja?", "Kapan kamu punya anak?", kapan si kakak punya adik? atau
"Kok lama banget sih ngerjain skripsinya? main aja ya kerjanya?"

semua pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Huff...

Sah-sah saja sih. Mungkin pengalaman belum mengajarkan mereka bahwa kadang ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Seperti perihal di atas itu. Ah, jujur saja, saya mulai terganggu. Mungkin itu salah satu sebabnya saya membuat sekat-sekat yang tidak perlu di lalui semua orang dalam hidup saya. Cukup saya saja yang tau dan biarkan waktu yang memulihkan segalanya. Bukan bermaksud untuk menghindar, tapi hanya perlu privacy agar perbandingan jarak yang boleh di lalui orang-orang mampu saya kontrol dengan baik. Semoga tidak menjadi ke-ambiguan.

Saat ini, tepatnya semester akhir ini, di saat yang sama saya mengambil mata kuliah, tugas akhir, mengajar 2 kelas mahasiswa dan membimbing adik-adik kelas untuk memperlanjar bacaan iqranya, adalah waktu yang paling urgent untuk saya lalui dengan agenda yang bermanfaat. Sering kali jika saya mengerjakan tugas kuliah dari dosen, saya berpikir hal tersebut juga sia-sia. Atau ketika saya mempersiapkan bahan ajar untuk MEC (Mathematics English Club), saya juga seperti menganggap sebagai wasting time. Alasannya hanya satu, saya selalu membandingkan dengan capaian tugas akhir yang masih berjalan lebih lambat dari pada semua agenda yang lain. Benarlah memang, tugas akhir itu seperti weker yang siap-siap berdering, sedang kegiatan lainnya adalah saat-saat jeda waktu antara weker yang berdering itu. Sebenarnya bukan saya ingin melambatkan atau tidak melakukan apapun untuk setidaknya seminar proposal. Saya hanya belum menemukan benang merah sesuai keinginan. Saya belum menemukan titik ledak dalam pengerjaannya. Sedang untuk masalah data-data yang tersedia masih sangat umum sekali. Tidak ada yang spesifik untuk dapat dijadikan batasan masalah. Saya lebih suka benang merah tersebut bisa menjadi bahan analisa. Dengan membuat A maka saya bisa menemukan B. Dan lagi, untuk sebuah tantangan saya tidak ingin diburu waktu. Sungguh. Adopsi dan penjiplakan kata-kata bahkan analisa deskriptif semata jelas bukan saya.

Sedih sekali rasanya. Saya belum menemukan teman diskusi yang sesuai. Pembimbing utama pun seperti tidak mau ambil pusing soal ini. Mottonya seolah-olah seperti "Yang penting beres". Oh Tuhan, saya paling tidak bisa menyelesaikan suatu perkara hanya bermodalkan kemudahan tanpa jerih payah. Saya lebih suka diberi tugas berat dengan hasil maksimal dan bermanfaat daripada tugas ringan yang tidak perlu ambil pusing dan langsung lulus sebagai sarjana!

Kata seorang teman, setelah saya mengemukakan apa keinginan saya terhadap skripsi ini, saya terlalu banyak mengeluh. Asthgfirullah...jangan-jangan memang benar. Hanya karena ketidakfokusan menjadikan faktor-faktor yang mudah terlihat rumit. Dan, katanya lagi, saya belum tau apa yang sebenarnya saya mau. Jadi makin sedih setelah percakapan dalam log maya itu.

Saya takut sekali semua yang ingin dicapai tidak sesuai dengan target. Lebih-lebih jika orang-orang yang paling dekat dengan saya menanyakan hal serupa. Kadang saya tidak bisa membedakan yang mana menyudutkan, yang mana motivasi. Seolah keduanya terlihat seperti dua sisi. Saya senang ada yang memperhatikan, sekaligus takut tidak bisa seperti yang dulu pernah ditargetkan. Ah, terlihat sekali sejauh apa kegalauan saya saat ini, bukan?

Saya hanya butuh ide segar. Hanya hal itu. Saya juga butuh teman diskusi yang baik, bisa mensupport dan tidak menjatuhkan, serta bacaan-bacaan aktual yang mampu mencerahkan. Ada satu quote yang saya suka dari Mary Kay Ash,

"For every failure, there's an alternative course of action. You just have to find it. When you come to a roadblock, take a detour"
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, August 02, 2011


Aku binggung! Di depanmu, aku linglung. Kamu seperti sebuah lorong. Mau tak mau harus terdesak masuk dalam likunya. Diam. Dingin. Bisu. Aku dihadapkan dengan garis-garis semraut. Berkelok dan tak tau akhir lintasannya. Didepanku ada sebuah lintasan panjang yang menuju beberapa titik. Mencapai ujungnya harus bergegas dengan waktu. Sesekali berkelok sebentar untuk singgah di tempat yang tak semestinya. Kemudian lintasan semakin panjang, sedang aku harus mencapai titik terdekat. Jika belum bertemu titik perintang yang kucari, kakiku akan diam ditempat. Kemudian kembali lagi pada keadaan semula. Aku berjalan dua kali pada lintasan yang sama. Pada jarak acak yang kubuat sendiri. Sungguh! Sulit sekali berada pada satu lintasan yang sama denganmu. Mensejajarkan dengan inginmu. Egomu. Lucunya, meski mencari lintasan terdekat adalah hal absurd yang telah kulakukan, aku bahagia...



nb: Algoritma Dijkstra. Salah satu algoritma yang digunakan untuk mencari lintasan terpendek dari suatu graf. More...