Author: Ummul Khairi
•Wednesday, January 09, 2013

Salam..
Tempo hari saya berjalan di sebuah jalan yang cukup lebar. Tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat, meski cukup bising. Mata saya tertuju pada sebuah rumah sederhana. Tamannya begitu luas, hingga saya bisa melihat matahari tenggelam kesukaan saya. Disana, semua rumput segar yang berwarna hijau tidak mengganggu jalan setapak menuju taman yang diberi nama 'Rumah Tinggal Selamanya'.

Pikiran saya kembali terbentang pada 3 tahun silam. Ketika saya memutuskan untuk tinggal disini lebih lama. Ternyata waktu begitu cepat berganti hingga 3 tahun itu punya banyak sekali kenangan yang sangat sulit dilupakan. Disini, saya begitu banyak mendapatkan cinta dan rasa. Banyak yang menemani. Banyak yang mengisi. Banyak yang datang. Begitu banyak pula yang pergi. Termasuk saya. Saya memutuskan untuk tidak tinggal disini lebih lama. Apakah terlihat begitu gegabah? mungkin iya jika hanya 'dilihat' tapi rasa tidak seperti yang 'dilihat', karena rasa menggunakan hati untuk 'melihat'.

Saya akan pulang kerumah baru. Untuk selamanya. Sebuah tempat hidup penuh kebahagiaan bersama orang-orang yang saya cintai, selamanya :)


 With Love,     

-Ummul Khairi-
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, February 28, 2012

Senang sekali rasanya. Bisa mempertahankan rumah ini hingga usia ke-3. Kalau hiatus sesekali, tak apa :D
Tapi tidak pernah terbersit sedikitpun untuk menghapus, apalagi meninggalkan cerita-cerita, sampah, bualan, semraut, acak-acakan, lambang, pria-wanita, cinta, puisi, nyanyian, angka, impian, kepayahan hingga ketakjelasan sekalipun. Semua adalah kenangan. Yang jika suatu hari nanti ketika kepala menjalankan fungsinya dari kealpaan dan lupa, saya bisa kembali mengingat. Yang jika suatu hari nanti mata menjalankan titah Tuhan agar mengabur, ada anak-cucu yang akan membacakan. Yang jika suatu hari nanti jasad sudah berbentuk renik, akan ada generasi yang menggantikan. Entah akan ada cerita apalagi didepan. Entah ada berapa banyak teman. Entah ada berapa bilangan milenia lagi.
Otanjoubi omedeto :) More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, February 07, 2012

The Seven Shadow ini dari teman saya, Sam. Award ini diberikan pada 7 sahabat blog terbaik yang selalu memberikan apresiasi support. Sebenarnya award ini sudah diberikan Januari lalu tapi berhubung saya masih hiatus, akhirnya baru sekarang terealisasi. Saya punya satu rahasia! Ketika memutuskan untuk kembali ke rumah, salah satu alasannya adalah award ini. Melihat komentar Sam dan Nick yang begitu manis, saya tergerak untuk membersihkan sarang laba-laba yang sudah membatik dimana-mana. Nah, Sam dan Nick, mari minum teh bersama di rumah ala kadarnya ini. Terima kasih telah menjadi teman terbaik meski dalam sekat maya :)
Juga, teman-teman semua, saudara blogger dimanapun berada. More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, October 15, 2011

Taiwan. Bukan negara yang asing lagi untuk saya. Perangainya, logatnya, hingga pelitnya pun saya sudah hapal. Sejak-kurang lebih- 2007 lalu mereka sudah gencar datang ke Aceh. Mungkin tahun-tahun awal kedatangan mereka tidak terlalu digubris, karena mereka hanya berurusan dengan beberapa pihak yang mengundang hanya sebatas urusan akademik kampus intern, juga penandatanganan MoU menyangkut kesepakatan kerjasama bilateral. Ah...saya tidak tau pasti. Pada tahun berikutnya hingga sekarang, Taiwan gencar membuka peluang selebar-lebarnya untuk masyarakat Aceh yang ingin mendapatkan beasiswa by research atau course-work. Dan, terbukti beberapa mahasiswa Aceh yang berniat melanjutkan magister dan doktor diterima dengan sangat "welcome". Jika ada event besar yang menjadi benang merah antara kesuksesan penyedia beasiswa dengan mahasiswa, pasti keterkaitan itu adalah Taiwan Higher Education.

Siapapun yang merasa tertarik melanjutkan study ke Taiwan-terutama bidang Sains dan Teknologi- wajib datang ke acara setahun sekali ini. Dua ribu sebelas adalah kedua kalinya negara anak emas Amerika ini datang ke Aceh. Masih dengan misi yang sama, membuka informasi dan peluang selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin melanjutkan study ke Taiwan. Konsep dan teknis acara sama seperti tahun lalu. Saya juga pernah membuat satu postingan khusus disini. Tahun ini adalah pengalaman kedua saya sebagai booth-companion. Karena secara teknis dan konsep tidak ada yang berbeda, saya tidak merasa kesulitan sama sekali, walau tetap ada perbedaan yang cukup signifikan antara Chiao Tung University dan National Taiwan University of Science and Technology...


Me Vs National Taiwan University of Science and Technology
Universitas ini terletak di Taipei. Menurut seorang International Admission Office of International Affairs-yang saya lupa namanya siapa- lokasinya berdekatan dengan Taipei 101. Layaknya penyedia beasiswa, mereka menawarkan jurusan-jurusan yang bisa dipilih sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Seperti, Computer Science, Construction Engineering, Chemistry Engineering, Mechanical Engineering, Architect, Management Business, dll. Khusus untuk program Magister dan Doctor, mereka menawarkan Full English Taught. Dan, untuk Bachelor hanya tersedia kelas bahasa Mandarin. Dalam brosur yang dibagikan, saya melirik bahwa Taiwan Tech-sebutan lain untuk National Taiwan University of Science and Tecnology- adalah kampus nomor wahid untuk fokus sains dan teknologi. Saya tidak tau benar atau tidak, karena seperti itu yang tertulis. Jika berminat apply beasiswanya, sila kemari.

Jadi, ada apa antara saya dan Taiwan Tech? Sebenarnya saya tak ingin membuka lebar-lebar apa yang terjadi 1 oktober lalu. Cukuplah saya dan beberapa panitia inti yang berhak tau. Tapi, saya pikir nilai sebuah tulisan itu bukan terletak dari seberapa banyak diksi ataupun polemik yang dijabarkan, tapi keaslian tulisan itu sendiri. Tulisan yang nyata dan apa adanya lebih menembus ke hati. Mengapa ada perbedaan yang cukup signifikan antara tahun lalu dan tahun ini? Karena saya membuat sebuah pembanding. Pembanding tidak selamanya bernilai negatif. Sebaliknya, tidak selamanya juga pembanding bernilai positif, seperti sedikit rasa kecewa yang saya alami dengan Taiwan Tech.

Sebagai booth-companion, tugas kami adalah membantu mereka dari A hingga Z. Mulai dari pemasangan segala properti kampus seperti poster, bendera, mengatur booklet, memajang souvenir, mengingatkan mereka untuk lunch tepat waktu bahkan menggunting selotip dan membuang sisa sampah. Selebihnya, booth-companion membantu menerjemahkan segala informasi yang ingin diketahui pengunjung dari bahasa Inggris ke bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Setelah acara selesai, segala properti yang ada harus dilepas dan dimasukkan ke tempat semula. Seperti itu. Sederhana saja.

Booth-companion juga harus ramah memperkenalkan diri dan menayakan apa yang bisa dikerjakan agar semua pekerjaan cepat selesai. Saya juga, memperkenalkan diri dan menanyakan apa yang bisa saya kerjakan. Walau ujung-ujungnya mereka sendiri yang lebih tau posisi properti yang diinginkan. Jika tidak bisa mengerjakan sendiri, mereka meminta bantuan dengan sesama Taiwanese dalam bahasa Mandarin. Saya yang mengerti mandarin seujung kuku hanya bisa bengong-bengong saja. Huh...

Baru saja selesai meletakkan properti dan segala atribut universitas, kami sudah harus pindah ke booth yang lain. Saya tidak mengerti kenapa booth Taiwan Tech harus pindah, karena sekali lagi, mereka berbicara bahasa Mandarin tanpa pernah mau melibatkan saya sebagai booth-companion. Saya sudah mengendus kondisi yang tidak enak. Secepat mungkin kami pindah dan ba-bi-bu semua selesai dengan tanpa bantuan saya. Kawans, sungguh tak enak jika diacuhkan. Waktu berlanjut ke sesi pembagian booklet. Saat itu pengunjung sedang ramai-ramainya. Saya bertugas membagi booklet sambil berdiri tidak dipersilahkan duduk untuk sekedar melepas penat sesaat. Malangnya, kursi yang tersedia hanya untuk 3 orang dan semua sudah diduduki oleh mereka, Taiwan Tech's International Admission Office of International Affairs. Padahal saya sudah lelah sekali, sedang datang tamu bulanan pula. Oh, lengkaplah sudah.

Sekali lagi, jika harus membuat perbandingan, saya bisa mengatakan bahwa mereka tidak ramah. Tidak ada chit-chat sekedar bicara santai di sela-sela break. Mereka dengan sesama mereka saja. Bahkan waktu makan siang yang seharusnya saya ingatkan, mereka lakukan tanpa sepengetahuan saya. Jadilah saya sendiri dengan pengunjung yang berdesakan mencari informasi dan memburu souvenir.

Apakah semua orang Taiwan seperti itu? Saya rasa tidak juga-walau katanya mereka lebih individualis-banyak orang indonesia yang seperti itu, bahkan lebih. mungkin mood mereka sudah tidak karuan ketika booth Taiwan Tech harus dipindah. Atau mungkin saya saja yang sedang sensitif karena "si tamu" itu.

Me Vs Chiao Tung University
Sebelum hari-H, booth-companion dan calon booth-companion harus hadir ke KBA (Komisi Beasiswa Aceh) untuk mendengar sedikit pengarahan tentang jalannya acara. Di sela-sela pengarahan, saya dan teman-teman sempat berdiskusi dengan interviewer dan menyampaikan beberapa kendala jika ada. Secara teknis tidak ada masalah yang berarti, tapi saya sangat berharap ditempatkan pada booth yang sama seperti tahun lalu, Chiao Tung University. Ternyata booth tersebut sudah dipenuhi oleh seorang mahasiswa yang akan berangkat melanjutkan study disana. Alasannya agar mahasiswa tersebut bisa lebih dekat dengan universitas yang menjadi tujuannya. Sebenarnya sah-sah saja alasan itu. Saya pikir bagus juga, selain lebih dekat secara personal, informasi yang lebih akuratpun bisa digali langsung dari admissionnya.

Admission Chiao Tung yang akan datang adalah orang yang sama, Janet. Janet sangat ramah dan ekspresif. Saya tidak menduga booth kami bersebelahan. Saya pikir Janet akan lupa dengan seorang perempuan yang sudah membantu boothnya tahun lalu. Ternyata dia ingat dan langsung menyapa saya sambil berpelukan. Wanita berkaca mata ini juga memberi hadiah special yang ia tanya langsung pada seorang senior saya yang sedang melanjutkan study di Chiao tung. Such a honorable thing. What a beautiful making friendship.

Chiao Tung Vs National Taiwan University of Science and Technology
kawans, sekarang terbukti bukan? Bahwa etika dan perangai ternyata cukup mendominasi. Seorang yang cerdas sekalipun jika sombong tetap dipandang sebagai orang yang tidak berilmu. Itulah kenapa knowladge berada di urutan kedua setelah integrity. Dan hal ini berlaku bagi saya sebagai sebuah pembanding. Nilai-nilai apa yang harus saya garis bawahi sebelum mengambil keputusan. Jika pada akhirnya saya akan melanjutkan study ke Taiwan, sudah bisa saya pastikan Chiao Tung berada dalam daftar pilih. Dan, sudah bisa saya pastikan pula bahwa Natioanl Taiwan University of Science and Technology tidak berada dalam daftar pilih maupun dalam "kamus" hidup saya.

English, again and again!
Bahasa Inggris menjadi jaminan untuk melalui tahap akademik dan komunikasi verbal yang global. Saya tidak pernah mendapat kerugian dengan belajar-mengajar bahasa Inggris. Jujur, saya juga tidak pernah belajar bahasa Inggris secara intensif dan berkala dengan mengikuti les khusus bahasa Inggris. Tidak. Tidak pernah sama sekali. Saya hanya cinta bahasa Inggris. Saya tidak pernah berpikir rumit untuk belajar mencintainya. Saya mencintainya dari waktu ke waktu dengan berlatih, berlatih dan berlatih. Dengan apapun dan siapapun. Jadi, benar jika belajar atas dasar ketulusan dan cinta, kesuksesan itu akan ikut dengan sendirinya. Manis sekali bukan?

personal documentation belongs to Ria Purnama dan Suci Farahdilla
More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, October 05, 2011

Ah...tidak kemana-kemana. Masih berada di Aceh. Masih berstatus mahasiswa tingkat akhir, dan masih belum menikah :D
Lama tidak ngeblog jadi bingung mau nulis apa. Bukan masalah ide juga sih. Anyway, selama ramadhan lalu hingga Idul Fitri sampai hari ini, saya punya banyak cerita. Tapi justru bingung harus mulai dari mana. Mungkin sedikit gambar-gambar ini bisa manjadi awal baru tanpa harus mengumbar banyak kata. Ya sudah, dinikmati saja ya :)

ka-ki: Kak Meutia, Ayu, Frau Nova, saya, imel dan putri

Ramadhan tahun lalu saya sempat ikut kelas Jerman. Tahun ini Alhamdulillah masih diberi kesempatan lagi untuk lebih mengenal bahasanya negeri Hitler ini. Keberkahan ramadhan kami tutup dengan buka puasa bersama sekaligus farewell kecil-kecilan. Kebetulan dalam bulan agustus Frau Nova-Deutschlehrerin kami-berulang tahun. Kami menghadiahinya sebuah jilbab BB :D

Benar sekali. Gambar diatas adalah sebuah koin. Saking specialnya ini koin sampai saya masukkan dalam kotak khusus. Ada apa dengan koin ini? Hm, i need to keep it till the right time.


Postcard Taiwan ini dari Neng Rifka. Agustus lalu si Neng pulang ke Indonesia. Sebelum pulang saya sempat ditanyai alamat rumah. Saya pikir dianya mau main ke Aceh. Rupanya saya mau dikirimi postcard. Xie xie ni.

Yippi...Alhamdulillah Jurusan Matematika FMIPA Unsyiah dapat mempertahankan akreditasi A. Dan, jurusan kami adalah satu-satunya yang mendapat akreditas A di Pulau Sumatera. Bangga? Tentu saja. Untuk itu, dosen-dosen berinisiatif membuat syukuran dengan mengundang seluruh pihak yang membantu kesuksesan akreditasi tersebut. Salah satunya letting kami. Momen kebersamaan ini mungkin tak akan berlangsung lama, mengingat setiap orang pasti akan menempuh jalan masing-masing. Kenangan seperti ini yang akan saya rindukan.






ki: gumleaf bookmark, makanan kesukaan koala/ ka: tasmanian lavender postcard


Tepat di hari yang sama -syukuran akreditasi- saya berjanji bertemu seseorang. She has just return from Adelaide, Australia. Dia adalah tentor English saya sewaktu Bimbel. Kira-kira tahun 2005. Saya masih SMA. Dia adalah tentor English favorit saya. Kami berjanji bertemu setelah sekian lama. Pembicaraan masih tak jauh-jauh, melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ada rasa iri yang begitu dalam ketika bertemu Kak Eli. Tentang mengapa ia menjadi tentor favorit saya. Tahukah kawans? Ia sarjana dan master di bidang Matematika tapi ia sukses karena English. So, saya sangat percaya seseorang bisa sukses karena apa yang ia jalani sepenuh jiwa, bukan karena tuntutan.

Rumah bantuan tsunami di Alue Naga

Tugas akhir, tugas akhir dan tugas akhir. Yup, i'm on it. Tidak muluk-muluk, saya menargetkan pertengahan tahun depan lulus sarjana. Untuk itu, selama semester ini saya harus rajin-rajin membaca buku "wajib", mencari jurnal ilmiah dan berdiskusi dengan dosen pembimbing. Karena tugas akhir saya berhubungan dengan Recovery Aceh dengan kasus sosial dan menggunakan analisa serta hitung-hitungan statistik, saya perlu "buka mata", "buka telinga" lebih lebar untuk study case yang cukup abstrak ini. Saya diperkenalkan oleh pembimbing tugas akhir dengan seorang mahasiswa magister asal Jepang. Namanya Toshikazu Hiwaki. Lingkup daerah yang kami pelajari sama, Banda Aceh dengan tambahan Aceh Besar untuk riset magister Toshi. Untuk itu, selama Toshi di Aceh, kami -saya dan kedua teman lainnya- jalan-jalan melihat bangunan bantuan tsunami. Salah satunya di kawasan Alue Naga ini. Jika kawans ingin tau lebih lanjut, sila membuka Google Earth untuk melihat perbedaan warna atapnya. Dan bandingkan dengan warna atap perumahan Jacki Chan ini.

ki: seluruh panitia THEE 2011/ ka: hadiah dari Janet

Satu Oktober lalu saya dan kawan-kawan kembali disibukkan dengan event sekali setahun, THEE 2011 (Taiwan Higher Education Expo 2011). Konsep acara dan teknisnya sama seperti tahun lalu dan saya kembali bertugas sebagai booth companion. Tahun ini saya mendapat universitas yang berbeda, National Taiwan University of Science and Technology. Sayangnya saya sedikit bad impress dengan universitas tersebut. Nanti saya akan buat satu postingan khusus tentang THEE 2011. Ah...lets talk another part.


Namanya Janet. Dia adalah Chiao Tung's International Admission Office of International Affairs. Yaa...semacam orang yang menangani langsung mahasiswa-mahasiswa international di Chiao Tung University. Tahun lalu saya menjadi booth companionnya di acara yang sama, THEE 2010. Orangnya ramah sekali. Saya pikir Janet sudah lupa dengan saya karena kami tidak saling memberi kabar dalam kurun waktu setahun. Tanpa saya duga, ia masih ingat saya. Malahan saya lebih dulu ditegurnya pada acara THEE 1 Oktober lalu. Setelah bertukar kabar dan menanyakan kesibukan masing-masing, Janet membisiki saya sesuatu.
"Ai, i have something for you"
Lalu ia mengeluarkan sebuah agenda, bookmark dan sumpit Jepang. Saya pikir, pastilah ia membawa hadiah tersebut tidak dengan persiapan khusus karena tiap tahun dan tiap booth menyediakan souvenir gratis bagi para pengunjung. Ternyata saya salah. Sebelum dia ke Aceh, Janet menyempatkan diri bertanya tentang apa yang saya sukai, langsung ke salah satu senior di kampus saya yang sekarang mengambil magister di Chiao Tung, Taiwan. Dan, senior saya mengatakan,
"She is Japanese Lover"

Mungkin itulah mengapa Janet memberi saya sumpit Jepang. Walau bagi saya semua sumpit terlihat sama, tapi sumpit yang ini beda. Dari seseorang yang ramah dan hanya saya temui tidak lebih dari 10 jam. What a wonderful making friend :)

Hari minggu lalu saya diminta abaty untuk menggantikan pengajian khusus anak-anak. Saya kebagian anak-anak SD kelas 1-3. Saya memberi materi tentang Ibu. Pengajian ini nomaden. Minggu lalu di Museum Tsunami. Meski museum rancangan Ridwan Kamil ini sangat terkenal di Aceh tapi baru minggu lalu saya bisa masuk dan explore langsung. Nah, gambar di atas adalah salah satu tempat pajangan lukisan-lukisan yang menggambarkan dahsyatnya tsunami Desember 2004 silam.

That's all. Selebihnya saya "wajib" menenggelamkan diri pada beberapa rutinitas, kuliah, mengajar, survei, dan tugas akhir. Alhamdulillah, semuanya berjalan seperti yang saya harapkan.
More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, August 06, 2011

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang
pada akhlak yang manis,lembut dan wangi
hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

-Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah-

nb: Percayakah kalian bahwa dunia tidak linier? Aku percaya. Namun hingga detik ini aku tak mengerti kenapa dunia tidak pernah terbalik untuk setiap rangkaian persaudaraan yang telah digaris Tuhan dalam hidup. Kenapa kita harus bertemu maupun berpisah. Kenapa kita harus mendengar dan berbagi. Kenapa ada tangis juga rindu. Untuk semua sahabat yang telah diutus Tuhan dalam hidupku, dimanapun kalian berada, demi nama Allah, aku sayang kalian...
More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, July 16, 2011

Harusnya beberapa tugas ringkasan selesai malam kemarin. Tapi kepala saya kian terganggu hingga hari ini. Saya tau kenapa kepala saya double error. Ini diakibatkan semua memori berputar yang seharusnya bisa saya lenyapkan dalam waktu seminggu. Mestinya semua kenangan itu tidak mengalami retorika. Atau seharusnya memang saya bagi. Menceritakan pada orang yang tepat. Tapi sudahlah. Semua hal yang perlu di endap sementara sudah bisa dituang dalam kertas. Dalam beberapa agenda ke depan.

Sebentar lagi Ramadhan. Saya, kamu dan kita semua tidak tahu apakah Allah masih mempertemukan dengan bulan penuh berkah itu. Tak ada yang mampu menduga hingga hari ini. Saya dan teman-teman diharuskan membuat target Ramadhan oleh Abaty. Untuk semua ibadah yang akan dilakukan. Jika nantinya Allah berkehendak lain, toh Allah sudah mencatat niat baik dengan satu pahala. Dan, itu yang saya lakukan setengah hari ini. Ternyata apa yang saya perlukan hanya menuangkan semua gundah. Memajangnya menjadi target. Membaca sembari meniatkan semua yang sudah ditulis serta berdoa agar keberkahan itu juga dilipat gandakan melalui hal-hal yang kecil tadi.

Sebenarnya target Ramadhan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Hanya proporsinya saja ditambah. Namun, ada satu target yang paling sering saya abaikan. Dulu sewaktu sekolah saya sering mengerjakannya bersama Hiu. Setiap jam istirahat selepas dhuha di mushala sekolah. Bahkan kami rela tidak jajan hanya untuk mentadaburinya. Seiring pergerakan waktu semua tak lagi sama. Mesin waktu tidak pernah benar-benar ada. Jika pun ada pasti harganya sangat mahal. Kita tidak pernah bisa mengulang waktu. Apa yang sudah dikerjakan tempo dulu pasti jauh berbeda dengan sekarang. Kami memang masih berkomunikasi namun rutinitas juga kesibukan mau tak mau menjadi sekat penghalang.

Sayangnya perkuliahan dimulai awal September. Kondisi ini yang paling saya tidak suka. Jika Allah mempertemukan dengan Ramadhan, saya ingin tetap ke kampus. Tetap beraktifitas seperti biasa. Tidak hanya dirumah saja dengan buku dan laptop. Saya sangat menyesalkan kenapa jauh-jauh hari menolak tawaran mengajar. Saya pikir akan sibuk di kampus, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Memang benar ya. Tak ada yang pasti dalam hidup. Yang pasti itu ketidakpastian itu sendiri.

Ramadhan kali ini juga saya niatkan untuk bersilaturrahim lebih banyak. Saya sudah bisa membayangkan untuk duduk bersama teman-teman menunggu waktu berbuka. Atau tilawah beberapa lembar demi menambah target. Sungguh sudah tidak sabar rasanya.

Tahun ini juga saya targetkan antologi tulisan non-fiksi bersama teman-teman FLP Aceh terbit dan semoga saya juga termasuk diantaranya. Untuk hari-hari lalu yang saya habiskan dengan sia-sia ingin saya isi dengan lebih banyak menulis. Baik tulisan ilmiah maupun beberapa referensi buku-buku. Ah...ya, jejaring sosial akan deactive untuk sementara waktu karena ada proyek besar yang akan saya jalani dan tahun ini harus selesai.

Kesibukan-kesibukan ini yang teramat saya rindukan. Tidak apa jika kelelahan menjadi penutup hari, asal semua dijalani dengan bahagia. Semoga kita selalu diberi kebahagiaan yang cukup, diatur segala urusan oleh Allah dan Allah ridha karenanya. More...

Author: Ummul Khairi
•Monday, June 06, 2011

Jika saya punya seribu kaki untuk berjalan dari selatan ke utara, hal itu yang akan saya lakukan ketika pertama kali menginjak bumi. Jika saya menguasai miliyaran tahun kecepatan cahaya, hal itu juga yang akan saya lakukan pertama kali untuk kesana, ke berbagai tempat yang tak mampu dijangkau mata dan kaki. Ada banyak hal yang belum bisa dijamah maupun dilampaui. Itulah kenapa saya terlalu tinggi berandai-andai, tapi Tuhan tidak suka pengandaian kan? Dan, saya akan menampik pengandaian itu dengan segala warning untuk kembali membuka mata pada sesuatu yang harus disikapi dengan nyata tanpa perlu dibuat-buat. Tanpa perlu ada kerumitan.

Banyak sekali hal yang tertinggal kebelakang, juga ada banyak yang luput dari pantauan untuk terus maju kedepan. Jika hal tersebut seumpama barisan, maka satu persatu hilang digerus zaman. Orang-orang selalu menyimpulkan, ada bagian dalam hidup yang tak bisa dipisahkan, pun ada bagian dalam hidup yang tak boleh dikekang. Seperti seseorang yang meyakini jalannya, hanya ada dua pilihan dalam hidup, maju kedepan atau terus terperosok kebelakang. Semua hanya masalah pilihan dan waktu.

Pilihan saya jatuh pada, menunggu untuk kembali datang. Dengan usaha dan doa, tentu saja. Ternyata, dunia memang berputar. Pada poros tertentu, Tuhan menegur ketika sesuatu yang timpang terjadi. Tak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk mengingatkan seseorang. Hanya butuh waktu sepersekian detik, Tuhan bisa berkata kun. Maka jadilah!

Apa yang timpang? Sebuah sapaan. Umat Tuhan yang dulu berkata, Silaturrahmi. Sebuah kata yang halus untuk menyapa segelintir umat yang lain. Menjejakkan kaki untuk bertemu, menghubungi lewat pesan singkat atau sekedar sapaaan lewat dunia maya. Semua adalah serangkaian cara untuk tetap bisa bertahan dalam lingkup pertemanan.

Lucunya, ada bagian yang hilang dalam hidup saya sekarang. Apa yang dilihat jauh sekali berbeda pada kenyataannya. Sedikit usaha-usaha itu tak begitu berarti bagi sebagian orang. Entah bagaimana lagi menyapanya. Entah bagaimana lagi melunakkan hatinya yang beku. Saya bukan pencari alasan. Karena kadang alasan hanya dibuat untuk pembelaan.

Mungkin saja segelintir orang belum begitu paham mengapa komunikasi itu penting. *Mungkin, saya salah seorang diantaranya. Diantara mereka ada yang memilih untuk bungkam. Untuk menjaga bagian yang tidak perlu dibagi pada orang banyak. Maka sebagaian dari mereka hidup dengan diam. Itu pilihan. Sekali lagi, itu pilihan.

Dan, memang benar, memahami satu orang saja itu sulit. Sama seperti sulitnya memahami konsep dasar dibandingkan teknik pengerjaannya. Itu yang saya pelajari sekarang, mencoba memahami, mencoba menghargai keinginannya dan, menunggu saat yang tepat untuk bergerak agar tidak melawan arus.

Oh ya, ada award dari Sam di ajjazair sana. Karena sudah lama tidak ngeblog, saya baru sempat pajang award ini. Sam yang baru saya kenal juga bagian dari silaturrahmi yang harus saya pertahankan agar sebuah pertemanan tetap utuh meski jarak memang tidak bisa dikata dekat.


More...

Author: Ummul Khairi
•Sunday, May 08, 2011

Sahabatku, dengan juntaian kata-kata ini kukirim sebuah senja untukmu. Agar kamu tahu, bahwa seberat apapun dunia meminta abdiku, aku masih ingat kamu, sederhanamu dan jiwa besarmu. Hari ini, aku melihat lagi pantai yang indah, walau tak sampai senja, walau tak ada jeda, walau bukan di tempat yang paling tinggi, aku hanya ingin berkata, aku ingat kamu, selalu dan selamanya.

Hari ini, semua sesak pada malam lalu hilang, karena hari ini aku banyak belajar tentang kejujuran. Mungkin setiap hari banyak sekali kebohongan yang di butakan oleh hati, mungkin juga karena terlalu banyak sampah yang membusuk di relung ini, mungkin itulah mengapa sinarmu selalu tertutupi. Padahal aku hanya butuh mengerti dan mencoba paham tentang yang kurasa atau setidaknya aku jujur dengan apa yang kurasa.

Langit cukup mendung, tapi sejenak kemudian semuanya tersapu awan yang bersih, jernih tanpa ada penghalang serupa belenggu. Ku pikir, perlu sedikit berjalan melintasi pasir-pasir disana. Aku menolak untuk duduk tenang. Bahkan aku tak punya alasan untuk berleha-leha sejenak. Mereka para pujangga selalu berkata, setiap sebuah perjalanan melahirkan cinta dan kedekatan padaNya. Tak ada salahnya aku coba. Jika saja aku punya mesin waktu, aku pasti akan menghadirkan senja secepat kidung awan kelabu membaluti putih awan disebelah selatan sana. Tak ada burung bangau yang kusuka melintas di kepala. Tak ada matahari. Sudah pasti tak ada rembulan karena senja masih gegas melomba waktu. Hanya ada aku sendiri berjalan di antara pasir-pasir dan tawa mereka. Juga ada sedikit ombak yang dicumbu angin.

Sahabatku yang manis, sering aku berkata, aku sangat menyukai tempat-tempat tertinggi. Bahkan sudah terhitung dua kali kita kesana, ke rumah di atas bukit. Aku dan kamu sama-sama melihat senja dengan mata tak berkedip. Sungguh indah. Dan, kita masih saja tak mau beranjak dari dudukan komidi putar itu. Ah..sebenarnya aku yang enggan melangkahkan kaki. Rasanya aku ingin selamanya berada disana dan tak ingin kembali ke kota Banda yang penuh sesak. Kamu selalu saja memutarkan kemudinya lagi dan lagi. Aku seperti anak ingusan yang sering kita lihat menaiki ayunan. Aku tak peduli, sahabatku sayang. Aku hanya ingin kemudi itu kita berdua saja yang punya. Biar mereka tau, terkadang kita semua butuh untuk tidak menjadi dewasa sesekali. Ego-ego yang kita bawa seringkali meruntuhkan segala kebebasan. Dan, aku benar-benar bisa melepaskan segala ego hanya di depanmu saja.

Katanya kamu ingin menangkap angin untukku. Aku selalu tertawa. Mana mungkin bisa, sahabatku yang lucu. Angin tak punya kemudi seolah komidi putar yang kita naiki. Biarkan saja, biarkan ia terbang sekehendak hatinya. Karena angin tidak terkungkung. Walau aku suka suara angin dan gemericik air, tapi aku tak ingin mereka menjadi milikku, karena tanpa mereka dunia akan mati. Cukup aku menghabiskan waktu berdua saja denganmu ketika senja. Ya, berdua saja. Kau dan aku. Sewaktu bangau-bangau pulang ke utara, kau berjanji akan menemaniku melihat kota Banda dari puncak sana. Kau berjanji ingin memperlihatkan kota kita seperti lilin-lilin yang tunduk pada sendu. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, betapa kota kita tak ada artinya. Segala kesombongan telah dipagar oleh sunyinya malam. Dan, kau ingin memberinya untukku lagi? Sudahlah sahabatku yang baik, aku hanya ingin senja saja. Tak lebih.

Aku masih disini sahabatku. Masih di pantai yang kucerita tadi. Masih dengan kidung awan yang menggelegar. Masih tanpa matahari. Masih belum muncul juga sinar rembulan yang tidak menusuk mata. Masih mengingat kamu yang sibuk menghadapi orang banyak. Harusnya hari ini pantai ramai. Ah..mungkin mereka takut tubuh-tubuh mereka terkena hujan dan jatuh sakit. Aku bahkan tidak peduli dengan tubuh lemahku yang tak kebal dingin. Biarkan saja. Karena ketika aku sudah tak lagi disini, tubuhku juga tidak akan bergerak selamanya. Mungkin aku perlu berjalan lebih jauh, agar suara-suara mereka tak menghalangi niatku untuk bermain pasir hari ini.

Sahabatku yang manis, sahabatku yang lucu dan menggemaskan, aku berjalan tanpa beralas tapak. Membenamkan sejenak kakiku kedalam pasir yang baru saja disapu ombak kecil. Ada beberapa terumbu yang terbawa air pasang. Juga ada bambu-bambu basah yang entah dari mana muasalnya. Aku ingin membuat sebuah istana dari pasir. Apalah arti kekokohannya. Karena sebentar lagi juga akan dimakan angin dan digerus air. Jika ada kamu disini, kamu pasti akan tertawa dan mengatakan aku seperti anak kecil. Lalu kamu akan membantu untuk membuatkan istana itu. Dan, kamu suka sekali mencandai ku sembari berkata, ini istana untuk sang putri, semoga putri hidup bahagia bersama pangeran. Sahabatku sayang, kau memang tau cara yang paling tepat untuk mengokohkan pikiranku yang kacau. Itulah mengapa aku tak peduli akan kekokohan istana pasir, karena aku tau kau selalu bersamaku untuk kembali menguatkan ketika aku lemah, ketika aku menangis, ketika aku butuh tau kenapa kau ada untukku.

Duhai, masihkah sibuk engakau disana? Masihkah aku boleh menghubungimu untuk sekedar menanya kabarmu hari ini? Sudahkah engkau makan siang tadi? Aku takut mengganggumu. Aku bahkan terlalu takut kehilanganmu. Sahabatku yang tak jengah mendengarkan, aku masih di sini. Duduk beralas pasir bersama istana pasirku. Aku ingin kamu disini. Jangan lupa selesai kamu memberi abdi pada dunia, kita akan bersama lagi. Walau sebentar saja, tapi tak apa. Aku bahagia.

Coba kamu lihat sahabatku sayang, awan sudah jernih. Tak ada lagi belenggu. Matahari juga sudah muncul. Hari ini sungguh istimewa. Meski aku tak bisa melihat senja dari sini, tapi nanti suatu hari ketika kita menginggalkan segala ego-ego yang menguap di kepala, kita akan melihat senja dari bukit tertinggi di kota kita. Ya kita, kau dan aku saja. Bersama arakan kapas putih di atas kepala, kukirim senja untukmu dari sudut hati yang paling rindu untuk bertemu denganmu lagi.

Banda Aceh, May 8th 2011. 00.10 am

More...

Author: Ummul Khairi
•Monday, February 28, 2011



Pagi tadi, niat awal setelah belajar pemograman, berdiskusi sebentar dengan teman, kemudian menayangkan tulisan tentang apa yang terjadi semalam. Pagi tadi tak seindah selaksa angkasa raya menghujam. Karena ternyata hati tengah berjelaga dalam. Seperti ditusuk sembilu dari berupa-rupa dunia pualam. Tapi, sudahlah. Dunia toh belum tenggelam.

Pagi tadi, seorang teman meminta dompet saku dengan berujar,
"Eci mau ambil uang"
Apalah. Aku diam saja. Karena ia setengah tak wajar. Aku terlalu fokus dengan coding visual. Dan tahukah? ia menyelipkan selembar gambar hati. Merah pekat walau ukuran tak cukup untuk dikata akbar. Dari origami sisa hasil lipatan megar. Katanya,
"Bukan untuk semua orang".
Agaknya ia malu untuk memalingkan wajah demi mencerna dua pasang mata meminta jawaban atas tindakannya yang sedikit tidak biasa.

Pagi tadi, kepalaku langsung memutar pada almanak tanggal. Tepat hari ini, 2 tahun lalu, rumah ini kubangun bukan tanpa pasal. Ia jadi juga bukan karena asal. Ia jadi karena kesederhanaan sebuah semangat.
"Dirumah ini kau bisa bahagia juga kesal, namun jangan hanya berbual. Berilah walau hanya sedikit. Karena menulis itu membangun peradaban dan untuk keabadian".

Pagi tadi, aku sadar telah melewati banyak hal sederhana. Padahal Tuhan tidak menghitung derma dari banyaknya kucuran dana. Karena Tuhan menghitung kesyukuran dari mata dan telinga. Lepas dari itu, Tuhan menghibahkan kata melalui bahasa yang bisa terus berubah siiring masa. Maka, untukmu rumah yang kujaga, selamat ulang tahun ke-2. Jika serupa manusia, kau terbilang balita. Selamat sentosa. Semoga melalui kalam dan terus berkejar dengan masa, aku bisa belajar dengan menuliskan karya sederhana.

More...

Author: Ummul Khairi
•Sunday, January 30, 2011

Ini murni tentang dunia maya! Dunia kayang yang tak jumpa mata dan telinga, dunia awang-awang yang tak kunjung terucap mulut akan kata. Hanya polesan ketikan rupa-rupa saja. Tapi semuanya tersimpan rapi dalam laci kepala. Semua dentang waktu berjalan membawa banyak cerita hingga tahun ke-4. Ya, semua hanya berawal dari kata-kata. Pada bagian yang lain, kami beratap yang sama. Satu atap yang menaungi tegaknya tubuh atas beban yang dipikul. Berkejar dengan waktu dan buku pada rak-rak tua bisu. Dan pada tiap sujud yang dikerjakan di Rumah Tuhan Segala, siapa yang mengira dua pasang mata menyerta satu mukena suci.

Pada waktu turunnya malaikat mencatat tiap gerakan dan hati yang tulus mencinta Yang Maha. Lihatlah! Ia tak melepas pandang walau sekejap. Hingga akhirnya beberapa benih tumbuh. Menelusup tiap jengkal hati. Membuka sisi tergelapnya akan putih. Ia tak mampu berdalih. Matanya tetap satu, pada juntai mukena putih menyatu kepala akan bumi. Ia harus tau, siapa wanita itu. Karena ada sesuatu di balik ia berjalan, cara ia berpikir, saat ia merenung dan ketika ia berteman sepi. Sejengkal lalu, ia menggenggam euforia kemenangan. "Aku berhasil menemu mu dalam ruang singkat. Dalam kosongnya log-log bisu berjalan" pekiknya. Separuh waktu kian tersenggal. Tapi lamat-lamat semua menjadi terbalik. Aku yang tidak banyak berkata, kamu yang banyak tertawa. Namun anehnya, kita masih padu.

Aku di semenanjung paling timur Sumatra, kau berada pada sejuknya Barat Jawa. Sering jika tak ada yang perlu dibicara, kepalaku memulai sesuatu yang aneh. Aku perlu membagi kata, waktu, juga semua yang terjadi kala kaki-kaki kita tak sanggup bergerak karena rentangan jarak. Namun, segala rentang selalu jenuh ketika tawa memecah sunyi malam. Padahal harusnya mata kita terpejam karena kelelahan hari. Tapi waktu yang kita habiskan tidak pernah bisa menang melawan rasa yang mendebar-debar. Bukan. Bukan benih merah muda seperti kata mereka. Bukan pula benih yang mengacu pada serupa nama cinta. Kau dan aku Tuhan pertemukan karena semua telah tercatat pada kertas abstrak Lauh Mahfuz.

Pada waktunya, kau harus mengambil sebagian potongan mozaik pada belahan bumi berbeda. Berpijak pada ranah lain. Seperti jadwal siang berganti malam, maka kita tak mengenal kata pagi. Biarlah. Karena kadangpun kita meretas malam hanya untuk mendebat isu, mengupas ayat Tuhan, berpuisi acak tentang hal paling konyol, atau bahkan terlelap dalam jaga.

Katanya, akhir Maret kau berada pada Banda. Jika tak ada aral melintang, temuilah segera Ayah Bunda. Mereka menunggu pada satu siang ahad menjelma nyata. Teman-temanmu menunggu bersama ceria yang kau bawa untuk secangkir cairan pekat di sudut kota. Dan, Ilmu yang kau bawa dari Barat Jawa meminta abdi pada dunia. Ah..menjadi temanmu adalah indah. Saat segala yang indah penuh kebaikan, maka kurangkum saja menjadi namamu.

More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, January 12, 2011

Saya yakin. Semua orang mampu memprediksi setiap angka-angka kehidupan yang akan datang melalui sebuah resolusi. Cukup terlambat tidak ya untuk berbicara resolusi pada hari ini? Biarlah. Sebenarnya resolusi adalah prioritas. Bagian mana yang harus didahulukan biasannya terletak pada awal baris. Kalau ingin sedikit berjalan kedepan, ketika seluruh resolusi ditarik garis lurus, kemungkinan besar titik-titik yang terbentuk akan menjadi kurva dengan garis linier. Setiap masalah dan solusi memiliki satu variabel yang sama. Selebihnya, hanya tinggal dikuadratkan saja semua agar menjadi berlipat-lipat. Sedemikian sehingga, angka-angka tersebut hanya acuan. Hanya model. Nilai eror sulit sekali diprediksi hingga detail sampai nilai terkecil. Agaknya, kepala kita terlalu berat untuk menerima sebuah kegagalan yang diprediksi baik. Sehingga terlalu lupa pula untuk menambah total actions dalam bilangan terakhir angka kita.

Sisi lainnya adalah, hal-hal yang belum sempat terjawab masih menguap di kepala. Saya belum terlalu tertarik menulis baku cakupan satu tahun kedepan. Masih ada hal serupa yang belum sempat disahkan sebagai kelulusan dari pencapaian tersebut. Waktu yang didepan ingin saya ajak menjadi kerabat. Ingin mencoba memberi ruang pada waktu dengan sedikit jeda. Bukan untuk bersantai. Bukan pula untuk menunda. Tapi, mengerjakan setiap lembar jawaban beban dari hal paling kecil yang luput dari fungsi telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, kaki untuk berjalan. Semoga waktu ingin sebentar mundur kebelakang. Tentu, bukan untuk terus mundur, tapi mengajaknya memfungsikan anugrah Tuhan tadi.

Masih banyak pertanyaan dalam tempurung kepala yang belum terjawab. Lembar pergantian tahun lalu, saya diserbu ribuan gema. Gema itu keluar membentuk banyak lipatan pertanyaan yang benar-benar menyudutkan hingga mata masih terjaga sampai dentang 4. Lalu saya hanya bisa menangis. Saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. banyak sekali bayangan silam muncul sekelebat. Tapi tak pernah satupun terkunci mati. Beberapa pertanyaan itu saya tekan bulat-bulat menjadi pernyataan acak yang entah dari mana muasalnya.

1. Hanya karena masalah kecil dan tidak sepaham, seseorang bisa menjadi tolol satu dunia!
2. Tuhan menunjukan kekuatan dan kelemahan seseorang melalui orang-orang yang masuk dalam hidupnya. Dan, terkadang seseorang ditunjukan apa sebenarnya keinginan yang belum bisa dibakukan dalam sebuah bahasa melalui orang-orang yang pernah dekat dengannya.
3. Pada waktunya seorang lelaki harus tidak berada pada kota yang sama untuk mengambil sebagian potongan mozaik dalam hidupnya.
4. Tuhan menunda doa seorang durja karena Tuhan tidak pernah mengenalnya.
5. Ada bagian dalam hidup yang diberi Tuhan secara gratis sejauh fungsi organ-organ memfungsikan dirinya.
6. Wanita tidak pintar merawat motor.Hm?
7. Seorang sahabat tidak perlu mempunyai alasan untuk bertemu, berbagi dan mengucapkan terima kasih.
8. Tuhan tidak memberi jawaban dalam kata. Tuhan memberi jawaban dalam bahasa.
9. Karena bunda adalah wanita, maka tangisnya bernama wanita.

Pernah berpikir tentang cinta? Lebarkan sejenak maknanya, kawan. Coba tuliskan siapa orang-orang yang benar-benar masuk dalam ruang bernama hati. Bagaimana ia sekarang? pulihkan pelik dalam kepala jika menulis namanya? Jika pun tidak, ia adalah orang-orang yang digariskan Tuhan untuk menjadi bagian dalam titian perjalanan. Banyak yang akan pergi dan banyak yang tetap tinggal. Hanya saja, mereka berada pada ruang-ruang berbeda sesuai dengan keunikan kunci tiap ruang.

Jika ada satu yang terlewatkan untuk menjadi hal baku dan harus saya lakukan kedepan adalah tidur di awal waktu. Artinya saya harus mengurangi aktifitas malam di depan kotak persegi lipat alias laptop. Semakin malam saya lewati bersamanya, semakin mata tak ingin berteman mimpi, semakin nyeri kepala dan tungkai dilumat angin malam. Saya sama sekali tak kebal dingin dan gampang sakit jika terlalu mem-force-kan diri. Padahal agenda cukup padat esoknya. Sudah banyak sekali teman-teman menganggap aktifitas ini adalah bergadang. Padahal sungguh, otak saya benar-benar bisa bekerja diwaktu malam. Dan, semoga saya bisa tidur di awal waktu tidak lebih dari pukul 12 tepat.

Dan, pernahkah selintas pikir, bahwa di setiap satu sudut dunia ada orang-orang mencintaimu lebih dari dirinya sendiri dan bahwa di setiap satu sudut dunia ada orang-orang yang membencimu lebih dari dirinya sendiri. Ada orang-orang yang pernah mencintaimu pada akhirnya membencimu, sebaliknya, orang-orang yang pernah membencimu pada akhirnya mencintaimu. Serta, orang-orang yang tak pernah kau kenal ternyata mencintamu dari dekat dan orang-orang yang kau harap balik cintanya dari jauh ternyata membencimu. Terakhir, pada satu sembarang acak, ada segelintir orang-orang yang tak pernah kau kenal dan dia tak mengenalmu untuk dikumpulkan menjadi satu dikemudian hari.
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, January 04, 2011



Sepintas malam lalu, berakhir satu kata. Pelan. Mereka yang duduk di pojok sana menghiba langit. Menengadah meminta jawaban. Pada pusaran ketidaktentuan jelma beberapa dilema. Sepersekian detik tadi, mengganti satu dengan enam kata sekali tegak. Ia sudah tidak ada dalam sistem manapun. Tidak ada pernyataan benar-salah. Segala ketentuan telah disusun agar tidak muncul lagi pada layar kosong. Ada yang menanya. Biarlah menjadi endapan saja. Kala langit masih bisu dengan sejuta rupa-rupa berikutnya. Biarlah langit tidak menjawab dulu. Mungkin saja Baginda Maha Segala mengulur waktu. Mungkin saja Baginda Maha Segala memberi sandaran lain. Atau, mungkin saja Baginda melindungi katup-katup kepala dari ketidaktentuan itu sendiri. Mungkin nanti ada jawaban dalam saku setelah bangun dari gigil beku. Ya, pasti itu. More...

Author: Ummul Khairi
•Monday, December 27, 2010



Akhir desember ini banyak sekali kegiatan yang menumpuk untuk di LPJ (Lembar Pertanggung Jawaban) kan. Semua menumpuk dibarengi dengan setumpuk tugas kuliah dan final hingga awal januari. Wajar kan ya? Namanya juga mahasiswa bukan tukang kuliah! Tanggal 22 desember lalu, Himatika (Himpunan Mahasiswa Matematika) Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala mempelopori satu event berkelas, menurut saya. Memang masih sekelas mahasiswa biasa yang belum memiliki sumbangsih dana besar, tapi semoga saja mampu menginspirasi tiap mahasiswa khususnya fakultas yang menjadikan mahasiswanya menyabet gelar sains sebagai peneliti muda. Event ini juga merupakan wadah bagi mahasiswa yang pernah mengikuti kompetisi-kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

Saya yakin sekali, masih banyak mahasiswa hanya melakukan penelitian ketika tugas akhir, setidaknya melalui kaca mata saya yang kuliah di Aceh. Ataupun beberapa mahasiswa yang pernah mengikuti ajang nasional maupun internasional dan belum memiliki wadah untuk mengaplikasikan juga mensosialisasikan apa yang menjadi penelitiannya. Momok ini mengakibatkan komunikasi dua arah berlawanan, sebagian mahasiswa atau adik-adik kelas belum mengetahui dan belum beradaptasi dengan penelitian, juga mahasiswa yang sudah melakukan penelitian hanya bisa menyuarakan hasil telitiannya ketika berhadapan dengan dosen pada sidang tugas akhir. Sebagian alasan inilah, Himatika menjembatani aspirasi keduanya. Masing-masing mahasiswa diuntungkan. Sebenarnya bukan mendapatkan keuntungan pribadi yang bersifat riil atau nominal tapi bagaimana memberi dan membagi agar setidaknya terinspirasi dan "teracuni". Selain itu, ide-ide yang masih menguap bisa di wadahkan dalam sebuah momentum. Momentum itu tak lain, karena kita masih muda dan harus punya karya.

Seminar ini dibuka oleh Nisa, adik kelas saya. Dan, beberapa peneliti yang menyampaikan presentasi adalah teman-teman seangkatan saya. Seperti Novi Reandy Sasmita (Rian), yang mempresentasikan game lingkungan yang ia buat menggunakan free software, Netbeans. Hasil presentasi ini telah ia ikutkan sebagai finalis pada BYEE (Bayer Young Environmental Envoy) dan berhasil menyabet sebagai Duta Lingkungan Aceh. Jika saja ia mampu ke tahap selanjutnya, ia pasti bisa mendapatkan tiket gratis ke Jerman. Tapi saya yakin rencana Tuhan adalah yang terbaik. Jika ada presentasi yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah, Vera Halfiani lah orangnya. Presentasi yang ia sampaikan adalah hasil sebulan KKP (Kuliah Kerja Profesi) di BPS (Badan Pusat Statistik) Aceh. Ia membuat sebuah model matematika yang dapat memperkirakan jumlah pertumbuhan penduduk di Aceh hingga tahun 2025. Satu lagi teman seangkatan saya, Khairun Amala yang berhasil mewakili Provinsi Aceh untuk mengikuti OSN-PTI (Olimpiade Sains Nasional-Perguruan Tinggi Indonesia) di Jakarta. Penelitiannya hampir sama dengan Vera, membuat modeling matematika untuk menganalisa produksi DME (Dimetil Eter) pada kebutuhan rumah tangga di Indonesia dengan menggunakan proyeksi model pertumbuhan. Laina Farsiah, satu-satunya peneliti wanita angkatan 2007 yang telah melaksanakan KKP nya di Taiwan. Ia melakukan risetnya di Academi Sinica, tepatnya di OSSF (Open Source Software Foundry) untuk mempelajari Media Wiki. Sedikit informasi, Jurusan matematika yang saya tekuni sekarang, menspesifikasikan bidang minat matematika dalam 4 hal, Matematika-Terapan, Matematika-Murni, Matematika-Statistik dan Matematika-Komputasi (Computer Science). Semua teman yang saya sebutkan adalah Mahasiswa Matematika angkatan 2007 yang juga teman sekelas saya. Presenter terakhir adalah Rika Sri Utami. Rika mahasiswa MIPA Kimia yang jenius luar biasa dan rendah hati pula. Ia mahasiswi tercepat angkatan 2007 yang akan sidang proposal dalam bulan ini. Ia mengikutkan penelitiannya pada PKM-P (Pekan Kreatifitas Mahasiswa-Penelitian) tahun lalu. Dalam penelitiannya ia juga mengikutkan Rian dan Milda (Mahasiswi Jurusan Biologi) sebagai partner kerja. Judul penelitiannya untuk menguji antimakan ekstrak Metanol dan Etilasetat tumbuhan Loranthus Parasiticus terhadap Epilachna Sparsa.

Saya sebagai moderator merangkap MC, merasa dikelilingi nuansa akademik yang kental dan nuansa peniliti yang begitu melekat pada Fakultas yang hampir 4 tahun saya naungi. Rasanya tiap detil yang mereka teliti sayang sekali jika hanya disimpan dalam bentuk kertas semata. Teman-teman di sekeliling merupakan guru besar yang selalu memberi inspirasi bahwa jargon "Yang Muda Yang Berkarya" belum mati. Saya seperti lalat dalam tudung. Masih sedikit sekali yang saya persembahkan untuk kampus maupun lingkungan. Karya saya masih kecil. Saya sangat yakin, sedikit saja bekerja keras akan membuahkan hasil yang lebih baik. Mari generasi muda, tak ada waktu untuk berleha!
More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, December 15, 2010

Diantara 2 yang sudah saya sebutkan pada postingan lalu, inilah PR terakhir dan sulit dijawab untuk orang sekelas saya. Sebuah pertanyaan esensial juga klasik dan rata-rata semua orang ingin mencapainya. "...by the way I still want to discuss about how to make network that we ever told before. Maybe you can tell me how to make relations/friendship/network with others especially foreign". Itu sepenggal email yang dikirim seorang teman 2 hari lalu. Ternyata ia masih ingat percakapan kami tempo hari tentang the way important network. Harusnya percakapan tidak berlanjut jika saya tidak mengirim artikel senior yang melanjutkan studi magister di Geelong, Melbourne. Niat saya mengirim artikel tersebut karena ia juga tengah belajar di Indonesia untuk melanjutkan studi magister disana.

Ia menyayangkan dirinya yang jarang sekali keep in touch dengan teman-teman atau profesor yang ia jumpai di Indonesia dan Jepang. Hm, maybe you just need a little begining. Bener lho! Walau kita punya deeply desire, tapi ketika tidak memulai, tentu komunikasi tidak akan terjalin. Tidak perlu jauh-jauh merefleksikan dulu ke foreigner, prinsipkan dulu dan memulai komunikasi dengan teman-teman lokal jauh lebih baik. Sama halnya seperti membangun sebuah pertemanan. Semuanya tidak terjadi begitu saja. Pun, tidak bisa dengan cara yang instan. Seperti kita butuh teman, pasti teman itu ada seperti adanya kita untuk teman itu. Prinsip saling mensinergikan satu sama lain yang paling dibutuhkan. Satu hal, jangan pernah menganggap teman itu seperti "obeng", ketika tidak dibutuhkan bisa dibuang. Sepantasnya ia dianggap "seseorang" diantara "banyak orang". Saya teringat jargon Fatih Billingual School, "semua murid kami bagai satu murid kami".


So, how about the foreigner? Seperti yang kita tau, hidup di Indonesia berbeda dengan hidup di Amerika, Ausie, Eropa dan Afrika. Jika orang tanya mengapa, saya hanya ingin meringkasnya, Tuhan yang menjadikan beda agar kita selalu belajar. Belajar arti toleransi, keterbukaan, menjadi minoritas, teknologi, kelaparan, survive juga keluar dari comfort zone.

Saya pernah sekali dilibatkan bekerja pada foreigner, pernah homestay dan belajar budaya mereka secara langsung juga keluarga saya pernah membuat agreement kerja sama selama setahun pasca tsunami menerjang Aceh. Berdasarkan sedikit pengalaman ini, saya bisa meng-ekstrak beberapa bagian. Dalam bekerja sama atau membuat perjanjian persetujuan sebuah kegiatan, pastikan terlebih dahulu, apa yang di dapatkan dari kerjasama itu. Ini bukan perkara untung rugi tapi merupakan awal dari pembagian tugas atau job description. Apa yang menjadi hak dan kewajiban harus jelas dan dibicarakan secara terbuka. Pastikan semua yang telah disepakati ada hitam di atas putih alias kesepakatan kerjasama di atas sebuah kertas. Jangan hanya karena kita mengenal baik negara tersebut dengan kedisiplinan atau penepatan janji, kita langsung percaya. Sekali lagi, aturan dan negara adalah sebuah tatanan sistem tapi yang merusak segalanya adalah orang-orang di dalamnya. Setiap orang kan beda-beda dan satu hal, tidak ada manusia yang dapat di percaya 100%. Hal-hal lain yang penting seperti akomodasi, logistik, transportasi juga beberapa hal dalam komunikasi akan berjalan dengan sendirinya. It just a time.

Membangun social networking atau relation, termasuk gampang-gampang susah. Saya sampai harus buka kamus oxford untuk menekankan makna dari keduanya. Dari beberapa makna, mungkin way in which two or more things are connected lah yang penting. Lalu? How to connected with them? Tidak ada kata lain selain komunikasi! Ketika akan berpisah dari seorang foreigner, jangan lupa minta email atau minimal social network account yang ia punya. Permulaan komunikasi, gunakan bahasa yang familiar namun tetap santun. Boleh juga diiringi joke tapi tetap hati-hati karena dinegara manapun sebuah joke pasti berbeda. Joke ini juga punya kelemahan, jika salah mengartikan maknanya, bisa jadi pertemanan yang selama ini terjalin baik akan putus tiba-tiba. Kadang jika berkomunikasi, kita sering menganggap teman kita membalas datar saja. Jangan salah mengartikan "kedatarannya". Banyak orang di negara luar berkomunikasi sesuai kadarnya, apa yang ditanya itulah yang akan dijawab. Mereka lebih banyak tidak basa-basi dari pada di Indonesia. Sesekali minta dikirim berbagai info atau kegiatan yang tengah hangat di sekitarnya atau di negaranya, bisa tentang beasiswa, hot issue, maupun kegiatan yang tengah ia lakukan. Tanpa diminta kita juga bisa melakukan hal serupa. Jadi, ketika memang pada saatnya kita "butuh" sesuatu, akses yang didapatkan juga lebih mulus.

Dikampus tempat saya belajar juga sering melibatkan mahasiswa untuk ikut serta dalam event-event nasional maupun internasional. Saya pernah 2 kali ikut dalam event conference international sebagai committe. Mungkin urusan softskill yang saya miliki adalah alasan nomor dua, tapi saya dan teman-teman dipilih karena network itu tadi. Saya sering berkomunikasi dengan salah seorang senior dan kemudian diajak untuk ikut bergabung dalam event tersebut. Ketika ada event serupa, saya kembali diajak karena bekerja dengan baik pada event sebelumnya. Nah, memberi yang terbaik juga berarti memberi harapan untuk dipercayai. Dipercayai karena mampu melakukan yang terbaik. Untuk selanjutnya, kepercayaan ini yang harus dijaga. Satu kepercayaan akan menghasilkan kepercayaan yang lain. Ah, sinergi sekali kan? Jika ingin melengkapi lebih lanjut secara teknisi, ada satu bacaan yang menarik disini.

Well, itu sedikit sekali dari yang saya tau berdasarkan pengalaman yang pernah saya jalani. Ukuran network dan relations bagi tiap orang juga beda-beda. Semoga bisa menjawab PR nya. Dan, di akhir email ia juga berkata "the campus is very nice, its has best facilities and the city,Melbourne, nice as well. Deakin is good as an education university in OZ. Hmm.. do you interest to go there, the campus near the sea and you can see sunset or sunrise :)". Dalam hati saya langsung menjawab "i do, i really do, as long as with you :D"
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, December 14, 2010

Jika sistem di dunia ini juga mengenal SKS alis Sistem Kebut Semalam, itulah yang saya lakukan saat ini. Bulan desember juga bulan final untuk mahasiswa menjelang semester akhir seperti saya. Seluruh kegiatan bernama wasting time harus sudah masuk kantong untuk sementara waktu. Kecuali satu kegiatan yang tidak pernah padam walau himpit menyerta, berjalan sendirian sambil hunting buku di sore hari. Meski waktu dan gerimis awal desember masih membelenggu jiwa untuk sekedar berjalan, tapi sunset pada persimpangan jembatan lamnyong masih menyisakan semangat walau hanya sekedar berdiri dan melumat suasananya dalam-dalam.

Tapi sekian waktu yang sengaja dilewati untuk sendiri, tetap saja malam pemenangnya. Saat semua kepala menyandar indah pada dimensi rupa-rupa, saya tetap setia pada kata saja. Gigitan dingin yang kerap menusuk serasa bisa diabai beberapa waktu kedepan. Memang Tuhan telah mencipta pada apa yang dianggapNya cukup bagi seseorang. Dan, semua yang melewati malam, cukup bagi saya.Then, here i am!

Beberapa waktu lalu, merupakan titik ledak dalam hal menyanggupi sebuah permintaan. Maka, saya biarkan seluruh organ tetap fokus pada apa yang saya anggap layak untuk ditepati. Sebuah janji! Terhitung 3 untuk saat ini. Seorang teman meminta untuk mentraslate beberapa slide English tentang TrueCript. Saya menyanggupi karena merasa bisa tanpa memperhatikan ketersediaan waktu dan urusan lain yang harus ditangani. Ia juga memberikan tenggat waktu. Lagi, saya menyanggupi. Pada waktu yang telah ditentukan, satu slide pun belum saya terjemahkan karena alasan kondisi kesehatan saya dan adik yang nyaris di rawat inap kerena DBD. Untuk masalah keluarga, saya tak punya toleransi lebih. Buat saya, urusan keluarga lebih penting dari pada dunia yang saya geluti sekarang, termasuk urusan janji!


Baiknya ia memaklumi kondisi tersebut. Pada saat yang berbeda, saya dan dia membuat kesepakatan untuk belajar online via YM tepat pukul 9 malam. Saya kembali menyanggupi. Tapi pada akhirnya, lebih 30 menit saya in line. Alasan saya masih hampir sama. Keluarga! Ya, family terdekat menghembuskan napas terakhir tepat pada hari saya janjian. Mungkin ia dongkol dengan sikap saya tapi ia berusaha menutupi. Dan, benar saja. Setelah saya merutuk diri atas kelalaian menepati janji, ia pun mengaku.

Pada saat yang sama saya juga merasa bersalah. Mengapa sebuah alasan keterbatasan dijadikan pembelaan. Padahal jika dirunut kebelakang, harusnya saya bisa belajar menghargai waktu dan tiap urusan. Setiap orang pasti punya keluarga atau urusan yang secepatnya harus ditangani dalam tenggat waktu yang disepakati. Tapi, sekecil apapun sebuah urusan dengan orang lain tetap harus dihargai kan ya. Jika menjadikan alasan sebagai sebuah pembelaan, bisa saja pada waktu yang lain, alasan pula yang menjadikan seseorang menyepelekan hal-hal yang seharusnya bisa selesai hari itu juga. Semua resiko harus ditanggung masing-masing selama disepakati bersama. Jika hal sekecil ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin besok terulang kembali. Kebaikan bukan hanya dinilai dari apa yang ia berikan, bukan? Tapi juga menghargai ekspektasinya dan effortnya juga.

Well, after that, saya kena kultum! Saat ini, masih ada 1 PR darinya. Itu salah satu upaya untuk memperbaiki kembali seluruh keadaan. Walau tak terganti secara sempurna, minimal kepercayaan itu harus dikembalikan dengan segera. Sebenarnya malam ini saya adendakan membaca beberapa bacaan yang tertunda. Tapi mungkin dikesampingkan dulu. Ya, biarlah. Minimal, saya menghargainya melalui effort yang saya keluarkan.
More...

Hiu
Author: Ummul Khairi
•Friday, December 10, 2010



Sudah pukul 1 dini hari semenjak saya menekan tombol power di laptop. Tapi, sudah lebih dari 24 jam saya memikirkan satu nama, Linda. Hati saya tergerak melenyapkan ego untuk sekedar bertemu dengannya dalam waktu dekat. Enam desember lalu dia menyempatkan untuk mengirim pesan singkat, kira-kira seperti ini "Hiu tersayang, besok 1 Muharram. Jangan lupa baca doa awal tahun ya. Ada di Majmu' Syarif. Semoga Allah menjaga kita". Saya tidak heran lagi kenapa kami-saya dan dia-hanya mengirim pesan singkat semata. Saya tau kesibukannya melebihi kapasitas saya yang terbilang sok sibuk di kampus maupun di rumah. Sahabat yang menemani saya dalam kurun waktu hampir 6 tahun ini, kuliah pada dua universitas yang berbeda dalam tahun yang sama. Dua fakultas yang ia jalani pun masuk dalam grade tertinggi di universitas masing-masing. Ia seorang yang cerdas, fokus, mandiri, anak bungsu dan susah diam jika sudah tertawa :D

Saya sempat kaget ketika ia meminta kesediaan untuk menjadi hiu kecilnya. Saya tak mengerti, kenapa harus jadi hewan karnivor dulu untuk menjadi sahabatnya. Dan, ia pun berkisah. Seekor hiu ukuran besar sekalipun juga butuh semangat dan tenaga ekstra jika ditempatkan pada wadah yang sama dengan hiu berukuran kecil. Lha, kenapa bisa begitu? Jelas bisa begitu. Karena, jika seeokor hiu berukuran besar sendiri di wadah, ia akan diam saja, sebaliknya jika ada teman disampingnya, maka hiu berukuran besar punya semangat lebih untuk saling berkejaran dengan hiu berukuran kecil. Sama halanya seperti hiu, seorang manusia pun tak mampu hidup sendirian. Ia juga butuh semangat untuk hidupnya. Meskipun semangat terlihat kecil di mata orang lain, tapi di mata seorang sahabat mampu menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang berharga karena seorang sahabat adalah seorang yang terpilih dari sebarang acak yang telah diberi Tuhan pada hidupnya. Filosofi yang sangat menarik!

Sudah cukup lama juga kami tidak bertemu walau hanya untuk sekedar berbagi telinga, tawa, aktifitas dan muraja'ah. Satu hal yang paling memotivasi saya ketika kami berkomunikasi, ia pasti menanyakan "Sudah berapa juz hafalannya?". Saya malu sekali jika harus mengaku, mengingat hafalan di kepala yang tidak bisa di kategorikan banyak. Saat bertemu pun, rindu yang memuncak itupun dihargai sebaik mungkin. Kualiatas waktu! Itu yang paling penting.

Saya menghargai waktunya sebagai kesatuan yang utuh. Artinya saya tidak mengobrak-abrik waktu yang telah ia tentukan untuk segudang agenda yang telah disusun rapi. Saya sangat yakin, Tuhan telah mengatur waktu yang paling tepat untuk seseorang bertemu dan berpisah. Proporsinya sesuai kadar tanpa ditambah maupun dikurang. Sahabat terbaik bukan saja mengingatkan sesuatu dari dekat tapi juga dari jauh. Bukan pula sebuah kuantitas dengan setia menanyai keberadaan dan kabar tiap waktu, tapi sebuah doa yang dirahasiakan. Rahasia karena hanya pendoa dan Tuhan lah yang tau dari tiap lembar kebaikan yang ia pinta untuk saudaranya sendiri. Wajar ketika mencintai saudara yang telah kita pilih berharap balik dicintai. Namun, hal yang mendasar bukan kembali mendapat cinta yang menjadi tujuan akhir. Tapi Tuhanlah yang kita tuju dan syurga menjadi bayaran termahal atas jiwa dan rasa. Jika berharap cinta lebih dari saudaramu sungguh tidak relevan dengan apa yang telah Tuhan berikan, pun tak akan sanggup manusia memberi sebanding dengan apa yang telah diberikanNya. Jika seseorang bertemu lalu berpisah, maka Tuhan telah bermain di dalamnya. Sebuah sifat natural yang tak perlu bantahan.

Sudah berulang kali kami mengagendakan jadwal bertemu, namun lagi-lagi ada yang harus di prioritaskan. Ah, sebenarnya memang skenarionya kami tidak dipertemukan dulu sebelum waktunya. Rindu? Jangan tanya. Saya melangitkan rindu padanya. Ingin sekali bertemunya sambil menyetor beberapa ayat baru. Semoga Tuhan mempertemukan pada saat yang paling tepat.

Sudah larut sekali. Saya butuh istirahat untuk menstabilkan kembali tubuh yang sempat drop lagi pasca keluar dari rumah sakit. Cukuplah "The Gift of A friend" nya Demi Lovato yang juga menjadi original sountracknya Tinker Bell; The Lost Treasure. Lagu ini menggambarkan betapa saya bahagia Tuhan anugrahi seorang sahabat terbaik dunia dan akhirat.
----------------------------
Sometimes You think You'll Be Fine by Yourself
Cause a Dream is a Wish You Make all alone
Its Easy to Feel Like You Dont Need Help
But Its Harder To Walk On Your Own

You'll Change
Inside
When You
Realize

The World Comes To Life
and Everything's bright
From Beginning To End
When You Have a Friend
By Your Side
That Helps You To Find
The Beauty you are
When You'll Open Your Heart and
Believe in
The Gift of a Friend
The Gift of a Friend

Someone Who knows When Your Lost and Your Scared
There through The Highs and The Lows
Someone toCount On
Someone Who Cares
Besides You Where Ever You Go

You'll Change Inside
When You
Realize

The World Comes To Life
and Everythings bright
From Beginning To End
When You Have a Friend
By Your Side
That Helps You To Find
The Beauty you are
When You'll Open Your Heart and
Believe in
The Gift of a Friend

And When your Hope Crashes Down
Shattering To The Ground
You , You Feel All Alone
When You Don't Know Which Way To Go
And There's No signs Leading You home
You're Not Alone

The World Comes To Life
and Everything's bright
From Beginning To End
When You Have a Friend
By Your Side
That Helps You To Find
The Beauty you are
When You'll Open Your Heart and
Believe In
When You Believe In
When you Believe
The Gift of A Friend

More...