Salam..
Tempo hari saya berjalan di sebuah jalan yang cukup lebar. Tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat, meski cukup bising. Mata saya tertuju pada sebuah rumah sederhana. Tamannya begitu luas, hingga saya bisa melihat matahari tenggelam kesukaan saya. Disana, semua rumput segar yang berwarna hijau tidak mengganggu jalan setapak menuju taman yang diberi nama 'Rumah Tinggal Selamanya'.
Pikiran saya kembali terbentang pada 3 tahun silam. Ketika saya memutuskan untuk tinggal disini lebih lama. Ternyata waktu begitu cepat berganti hingga 3 tahun itu punya banyak sekali kenangan yang sangat sulit dilupakan. Disini, saya begitu banyak mendapatkan cinta dan rasa. Banyak yang menemani. Banyak yang mengisi. Banyak yang datang. Begitu banyak pula yang pergi. Termasuk saya. Saya memutuskan untuk tidak tinggal disini lebih lama. Apakah terlihat begitu gegabah? mungkin iya jika hanya 'dilihat' tapi rasa tidak seperti yang 'dilihat', karena rasa menggunakan hati untuk 'melihat'.
Saya akan pulang kerumah baru. Untuk selamanya. Sebuah tempat hidup penuh kebahagiaan bersama orang-orang yang saya cintai, selamanya :)
-Dalam derasnya hujan diluar sana-
Ketika kita ingin semua berakhir dalam gerakan yang lambat.
Ketika kita ingin duduk sejenak menyantap manisan dalam waktu yang semakin cepat.
karena aku tak bisa menunggu lama, setelah kamis siang nanti.
More...
Lamaaa sekali tidak menulis di rumah ini. Saking lamanya 'aaa'-nya menjadi triple. Sebuah analogi betapa rumah ini jarang saya kunjungi. Hanya sesekali mampir untuk mengobati rindu. Bukan. Bukan karena saya sedang "mempoles" rumah baru atau menggandakan properti disana. Bukan itu. Tapi karena saya punya banyak kekurangan, salah satunya sulit mengatur waktu antara blogging dan skripsi. Jujur. Jika sudah menulis disini, ada segudang kerinduan yang ingin saya tulis, ada ide-ide yang ingin disuarakan, ada kritikan tajam yang ingin saya asah, juga sampah-sampah di kepala yang hampir menjadi sarang laba-laba. Jika dibandingkan waktu antara mengerjakan skripsi, blogging juga blogwalking maka skala perbandingannya 1:2. Sangat tidak efisien menghabiskan waktu kesenangan dibandingkan melakukan tugas yang kapasitasnya lebih urgent, seperti skripsi misalnya. Oleh karena itu, saya memilih untuk tidak berlama-lama menulis juga blogwalking. Bukan tidak ada waktu. Tapi waktu yang ada ingin dipergunakan dengan lebih bijaksana. Toh, nantinya jika selesai skripsi, saya bisa menulis sepuasnya. Dari pagi hingga petang, dari petang hingga pagi lagi. Alasan lainnya, saya takut kebablasan curhat yang tidak penting :p *lha ini curhat kan?
Ujung-ujungnya, sebagai pengobat kerinduan akan blogging, saya merealisasikan impian 10 Agustus lalu, untuk membuat blog khusus foto-foto. Saya tidak berbakat di bidang fotografi. Hanya saja-meminjam istilah teman- ingin melihat dunia dari sisi yang berbeda. Serunya punya blog khusus foto itu, salah satunya tidak perlu banyak berkata-kata. Karena satu gambar saja sudah menceritakan banyak hal. Hanya sesekali saya mengkaitkan beberapa situasi yang menurut kaca mata saya sepeti ini dan itu dengan perlakuan itu dan ini.
Pernah tidak, saya mengatakan kalau saya ini orang yang terstruktur? Mudahnya seperti ini. Jika ada formasi atau target yang telah disusun tapi tidak berjalan semestinya, saya gampang terpuruk. Seringkali hal ini mendominasi jika semangat saya meletup. Segala usaha sudah maksimal tapi eh ujung-ujungnya gagal. Ini juga salah satu kekurangan saya. Saya gampang sekali kecewa. Tapi sisi baiknya adalah, saya tidak mau berlarut-larut. Tidak baik untuk pikiran maupun hati. Oleh karena keterstrukturan tersebut saya lebih sering membuat agenda harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Biasanya agenda atau target-target itu sudah tersusun dalam buku harian ataupun mading pribadi di kamar. Untuk apa? Agar saya selalu bisa mengingat kembali jika kemudian lupa. Beberapa target harian kadang saya Kicaukan di laman pribadi. Percaya atau tidak, karena sering dilihat dan dibaca, semuanya bisa terealisasi, dengan usaha tentunya. Dengan izin Allah pula, jika ingin sesuatu dan diucap, dibaca, dilihat secara berulang-ulang, secara tidak sadar semuanya terekam ke alam bawah sadar, dan InsyAllah pasti dikabulkan. Jadi kawans, keinginan saya yang paling besar tahun ini adalah lulus sarjana di bulan November 2012. Doa ini pula yang selalu saya pinta pada Allah di bulan Ramadhan lalu. InsyAllah, dengan usaha, doa dan tawakal, Allah merealisasikan doa-doa saya dan doa-doa kawan semua.
Jadi, tidak apa-apa ya, kalau rumah ini hanya saya kunjungi sesekali. Hanya untuk memastikan bahwa semua save and secure. Pintu, jendela, kran air, kompor gas tidak menyala, lampu selalu dimatikan juga gembok pagar selalu terkunci. Tapi, saya (sungguh) tidak bisa menahan diri jika punya referensi buku yang sangat bagus untuk ditulis ulang disini. Bagi saya tulisan berupa referensi buku-buku yang dibaca adalah sedekah. Jika ada kawans yang belum mampu beli buku tersebut lalu tanpa sengaja mampir dirumah ini, tidak ada salahnya saya menjamu dengan tulisan-tulisan yang berbobot. Walau saya bukan si pengarang buku, setidaknya rumah ini menjadi perpanjangan lisan dari intisari buku tersebut. Yaa, inilah sedikit amal jariyah yang bisa saya bagi.
Mulai kedepannya, mungkin skala menulis saya menjadi berkurang. Tapi InsyAllah, walau sedikit bermanfaat. Doakan doa-doa saya dikabulkan ya dan InsyAllah akan digandakan juga pahalanya untuk kawan-kawan.
Tetap semangat untuk berbuat kebaikan dan selalu hadirkan Allah dalam setiap gerakan :)
More...
It's about honesty...Sometimes a little discomfort in the beginning, can save a whole lot of pain down the road.
*All these year, we never really talked. More...
Dulu sekali, sejak saya berkenalan dengannya, ada sesuatu yang dapat saya lihat. Entah karena sebuah bentuk kekaguman atau terpikat. Bagaimanapun cara ia berkisah, cara ia menyampaikan, caranya berjalan, memeluk, caranya memanjakan, membuat ia begitu istimewa. Dalam sebuah Rumah Tuhan ia pernah bercerita. Tentang apa yang ia kejar. Tentang yang sebenarnya dicari. Untuk siapa dan kemana muaranya kelak.
Seorang Wanita yang terpaut usia cukup jauh jaraknya dengan saya. Mungkin orang lain boleh berpendapat bahwa usia bukan faktor utama seseorang disebut dewasa. Bagi saya, usia linier dengan pengalaman. Pengalaman yang menjadi batu-batu loncatan. Sejauh apa ia mempelajari hidupnya, sendiri atau bersama dengan orang lain, sebanyak apa ia bertemu dengan karakter orang berbeda dan bagaimana ia ‘menyentuh’ hati-hati mereka. Dan ia, berhasil menembus hati saya. Hanya ketika ia menatap, saya mampu menangis berlipat-lipat.
Kawan, tahukah kalian bahwa kadang, apa yang menurut kita tak cukup pantas untuk dipertahankan, yang menurut kita keluar dari ‘jalur’ untuk segera diperbaiki, lebih banyak diperankan oleh ego. Dan jika ego lebih banyak dimainkan, maka bersiaplah untuk kecewa.
Siapapun kita, saya, bahkan wanita itu pernah ingin mengubah ‘jalur’ itu dengan dominasi egonya. Merasa ia pantas mengubahnya dengan bekal puing-puing pengalaman hidup. Waktu demi waktu, ‘jalur’ yang ingin ia ubah itu tidak membuahkan hasil. Cenderung stagnan. Bahkan jejaknya pun tak tampak. Ia tidak menyerah. Wanita bermata empat itu melihat lagi kedalam hatinya dengan menambal semua kekurangan. Sampai tiba dimana ia butuh sendiri. Pada posisi vertikal. Ia dan Tuhan. Melihat sekeliling hanya akan menambah beban. Dan kemudian, ia hanya berdua saja. Kembali dengan egonya.
Sebenarnya, apa yang ia kejar? Apa yang ia cari dengan harus mengubah ‘jalur’ itu? Untuk mendapat pujian bahwa ia hebat? Untuk membuktikan bahwa ia bisa menghadapi siapa saja? Pertanyaan dasarnya adalah, kenapa harus manusia yang mengubahnya kalau sebenarnya ada Tangan Tuhan yang lebih menggenggam? Bukankah kita-manusia hanya perantara saja?
Ini aneh. Ketika ia berusaha meregangkan sedikit saja genggamannya atas ‘jalur’ itu, perlahan apa yang diinginkan ia dapatkan. Ia tak berusaha barang sejengkalpun untuk mengubah keadaan lagi. Ia tunduk pada Tangan Tak Tampak. Dengan sendirinya kebaikan yang diharapkan muncul. Lalu, adakah hal lain yang ia kejar jika manis madu itu telah diteguk? Adakah hal yang lebih baik selain Tangan yang telah mengusap lembut tiap sela hatinya?
Kenapa ya? Pada saat hati terlalu memaksa kehendak, justru ia menjauh. Namun, pada saat hati berani melepaskan, menyerahkan seutuhnya pada Tangan Tak Tampak, justru keadaan berubah terbalik. Ia mendekat. Mungkin saat menggenggam terlalu erat, ia berpaling untuk mencari kelapangan. Mungkin juga mencari sesuatu yang dibutuhkan. Karena sering kali kebutuhan tidak berbanding lurus dengan keinginan. Dan, kadang keinginan hati belum tentu lebih baik dari kebutuhan itu sendiri. Dunia kadang memang aneh. Pada akhirnya kebaikan itu akan terus mencari hakikatnya.
More...Aku bertanya, "Bisa tahu bedanya yang mendengar sepenuh hati dan enggak, gimana caranya, Yah?"
"Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengar tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu," jawab Ayah.
More...
Pagi dingin. Tapi tidak untuk orang-orang yang cekatan mengeluarkan balok mesin-mesin tua. Mereka gegas memburu waktu. Berkejaran dengan selimut kabut dari Tangan Tak Tampak. Menghalau rintik air yang turun perlahan dari langit. Di luar terlalu bising. Mereka tidak memberi kesempatan padaku untuk sedikit saja mengejamu. Setidaknya, biarkan aku meresapimu dalam-dalam hingga ke titik nadir.
Kau dan hujan yang bersahutan diseberang sana. Kau dan diammu. Kau dan abdimu. Aku dan sendiriku. Aku dan caraku menyimpanmu rapat.
Dalam rintihan langit dan kapas hitam yang menggumpal, ada sembilu yang ingin ku cerca. Ada sekat yang ingin segera kulepas. Ada belikat yang terus menggrogoti hingga ke sumsum. Ada rasa yang ingin diungkap. Namun bodohnya, aku tak tau dengan cara apa. Seperti bayi yang baru lahir. Bersahut-sahutan suara tangis yang ingin diperdengarkan pada orang tuanya. Bahwa aku lapar, bahwa aku dahaga. Aku seperti orang bisu yang tiba-tiba bisa berbicara. Tak tau harus memulai kata apa, karena begitu banyak kalimat yang ingin keluar. Seperti bom molotov yang siap meledak. Meletup-letup tak beraturan. Menelisik, menggerus, mengganda, meneriaki.
Aku seperti si tuli yang mendapat titah untuk mendengar kembali. Ingin mendengar semua hal. Tapi disaat yang sama butuh filter untuk menyaring suara-suara yang datang. Bahkan mendengar desauan angin pun seperti sia-sia.
Aku seperti ingin terbang segera setelah mendapat sayap. Namun lagi-lagi tak tau harus kemana, sedang aku ingin pergi ke banyak tempat. Aku seperti jutawan baru yang mendapat harta karun berharga. Tak tau harus membelanjakan uang kemana.
Bahwa aku punya milyaran kata cinta terindah, namun tak mampu kuucap se-milyaran itu. Karena terlalu bahagia. Akhirnya hanya bening-bening kecil yang akan pecah. Batapa aku tak bisa mengungkap sepatah katapun ketika mendapatnya. Segala yang masih klimaks, hingga tak sepenuhnya tatanan itu terkumpul lengkap.
Lihatlah kini. Tuhan telah menjamah tiap relung hati. Aku hanya punya satu sikap yang ingin kutunjukkan pada Tuhan betapa aku menyayangiNya, sekaligus merasa tak pantas mendapat kasih sayangNya. Betapa aku terlalu sombong untuk bersikap sederhana. Betapa aku terlalu ceroboh untuk tidak gegabah. Betapa aku terlalu munafik untuk sekedar berkata cinta. Untuk sekedar menunjukan cinta.
Saat tidak ada yang paling rendah selain sujud kepalaku dibawah KakiMu Yang Maha Agung seraya berucap “Aku ingin memelukmu. Tak sekalipun kulepas lagi”. Lalu kemudian aku kasmaran. Hanyut antara aku dan Tuhan. Hanya berdua saja.
Lihatlah madu manis itu. Dengarlah angin syurga itu. Tuhan punya jawaban sendiri. “Kemari duhai hambaku…apa yang membuatmu sakit? Bagian mana yang sakit itu? Mari kuobati. Masihkah sakit hambaku? Datang padaku, biar ku obati hingga engkau sembuh”.
Kawan, apa yang bisa kujelaskan pada bagian ini selain cinta yang berlipat-lipat.
More...Dan, aku masih disini,
Mencintaimu.
Entah kenapa.
Senang sekali rasanya. Bisa mempertahankan rumah ini hingga usia ke-3. Kalau hiatus sesekali, tak apa :D
Tapi tidak pernah terbersit sedikitpun untuk menghapus, apalagi meninggalkan cerita-cerita, sampah, bualan, semraut, acak-acakan, lambang, pria-wanita, cinta, puisi, nyanyian, angka, impian, kepayahan hingga ketakjelasan sekalipun. Semua adalah kenangan. Yang jika suatu hari nanti ketika kepala menjalankan fungsinya dari kealpaan dan lupa, saya bisa kembali mengingat. Yang jika suatu hari nanti mata menjalankan titah Tuhan agar mengabur, ada anak-cucu yang akan membacakan. Yang jika suatu hari nanti jasad sudah berbentuk renik, akan ada generasi yang menggantikan. Entah akan ada cerita apalagi didepan. Entah ada berapa banyak teman. Entah ada berapa bilangan milenia lagi.
Otanjoubi omedeto :)
More...
Kawan, kepala kita tidak bersekat. Sehingga keabsurd-an mampu ditembus kepala. Enstein tidak punya potensi lebih. Ia hanyalah seorang tua dengan rasa penasaran tak terbatas. Ia makan dengan itu. Ia tidur dengan itu. Rasa ingin tau adalah perpanjangan dari keabsurd-an menjadi normal, atau sebaliknya. Kepala kita adalah 'value'. Dan kita hidup dengan value itu.More...
Ya Allah, buatlah aku rela dengan keputusan-Mu, hingga aku tidak suka minta dipercepat apa yang kau tunda, dan minta ditunda apa yang kau percepat.
— Doa Umar bin Abdul Aziz More...
Saya sering membicarakan tentangmu bersama Tuhan, mendiskusikanmu, merencanakan sesuatu, dan menebak sesuatu. Tuhan selalu memberikan jawabannya, tapi Dia terlalu romantis dan suka memberi kejutan. Saya hanya berharap Tuhan secara diam-diam mengatakan kepadamu tentang apa yang sering saya dan Tuhan bicarakan.More...
Sebagian orang, ada yang percaya karma dan tidak. Saya termasuk orang yang tidak mempercayainya. Namun saya percaya, bahwa satu hal yang saya lakukan hari ini akan berdampak di kemudian hari. Terlepas dampak itu positif atau negatif. Dalam keyakinan yang saya anut juga mengatakan hal serupa. Bahwa setiap sikap, tutur kata, kemunafikan, kesombongan akan dibalas walau seberat zarrah (atom) pun. Sila buka Az-Zalzalah: 7-8.
Merujuk pada teori Butterfly Effect atau Efek Kupu-Kupu yang menyatakan bahwa Efek tersebut merupakan sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Seorang berkebangsaan Amerika menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan bantuan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Lelaki yang bernama Edward Norton Lorenz berlatar belakang Matematika dan Meterologi ini mendapatkan hasil seperti ini.
Tadinya saya pikir Lorenz melambangkan kupu-kupu dalam teorinya karena kecintaannya pada makhluk bersayap dua ini. Ternyata jika dilihat lebih lanjut, hasil perhitungan yang ia cetak dalam grafik tersebut mirip dengan kupu-kupu. Entahlah. Saya tidak tau persis. Tapi jika dilihat lebih detil lagi, setiap titik-titik yang membentuk 2 kepakan sayap tersebut seperti membentuk 2 ruas lingkaran yang pada setiap titik berada pada titik yang serupa dalam jarak yang berbeda. Seperti kita berada di sebuah waktu A1 dan akan kembali pada waktu A2 pada jarak A2-A1. Mungkin Butterfly Effect ini juga bisa menjadi acuan pada kondisi Deja-Vu. Ada yang tertarik menganalisanya?
Dalam buku The Secret juga mengatakan bahwa apa yang kita pikir dan rasa, frekuensi dan gelombang pikiran dan rasa tersebut akan melibatkan alam semesta dan alam semesta akan bereaksi balik pada frekuensi dan gelombang yang kita kirim. Sebagai contoh, jika kita memikirkan sesuatu yang membuat marah maka kita akan marah. Karena alam bereaksi terhadap gelombang pikiran tersebut. Sebaliknya, jika kita berpikir positif, maka keadaan akan berlaku positif. Ada baiknya pula mengimbangi bacaan kita dengan Quantum Ikhlas dan Law of Attractionnya milik Erbe Sentanu.
Saya ingin mengatakan seperti ini. Mungkin hidup kita sekarang diibaratkan seperti ratusan angka dibelakang koma. Kita bahkan nyaris tidak peduli. Karena angka-angka tersebut akan berdampak dalam jangka waktu yang panjang. Tidak sekarang, tidak nanti tapi esok. Suatu hari. Pasti! Jadi, tidak ada alasan untuk menunda sebuah kebaikan dan capaian, sekalipun dalam sebuah kertas.
*Dan kawan, ternyata menulis itu juga angka-angka dibelakang koma. Kita tidak tau efeknya hari ini, tapi nanti. Pasti!
More...
Berbicara topik ini membuat saya ketar-ketir duluan. Bukan karena tidak suka membahasnya, tapi lebih karena tidak pantas saja. Walau akhirnya harus setuju dengan sebuah wejangan yang pernah saya terima 2 tahun lalu. Saya pikir cukup pantas untuk dinikmati bersama. Terutama, asupan untuk diri sendiri yang harus percaya dengan Sang Maha Pengatur.
Suatu ketika pertemuan kami secara tak sengaja di mushala kampus. Ternyata pertemuan yang tak disangka itu membawa keberkahan tersendiri. Sembari memberi buku "Rindu Tiada Akhir" yang sangat ingin saya pinjam darinya, kami berbicara sejenak. Melepas rindu di Rumah Tuhan hingga menjelang petang. Menanyakan kabar serta kesibukan. Mendengar tausiah-tausiahnya yang sederhana, berdiskusi tentang banyak hal, hingga kapan akan menikah.
Pertanyaan yang salah untuk ditanyakan pada wanita berumur 26 keatas. Seperti disentil dari ujung yang paling dalam. Namun jawabannya selalu mencerahkan. Tidak pernah ada guyonan balik untuk menjatuhkan. She is sharp as ever!
Ia menceritakan tentang sahabat-sahabatnya yang sudah menikah, yang juga saya kenal baik. Tentang salah seorang diantara mereka yang menikah dengan teman masa kecil. Ada pula sahabatnya yang menikah pada pertemuan ke-5. Dan satunya lagi yang tinggal menghitung hari pernikahannya. Semuanya berbeda. Sama seperti Tuhan memberikan jodoh pada tiap manusia. Dengan jalan yang tidak pernah disangka. Beberapa diantaranya masih ada yang ditangguhkan jodohnya. Bukan karena Tuhan tidak ingin memberinya segera, namun saat ini kita ditempa sebagaimana calon suami atau istri kita kelak. Dia bisa jadi seseorang di ujung sana atau malah sangat dekat dengan kita. Dekat fisik. Hati berjauhan. Tapi pada saat yang bersaaman, dia juga diberikan masalah yang sama beratnya seperti kita yang akan menjadi calon suami atau istrinya. Jadi benarlah lagi kalam Allah, wanita yang baik untuk lelaki yang baik, wanita yang keji untuk lelaki yang keji. Secara lebih luas dapat diartikan, lelaki dan wanita yang akan berjodoh, akan setara tempaan juga cobaannya. Jika dalam beberapa hal tidak seperti yang telah disebutkan, maka hal itu merupakan cobaan yang InsyAllah ada hikmah besar didalamnya.
Lalu, saya bertanya lagi. Bagaimana meyakinkan diri bahwa dialah suami atau istri yang tepat untuk kita? Wanita berkaca mata dihadapan saya tersenyum sempurna. Ada gurat kepuasan di raut wajahnya sampai ia mengatakan satu hal, "Ibadah".
Menentukan dia adalah yang terbaik bukan perkara mudah. Karena ini adalah pilihan yang akan jatuh sekali seumur hidup. Satu untuk selamanya. Jika ibadah seseorang belum baik, maka jangan harap hati memberi petunjuk yang baik pula. Hal ini juga bisa diterapkan jika ada 1 dari sekian pilihan untuk pasangan hidup. Hati tetap akan memilih 1. Tidak lebih. Untuk itu, hati tidak boleh condong pada satu hal. Hati harus bersikap adil. Menakar baik buruk bukan perkara satu dua malam, bukan?
Saya mengangguk paham. Pada akhir diskusi kami, ia menutup dengan beberapa kalimat yang tak kalah berpengaruh. Biarlah Allah yang mengatur segalanya. Karena Allah yang akan bermain dan mengatur peraturan permainannya. Manusia tidak perlu repot-repot. Hanya BERUSAHA mengikuti aturan permainan tersebut. Allah telah mengatur perjumpaan seseorang dengan seseorang pada tanggal, waktu, menit, detik dan semuanya tak pernah meleset dari apa yang telah digariskanNya.
More...
Pada satu masa dalam hidup. Ada bagian dimana kita harus melupakan. Melupakan apa yang pernah kita impikan. Mungkin pada awalnya banyak gerutuan tak setuju. Menjalani hari-hari dengan setengah hati. Walau nantinya, kita tau kebutuhan itu pasti diselingi dengan kebaikan yang dijanji Tuhan. Tidak singkat memang. Tapi nanti, suatu masa, kita pasti mengerti.
Sama seperti anak kecil merengek minta dibelikan mainan boneka. Keadaan yang menuntun ia minta dibelikan mainan dengan melihat teman-temannya bermain boneka. Selang sehari selanjutnya, teman-teman bermain kelereng, maka hati menuntun si anak untuk kembali merengek minta dibelikan kelereng. Mereka, anak-anak, selalu lupa dengan hari yang lalu. Mereka hanya senang pada sesaat. Saat apa yang mereka lihat, saat itulah yang paling berharga. Selebihnya tinggal kenangan. Mereka pun bahagia. Pada saatnya, mereka akan melupakan sesuatu yang pantas menjadi kenangan. Dan, kenangan tidak selamanya menyakitkan.
Lucunya, manusia dewasa tidak seperti anak-anak. Apa yang pernah singgah di hidup mereka tidak selamanya bisa dilepas sepenuhnya. Tidak bisa dilupakan sepenuhnya. Memang kenangan tidak selamanya menyakitkan, pun tidak selamanya menyenangkan. Saat yang tidak menyenangkan itu menggerus persendian hidup dan berbentur dengan hati, manusia manapun di dunia tidak akan melupakan begitu saja. Melupakan sama seperti membohongi hati. Melupakan sama seperti melepas tapi masih bisa melihat kembali. Melupakan sama seperti dosa yang dilakukan kesekian kali karena pernah melakukan untuk pertama kali. Melupakan sama seperti menertawai kesedihan sendiri. Melupakan apapun yang tidak menyenangkan sulit sekali, karena sekecil apapun luka yang tergores pasti meninggalkan jejak.
Lalu, melupakan itu ternyata anugerah dari Tuhan, bukan? Sepatutnya disyukuri, bukan? Usaha sekecil apapun untuk melupakan sesuatu yang pernah melukai hati, tetap akan dinilai Tuhan. Inilah yang abadi. Inilah yang akan ditulis Tuhan di kanvas. Replika setiap kejadian dalam hidup. Apa yang tidak bisa ditawar kepala akan lupa untuk terus diingat oleh sebuah kenangan. More...
It's a New Year's Day. Hari ini tepat di awal tahun 2012. Jika runut kebelakang sejenak, ada beberapa hal yang menjadi prioritas, keinginan dan sesuatu yang terjadi tanpa terlintas pikir. Dan, kenyataannya adalah sesuatu yang diluar prediksi lebih banyak mengisi ruang hidup. Kenapa ya? Saya juga tidak mengerti. Kadang ketika menginginkan sesuatu, saya mati-matian ingin mencapainya. Jika keinginan itu berupa properti dan membutuhkan dana lebih, saya menabung. Bahkan sempat saya jadikan target berapa nominal perhari yang harus dikumpulkan agar properti itu berada di genggaman. Namun keadaan berkata lain. Dana itu terpakai untuk hal yang lebih urgent kadarnya. Lain lagi dengan prioritas utama saat ini. Kuliah dan Tugas Akhir. Saya menambah beberapa mata kuliah yang ingin diperbaiki. Padahal kadarnya tidak terlalu urgent. Artinya kadar nilai yang ada sudah memenuhi kecukupan untuk lulus, tapi hanya karena ingin menjadi lebih baik, akhirnya harus berubah haluan. Switch to plan B. Ujung-ujungnya, Tugas Akhir menjadi nomor kesekian untuk dibereskan. Huf!
Nah, bagian ini yang saya tidak pernah mengerti. Hadirnya orang-orang yang mengisi hidup sepanjang 2011. Berbagai konflik, permasalahan yang meruncing, keputusan, bahkan cinta. Ternyata, semua terjadi bukan tidak punya alasan. Seperti lingkaran umpamanya. Sembarang titik dari sebuah lingkaran akan ditempati oleh titik yang sama pula. Singkatnya, apa yang terjadi hari ini adalah akumulasi dari hari kemarin. Baik buruknya sebuah keinginan, bergantung dari apa yang diusahakan dan dipikirkan. Menulis resolusi adalah bagian dari usaha. Setidaknya ada sedikit usaha untuk menggenapkan keinginan dengan mendeskripsikan niat di kepala agar tidak lupa. Jadi, penting sekali itu daftar keinginan.
Kembali pada bagian "Yang saya tidak mengerti". Cinta misalnya. Siapa sih yang bisa memprediksi kapan ia datang dan pergi? Atau "ia" yang mengendap dalam waktu yang lama dan pada akhirnya harus pergi. Atau "ia" yang secara tak wajar telah menggerogoti hati. Atau "ia" yang secara perlahan mengambil setiap hari-hari. Sungguh cinta merupakan satu hal yang absurd di dunia. Pada tiap kasusunya, siapapun, termasuk saya tidak bisa meprediksi bagaimana akhirnya kelak. Sungguh saya bersyukur pada Tuhan Maha Segala. Untuk hadiah berupa hati yang dapat memutuskan dan menyimpan dalam rapat sebuah keabsurdan itu. Cinta.
Pada akhirnya, saya kembali berprinsip bahwa sebesar apapun capaian yang telah disusun matang, tetap Tuhan pula aktor utamanya. Sebuah hal klasik yang selalu kita dengar, manusia boleh berencana, namun Tuhan yang mengatur segala. Saya punya cara tapi Tuhan lebih berkuasa. Lalu satu hal yang menjadi kesimpulannya, bahwa Tuhan selalu menyukai sesuatu yang kecil tapi tetap dikerjakan secara berkala dari pada sesuatu yang besar tapi dikerjakan pada saat-saat tertentu atau sekali seumur hidup.
Meski kuasa Tuhan begitu melangit. Saya tetap akan berusaha di bumi. Menulis bagian yang ingin dicapai pada lembaran harian. Melihat. Tetap terus mengerjakan. Manjalani sisa hidup. Sampai akhirnya kembali membuka lembaran tersebut untuk dicoret sebagai daftar keberhasilan. Ah, tunai sudah semua janji.
More...
Malam ini saya excited. Karena baru saja menemukan "the matter" untuk proyek akhir. Dan, taukah? Saya menemukannya ketika menonton animasi kesukaan, Naruto. Beberapa bulan kebelakang saya sering melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Hasilnya memang tidak sepadan ketika saya melakukan satu hal dengan fokus. Tapi entah kenapa, saya begitu takut membuang waktu, hingga tadi sore saya kembali menemukan "jiwa" itu. Jiwa yang kembali bersemangat untuk melakukan semuanya lagi. Melalui sitenya Marion yang saya dapat secara tidak sengaja, saya ingin sekali menulis ini. Tentang rasa terima kasih yang saya dapatkan selama ini. Tentu saja, Tuhan menempati posisi pertama. Thank's Allah.






Kalau dipikir-pikir, banyak sekali hal yang patut disyukuri. Dan, kenyataannya, kebahagiaan itu bukan seberapa besar yang kita dapatkan tapi seberapa berartinya kebahagiaan itu walau hanya hal-hal kecil sekalipun. Anyway, semoga "the matter" itu bisa saya develop lagi dan diterima. Amin.
More...
Meski galau ini sudah bertumpuk, meski sesak jika harus jujur menulisnya disini, aku bersyukur. Karena Tuhan selalu adil. Tuhan selalu punya cara terbaik untuk merespon setiap doa. Ada doa yang segera dikabulkan, ada yang ditunda, juga ada doa yang ditangguhkan di akhirat kelak. Jika saat ini doaku ditunda, artinya Tuhan punya rencana lain yang lebih baik dan aku butuhkan. Dimanapun aku berada, aku harus punya cara terbaik untuk terus berusaha, bertawakal juga berpikir positif. Jika nanti doa itu dikabulkan, aku akan tau dari pengalaman dan pembelajaran sebelumnya, bahwa apa yang aku harapkan harus tetap aku kejar. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan karena apa yang kudapat adalah sebuah kepayahan. Tuhan mengajak aku berpikir rasional. Jika aku berusaha sekian, maka aku juga dapat sekian bagian. Sedikit atau banyak, baik-buruk, juga seberapa tulusnya niat akan menjadi tolak ukur.
Hidup ini tak ada yang pasti. Hari ini dimalam yang sama aku bisa melihat bintang gemintang. Nanti di tahun berikutnya pada waktu yang sama, belum tentu aku bisa melihat bintang lagi, meski aku berusaha dan berkeinginan kuat untuk melihatnya. Namun, hal ini juga tidak boleh membuat diri pesimis. Ujung-ujungnya kembali lagi pada dua konsep yang berbeda, mana keinginan, mana kebutuhan. Dua-duanya sama baik, tapi kebaikan menurut diri belum tentu baik menurut Tuhan. Lalu, bagaimana membuatnya seiring sejalan?
Memang tidak bisa dikatakan mudah. Tapi percayalah, pada akhirnya kita akan sadar bahwa apa yang Tuhan putuskan itu adalah sebuah kebutuhan yang nantinya berujung kebaikan. Beberapa hari lalu, aku kembali dipertemukan pada orang-orang utusan Allah. Sebenarnya jika kurunut dari semua persoalan hidup dan juga kebutuhan, Tuhan selalu memberiku jalan melalui berbagai orang. Bahkan pada waktu dan tempat yang tak disangka. Aku bersyukur mereka ada. Mereka adalah guru yang sangat berharga. Mungkin mereka atau siapapun di dunia ini tak akan sadar bahwa hal sekecil apapun akan menjadi kebaikan jika dijalani dengan tulus. Jika kita berprinsip suatu saat apa yang akan kita lakukan sekarang akan berdampak di masa yang akan datang, maka hasil itu akan kita alami sedikit demi sedikit dari sesuatu yang tak terduga.
Dunia ini berputar. Dan, tidak akan berhenti hingga hari akhir. Begitu juga hidup. Tidak selamanya bisa menyenangkan juga tidak akan selalu dirundung kesedihan. Hanya diri sendiri yang mengerti apa yang menjadi kebutuhan. Hanya diri sendiri yang mengerti seberapa besar kesulitan yang dihadapi. Aku yakin, suatu hari nanti, Allah akan mengabulkan setiap mimpi. Nanti. Pada waktu yang paling tepat dalam hidupku.
More...


