22
Author: Ummul Khairi
•Saturday, November 17, 2012

Ketika kita ingin semua berakhir dalam gerakan yang lambat.
Ketika kita ingin duduk sejenak menyantap manisan dalam waktu yang semakin cepat.
karena aku tak bisa menunggu lama, setelah kamis siang nanti. More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, October 15, 2011

Taiwan. Bukan negara yang asing lagi untuk saya. Perangainya, logatnya, hingga pelitnya pun saya sudah hapal. Sejak-kurang lebih- 2007 lalu mereka sudah gencar datang ke Aceh. Mungkin tahun-tahun awal kedatangan mereka tidak terlalu digubris, karena mereka hanya berurusan dengan beberapa pihak yang mengundang hanya sebatas urusan akademik kampus intern, juga penandatanganan MoU menyangkut kesepakatan kerjasama bilateral. Ah...saya tidak tau pasti. Pada tahun berikutnya hingga sekarang, Taiwan gencar membuka peluang selebar-lebarnya untuk masyarakat Aceh yang ingin mendapatkan beasiswa by research atau course-work. Dan, terbukti beberapa mahasiswa Aceh yang berniat melanjutkan magister dan doktor diterima dengan sangat "welcome". Jika ada event besar yang menjadi benang merah antara kesuksesan penyedia beasiswa dengan mahasiswa, pasti keterkaitan itu adalah Taiwan Higher Education.

Siapapun yang merasa tertarik melanjutkan study ke Taiwan-terutama bidang Sains dan Teknologi- wajib datang ke acara setahun sekali ini. Dua ribu sebelas adalah kedua kalinya negara anak emas Amerika ini datang ke Aceh. Masih dengan misi yang sama, membuka informasi dan peluang selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin melanjutkan study ke Taiwan. Konsep dan teknis acara sama seperti tahun lalu. Saya juga pernah membuat satu postingan khusus disini. Tahun ini adalah pengalaman kedua saya sebagai booth-companion. Karena secara teknis dan konsep tidak ada yang berbeda, saya tidak merasa kesulitan sama sekali, walau tetap ada perbedaan yang cukup signifikan antara Chiao Tung University dan National Taiwan University of Science and Technology...


Me Vs National Taiwan University of Science and Technology
Universitas ini terletak di Taipei. Menurut seorang International Admission Office of International Affairs-yang saya lupa namanya siapa- lokasinya berdekatan dengan Taipei 101. Layaknya penyedia beasiswa, mereka menawarkan jurusan-jurusan yang bisa dipilih sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Seperti, Computer Science, Construction Engineering, Chemistry Engineering, Mechanical Engineering, Architect, Management Business, dll. Khusus untuk program Magister dan Doctor, mereka menawarkan Full English Taught. Dan, untuk Bachelor hanya tersedia kelas bahasa Mandarin. Dalam brosur yang dibagikan, saya melirik bahwa Taiwan Tech-sebutan lain untuk National Taiwan University of Science and Tecnology- adalah kampus nomor wahid untuk fokus sains dan teknologi. Saya tidak tau benar atau tidak, karena seperti itu yang tertulis. Jika berminat apply beasiswanya, sila kemari.

Jadi, ada apa antara saya dan Taiwan Tech? Sebenarnya saya tak ingin membuka lebar-lebar apa yang terjadi 1 oktober lalu. Cukuplah saya dan beberapa panitia inti yang berhak tau. Tapi, saya pikir nilai sebuah tulisan itu bukan terletak dari seberapa banyak diksi ataupun polemik yang dijabarkan, tapi keaslian tulisan itu sendiri. Tulisan yang nyata dan apa adanya lebih menembus ke hati. Mengapa ada perbedaan yang cukup signifikan antara tahun lalu dan tahun ini? Karena saya membuat sebuah pembanding. Pembanding tidak selamanya bernilai negatif. Sebaliknya, tidak selamanya juga pembanding bernilai positif, seperti sedikit rasa kecewa yang saya alami dengan Taiwan Tech.

Sebagai booth-companion, tugas kami adalah membantu mereka dari A hingga Z. Mulai dari pemasangan segala properti kampus seperti poster, bendera, mengatur booklet, memajang souvenir, mengingatkan mereka untuk lunch tepat waktu bahkan menggunting selotip dan membuang sisa sampah. Selebihnya, booth-companion membantu menerjemahkan segala informasi yang ingin diketahui pengunjung dari bahasa Inggris ke bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Setelah acara selesai, segala properti yang ada harus dilepas dan dimasukkan ke tempat semula. Seperti itu. Sederhana saja.

Booth-companion juga harus ramah memperkenalkan diri dan menayakan apa yang bisa dikerjakan agar semua pekerjaan cepat selesai. Saya juga, memperkenalkan diri dan menanyakan apa yang bisa saya kerjakan. Walau ujung-ujungnya mereka sendiri yang lebih tau posisi properti yang diinginkan. Jika tidak bisa mengerjakan sendiri, mereka meminta bantuan dengan sesama Taiwanese dalam bahasa Mandarin. Saya yang mengerti mandarin seujung kuku hanya bisa bengong-bengong saja. Huh...

Baru saja selesai meletakkan properti dan segala atribut universitas, kami sudah harus pindah ke booth yang lain. Saya tidak mengerti kenapa booth Taiwan Tech harus pindah, karena sekali lagi, mereka berbicara bahasa Mandarin tanpa pernah mau melibatkan saya sebagai booth-companion. Saya sudah mengendus kondisi yang tidak enak. Secepat mungkin kami pindah dan ba-bi-bu semua selesai dengan tanpa bantuan saya. Kawans, sungguh tak enak jika diacuhkan. Waktu berlanjut ke sesi pembagian booklet. Saat itu pengunjung sedang ramai-ramainya. Saya bertugas membagi booklet sambil berdiri tidak dipersilahkan duduk untuk sekedar melepas penat sesaat. Malangnya, kursi yang tersedia hanya untuk 3 orang dan semua sudah diduduki oleh mereka, Taiwan Tech's International Admission Office of International Affairs. Padahal saya sudah lelah sekali, sedang datang tamu bulanan pula. Oh, lengkaplah sudah.

Sekali lagi, jika harus membuat perbandingan, saya bisa mengatakan bahwa mereka tidak ramah. Tidak ada chit-chat sekedar bicara santai di sela-sela break. Mereka dengan sesama mereka saja. Bahkan waktu makan siang yang seharusnya saya ingatkan, mereka lakukan tanpa sepengetahuan saya. Jadilah saya sendiri dengan pengunjung yang berdesakan mencari informasi dan memburu souvenir.

Apakah semua orang Taiwan seperti itu? Saya rasa tidak juga-walau katanya mereka lebih individualis-banyak orang indonesia yang seperti itu, bahkan lebih. mungkin mood mereka sudah tidak karuan ketika booth Taiwan Tech harus dipindah. Atau mungkin saya saja yang sedang sensitif karena "si tamu" itu.

Me Vs Chiao Tung University
Sebelum hari-H, booth-companion dan calon booth-companion harus hadir ke KBA (Komisi Beasiswa Aceh) untuk mendengar sedikit pengarahan tentang jalannya acara. Di sela-sela pengarahan, saya dan teman-teman sempat berdiskusi dengan interviewer dan menyampaikan beberapa kendala jika ada. Secara teknis tidak ada masalah yang berarti, tapi saya sangat berharap ditempatkan pada booth yang sama seperti tahun lalu, Chiao Tung University. Ternyata booth tersebut sudah dipenuhi oleh seorang mahasiswa yang akan berangkat melanjutkan study disana. Alasannya agar mahasiswa tersebut bisa lebih dekat dengan universitas yang menjadi tujuannya. Sebenarnya sah-sah saja alasan itu. Saya pikir bagus juga, selain lebih dekat secara personal, informasi yang lebih akuratpun bisa digali langsung dari admissionnya.

Admission Chiao Tung yang akan datang adalah orang yang sama, Janet. Janet sangat ramah dan ekspresif. Saya tidak menduga booth kami bersebelahan. Saya pikir Janet akan lupa dengan seorang perempuan yang sudah membantu boothnya tahun lalu. Ternyata dia ingat dan langsung menyapa saya sambil berpelukan. Wanita berkaca mata ini juga memberi hadiah special yang ia tanya langsung pada seorang senior saya yang sedang melanjutkan study di Chiao tung. Such a honorable thing. What a beautiful making friendship.

Chiao Tung Vs National Taiwan University of Science and Technology
kawans, sekarang terbukti bukan? Bahwa etika dan perangai ternyata cukup mendominasi. Seorang yang cerdas sekalipun jika sombong tetap dipandang sebagai orang yang tidak berilmu. Itulah kenapa knowladge berada di urutan kedua setelah integrity. Dan hal ini berlaku bagi saya sebagai sebuah pembanding. Nilai-nilai apa yang harus saya garis bawahi sebelum mengambil keputusan. Jika pada akhirnya saya akan melanjutkan study ke Taiwan, sudah bisa saya pastikan Chiao Tung berada dalam daftar pilih. Dan, sudah bisa saya pastikan pula bahwa Natioanl Taiwan University of Science and Technology tidak berada dalam daftar pilih maupun dalam "kamus" hidup saya.

English, again and again!
Bahasa Inggris menjadi jaminan untuk melalui tahap akademik dan komunikasi verbal yang global. Saya tidak pernah mendapat kerugian dengan belajar-mengajar bahasa Inggris. Jujur, saya juga tidak pernah belajar bahasa Inggris secara intensif dan berkala dengan mengikuti les khusus bahasa Inggris. Tidak. Tidak pernah sama sekali. Saya hanya cinta bahasa Inggris. Saya tidak pernah berpikir rumit untuk belajar mencintainya. Saya mencintainya dari waktu ke waktu dengan berlatih, berlatih dan berlatih. Dengan apapun dan siapapun. Jadi, benar jika belajar atas dasar ketulusan dan cinta, kesuksesan itu akan ikut dengan sendirinya. Manis sekali bukan?

personal documentation belongs to Ria Purnama dan Suci Farahdilla
More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, October 05, 2011

Ah...tidak kemana-kemana. Masih berada di Aceh. Masih berstatus mahasiswa tingkat akhir, dan masih belum menikah :D
Lama tidak ngeblog jadi bingung mau nulis apa. Bukan masalah ide juga sih. Anyway, selama ramadhan lalu hingga Idul Fitri sampai hari ini, saya punya banyak cerita. Tapi justru bingung harus mulai dari mana. Mungkin sedikit gambar-gambar ini bisa manjadi awal baru tanpa harus mengumbar banyak kata. Ya sudah, dinikmati saja ya :)

ka-ki: Kak Meutia, Ayu, Frau Nova, saya, imel dan putri

Ramadhan tahun lalu saya sempat ikut kelas Jerman. Tahun ini Alhamdulillah masih diberi kesempatan lagi untuk lebih mengenal bahasanya negeri Hitler ini. Keberkahan ramadhan kami tutup dengan buka puasa bersama sekaligus farewell kecil-kecilan. Kebetulan dalam bulan agustus Frau Nova-Deutschlehrerin kami-berulang tahun. Kami menghadiahinya sebuah jilbab BB :D

Benar sekali. Gambar diatas adalah sebuah koin. Saking specialnya ini koin sampai saya masukkan dalam kotak khusus. Ada apa dengan koin ini? Hm, i need to keep it till the right time.


Postcard Taiwan ini dari Neng Rifka. Agustus lalu si Neng pulang ke Indonesia. Sebelum pulang saya sempat ditanyai alamat rumah. Saya pikir dianya mau main ke Aceh. Rupanya saya mau dikirimi postcard. Xie xie ni.

Yippi...Alhamdulillah Jurusan Matematika FMIPA Unsyiah dapat mempertahankan akreditasi A. Dan, jurusan kami adalah satu-satunya yang mendapat akreditas A di Pulau Sumatera. Bangga? Tentu saja. Untuk itu, dosen-dosen berinisiatif membuat syukuran dengan mengundang seluruh pihak yang membantu kesuksesan akreditasi tersebut. Salah satunya letting kami. Momen kebersamaan ini mungkin tak akan berlangsung lama, mengingat setiap orang pasti akan menempuh jalan masing-masing. Kenangan seperti ini yang akan saya rindukan.






ki: gumleaf bookmark, makanan kesukaan koala/ ka: tasmanian lavender postcard


Tepat di hari yang sama -syukuran akreditasi- saya berjanji bertemu seseorang. She has just return from Adelaide, Australia. Dia adalah tentor English saya sewaktu Bimbel. Kira-kira tahun 2005. Saya masih SMA. Dia adalah tentor English favorit saya. Kami berjanji bertemu setelah sekian lama. Pembicaraan masih tak jauh-jauh, melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ada rasa iri yang begitu dalam ketika bertemu Kak Eli. Tentang mengapa ia menjadi tentor favorit saya. Tahukah kawans? Ia sarjana dan master di bidang Matematika tapi ia sukses karena English. So, saya sangat percaya seseorang bisa sukses karena apa yang ia jalani sepenuh jiwa, bukan karena tuntutan.

Rumah bantuan tsunami di Alue Naga

Tugas akhir, tugas akhir dan tugas akhir. Yup, i'm on it. Tidak muluk-muluk, saya menargetkan pertengahan tahun depan lulus sarjana. Untuk itu, selama semester ini saya harus rajin-rajin membaca buku "wajib", mencari jurnal ilmiah dan berdiskusi dengan dosen pembimbing. Karena tugas akhir saya berhubungan dengan Recovery Aceh dengan kasus sosial dan menggunakan analisa serta hitung-hitungan statistik, saya perlu "buka mata", "buka telinga" lebih lebar untuk study case yang cukup abstrak ini. Saya diperkenalkan oleh pembimbing tugas akhir dengan seorang mahasiswa magister asal Jepang. Namanya Toshikazu Hiwaki. Lingkup daerah yang kami pelajari sama, Banda Aceh dengan tambahan Aceh Besar untuk riset magister Toshi. Untuk itu, selama Toshi di Aceh, kami -saya dan kedua teman lainnya- jalan-jalan melihat bangunan bantuan tsunami. Salah satunya di kawasan Alue Naga ini. Jika kawans ingin tau lebih lanjut, sila membuka Google Earth untuk melihat perbedaan warna atapnya. Dan bandingkan dengan warna atap perumahan Jacki Chan ini.

ki: seluruh panitia THEE 2011/ ka: hadiah dari Janet

Satu Oktober lalu saya dan kawan-kawan kembali disibukkan dengan event sekali setahun, THEE 2011 (Taiwan Higher Education Expo 2011). Konsep acara dan teknisnya sama seperti tahun lalu dan saya kembali bertugas sebagai booth companion. Tahun ini saya mendapat universitas yang berbeda, National Taiwan University of Science and Technology. Sayangnya saya sedikit bad impress dengan universitas tersebut. Nanti saya akan buat satu postingan khusus tentang THEE 2011. Ah...lets talk another part.


Namanya Janet. Dia adalah Chiao Tung's International Admission Office of International Affairs. Yaa...semacam orang yang menangani langsung mahasiswa-mahasiswa international di Chiao Tung University. Tahun lalu saya menjadi booth companionnya di acara yang sama, THEE 2010. Orangnya ramah sekali. Saya pikir Janet sudah lupa dengan saya karena kami tidak saling memberi kabar dalam kurun waktu setahun. Tanpa saya duga, ia masih ingat saya. Malahan saya lebih dulu ditegurnya pada acara THEE 1 Oktober lalu. Setelah bertukar kabar dan menanyakan kesibukan masing-masing, Janet membisiki saya sesuatu.
"Ai, i have something for you"
Lalu ia mengeluarkan sebuah agenda, bookmark dan sumpit Jepang. Saya pikir, pastilah ia membawa hadiah tersebut tidak dengan persiapan khusus karena tiap tahun dan tiap booth menyediakan souvenir gratis bagi para pengunjung. Ternyata saya salah. Sebelum dia ke Aceh, Janet menyempatkan diri bertanya tentang apa yang saya sukai, langsung ke salah satu senior di kampus saya yang sekarang mengambil magister di Chiao Tung, Taiwan. Dan, senior saya mengatakan,
"She is Japanese Lover"

Mungkin itulah mengapa Janet memberi saya sumpit Jepang. Walau bagi saya semua sumpit terlihat sama, tapi sumpit yang ini beda. Dari seseorang yang ramah dan hanya saya temui tidak lebih dari 10 jam. What a wonderful making friend :)

Hari minggu lalu saya diminta abaty untuk menggantikan pengajian khusus anak-anak. Saya kebagian anak-anak SD kelas 1-3. Saya memberi materi tentang Ibu. Pengajian ini nomaden. Minggu lalu di Museum Tsunami. Meski museum rancangan Ridwan Kamil ini sangat terkenal di Aceh tapi baru minggu lalu saya bisa masuk dan explore langsung. Nah, gambar di atas adalah salah satu tempat pajangan lukisan-lukisan yang menggambarkan dahsyatnya tsunami Desember 2004 silam.

That's all. Selebihnya saya "wajib" menenggelamkan diri pada beberapa rutinitas, kuliah, mengajar, survei, dan tugas akhir. Alhamdulillah, semuanya berjalan seperti yang saya harapkan.
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, August 02, 2011


Aku binggung! Di depanmu, aku linglung. Kamu seperti sebuah lorong. Mau tak mau harus terdesak masuk dalam likunya. Diam. Dingin. Bisu. Aku dihadapkan dengan garis-garis semraut. Berkelok dan tak tau akhir lintasannya. Didepanku ada sebuah lintasan panjang yang menuju beberapa titik. Mencapai ujungnya harus bergegas dengan waktu. Sesekali berkelok sebentar untuk singgah di tempat yang tak semestinya. Kemudian lintasan semakin panjang, sedang aku harus mencapai titik terdekat. Jika belum bertemu titik perintang yang kucari, kakiku akan diam ditempat. Kemudian kembali lagi pada keadaan semula. Aku berjalan dua kali pada lintasan yang sama. Pada jarak acak yang kubuat sendiri. Sungguh! Sulit sekali berada pada satu lintasan yang sama denganmu. Mensejajarkan dengan inginmu. Egomu. Lucunya, meski mencari lintasan terdekat adalah hal absurd yang telah kulakukan, aku bahagia...



nb: Algoritma Dijkstra. Salah satu algoritma yang digunakan untuk mencari lintasan terpendek dari suatu graf. More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, July 19, 2011

Hari ini ada pesta rakyat di kampus saya. Pemira. Pemilihan Raya untuk menentukan siapa Presiden Mahasiswa untuk setahun mendatang. Selama kuliah, ini Pemira ke-4 yang saya ikuti. Jauh sebelum mengenal Presiden Mahasiswa itu apa, saya sudah lebih dulu paham apa itu organisasi. Bagaimana kesatuan yang dibangun dalam struktur. Agar nanti jika terburai lakon-lakon di dalamnya, mereka masih punya pegangan untuk kembali mengikat. Ujung-ujungnya akan kembali lagi pada wadah semula, kesatuan.

Organisasi bagi saya cukup urgent. Saya sudah bercokol di dalamnya sejak SMP. Baru merasakan organisasi sebenarnya ketika menginjak bangku SMA. Dimulai dari organisasi rohis, OSIS dan Pemimpin Redaksi tabloid sekolah. Jika mengingat masa itu lagi memang tak pernah lekang. Syukur hingga saat ini saya masih menyimpan jejak-jejak kejayaan dulu dalam bentuk visual maupun tulisan. Masa SMA adalah sebuah batu loncatan. Semua momentum yang saya cari ada disana. Inilah awal ketika saya mengenal beberapa orang yang nantinya berpengaruh dalam hidup hingga hari ini. Diawali dengan sesuatu yang paling sederhana, ukhuwah. Persaudaraan.

Saya pikir Presiden Mahasiswa itu melebihi jabatan rektor. Ia memiliki segalanya. Kawan banyak. Prestasi segudang. IPK di atas rata-rata. Pengalaman organisasi jangan tanya. Intinya Presiden itu memiliki kuasa. Agak takjub pertama sekali memilih presiden yang di usung sebuah lembaga. Kami mahasiswa-mahasiswa baru yang tergabung dalam lembaga kampus itu harus memilih satu nama berikut nomor yang harus di coblos. Ternyata sistem pemilihan presiden kampus sama seperti pemilihan presiden pada pemilu. Bedanya, kami mahasiswa. Pemilu, kita rakyatnya. Apalagi waktu itu saya mahasiswa baru yang masih dungu dan lugu.

Suatu ketika di tahun 2009 saya ditugaskan mengikuti sebuah rapat lembaga. Ternyata pada hari itu rapat tidak jadi dilaksanakan karena suatu kendala. Pada saat yang sama beberapa tim sukses juga sedang mengadakan rapat. Kondisi saat itu minus 3 hari pemilihan presiden kampus. Setiap lembaga yang bernaung pada organisasi maupun ormas A, B maupun C sedang gencar-gencarnya merencanakan strategi. Entah strategi apa itu. Hingga lambat laun saya sadar banyak politik yang bermekaran. Daripada kami mahasiswa-mahasiswa semester awal ini menjadi cecunguk, kami diajak masuk untuk mengikuti rapat sembunyi-sembunyi yang dihadiri beberapa petinggi-petinggi politik kampus.

Saya lebih banyak diam saat itu. Tidak mengerti kenapa begitu banyak selebaran yang bergambar calon A dengan nomor sekian yang di sudut kanan selebaran berisi ajakan untuk memilihnya. Saya sedikit tertawa dengan beberapa kalimat yang salah penulisan EYDnya. Foto hasil copyan calon yang di usungpun agak sedikit nyentrik-jika bisa dikata berlebihan. Beberapa mata tertuju pada saya ketika secara blak-blakan saya ungkapkan beberapa kekeliruan yang maksud hati ingin memberi saran tapi di respon sedikit negatif oleh mereka. Saat itu juga saya sadar telah berada pada ruangan yang salah dan pembicaraan yang belum terlalu saya mengerti.

Sekarang sudah tahun 2011. Sedikit banyak saya sudah tau pergerakan kampus dan menjelang kampanye kepresidenan. Agenda mereka yang mengelu-elukan calonnya begitu banyak dengan serentetan acara hingga debat kendidat. Semuanya dilakukan secara terstruktur hingga tanpa cela. Semua mahasiswa mendapat hak melihat langsung ketika calon-calon mereka naik panggung untuk menyampaikan visi-misi. Sebuah pesta rakyat yag transparan di muka. Meski kami para mahasiswa belum pernah sekalipun bertatapan jauh-jauh hari sebelum calon presiden di usung, tapi tiap tahun saya mendapat puluhan sms untuk memilih calon ini dan itu. Mendekati hari-H, sms makin gencar hingga bernada sedikit memaksa untuk memilih Calon Presiden (Capres) Apel, Melon dan Manggis. Sama seperti Capres yang kebanyakan tak dikenal para mahasiswa, sama juga halnya seperti beberapa teman saya yang terlibat langsung dalam Pemilihan Raya ini. Jika memperhitungkan logika, wajar saja calon yang diusung sebagai Capres tidak pernah terlihat sebelumnya. Mahasiswa dari fakultas tempat belajar sendiri saja jarang terlihat, apalagi mahasiswa dari fakultas lain. Namun, beda halnya dengan teman-teman saya yang sehari-hari sering saya lihat dan kenal pula.

Beberapa teman di sekeliling saya memiliki potensi untuk menjadi orator maupun Tim Sukses (TS). Teknis mereka dipilih beragam. Bisa jadi karena kedekatan dengan suatu lembaga atau organisasi, bisa karena potensi-potensi tadi dan bisa juga karena sering ikut-ikutan. Saya sendiri pernah hampir dilibatkan dalam masalah Pemilihan Raya, namun secara perlahan saya mundur. Bukan karena cacat potensi. Tapi hanya karena satu hal yang sebentar lagi akan saya jabarkan.

Kondisi gencar sms dimulai kira-kira seminggu sebelum hari-H Pemira. Berbagai sms "iklan" untuk mendukung dan menycoblos calon bernama "Melon" saya dapatkan hampir setiap hari dengan waktu tak pasti. Hingga tengah malampun sms masih berdatangan. Syukur saya menganut ilmu vampir. Produktif di malam hari :D Jadi tidak terlalu mengganggu, juga tidak pernah sebarispun digubris. Hari yang dinanti tiba. Saatnya Pemira. Semua yang masih terdaftar sebagai Mahasiswa Unsyiah berhak mendapatkan hak pilih. Seperti hari ini. Pagi tadi seluruh komponen maupun petinggi yang kelak menduduki sebagai pengurus Pemerintahan Mahasiswa nanti berkumpul di titik-titik yang berbeda dan tentu saja sudah di organisir serapi mungkin. Kampus pagi tadi, dan pagi-pagi pada Pemira tahun-tahun lalu, seperti sunyi. Seperti ada banyak rahasia dalam mulut-mulut. Rahasia-rahasia tersembunyi itu tidak akan dimuntahkan sekarang. Tapi nanti ketika mereka sudah punya kursi. Ketika nama-nama mereka tercatat dalam dokumen asli.

Sekitar pukul 10 selepas berkutat dengan rumus-rumus rotasi dan partikel, saya menggunakan hak sebagai mahasiswa. Setelah mencoblos saya langsung ke mushala depan kampus untuk Dhuha. Tanpa ba-bi-bu seseorang menyapa saya dengan,

"Eh, udah nyoblos?". Saya berkilah,
"Hmm, belum"

Raut mukanya berubah masam. Rasanya ingin sekali menjawab lagi "Ini mushala. Mengapa tak tanya sudah Dhuha, apa kabar atau sudah sarapan belum?". Maaf kawan. Saya sengaja berbohong untuk melihat reaksimu. Untuk membuktikan apa yang selama ini saya yakini benar. Menolak mundur untuk turut terlibat teknis langsung dalam Pemilihan Raya.

Semalam Abaty sms seperti ini " Esok kita menikmati pesta demokrasi mahasiswa. Pastikan esok kita berpartisipasi dalam Pemira dan jangan lupa bawa kartu pengenal untuk menyoblos. Kakak yakin kalian tau siapa yang akan kalian pilih. Semoga Allah membersamai kita ". Bahasa yang halus, singkat, jelas dan tanpa paksaan. Lalu, kenapa juga kawan-kawan saya yang berkecimpung langsung dalam Pemira harus sms seperti ini "Diintruksikan kepada seluruh jajaran bla...bla...untuk dapat mencoblos dari pukul 8 -9 pagi. Jangan lupa pilih "Melon" dengan nomor "3443". Jika sudah selesai mencoblos segera hubungi saya". Bahasa yang sangat memaksa dan kental unsur politik.

Saya dan Abaty cukup dekat. Setiap minggu kami bertemu untuk saling bertukar ilmu, mengingatkan satu sama lain, merekonstruksi ibadah yang sedikit melemah dan banyak hal lain. Sebuah struktur yang rapi dalam kelompok kecil untuk selalu memperbaiki diri. Kawan-kawan saya yang berlabel organisasi atau lembaga A, B maupun C, hanya sesekali bertemu, jarang komunikasi maupun interaksi juga jarang berada di kampus. Seperti mereka hanya mengenal mahasiswa ketika Pemira tiba. Seketika menjadi syahdu dengan tausyiah melalui sms. Seketika menjadi yang terdepan jika memilih "Melon". Seketika menjadi demikian akrab dengan junior-junior di kampus. Menunggui gerbang kampus untuk sekedar bertanya "dek, udah nyoblos?". Lupakah mereka sapaan umat islam "Assalamualaikum" atau sekedar bertanya "Apa kabar?". Seketika menjadi baik mentraktir beberapa orang yang sedikit "bebal mencoblos" untuk di antar ke depan kotak TPS. Seketika begitu banyak pesan singkat yang masuk dan deringan telepon untuk -lagi-lagi- mengingatkan orang-orang "udah nyoblos belum?" bukan diingatkan "nanti jangan lupa sarapan ya". Mukanya berseri hari itu. Cuma sehari itu saja untuk selanjutnya meninggalkan semua keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Besok sudah bisa dipastikan tidak ada satupun batang hidung mereka, teman-teman saya penyelenggara Pemira. Ternyata rasa manis sehari hanya untuk Pemira. Beginikah interaksi itu dibentuk?

Saya dibesarkan dalam struktur organisasi maupun lembaga yang disusun rapi. Dalam sebuah organisasi yang padat makna. Saya tak akan berani menerima jabatan ini-itu jika satu senti pun tak tau makna mengapa harus melakukan tugas dari jabatan tersebut. Apa yang menjadi lakon dalam hidup, disitulah semua gerak. Disitulah semua berproses. Bukan hasil yang menjadi tujuan utama, tapi sekali lagi, proses untuk berkembang menjadi yang lebih baik. Tak mudah memang. Karena kepayahan itulah yang dinilai Sang Maha Kuasa. Kepayahan mengeluarkan pendapat kala ide berada di minoritas penerimaan, bersitegang dengan kepala-kepala yang tak sepaham, pintar-pintar mengelola manajemen waktu, dan terus bertemu dengan karakter berbeda dari tiap generasi. Nanti semuanya akan di akumulasikan melalui gerak untuk berbuat. Paham dengan apa yang dijalani. Semuanya hanya untuk memperkuat ukhuwah. Persaudaraan. Tak-tik apa yang menyebabkan Kafir Quraisy menang melawan Islam pada masa setelah wafatnya Rasulullah? Bukan karena harta, tahta, jabatan, maupun wanita. Tapi karena jalinan ukhuwah yang sudah terburai kemana-kemana. Interaksi dan komunikasi yang dibangun setengah-setengah. Itulah mengapa saat ini terlalu banyak kubu yang kita jumpai. Terlalu banyak kepala-kepala yang beranggapan kelompoknyalah yang paling benar. Kelompoknyalah yang seharusnya menang. Kelompoknyalah yang pantas berkuasa.

Kawan, hidup bukan persoalan kalah-menang. Hidup bukan seumpama piala yang selalu di elu-elukan. Hidup juga bukan 5+5 sama dengan 10. Hidup adalah proses mencari hingga menemukan. Kemudian berproses lagi. Begitu seterusnya. Ketika berproses juga tidak bisa sendiri. Kita butuh pegangan. Butuh sandaran. Butuh pedoman. Adalah mereka, orang-orang di sekitar kita yang tidak datang sehari maupun kemarin. Karena sesuatu yang instan maka juga pergi dengan instan. Dialah ukhuwah. Persaudaraan kuat yang akan selalu mengingatkan ketika kita lupa lakon hidup sebagai makhluk lemah. Sudah dari semalam badan saya seperti remuk-remuk. Baby oil pun tak mempan. Agaknya saya perlu istirahat lebih awal dan meninggalkan sejenak dunia "vampire" :D

nb: Bagian terakhir tidak terlalu penting. Hanya untuk menambah keorisinilan tulisan dan keadaan saja. More...