Author: Ummul Khairi
•Saturday, August 25, 2012

Punya buku Ust.Yusuf Mansur juga bagian dari book wish list saya. Keinginan itu saya tulis pada tanggal 17 Mei 2012 dan baru terealisasi 21 Juli 2012. Awalnya tidak terpikir memiliki salah satu buku beliau. Saya terkesan karena rekomendasi dari kajian jumat-an yang saya ikuti. Buku-buku Ust.Yusuf Mansur sangat banyak dan semuanya seri refleksi. Akhirnya saya memilih an Introduction to: The Miracle of Giving. Jika ada 6 bintang, maka saya akan memberi 10 bintang untuk buku ini. Setiap lembarannya sarat akan ilmu. Sederhana tapi sangat bermanfaat. Buku setebal 180-an ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca siapa saja dan oleh kalangan mana saja. Buku ini sangat sangat WAJIB dimiliki!

Ibadah; Jalan Rezeki Utama, Bekerja Dengan Allah, Bekerja Untuk Allah
1. Memperluas Jalan Usaha, Memperbesar Hasil Usaha
Semula banyak orang berpikir bahwa hasil usaha adalah seukuran kerja, seukuran usaha, seukuran proyek, seukuran dagangan atau seukuran modalnya. Begitulah selama ini pikiran kita bekerja. Tidak pernah terpikirkan atau jarang terpikirkan bahwa hasil usaha bisa DIPERBESAR lewat jalan ibadah, dan jalan usaha bisa DIPERLUAS lewat jalan ibadah.

Ya, banyak diantara kita yang tidak berani berpikir bahwa jalan ibadah bisa menambah dan memperluas rezeki. Mungkin hanya sebatas yakin saja tapi jika jalan ibadah bisa menjadi sebuah metode, menjadi sebuah solusi yang "dikertaskan", tidak sedikit yang kurang berani.

2. Ikhlas, doa dan harapan memberi spirit dalam beribadah
Ada yang mengatakan, tidak boleh ibadah karena dunia-Nya, harus karena wajah-Nya semata. Ibadah itu harus ikhlas. Tidak boleh mengharap apa-apa. Padahal, orang-orang yang mencari dunia milik Allah lewat jalan ibadah pun tidak mesti juga serta merta dikatakan tidak ikhlas. Bagaimana kalau mereka secara cerdas, "memisahkan" antara keikhlasan dan doa? "memisahkan" antara keikhlasan dengan harapan? Artinya ketika mereka menjalankan, mereka tahu dengan ilmunya, bahwa dengan beribadah, dunia akan Allah dekatkan, tapi pada saat yang sama, mereka beribadah sepenuh hati kepada Allah. Bahwa ia menempuh jalan ibadah, sebab karena Allah dan Rasul-Nya memberi petunjuk demikian.

"Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan" (QS. Ath-Thalaq: 7)

Salahkan kita? Apakah kita disebut tidak ikhlas hanya karena beribadah karena berharap akan kebenaran janji-Nya? Salahkah kita bila percaya pada "omongan"-Nya? Sama "iming-iming"-Nya? Salahkan juga kalau kita kemudian bersedekah karena ingin diberikan kemudahan atau karena kita ingin segala kesulitan dihapuskan-Nya? Sedang inilah Firman-Nya. Tega betul jika disebut tidak ikhlas.

Matematika Dasar Sedekah
1. Kehebatan sedekah
Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa, dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah juga kasih sayang serta bantuan Allah. Tapi kepada siapa Allah berikan semua ini? Kepada siapa yang mau bersedekah, kepada yang mau membantu orang lain, dan kepada yang mau peduli serta berbagi.

"Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya" (HR. Muslim)

2.Matematika Dasar Sedekah
Apa yang kita lihat dari matematika dibawah ini?
10-1=19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan dari mana?
Kok ketika dikurangi hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10-1=9?
Ini kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah diatas adalah matematika sederhana yang diambil dari Surat Al-An'am ayat 160 ketika Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

Tentang matematika sedekah ini lebih lengkap bisa dilihat disini. Lho katanya kita harus mengeluarkan hak orang lain 2,5 %? Sedekah kita yang 2,5 % itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita di dunia ini maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat selalu dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah, ba'diyah, hajat, dhuha, tahajud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal dan banyak maksiatnya. Maka jadilah kita orang-orang yang merugi.

an Introduction to The Miracle of Giving
1. Karena ilmu dan keyakinan
Ada seseorang yang butuh kejadian sesuatu, yang kemudian mengantarkannya kepada Allah. Ada juga yang cukup dengan ilmu dan keyakinan yang mendorongnya beribadah, tunduk dan patuh kepada Allah. Dua-duanya istimewa. Yang salah adalah yang tidak bergeming, tidak beribadah; baik dengan ilmunya, maupun pengalamannya. Jadi jika punya hajat, punya keinginan perbanyak ibadahnya seperti shalat dhuha, tahajud, sedekah, doa dan dibarengi ikhtiar. InsyAllah pertolongan Allah pasti datang lewat jalan mana saja dan siapa saja.

2. Karena kejadian dan pengalaman
Ada yang melakukan ibadah karena ilmu dan keyakinan, dan ada yang melakukannya karena pengalaman. Seperti kisah seorang bapak yang kehilangan seorang anak. Anaknya bisa dikatakan sensor motorik dan sensor otaknya kurang sempurna yang membuatnya berbeda dari anak lain. Ayah si anak sangat sedih, bingung, gundah dan khawatir dan ia mengadukan semuanya pada Allah lewat munajatnya di tengah malam. Alhamdulillah karena hal ini si Ayah jadi rajin tahajudnya. Ada yang mengatakan, ya begitu lagi punya masalah rajin banget sujudnya, begitu sudah lepas, lepas juga ibadahnya. Sedangkan bagi saya, barangkali seperti itulah cara Allah mengajarkan dan mengingatkan hamba-Nya. Kita harus yakin, bahwa meminta dengan jalan ibadah, itulah cara terbaik, sesuai petunjuk-Nya. Apabila kita lupa ibadah, atau sekedar meyurutkannya, maka siklus kesusahan akan berulang juga kejadiannya. Nah, capek kan? Masa untuk bisa mengingat Allah harus terus-menerus lewat pintu kesusahan? Akan lebih baik lagi bila kita mau berkenan ibadah karena syukurnya kita kepada Allah. Tentang anaknya si Ayah tersebut, melalui doa-doanya, akhirnya si anak ketemu dan Subahanallah dengan kuasa-Nya, bertambah baik motoriknya, fisiknya dan bolehlah bila ia disebut sebagai anak normal.

3. Ibadah karena kebiasaan
 Ada yang bukan karena ilmu, atau karena sebuah peristiwa ia beribadah. Tapi karena kebiasaan. Ada seorang nenek yang dari kecil diajarkan orang tuanya untuk selalu tahajud. Kalau biasanya kita sering nanya "Ada enggak obat yang bikin kita enak tidur, bisa tidur nyenyak?" Nah kalau si nenek sebaliknya, "Ada enggak obat yang bikin susah tidur?" Si nenek suka sebel, menurutnya lebih baik tidak tidur dari pada tidak tahajud. Subahanallah. Kebiasaan bisa dibiasakan. Asal punya kemauan, punya niat, dan sungguh-sungguh memulai kebiasaan yang mau dibiasakan. Kebiasaan akan menjadi karakter. Maka hati-hatilah dengan kebiasaan buruk.

4. Bukan karena meminta, tapi karena syukur
Ada yang melakukan ibadah sebab syukurnya dia sama Allah, Tuhannya. Seperti cerita seorang ibu yang rajin bangun malam karena anaknya lulus SMU dan masuk perguruan tinggi yang diidam-idamkan anaknya, di jurusan yang juga diinginkan anaknya. Dia bangun malam karena bersyukur. Lain lagi dengan kisah seorang istri yang rajin dhuhanya, sebab dia sadar dhuha ini yang mengantarkan suaminya jadi bekerja di perusahaan yang bagus, dengan karir dan punya peluang yang bagus. Dia dhuha lantaran syukurnya.

5. Tidak selalu dibayar dengan uang
Sedekah bisa mengantarkan seseorang agar hajatnya dipenuhi oleh Allah, seperti keinginan naik haji, dapat jodoh, menyelamatkan perusahaan, naik karier, mendapat kekayaan, bayar utang, punya anak, persoalan penyakit, modal usaha, persoalan keluarga, bisnis, dagang, pendidikan, persoalan suami-istri, anak-cucu-mantu, anak autis, punya rumah, mobil, memberangkat orang tua ke haji, dll. Sedekah uang tidak selalu dibalas dengan uang. Sebagaimana sedekah, yang tidak harus melulu berbentuk uang. Kenapa kenyataannya tidak selalu demikian? Memang seperti itulah, tapi kadang bukan berbentuk uang tunai, melainkan yang senilai dengan uang tunai tersebut. Sebut saja: penyakit atau kehadiran kesehatan bagi badan kita, umur, bala, kesempatan hidup yang lebih baik, anak yang sehat atau kehadiran anak itu sendiri, sehatnya keluarga, selamatnya diri dan keluarga, karier yang lebih baik, status sosial yang lebih baik, dll. InsyAllah, Allah akan betul-betul membayar tunai segala kebaikan kita. Sebab itulah memang janji-Nya. Baik sangka kepada Allah adalah sebagian dari iman.

Sedekah yang dilengkapi dengan amalan lain, maka kemuliaan dan keberkahan si pelakunya akan melesat tinggi dengan cepat. Apabila sedekah kita kurang, amalan yang lainnya juga kurang, apalagi ditambah dengan sederet dosa dan keburukan yang kita lakukan, akan semakin jauhlah kita dari kebercukupan. Sebaliknya, bila kita melengkapi amaliyah keseharian kita dengan banyak hiasan kebaikan yang terdiri dari amalan-amalan sunnah, maka InsyAllah hidup kita akan tercukupi. Misal kita punya hajat besar terus sedekah seadanya aja. Allah memang mencukupkan kebutuhannya tapi masih terasa kurang. Itu terjadi karena sedekahnya memang "tidak sebanding" dengan hajatnya. Istilahnya sedekahnya belum nyampe ukuran seharusnya.

6. Rahasia dibalik kisah; jadi metode, jalan cepat, jalan mudah
 Peraturan rumus/metode:
  • Siapa yang memberi 1 akan dibalas 10, atau bila Allah berkehendak maka Allah akan membalas hingga 700 kali lipat atau tak terhingga.
  • Balasannya dari Allah bisa jadi yang senilai atau setara, tidak harus selalu uang.
  • Kalau Allah bayar tunda perbuatan baik seseorang, maka bayaran atau balasannya itu akan semakin besar. Ini berlaku untuk perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
  • Manusia bisa lupa, tapi Allah Yang Maha Mencatat tidak akan pernah lupa perbuatan seseorang. Besar kecilnya tetap akan Allah balas, tetap Allah akan hargai. Tentang kapan balasan, tergantung kehendak Allah.
  • Berbuat baik terhadap anak yatim dan tak mampu, balasannya lebih istimewa ketimbang berbuat baik kepada anak yang orang tuanya lengkap dan mampu.
Ada sebuah kisah nyata tentang seorang penjual singkong dan seorang anak kecil yang tidak punya uang dan sangat ingin singkong. Hari pertama si anak hanya berdiri di gerobak penjual singkong. Hari ke-2 si penjual masih tidak bergeming memberi si anak walau hanya buntut singkong. Lalu pada hari ke-3 si penjual luluh dan ia dengan ikhlas memberi buntut singkong pada si anak tersebut. Hari esoknya si anak tidak kelihatan lagi. Si penjual singkong pun menjalani hari-harinya seperti biasanya. Sempat bingung juga kenapa anak itu tidak muncul-muncul lagi. Dua puluh empat tahun kemudian, si anak kembali menjumpai penjual singkong itu. Namun, ia tidak mengenal anak yang sudah tumbuh dewasa. Hingga si anak membuat muka memelas dan meminta buntut singkong, sama persis seperti si anak meminta singkong pertama kali. Barulah si penjual  mengenal anak tersebut, si anak buntut singkong. Si anak menceritakan kisahnya, pada saat itu ia baru saja ditinggal Ayahnya yang sudah meninggal dan tidak punya uang untuk membeli singkong hingga dijauhi teman-temannya karena tidak punya jajan. Setelah diberi singkong, pada esoknya ia pindah ikut ibunya. Si anak tersebut ingin membalas kebaikan si bapak dengan memberangkatkannya umrah. Subahanallah. Inilah buah dari ikhlas. Buah dari sedekah.

Kadang kita manusia, karena kurangnya ilmu, ketika jalan sudah dibukakan Allah, malah Allah lebih sering ditinggal. Atau kalaupun tidak ditinggal, maka terhadap Allah kita sering juga mengurangi jatah perhatian dan waktu untuk-Nya. Meniti jalan-jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, itulah jalan-jalan ikhtiar yang terbaik. Apalagi kalau kemudian bisa lurus dan istiqamah. Dunia akan dibukakan Allah buat mereka yang mengabdi kepada Allah. Sebab dunia adalah milik-Nya. Dan Dia akan menguasakan lagi kepada siapa yang Dia kehendaki. Wallahualam.
More...

Author: Ummul Khairi
•Friday, August 24, 2012

Kemarin siang saya merealisasikan keinginan 21 Juli dan 1 Januari 2012 lalu. Masih seputar buku kok. Kali ini buku Twitografi Asma Nadia. Buku itu merupakan kumpulan Twit Asma Nadia di Twitter pribadinya @asmanadia. Sebagai follower Asma Nadia, saya ikutin terus beberapa komentar pembaca buku tersebut. Sebenarnya ada beberapa bukunya yang lain yang ingin dibeli, tapi nanti dulu. Sering kali jika membeli sebuah buku, saya melihat kadar kebutuhannya. Apakah saya memang butuh buku tersebut atau tidak. Urusan budget nomor dua. Karena budget bisa diusahakan. Melihat komentar pembaca dengan beberapa kelengkapan kategori yang memang saya butuhkan, saya janji pada diri sendiri harus memiliki buku biru itu.

Isinya banyak. Lengkap. Tentunya seputar Twit yang sudah pernah ada di lamannya Asma Nadia. Buku itu mencakup Twit tentang jilbab, busana muslimah, keimanan, cinta, pernikahan, poligami, kepenulisan, parenting, olahraga, diet, traveler, motivasi, kepedulian sosial, dll. Salah satu Twitnya dari buku Sakinah Bersamamu yang paling saya suka adalah:

Jika kau tanya kenapa aku memilihmu...itu karena Allah memberiku cinta yang ditujukan kepadamu
seketika air mata saya tumpah. Teringat kejadian sehari yang lalu.

Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah Parenting. Jika saja seluruh orang tua atau calon orang tua punya bekal parenting yang baik, InsyAllah generasi kedepannya juga ikut baik. Karena satu unit terkecil dalam hidup itu dimulai dari keluarga, ayah dan ibunya. Banyak pasangan muda yang blank dengan konsep parenting, sehingga pendidikan anak jadi trial dan error. Lalu kenapa konsep parenting itu penting? Hingga setiap orang tua atau calon orang tua harus ikut seminar atau trainingnya? Mungkin konsep parenting ini dikenalkan pada saat sekarang. Pada saat zaman sudah canggih. Dulunya, orang tua dari orang tua kita hanya berbekal cara mendidik anak dengan konsep yang diterapkan orang tua mereka juga. Sehingga konsep itulah yang terbawa hingga hari ini. Tidak peduli benar atau salah karena seperti itulah yang diajarkan turun temurun. Syukur kalau apa yang diajarkan itu benar, nah kalau salah? Atau konsep turun temurun itu sudah berbeda dengan zaman sekarang? Itulah mengapa-bagi saya- Parenting itu perlu dan menjadi kebutuhan. Dalam buku tersebut ditulis seperti ini,

Anak-anak punya memori kuat atas apa yang mereka dengar, karena itu jaga komentar kita didepan mereka. Pada masa pertumbuhan awal, orang tua adalah sumber kebenaran bagi anak-anak, baik atau buruk yang kita sampaikan, bagi mereka adalah kebenaran. Apa yang dianggap cantik atau buruk, apa yang dipercaya, benar atau salah, apa yang dianggap memalukan atau membanggakan, semua tergantung ucapan kita di masa pertumbuhannya. Ucapan kita adalah nilai yang ditanamkan pada anak-anak. Jika hal buruk yang kita ucapkan sudah melekat sebagai kebenaran bagi anak-anak, maka akan lebih sulit untuk melupakannya. Mendidik anak bukanlah pekerjaan mudah, namun mendidik anak itu adalah ibadah.

Konsep Parenting (Dalam Buku Rumah Tanpa Jendela):
1. Tugas orang tua membangun impian anak
Terutama ibu, tugas seorang ibu adalah mengajak anak berani memahat mimpi dan memperjuangkannya. Sebagai orang tua harusnya bisa berkaca dan bermuhasabah, bagaimana kita telah mengukir ingatan anak-anak tentang orang tuanya?

2. Menyiapkan anak kalau saja usia orang tua singkat
Impian anak tak harus mati, ketika ayah bunda tak bisa jadi tempat bersandar lagi. Hidup merupakan rangkaian tragedi. Tapi tragedi tak boleh menghentikan mimpi.

3. Menghargai kebersamaan ketika semua masih hidup
Bagaimana seharusnya orang tua ataupun anak memaknai setiap kebersamaan. Bahkan terkadang anak-anak tidak pernah tau apa arti saudara kandung baginya. Kadang kita baru merasa seseorang berharga ketika kehilangan mereka.

4. Bersyukur diberi amanah memiliki anak
Anak adalah anugerah. Terimalah dengan sempurna seorang anak betapapun fisik mereka tak sempurna .

Bahkan ada beberapa kalimat yang tidak pantas diucapkan pada seorang anak, seperti:
"kok temenmu bisa, kamu gak bisa sih? makanya jangan malas, belajar dong!" (mending evaluasi cara belajarnya daripada nuduh!).

"Kalau bandel bunda turunin kamu disini ya!" (padahal gak mungkin diturunin, jadi nanti omongan orang tua tidak dipercaya).

Dan beberapa kalimat lain yang sering kita dengar padahal tak pantas diucapkan. Membaca buku ini membuat saya sadar, betapa banyak konsep yang saya terapkan pada adik saya masih kurang tepat. Betapa masih jauh sekali konsep menjadi orang tua yang baik menjadi bahan kajian yang harus dicermati. Dan betapa saya hanya mengkritisi orang tua saya salah ini dan itu, tidak baik begini dan begitu, padahal menjadi orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar karena mengemban amanah yang tak kalah besar. Semoga Allah menjadikan generasi sekarang dan berikutnya menjadi generasi yang mau memperbaiki diri terus menerus. More...

Do!
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, April 10, 2012


More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, March 24, 2012

Male Brain. Buku terbitan gramedia ini didasarkan pada pengalaman klinis Louann Brizendine selama 25 tahun sebagai seorang dokter ahli saraf. Namanya juga Male Brain. Keseluruhan buku ini berisikan sebagian besar pengetahuan tentang otak laki-laki. Saya juga pernah menulis tentang Female Brain disini. Banyak hal menarik dan pengetahun baru dari buku sebanyak 300-an lembar ini. Secara mendasar, perbedaan otak lelaki dan perempuan sangat sering terlalu disederhanakan serta disalahpahami.

Otak lelaki dan perempuan berbeda sejak masa kehamilan. Sel lelaki memiliki kromosom Y dan otak wanita jelas tidak memilikinya. Perbedaan penting mulai terjadi di awal pembentukan otak, ketika gen menetapkan tahapan untuk proses pembentukan DNA lebih lanjut oleh hormon. Delapan minggu usia kehamilan, testikel lelaki mulai menghasilkan testosteron yang cukup banyak untuk merendam otak dan pada dasarnya mengubah strukturnya.

Itulah mengapa perbedaan itu terlihat ketika mereka memcahkan masalah, menghasilkan kata-kata, mengingat , memperhatikan ekspresi wajah, jatuh cinta, mendengarkan tangisan bayi, rasa marah, sedih ataupun takut. Bahkan ketika Brizendine mengatakan ingin membukukan hasil pengalaman klinisnya dalam buku Male Brain ini seorang pasiennya tertawa dan mengatakan “Itu akan menjadi sebuah buku yang tipis! Mungkin lebih menyerupai pampflet”. Well, mungkin itulah mengapa banyak yang mengatakan “Laki-laki itu simple dan wanita itu rumit”. Padahal, dalam kenyataannya, otak lelaki adalah mesin pemecah masalah yang efisien. Setuju?

Ada beberapa hal yang dibahas dalam buku ini. Mulai dari otak anak laki-laki, otak remaja, otak perkawinan ; cinta dan nafsu, otak dibawah pinggang, otak sang ayah, kehidupan emosional laki-laki hingga otak laki-laki yang telah matang.

Otak anak laki-laki
Para peneliti telah menemukan bahwa anak laki-laki dan perempuan lebih memilih mainan dari jenis kelamin mereka sendiri, tetapi anak perempuan akan bermain dengan mainan anak laki-laki, sementara anak laki-laki di usia 4 tahun, menolak mainan anak perempuan bahkan mainan dengan “warna perempuan” seperti pink contohnya. Dulu sewaktu adik perempuan saya masih kecil dan melihat mobil-mobilan adik lelaki saya nganggur, ia langsung mengambil kain gendongan dan membuat mobil itu seolah-olah seperti bayi dan ia adalah ibunya.

Otak remaja
Antara usia 9-15 tahun, sirkuit otak laki-laki dengan miliaran neuron dan ribuan juta sambungan “mulai hidup” ketika tingkat testosteronnya meningkat hingga 20 kali lipat. Apabila testosteronnya adalah air, seorang anak laki-laki usia 9 tahun mendapat testosteron setara dengan 1 cangkir air sehari. Tetapi di usia 15 tahun, hal itu setara dengan 2 galon air perhari. So, testosteron secara biologis menjadikan semua pikiran dan perilaku yang muncul dari otaknya menjadi bersifat maskulin. Laki-laki juga memiliki pemroses yang lebih besar di inti bidang otak yang paling primitif yang menyalakan rasa takut dan memicu agresi protektif yaitu amigdala. Inilah mengapa sejumlah laki-laki akan berjuang sampai mati untuk mempertahankan orang yang mereka cintai. Terlebih lagi, ketika berhadapan dengan kesedihan emosional pasangannya, bidang otak untuk pemecahan masalah dan memperbaiki situasi yang dimiliki laki-laki akan langsung berpijar.

Otak perkawinan ; cinta dan nafsu
Laki-laki memilki ruang otak 2 ½ kali lebih luas yang ditujukan untuk hasrat seksual didalam hipotalamus mereka. Pemikiran tentang ituu selalu berkedip-kedip dibagian belakang korteks visual lelaki, sepanjang pagi dan malam hari. Ini riset lhoo. Intinya, bagi otak laki-laki, kemampuan untuk mendapat pasangan berarti membuat DNA dan gennya memasuki generasi selanjutnya. Walaupun tidak secara sadar memikirkan hal ini, secara naluriah ia ingin mendapatkan keturunan yang banyak. Nah, ini penting juga untuk diketahui. Bedanya, otak perempuan mencoba untuk melihat apakah seorang laki-laki memiliki sesuatu yang diperlukan untuk menjadi pelindung dan pencari nafkah yang baik. Peneliti mendapati hal ini benar, apapun tingkat pendidikan ataupun kemandirian finansialnya. So, jangan menganggap cewek itu matre ya, karena kebutuhan finansial itu salah satu penentu keberlangsungan hidup.

Otak dibawah pinggang
Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan hal ini terlalu rinci :D
Sebelum bermain-main dengan ‘otak dibawah pinggang’ ini, ada baiknya baca tentang ini sebagai persiapan menikah kelak.

Otak sang ayah
Seorang ayah tidak tercipta dengan sendirinya. Para ilmuwan mengetahui bahwa otak laki-laki berubah ketika kehamilan pasangannya semakin membesar. Ayah biasanya tidak ngidam mangga, ice cream atau terjaga dengan rasa mual setiap pagi seperti yang dialami ibu rata-rata. Tetapi mereka pun memilki perubahan emosi, fisik dan hormonal yang selaras dengan kehamilan pasangan mereka. Dua perubahan hormon besar saat menjadi calon ayah: testosteron menurun dan prolaktin meningkat. Alam telah membentuk ikatan biologis yang tak terpatahkan antara orang tua dan anak. Tapi biasanya seorang ayah merasa cemburu terhadap bayi laki-lakinya karena si bayi lelaki selalu ingin ibunya dan tampak si ibu juga memilih bayinya dari pada suaminya. Bagi para ayah, sulit menyesuaikan dasar biologis ikatan cinta antara ibu dan bayi. Begitu pula sebaliknya, Ketika anak perempuan memilki hubungan yang erat dengan ayahnya, hal ini menetapkan tahapan untuk membina hubungan yang lebih baik bersama laki-laki dalam hidupnya. Pantas saya merasa sering tak akur dengan mama. Bagi saya otak wanita terlalu rumit untuk disederhanakan.

Kehidupan emosional laki-laki
Keluhan klasik yang sering kita dengar: lelaki menganggap perempuan terlalu emosional dan perempuan menganggap laki-laki tidak cukup emosional. Kalau berbicara emosi tidak perlu jauh-jauh. Wajah dingin dan datarnya lelaki adalah salah satu alasan yang membuat perempuan cenderung berpikir, “mereka tertantang secara emosional”. Tetapi dalam penelitian ini, lelaki secara otomatis menyimpan perasaan mereka untuk diri mereka. Satu saran untuk kaum adam. Wanita selalu menyimpulkan wajah datar kalian dengan rasa kesal, marah ataupun tidak menghargai meski sebenarnya kalian tidak bermaksud seperti itu. Untuk itu, jika kalian merasa kesal, marah atau apapun sebaiknya katakan saja atau setidaknya tunjukan wajah asli emosi itu ya.

Otak laki-laki yang telah matang
Otak lelaki yang sudah matang menjadi semakin menyerupai otak perempuan dewasa secara hormonal. Kira-kira umur 50-60 tahun mereka menjadi lebih baik, dewasa dan lembut. Nah, bagaimana dengan otak seorang kakek? Tentunya bahan bakar yang menjalankan sirkuit otak lelaki juga berubah. Lebih banyak menggunakan oksitosin dan estrogen dan tidak terlalu banyak vasopressin dan testosteron. Laki-laki juga mengalami karir yang menurun dan mencari proyek baru yang menarik untuk membuat mereka tetap sibuk dan “terlibat”, atau setidaknya sebagai pengamat. Mungkin itulah kenapa orang yang sudah lanjut usia senang mengobrol lama. Dan, ikatan seorang lelaki dengan cucunya bergantung pada hubungannya dengan anaknya yang sudah dewasa.

Budaya dan cara kita mengajari otak untuk berperilaku memainkan peran besar dalam membentuk otak kita. Bila seorang anak laki-laki dibesarkan untuk "menjadi seorang laki-laki", lalu ketika dia dewasa -alur dan sirkuit otaknya- yang telah dipengaruhi seperti itu, semakin dibentuk untuk menjadi lelaki dewasa. Well, mungkin tidak semua otak lelaki bisa digambarkan secara singkat seperti diatas. Tulisan ini sebagai pengetahuan untuk saling memahami dan menyederhanakan jiwa yang kompleks, seperti lelaki dan wanita. More...

Author: Ummul Khairi
•Thursday, February 16, 2012

Beberapa hari lalu saya bermimpi cukup aneh. Mimpi aneh bukan pertama kali saya alami. Saya tipe orang yang available tidur dimana saja. Asal sudah lelah, bosan dan butuh istirahat, saya menyempatkan untuk tidur. Mungkin untuk sebagian orang, istirahat cukup di malam hari. Yaitu tidur pulas. Sebagiannya lagi, istirahat bisa dalam kondisi apapun. Termasuk tidur siang. Jadi, tidak heran budaya Siesta sangat lazim dijumpai di Spanyol. Tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut hal itu.

Kembali ke mimpi yang aneh. Anehnya, jika rata-rata orang butuh tempat yang nyaman dan sunyi untuk bisa menghadirkan mimpi, saya malah bisa terbang ke alam mimpi dalam kondisi apapun. Including take a nap. Lima menit saya sandaran di kursi dalam kondisi sangat lelah, saya bisa masuk ke alam bawah sadar, mimpi. Mimpinya pun beragam. Beberapa mimpi yang akan saya ingat termasuk penting dan bisa pula "mengatakan" sesuatu. Dulu saya pernah bermimpi berkenalan dengan seseorang yang bernama Candra. Candra mengenalkan dirinya tanpa pernah saya lihat wajahnya. Waktu berlalu. Dan saya bertemu dengan seseorang yang bernama Candra. Yaitu senior saya di Fakultas. Selebihnya tidak ada, dan kami tidak pernah berkenalan secara langsung. Hanya sekedar tahu saja.

Mimpi yang lain saya alami ketika Ramadhan. Hampir sebagian besar mimpi-mimpi itu akan "mengatakan" sesuatu. Dan, keesokan harinya, saya selalu bertemu dengan orang-orang yang diceritakan pada mimpi itu. Mungkin sebagian orang menganggap mimpi adalah bunga tidur. Atau lebih tepatnya mimpi adalah reka ulang kejadian yang sudah dialami seseorang pada waktu yang lalu. Karena terlalu mengingat kejadian demi kejadian, akhirnya alam bawah sadar kita merekam dan memutar kembali keadaan yang sama di dalam mimpi.

Bercerita mimpi yang beberapa hari lalu terjadi, saya pikir ada jawaban yang belum terjawab saat ini. Dalam mimpi itu, saya makan siang dengan keluarga di salah satu rumah makan yang menyajikan ayam bakar sebagai menu utama. Anehnya, rumah makan tersebut menghadirkan chef yang sangat kita kenal. Siapa lagi kalau bukan Farah Queen. Dalam dunia nyata, saya sangat suka menyaksikan Farah ketika memasak. Sebagian menu-menu cakenya saya catat. Saya sangat suka membuat cake. Mungkin wajar-wajar saja jika Farah hadir di mimpi saya. Yang tidak wajarnya adalah seperti ini.

Ketika saya memuji masakan dan menanyakan resep masakannya-masih dalam mimpi- Farah berkata ia tidak punya cukup waktu untuk berbincang lama karena jam terbangnya padat. Ia pun berjanji untuk melayani saya via Yahoo Messenger. Dan, keanehan pun mulai terjadi. ID Yahoo Messenger seorang Farah Queen adalah mahakamagung@yahoo.com.

Olala...seketika itu juga saya terbangun. Belajar dari pengalaman The Beatles yang menghasilkan lagu fenomenal Yesterday yang tercipta sesaat setelah bangun dari tidur, saya pun bergegas mengambil HP dan mencatat ID Chef cantik eksotik itu. Siapa tahu memang benar!

Otak saya kembali berputar. Loading cukup lama untuk menyuruh tangan membuka laptop dan mencari di mesin pencari Google. Kata kunci yang saya ketikkan adalah mahakamagung. Tidak ada kata kunci yang benar-benar pas dengan mahakamagung selain ini. Saya tidak berhenti mencoba dengan kata kunci lain. Kali ini Farah Queen. Sekilas saya baca, Farah lahir di Bandung dan menikah dengan seseorang berkebangsaan asing. Memiliki satu anak bernama Armand. Walau dalam salah satu tayangan acaranya ia pernah menyebutkan bahwa Palembang adalah kampung halamannya, tetap saja tidak ada kata identik antara Farah, Bandung, Palembang dan mahakamagung. Baik. Kali ini kata kunci terakhir. Mahakam. Sungai Mahakam. Sungai ini adalah sungai terbesar di Provinsi Kalimantan timur yang juga tidak ada hubungan sama sekali dengan Farah, Bandung, Palembang- sebagai ibu kota Sumatera Selatan, Sungai Mahakam dan mahakamagung.

Sebelum saya mengaktifkan YM!, ada rasa sedikit takut. Bukan takut dengan seseorang dibalik ID tersebut yang bisa saja berniat buruk, tapi saya takut bisa jadi ID itu adalah sarang virus paling ganas. I hate thread so far. Tapi demi memuaskan rasa penasaran, saya coba meng-add ID mahakamagung@yahoo.com. Ternyata tidak valid. Saya makin penasaran. ID tersebut saya kombinasikan lagi dengan angka, titik, strip dan underscores. Hasilnya tetap tidak valid. I quit. Farah Queen tidak pernah punya ID mahakamagung!

Kata orang. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Angin jatuhpun Tuhan tau. Tapi, dalam sebuah buku tentang istikharah yang saya pernah baca, untuk seorang manusia biasa, tidak selamanya mimpi itu berarti jawaban dari doa-doa. Hal ini berprinsip bahwa mimpi yang di titahkan langsung oleh pencipta terhadap manusia hanyalah untuk seseorang yang suci seperti Nabi. Contohnya saja mimpi Nabi Ibrahim menyembelih ismail, atau Nabi Yusuf yang bermimpi melihat bintang. Pantaskah kita sebagai manusia biasa diberi mimpi selayaknya para Nabi dan Rasul? Wallahualam

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya percaya itu. Siapa tahu nantinya saya bekerja pada pabrik industri mahakamagung atau saya sendiri yang memimpin perusahaan tersebut.
Hehehe...You'll never know :D More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, January 14, 2012

Sebagian orang, ada yang percaya karma dan tidak. Saya termasuk orang yang tidak mempercayainya. Namun saya percaya, bahwa satu hal yang saya lakukan hari ini akan berdampak di kemudian hari. Terlepas dampak itu positif atau negatif. Dalam keyakinan yang saya anut juga mengatakan hal serupa. Bahwa setiap sikap, tutur kata, kemunafikan, kesombongan akan dibalas walau seberat zarrah (atom) pun. Sila buka Az-Zalzalah: 7-8.

Merujuk pada teori Butterfly Effect atau Efek Kupu-Kupu yang menyatakan bahwa Efek tersebut merupakan sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Seorang berkebangsaan Amerika menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan bantuan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Lelaki yang bernama Edward Norton Lorenz berlatar belakang Matematika dan Meterologi ini mendapatkan hasil seperti ini.

Tadinya saya pikir Lorenz melambangkan kupu-kupu dalam teorinya karena kecintaannya pada makhluk bersayap dua ini. Ternyata jika dilihat lebih lanjut, hasil perhitungan yang ia cetak dalam grafik tersebut mirip dengan kupu-kupu. Entahlah. Saya tidak tau persis. Tapi jika dilihat lebih detil lagi, setiap titik-titik yang membentuk 2 kepakan sayap tersebut seperti membentuk 2 ruas lingkaran yang pada setiap titik berada pada titik yang serupa dalam jarak yang berbeda. Seperti kita berada di sebuah waktu A1 dan akan kembali pada waktu A2 pada jarak A2-A1. Mungkin Butterfly Effect ini juga bisa menjadi acuan pada kondisi Deja-Vu. Ada yang tertarik menganalisanya?

Dalam buku The Secret juga mengatakan bahwa apa yang kita pikir dan rasa, frekuensi dan gelombang pikiran dan rasa tersebut akan melibatkan alam semesta dan alam semesta akan bereaksi balik pada frekuensi dan gelombang yang kita kirim. Sebagai contoh, jika kita memikirkan sesuatu yang membuat marah maka kita akan marah. Karena alam bereaksi terhadap gelombang pikiran tersebut. Sebaliknya, jika kita berpikir positif, maka keadaan akan berlaku positif. Ada baiknya pula mengimbangi bacaan kita dengan Quantum Ikhlas dan Law of Attractionnya milik Erbe Sentanu.

Saya ingin mengatakan seperti ini. Mungkin hidup kita sekarang diibaratkan seperti ratusan angka dibelakang koma. Kita bahkan nyaris tidak peduli. Karena angka-angka tersebut akan berdampak dalam jangka waktu yang panjang. Tidak sekarang, tidak nanti tapi esok. Suatu hari. Pasti! Jadi, tidak ada alasan untuk menunda sebuah kebaikan dan capaian, sekalipun dalam sebuah kertas.

*Dan kawan, ternyata menulis itu juga angka-angka dibelakang koma. Kita tidak tau efeknya hari ini, tapi nanti. Pasti!
More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, June 18, 2011


Wanita! Bagaimana saya bisa mendeskripsikan makhluk ini? Padahal saya sendiri wanita, tapi seujung kuku pun belum ada yang benar-benar mampu mengerti keadaannya, cara berpikir, cara mengeluarkan pendapat, diamnya, tangisnya, dan semua yang wanita rasakan selama hidup. Baik wanita dewasa, remaja maupun kanak-kanak. Semua tentang wanita bisa serba tak berujung sesuai dengan sudut pandang pembicaraan. Saya juga, kadang belum mengerti keinginan sendiri. Keinginan seorang wanita pada umumnya selalu berubah-ubah. Saya pernah sangat mengerti ibu saya ketika moodnya sedang seperti ini dan itu. Tapi di lain waktu semua mood yang sudah saya rekam dikepala bisa buyar seketika. Alih-alih saya harus merekam jejak mood yang baru lagi sebagai antisipasi jika dihadapkan dengan masalah A pasti saya bertindak sesuai yang dikehendaki si A. Dan begitu seterusnya. Lagi-lagi, wanita itu -dengan berat hati- terlalu kompleks untuk sesuatu hal yang dianggap ringan tapi kadang di berat-beratkan. Saya pernah membahas wanita secara khusus disini.

Wanita punya kehidupan sendiri. Siklus hormonal khusus, dan yang paling penting, wanita bisa cepat tanggap dengan segala bentuk emosi. Namun, jangan sesekali memberi jawaban dengan wajah datar, karena hal ini selalu dianggap wanita sebagai bentuk acuh dan tidak peduli, bahkan marah. Karena wanita rumit dengan segala yang ia miliki, anggap saja wanita itu seperti warna. Mari kita sebutkan satu persatu sesuai dengan makna warnanya. Kalau ditanya warna pasti terbayang pelangi. Baik, tak masalah. Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Perfect! Bahkan tidak ada dua huruf yang sama dalam satu ejaan. Artinya setiap warna punya definisi yang berbeda. Punya karakter. Punya sikap. Sama seperti wanita.

Seperti merah. Seseorang dengan penuh ketegasan, kuat, berani mengambil sikap, tidak takut juga percaya diri. Ada beberapa wanita dalam hidupnya menganggap masalah-masalah yang berat seperti "a peace of cake" dan cenderung easy going. Sangat mudah bergaul, selalu bahagia juga ceria. Bagaimana dengan warna hijau? Ya, warna hijau identik dengan daun. Selalu penuh kesejukan, memiliki kesehatan dan kesuburan yang baik. Warna laut dan langit selalu menunjukkan kedamaian, kesetiaan juga ketenangan. Warna apalagi jika bukan biru namanya. Saya cinta biru. Ah...cinta, pasti ingat dengan kasih sayang dan remaja. Mungkin inilah mengapa merah muda identik dengan nuansa cinta. Kita tidak boleh lupa ada warna tergelap yang kita sebut hitam. Saya rasa tidak perlu banyak kata untuk mendefinisikan hitam.

Terakhir, putih. Ketika menyebut putih, justru yang terlintas seperti bendera kita itu, Indonesia. Putih, suci, bersih dan, semoga seluruh rakyat Indonesia selalu bersih dari penyakit fisik dan batin. Apakah warna putih itu ada? Dari spektrum warna yang saya ketahui warna putih itu tidak ada. Justru dari warna putih semua warna bermula. Jika ditinjau ulang, putih itu filosofis sekali. Mungkin itulah mengapa manusia tidak ada yang benar-benar "putih". Ada satu warna yang paling sering disebut-sebut untuk mewakili kata J-A-N-D-A. Sebenarnya saya sendiri kurang sepaham ungu itu identik dengan janda. Padahal, warna ungu itu merefleksikan kebanyakan wanita pada umumnya.Ungu dimaknai dengan sifat terdalam seorang wanita. Saya sendiri sulit mengartikannya. Lalu, bagaimana dengan warna jingga dan nila? Saya tidak tahu persis apa makna di balik warna ini. Jika ada yang menanya jingga, tanpa banyak kata saya segera menunjuk langit sore. Nila? Ah...tidak beda jauh dengan ungu.

Masih banyak lagi warna-warna yang lain. Dasar dari sebuah warna itu Merah, Hijau dan Biru. Dalam ilmu pencitraan. Dasar dari 3 warna ini disingkat menjadi RGB (Red-Green-Blue). Kombinasi sebuah warna bisa diganti-ganti dari 0 hingga interval paling tinggi yaitu 255. Ah...sudah meluber kemana-mana ini.

Back to the Topic. Women. Tidak semua wanita -termasuk pria- memiliki satu refleksi warna saja. Kadang bisa berupa penggabungan beberapa warna menjadi satu. Dan, orang-orang seperti itu disebut unik. Bersyukurlah memiliki keunikan. Karena unik itu sesuatu pembeda dari kebanyakan yang dijumpai. Bisakah setiap representasi warna dapat berubah sewaktu-waktu? Tentu bisa. Apalagi jika dikaitkan dengan wanita dan emosi. Bayangkan sebuah peta yang memperlihatkan area-area untuk emosi dalam otak keduanya, wanita dan pria. Dalam otak pria, rute-rute penghubung antar area akan berupa jalan desa, alias berliku-liku. Dalam otak perempuan, rute-rute itu berupa jalan tol. Well, saya sendiri jika dihadapkan dengan realita sesungguhnya juga tidak terlalu mampu membaca peta. Saya sampai harus memiringkan kepala beberapa derajat untuk menganalisa deskripsi rute-rute dari peta. Pernah baca buku Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps nya Allan and Barbara Pease? Dibuku tersebut lebih lengkap dijelaskan kenapa wanita kurang mampu membaca peta.

Menurut para peneliti di University of Michigan, wanita menggunakan kedua sisi otak untuk menanggapi pengalaman-pengalaman emosi, sedangkan pria hanya menggunakan satu sisi. Penelitian juga memperlihatkan bahwa wanita biasanya mengingat semua peristiwa emosional seperti tanggal lahir, saat liburan, pertengkaran hebat, tanggal-tanggal penting dalam hidup, momen-momen berharga dan mampu menyimpan ingatan itu lebih lama dari pria.

Yup, seperti warna, seperti wanita. Saya tertarik menulis kehidupan dan emosional wanita lebih spesifik dalam dua warna, Merah dan Biru. Kenapa dua warna itu yang menjadi pilihan? Saya sendiri tidak tahu pasti. Somehow, saya percaya sesuatu yang kita pilih merupakan bagian dari cerminan diri. Inside out dan Outside in. Semua warna di dunia punya ciri khas sebagai pembeda. So women, act and thought as own yourself, as own on your way. More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, April 23, 2011

Saya selalu tertarik dengan topik yang satu ini. Bagaimana proses panjang yang dibutuhkan seseorang dalam membangun relasi melalui komunikasi, kemampuan merespon, penyelesaian suatu masalah yang dihadapi dengan analisa yang tidak sembarangan, membuat saya ikut tertantang untuk mengetahui sedalam apa sesungguhnya sebuah otak mempengaruhi seluruh sentral kehidupan antara lelaki dan wanita.

Sebelas april lalu, saya tertarik dengan sebuah buku Female Brain-nya Louann Brizendine. Awalnya saya pikir, buku ini akan berisi hal-hal yang melegalkan kesebuah anugerahan, betapa wanita sungguh beruntung dicipta dengan otak yang kompleks yang akan jauh 180 derajat berbeda dengan lelaki. Tapi nyatanya tidak juga. Brizendine juga menelurkan pasangan buku ini, Male Brain. Hingga hari ini, saya belum ketemu couple si Female Brain ini.

Generally, buku-buku riset para peneliti tentang perbedaan otak wanita dan pria ini sudah banyak. Tapi tidak spesifik. Namun, lagi-lagi hasil penelitian juga menjadi tolak ukur untuk pencapaian suatu hal yang kita sebut komunikasi. Well, walau ujung-ujungnya itu juga, hasil penelitian ini tidak pernah bosan untuk saya bahas. Ketertarikan awal, ya karena dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari interaksi, baik laki-laki maupun wanita. Intinya seperti begini, tujuan akhir dari hasil telitian puluhan tahun dengan lebih 200 responden ini bukan menunjukkan seberapa hebat otak lelaki dan wanita dalam interaksi, bukan untuk menjadi ajang perdebatan dan judging ketimpangan suatu komunikasi dalam sebuah hubungan yang akhirnya bisa keluar statement ”saya berpikir seperti ini, karena otak saya sudah terprogram seperti ini”, bukan pula untuk saling membandingkan sebuah keuntungan memiliki atau diciptakan sebagai lelaki dan perempuan, bukan, bukan itu. The bigest idea is, how to accept each other, to be more tolerant and forgiving, the way we know we have different way to solve something.

Sebuah penelitian di University of Texas atas anak-anak perempuan dan anak laki-laki usia satu tahun memperlihatkan perbedaan dalam keinginan dan kemampuan mengamati. Sepanjang 3 bulan pertama kehidupan, keterampilan seorang bayi perempuan dalam kontak mata dan saling menatap wajah akan meningkat lebih dari 400 persen. Sejak lahir, bayi perempuan sudah berminat pada ekspresi emosi. Mereka mendapat makna tentang diri mereka berdasarkan tatapan, sentuhan, dan setiap reaksi dari orang-orang yang melakukan kontak dengan mereka. Dari petunjuk-petunjuk ini, mereka mengetahui apakah mereka berharga, layak dicintai atau menjengkelkan. Anak-anak perempuan tidak menoleransi wajah datar. Mereka menafsirkan wajah tanpa emosi yang diarahkan kepada mereka sebagai sinyal bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Untuk hal ini hampir 100% saya sepakat. Saya pernah meminta kesediaan seorang teman laki-laki untuk membantu saya menyelesaikan suatu hal. Saat itu saya menangkap ekspresi datar atas kesediaannya, walau akhirnya ia membantu juga. Nah, disini saya mulai menebak-nebak. Apakah ia ikhlas membantu saya atau tidak? Atau apakah saya harus berkata ”maaf sudah mengganggu”. Dan, saya pribadi tidak suka dengan kondisi menebak-nebak. Satu hal lagi, tentang sentuhan. Mayoritas sesama wanita sering berpelukan sambil cipika-cipiki ketika bertemu. Untuk apa? Mereka melakukan hal itu karena bagi wanita sentuhan adalah sebuah kondisi yang sangat dekat dan mampu mengekspresikan banyak hal, senagkah, sedihkan, marahkan, kesalkah, etc.

Riset atas mamalia oleh kelompok Michael Meaney telah memperlihatkan bahwa keturunan perempuan sangat dipengaruhi oleh seberapa tenang dan pedulinya ibu mereka.

Walau sebenarnya seorang anak tetap akan mewarisi sifat ayah dan ibunya, namun tetap saja seorang ibu punya peranan penting untuk tumbuh kembang anak secara fisik, mental juga otak. Mungkin itulah mengapa seorang wanita yang belum menikah banyak sekali wejangannya, apalagi untuk urusan kesehatan, pola hidup juga reproduksi.

Satu hal lagi, ledakan tangis seringkali mencengkram perhatian otak laki-laki. Air mata hampir selalu mengejutkan dan membuat sangat tidak nyaman seorang lelaki. Seorang perempuan karena ahli membaca wajah, akan mengenali bibir yang cemberut, mata yang menyipit, dan sudut-sudut mulut yang bergetar sebagai pembuka tangisan. Seorang lelaki tidak akan melihat hal ini. Biasanya tanggapannya, "Kenapa menangis?" atau "Eh, kok nangis. Duh...jangan nangis lagi ya". Para peneliti menyimpulkan bahwa skenario yang lazim ini menunjukkan kalau otak laki-laki menempuh proses lebih lama untuk menangkap makna emosi dalam berbagai persepsi yang masuk.

Ini pengalaman pribadi. Waktu itu saya punya problem yang sedikit pelik. Hampir pukul 2 pagi saya masih belum juga tidur karena menangis. Kebetulan messangger saya juga masih ON. Saya butuh teman untuk berbagi untuk setidaknya meringankan beban sejenak. Kemudian salah seorang sahabat saya menelpon untuk memastikan keadaan saya baik-baik saja. Jika kita mendapati seorang wanita menangis di depan seorang lelaki dan sikap mereka masih cuek, itu bukan berarti mereka betul-betul tidak peduli, tapi mereka bersikap demikian karena lelaki tersebut tidak tau harus berbuat apa. Mungkin itu sama halnya ketika kita sangat bahagia dan ingin mengeluarkan sebuah statement kebahagian, kadang kita hanya diam atau mengatakan i have no words to say untuk mengungkapkan kebahagiaan tersebut.

Buku Female Brain ini juga mengungkapkan tentang mengapa perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata perhari sedangkan lelaki hanya menggunakan 7000 kata perhari, atau mengapa perempuan dapat mengingat rincian suatu masalah yang tidak dapat diingat sama sekali oleh lelaki, juga mengapa perempuan cenderung membentuk ikatan yang lebih dalam dengan teman perempuan mereka daripada yang dilakukan para lelaki untuk teman lelakinya, dan masih banyak lagi. Buku ini layak untuk dimiliki oleh wanita maupun lelaki.

More...

So?
Author: Ummul Khairi
•Friday, April 01, 2011

Tiga belas maret lalu, Andrea Hirata kembali menemui public setelah hiatus 2 tahun lamanya. Sedikit excited juga ketika ia memilih Aceh sebagai permulaan pemunculannya kembali. Fakultas FKIP Unsyiah menjadi sasaran. Saya tak pikir panjang. Saya harus ikut Meet And Greet ini, whatever it takes! Peserta yang ikut juga melebihi kapasitas kursi yang tersedia, hingga membuat panitia terpaksa menolak antrian yang membludak. Saya termasuk beruntung, karena jika terlambat sedikit saja, sudah bisa dipastikan saya tidak dapat mengikuti acara tersebut. Beberapa orang penggemar Andrea banyak yang memuji dan mengeluh tentang karya-karyanya. Pertanyaan klasik yang terus ditanyakan padanya tak lain tentang ke-orisinilan tokoh-tokoh dalam tetralogi Laskar Pelangi juga dwilogi Padang Bulan. Saya yakin, si Ikal sedikit enggan menjawab pertanyaan dengan frekuensi berkala seperti ini. Pertama, terlihat dari jawabannya. “I have no obligation to tell you this is truth or not. Itulah kenapa saya selalu membuat awalan pengantar di cover depan “Sebuah Novel…” dan saya membutuhkan riset 4 tahun untuk sebuah kultur budaya dengan lebih dari 200 responden. Lalu, apakah kalian masih mempertanyakan ke-orisinilan dari karya-karya saya?”.


Awalnya saya juga ikut mempertanyakan tentang setiap kalimat yang ia torehkan dalam karya-karyanya dan benar-benar terpukau tentang science serta hitung-hitungan yang di akumulasikan dalam konsep-konsep sederhana sebuah cerita. Pembaca benar-benar diajak dalam dimensi fiksi-sains, tapi tetap mengedepankan alur yang humanis. Alasan kedua, dari matanya. Mata seseorang tidak pernah berbohong, kawan.

Seminggu setelah acara tersebut berlangsung, tepat tanggal 26 maret, Telkomsel Kompasiana Blogshop mengadakan workshop kepenulisan. Setiap daerah akan mendapat giliran tur untuk mengikuti workshop ini secara gratis. Sebenarnya, acara-acara seperti ini akan membahas tema yang sama, judul serta teknik-teknik kepenulisan yang tidak jauh berbeda dari yang sudah pernah saya dapatkan. Dari awal niat saya mengikuti acara ini hanya melengkapi pengetahuan yang sudah ada dan menjaga semangat untuk tetap menulis. Bonusnya, saya bisa bertemu dengan beberapa orang yang tulisannya sering saya baca di media lokal dan nasional, juga penulis buku-buku antologi. Setidaknya saya sudah pernah bertemu langsung dengan beberapa orang yang hanya saya kenal di blog dan jejaring sosial, seperti yang ini. Mata saya benar-benar terbuka pada sesi kedua workshop yang diadakan di The Pade hotel ini. Sebenarnya orang-orang yang menulis di media apapun adalah orang yang biasa-biasa saja, bukan? Seorang yang tidak dianggap sekalipun oleh dunia bisa menjadi orang hebat dalam sekejab mata jika ia bisa berbagi cerita dan menulisakan cerita tersebut untuk banyak orang.

Saat itu saya kembali berpikir. Apakah saya harus tetap menulis? Kenapa saya harus menulis secara berkala? Mengapa harus di media massa? Atau, kenapa saya nge-blog? Wacana seperti ini sudah lama menguap di kepala namun belum disalurkan dengan baik. Syukur saya masih ingat. Kawan, kadang dalam hidup kita selalu bertanya mengapa dan kenapa tanpa pernah tau jawaban tepatnya. Sesekali kita mendapat jawaban untuk sebuah alasan namun tidak sedikit pula semua pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban. Setidaknya kita pernah menanyakan tentang kenisbian suatu hal. Semuanya hanya untuk membuat kerangka berpikir kita dapat me-manage dengan baik setiap input dan output yang bersarang di kepala.

Saya yakin, setiap orang punya jawaban masing-masing kenapa harus menulis dan menyajikannya untuk dibaca oleh orang banyak. Sebagian lagi berpendapat, apa yang harus dibagi adalah sesuatu yang layak untuk diceritakan. Atau, banyak juga yang berpendapat untuk menuliskan sesuatu di media massa sekalipun isinya sampah! Semua punya jawaban dan alasan masing-masing.

Kenapa nge-blog? Saya juga tak begitu paham kenapa harus menulis sesuatu untuk disajikan dalam nampan indah bernama internet. Tidak muluk-muluk, pertama saya ingin konsisten dalam menulis. Bagaimana cara mendapatkan kekonsistenan itu? Saya butuh feel untuk merasakan kekonsistenan dalam tiap jemari ketika bercerita. Apakah saya sudah mendapatkannya? Ya (semoga) sudah. Buktinya saya tidak mau meninggalkan blog ini. Itulah mengapa saya pernah mengatakan izin sebentar untuk berjauhan dengan blog. Kenapa? Karena saya tidak ingin berpisah dengannya. Saya harus jujur, kegiatan menulis berkala ini sudah mendapat tempat dalam hidup. Dan, sebenarnya ketika kita minta izin untuk hiatus sebentar, sebenarnya kita meminta izin pada diri sendiri untuk sebentar saja berjauhan dari rutinitas ini dan berjanji untuk kembali pada masa yang tepat. See? Simple kan?

Jika ada yang menghargai setiap tulisan yang saya tulis, saya sangat menaruh apresiasi besar pada orang-orang tersebut. Kawan, apa yang lebih indah selain dihargai dan mendapatkan tempat tersendiri melalui tulisan-tulisan kita di hati banyak orang. Jika ada orang-orang yang ikut terpengaruh dan bisa mengubah satu episode dalam kehidupan seseorang, saya melangitkan syukur pada Tuhan Segala Kuasa. Itulah mengapa setiap tulisan yang kita sajikan pada massa tidak boleh asal. Karena kita tidak pernah tau, pada bagian kalimat mana orang-orang di sekitar ikut terpengaruh.

Satu hal lagi. Kenapa harus menulis untuk membaginya pada orang lain? Untuk sendiri saja belum cukup! Coba baca sejarah tentang berdirinya bangsa Yahudi. Ada satu nama yang paling berpengaruh untuk mendirikan sistem pemerintahan tersebut di tahun 1901 yaitu Theodor Herzl. Apa yang ia lakukan? Ia hanya menulis sebuah buku. Buku yang berjudul Der Judenstaat menjadikan Herzl sebagai pemimpin kongres zionis dunia pertama untuk selanjutnya mendirikan kekuasaan atas konsep zionis. Sekarang coba lihat, betapa kuat pengaruh Yahudi untuk dunia, hanya dari pemikiran seseorang yang ia tuangkan dalam sebuah buku. Bayangkan jika hanya pemikiran saja yang tidak pernah dipublikasikan, mungkin akan sama nasibnya seperti seorang sekaliber Leonardo Da Vinci. Mungkin kita lebih mengenal Da Vinci dengan lukisan monalisanya namun sebenarnya, ada banyak pemikiran-pemikiran bahkan sketsa-sketsa kapal-kapal dan pesawat yang ia rancang sendiri tapi tidak pernah ia coba realisasikan dalam bentuk nyata. Hanya berupa sketsa dan pemikiran dalam wadah kertas. Itulah mengapa Michael Hart tidak menempatkan Da Vinci dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia. Begitu juga dengan Al-Quran. Mungkin jika Usman Ibn Affan tidak pernah mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menyatukan kumpulan Al-Quran dalam bentuk mushaf, mungkin umat muslim tidak bisa membaca Al-Quran hingga hari ini. Usman tidak hanya merealisasikan pemikiran dengan idenya tapi juga menyatukannya dalam mushaf agar umat muslim lebih mudah membaca dan menghafalnya. Karena Usman tau, kepala seseorang tidak dapat menampung segala hal. Kepala manusia terbatas. Meskipun ada banyak penghafal Al-Quran tapi pada waktunya mereka juga kembali pada Tuhan.

Kedua, saya ingin setiap pemikiran yang saya tulis, bisa dibaca oleh anak-anak saya kelak atau bahkan saat mereka memiliki cucu dan cicit. Ide bisa hilang jika tidak disalurkan. Buku bisa rusak dimakan rayap. Seseorang bisa lupa dengan orang lain, tapi sebuah tulisan tidak akan lekang dimakan usia. Sekalipun kita sudah mati. Saya, kita, kalian dan kamu hanyalah orang yang biasa, namun bisa menjadi luar biasa dengan sedikit saja rasa berbagi. Mungkin saya tidak punya pengaruh apa-apa untuk dunia tapi dengan sebuah tulisan, saya menjadi bagian dari dunia untuk terus hidup. So? Tidak ada yang harus kita tunggu untuk memulai sesuatu selain mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang!*


*kalimat penggugah milik Aa' Gym
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, February 01, 2011


Ada banyak sekali bagian yang saya belum pahami tentang komunikasi dua arah. I'm talking about men and women. Kenapa dua arah? Karena terlalu banyak komunikasi yang sulit dipahami lelaki terhadap wanita dan komunikasi yang sulit dipahami wanita terhadap lelaki. Mungkin hal ini lebih banyak melibatkan sudut pandang dan cara menyampaikan sesuatu. Sebenarnya masih banyak sekali. Saya belum mampu merunutnya satu-satu. Coba lihat sekarang, banyak sekali buku-buku, lagu-lagu dan film-film yang membahas tentang perbedaan komunikasi, cara mengerti dan daya tangkap antara lelaki dan wanita. Hey, saya tidak membanding-bandingkan antara lelaki dan wanita itu punya perbedaan yang signifikan. Tapi justru dalam hal ini, perbedaan itu lebih tepatnya disebut keunikan. Itulah kenapa Tuhan menciptakan lelaki dan wanita untuk saling mengisi satu sama lain. Bukan untuk mencari persamaan-persaman, tapi menyatukan perbedaan pikiran dan hal lainnya untuk bisa saling mengisi satu sama lainnya. Jadi jika ada istilah, saya tidak mengerti lelaki atau saya tidak mengerti wanita, wajar saja.

Tau buku non-fiksinya Men are From Mars, Women Are From Venus karangan John Gray kan? Dulu sekali, saya sempat ingin beli, berhubung kantong tipis, saya urungkan niat. Di buku itu menceritakan Mars yang jatuh cinta pada Venus ketika melihatnya untuk pertama kali. Mereka melalui hari-hari dengan indah sampai suatu ketika ada banyak sekali kesalahpahaman dan perbedaan sepanjang hari-hari yang mereka lalui. Ada juga buku karangan Dr. Marianne J. Legato, yang berjudul Why Men Never Remember and Women Never Forget. Dalam buku ini jelas sekali dibahas tentang perbedaan tersebut. Seperti yang diceritakan Legato bahwa lelaki dan wanita berpikir secara berbeda, memahami permasalahan secara berbeda, menekankan pentingnya segala sesuatu secara berbeda, dan mengalami dunia di sekelilingnya lewat saringan yang sangat berbeda. Men Don't Listen & Women Can't Read Maps karangan Allan & Barbara Pease juga menyebutkan lebih ilmiah, seperti wanita punya jangkauan sudut pandangan yang lebih besar dari pada lelaki. Bila diukur dari hidung, bisa mencapai 45° ke arah kiri-kanan-atas-bawah, bahkan ada yang mencapai 180°. Dalam struktur otak wanita, kemampuan untuk berbicara terutama ada dibagian depan otak kiri dan sebagian kecil di otak sebelah kanan.

Sementara untuk lelaki, kemampuan berbicara dan bahasa itu bukan kemampuan otak yang kritis. Mereka memfungsikan otak kiri dan tidak ada area yang spesifik. Jadi jangan heran jika wanita senang berbicara dan banyak pula yang ingin dibicarakan, karena kedua belah otaknya mampu bekerja sekaligus. Mungkin inilah yang disebut wanita itu bisa multitasking atau bisa mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. Contoh lainnya seperti wanita bisa memasak sambil menelpon. Atau, bisa membaca sambil chatingan *saya banget ini*. Nah bagaimana dengan lelaki? Otak lelaki itu terkotak-kotak dan mampu memilah-milah informasi yang masuk. Lelaki bisa menyimpan semua di otaknya. Sementara otak wanita tidak bekerja seperti itu. Informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam otaknya. Dan ini tidak akan berhenti hingga ia bisa mencurahkan isi otaknya alias curhat. Itulah kenapa wanita lebih banyak butuh untuk di dengarkan dari pada mencari sebuah solusi. Ada beberapa film yang mengangkat tema-tema serupa seperti What Women Want terus lagu-lagu yang bertemakan hal serupa. Ada satu band Indo yang menyanyikan tema tentang wanita, tapi saya lupa nama band serta judul lagunya. Bahkan ada yang lebih satir disini.

Saya jadi teringat iklan teh sariwangi. Sang Istri selalu menanyakan ke suami hal yang sebenarnya hanya istrinya lah yang paling tau jawabannya. Dari iklan tersebut saya bisa menyimpulkan komukasi dua arah itu pasti sering terjadi, tapi lagi-lagi, semua masalah yang timbul juga diselesaikan dengan komunikasi pula, jadi jika teh sebagai jalan tengah, bagi saya teh hanya media. Media relaksasi agar keduanya bisa saling berkomunikasi dalam kondisi stabil atau saat santai. Banyak sekali teman-teman kampus saya yang berjenis kelamin lelaki. Beberapa diantara mereka sering intens berkomunikasi dan saya harus katakan kedekatan itu bukan jalan tengah sebuah kelancaran atau saling mengerti-nyambungnya satu sama lain dalam komunikasi. Dalam hal ini keduanya- lelaki maupun perempuan- harus memiliki saling keterkaitan/ kecocokan. Saya coba kutip sedikit karya pujangga Kahlil Gibran,

Cinta tidak pernah hadir dari keakraban yang lama atau pendekatan yang tekun, tetapi cinta hadir karena kecocokan jiwa, tanpa itu cinta tak akan pernah hadir dalam bilangan tahun bahkan milenia


Lelaki dan wanita, seyogyanya tidak akan pernah habis kata untuk dibahas, begitu juga dengan cinta. Well, semua penjelasan diatas hanya hitung-hitungan berdasarkan kajian riset. Sekalipun ilmiah, tetap ada yang tidak tercakup. Kajian tersebut membutuhkun lebih banyak spesifikasi seperti, budaya, gen, kebiasaan dan masih banyak lagi. Tapi secara garis besar memang seperti inilah adanya. Jika ada bagian yang tidak dijelaskan atau berbeda 180 derajat dari yang dipaparkan, artinya beberapa dari kita adalah unik.
More...

Author: Ummul Khairi
•Monday, December 27, 2010



Buku terbitan Gramedia ini terbilang cukup lama, tahun 2005. Itu di Indonesia, tapi jika runut kebelakang, sebenarnya buku itu sudah di terbitkan jauh sebelum saya lahir, sejak tahun 1988 di Spanyol dalam Bahasa Portugis. Saya tau buku ini sekitar tahun 2009 atau lebih tepatnya memasuki awal tahun 2010. Awalnya juga tidak sengaja. Seorang adik kelas membaca buku The Alchemist. Sepertinya seru. Sebenarnya kekaguman tentang "Alchemist" itu sendiri ketika saya mulai menyukai animasi Fulmetal Alchemist; Brotherhood. Animasi ini menceritakan dua orang kakak beradik yang mencoba men-transmutasi kembali ibu mereka yang meninggal karena wabah penyakit. Padahal, dalam Ilmu Alchemist ada satu larangan tabu yang tidak boleh dilakukan yaitu human transmutation. Jika hal itu dilakukan harus ada tumbal untuk menggantikannya. Nah, ketika kakak beradik itu melakukan human transmutation terhadap ibu mereka, tanpa disangka, seluruh tubuh Alphonse (Al) ditarik kedunia lain. Beruntungnya Al, ia masih diberi jiwa/soul yang dikukung dalam seal oleh Edward (Ed) dalam baju besi/armor sebagai mediator antara soul dan tubuhnya.


Pemerintahan City of Lior mendengar kabar kakak beradik jenius ini meskipun usia mereka masih belia. Mereka mengajak Ed dan Al untuk bergabung pada sentral pemerintahan demi membantu kelancaran dan keamanan kota. Ed dan Al melihat peluang lain di City of Lior dari pada mereka harus tetap tinggal di desa mereka, Resembool. Waktu terus bergulir hingga takdir membawa mereka, Edward dan Alphonse Elric, mencari Philosopher Stone di Central. Sebuah batu yang bisa mengembalikan soul Al kembali. Intrik terjadi dalam animasi ini karena ternyata sentral pemerintahan sendiri berada dibalik layar dalam pencarian yang paling ingin mereka dapatkan, Philosopher Stone. Animasi ini juga menceritakan teman masa kecil keduanya, Winry Rockbell yang machine freak atau lebih dikenal sebagai pembuat automail terbaik seantero Resembool. Juga ada satu tokoh yang paling saya suka, Roy Mustang si Flame Alchemy. Lalu, apa hubungannya dengan buku The Alchemist? Sedikit persamaannya, pada animasi ini alchemy dianggap sebagai,

Alchemy is a science where one understands the structure of matter, breaks it down then rebuild it. However, it is not an all-powerful technique, as one can't create something out of nothing. If one wishes to gain something, one must present something of equal value. This ia the concept of equivalent exchange, the fundamental basis of alchemy.

Nah, diakhir buku ini juga diceritakan sedikit tentang seorang alkemis yang mampu mengubah timah menjadi emas. Ya, semua berawal dari animasi. Selang beberapa lama, saya melupakan buku tersebut hingga FLP Aceh mengadakan lomba esai lepas untuk buku The Alchemist ini. Saya mulai tertarik lagi untuk hunting buku tersebut. Saya menanyakan hal serupa dengan adik kelas yang pernah membaca buku ini tempo hari dan akhirnya saya baru tau The Alchemist yang ia baca bukan karangan Paulo Coelho melainkan karangan yang saya juga lupa namanya . Sepanjang toko buku di Banda Aceh saya babat habis, termasuk toko buku referensi seorang teman yang berlokasi di Kampung Mulia, dan baru sebulan kedepan buku tersebut available. Saya sampai kehilangan mood untuk mencari buku ini hingga harus memesan pada teman di Bandung. Sebenarnya fasilitas e-book cukup menjanjikan dan memang sudah bertengger lama di laptop, tapi saya tidak nyaman membaca lama-lama di depan layar. Lalu suatu siang di kampus, saya dikejutkan oleh hal yang tak disangka-sangka. Buku yang sama saya cari ternyata ada pada teman dekat saya sendiri.

"The Alchemistnya Paulo Coelho kan?"
"Iya"
"Sama Vera ada, Yi"

Rasanya saya seperti dihantam palu godam berton-ton. Seperti pepatah saja, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan jelas terlihat. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminjamnya. Baru malam ini saya menghabiskan membaca The Alchemist. Dan betapa terkejutnya saya ketika memasuki lembaran akhir. Santiago, sang tokoh utama, berhasil menemukan harta karunnya, yaitu tempat ia bermula dulu bersama domba-dombanya, dibawah sebatang pohon sycamore Spanyol tempat sakristi pernah berdiri. Ia harus jauh-jauh mengembara ke Mesir terlebih dahulu hanya untuk mendapatkan pertanda dimana letak harta karunnya. Seketika potongan mozaik hidup, saya temukan lagi dalam buku luar biasa ini. Kembali pada hari-hari sebelumnya, saya harus jauh-jauh hunting buku, tanya sana-sini sampai hampir kehilangan mood. Dan, ternyata buku yang saya inginkan itu dekat sekali ya.

Sama seperti mencari kebahagiaan. Bahagia seseorang hanya diri yang tau, meskipun dimata orang lain biasa-biasa saja. Biasanya bentuk kebahagiaan itu sangat sederhana. Dan, kebahagiaan itu ternyata dekat sekali tanpa pernah kita sadari.

More...