Author: Ummul Khairi
•Thursday, March 17, 2011

Akhir-akhir ini, tepatnya menjelang semester akhir kuliah, teman-teman sering membicarakan tentang pernikahan. Pertanyaan mereka selalu standar, "Kapan nikah?" dan saya selalu menjawab dengan masih menggunakan idealisme mahasiswa, "Lulus kuliah dulu, kerja, baru ntar ambil gelar Master bareng suami". Selesai. Intinya saya belum siap untuk menikah. Namun, pada next level of life, mau tidak mau seseorang harus memikirkan hal ini juga. Cepat atau lambat siklus hidup harus terus berputar.

Mungkin banyak orang merasa ia sudah pantas atau layak berumah tangga jika dilihat dari kemapanan. Tapi bagaimana dengan prinsip hidup yang akan dibangun kelak? Atau, bagaimana seharusnya membentuk karakter pemikiran ketika akan dan setelah menikah? Dalam buku karya Anis Matta ini saya tulis ulang untuk saya sendiri dan untuk semua orang yang masih bertanya-tanya, sudahkah saya siap, sesiap apakah saya, dan, apakah ini disebut siap menikah atau ngebet. Dalam buku tersebut seluruh aspek teoritis dibahas dalam Islam. Semoga bermanfaat.


Minimal ada empat hal yang harus dimiliki oleh seseorang ketika ia ingin memasuki gerbang pernikahan.
Pertama: kesiapan pemikiran.
Kedua: kesiapan psikologis.
Ketiga: persiapan fisik.
Keempat: persiapan finansial.
-------------------------------------------------------------------------------------
1. Kesiapan Pemikiran
Yang dimaksud dengan kesiapan pemikiran ialah:
a. Memiliki kematangan visi keislaman.
b. Memiliki kematangan visi kepribadian.

1.a. Kematangan visi keislaman
Orang yang mempunyai kematangan visi keislaman berarti memiliki dasar-dasar pemikiran yang jelas tentang identitas ideologinya. Ketika seorang muslim ingin menikah, ia harus mengetahui dulu bahwa ia muslim, ia juga harus mengetahui mengapa ia menjadi muslim. Di dalam hidup ini, kita akan sesekali menghadapi banyak alternatif. Saat itu kita banyak menghadapi masalah yang pemecahannya sangat ditentukan oleh kematangan pengetahuan tentang mengapa kita menjadi muslim, sehingga kita mampu dihadapkan pada berbagai pilihan dalam kehidupan riil. Bila tidak, kita tak akan mampu mengambil satu keputusan yang tepat, karena dasar afiliasinya (dasar bergabungnya dengan islam) tidak ilmiah, tetapi hanya bersifat kultural. Itu berarti komitmen kita dengan islam tidak kuat.

1.b. Kematangan visi kepribadian
Kepribadian seseorang sering tidak kuat bertahan diatas status keberagaman yang terlalu kuat yang tidak dianjurkan oleh islam atau dengan kata lain, suatu pemahaman islam diserap dengan cara yang tidak bertahap. Misal tentang seorang wanita yang baru mempelajari islam kemudian berjilbab, atau tentang seorang laki-laki yang mempelajari islam ketika mahasiswa. Hal ini berarti, mereka ingin mengubah satu standar keberagaman yang selama ini tidak ada dalam dirinya. Apa yang ia lakukan? Ia ber-qiyamul lail. Setelah itu, ia membaca Al-Quran dengan jumlah yang sangat banyak. Mungkin juga terlibat dalam dakwah dengan semangat yang berapi-api. Hujan juga hadir ke pengajian. Sakit juga jalan.

Maksudnya adalah, orang yang sudah menikah ataupun akan menikah juga harus memiliki konsep diri yang jelas. Mengetahui apa kelemahan dan kekuatannya, apa ancaman yang bisa meruntuhkan dirinya. Sehingga pemahaman yang benar tentang diri sendiri akan melahirkan penerimaan diri yang baik. Membuat kita menerima diri secara apa adanya. Tidak menganggap diri kita melebihi kapasitasnya atau kurang dari kapasitasnya. Sikap realistis terhadap diri sendiri hanya bisa dibangun kalau kita memiliki ilmu pengetahuan yang benar tentang diri kita.

Sebab, dua hambatan terbesar dalam berhubungan dengan orang lain adalah:
Pertama: kita tidak memahami orang lain dengan benar.
Kedua: kita tidak mampu memahami diri kita sendiri dengan benar.

Itulah sebabnya banyak orang yang menikah tanpa memiliki konsep diri yang jelas. Apa yang mereka lakukan hanyalah mencari pasangan yang paling baik. Untuk apa? Karena mereka perlu menutupi kekurangannya. Carilah pasangan yang tepat. Kita tidak sedang berpikir mencari istri atau suami unggul. Carilah pasangan yang tepat dengan bingkai kita, dengan kepribadian kita. Sebab ternyata tidak semua orang cerdas membutuhkan orang cerdas lainnya, tidak semua orang gagah membutuhkan wanita yang cantik. Ada pula orang yang sangat dewasa membutuhkan pasangan yang sangat kekanak-kanakan. Sekali lagi, konsep diri yang jelas membuat kita mengerti siapa yang kita butuhkan, bukan istri atau suami yang unggul tapi istri atau suami yang tepat.

2. Kesiapan Psikologis
Orang dikatakan memiliki kepribadian yang matang bila ia mampu mentransfer semua visinya menjadi karakter. Banyak orang yang kepribadiannya mengalami dualisme. Artinya di satu sisi ia mempunyai pemahaman yang baik, tetapi ia tidak mampu mentransfer pemahamannya itu menjadi karakter. Ia mengalami dualisme dalam kepribadian, namun ada pula yang tidak memiliki visi dan tidak punya karakter.

Kesiapan psikologis yang saya maksud ialah kematangan tertentu secara psikis untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup. Untuk menghadapi semua tanggung jawab, untuk menghadapi masa-masa kemandirian. Apa yang pertama sekali harus dipikirkan ketika menikah? Ada sejumlah orang yang akan berlindung pada anda. Situasi jiwa antara sebelum dan sesudah menikah akan sangat berbeda. Kalau kita membagi waktu, kita dapat membaginya menajdi tiga. Ada waktu individu, sosial dan sejarah. Ada waktu untuk istri atau suami, waktu untuk anak-anak dan masyarakat. Waktu kita tidak lagi menjadi sepenuhnya milik kita.

Bahkan ada saat-saat tertentu dimana kita perlu tidak melihat istri, perlu tidak melihat anak-anak. Demikian juga istri, supaya ia mendapatkan privasinya kembali untuk membangun kesegaran ulang. Dengan demikian kesiapan psikologis seperti ini perlu diupayakan jauh sebelum menikah. Terutama keseimbangan psikologis pada keseimbangan ambivalensi emosi di dalam jiwa kita.

3. Kematangan Fisik
Islam sangat memperhatikan kematangan fisik. Ada beberapa hal terkait dengan fisik, yang menjadi persyaratan mutlak dalam sebuah perkawinan. Misalnya seorang laki-laki atau wanita yakin bahwa alat-alat reproduksinya baik sebelum menikah. Karena salah satu penyebab perceraian dalam islam ialah apabila alat-alat reproduksi tidak berfungsi dengan baik. Kita harus meyakini bahwa fisik kita sudah siap untuk menikah. Itulah sebabnya nikah terlalu dini juga tidak terlalu bagus. Walaupun kematangan fisik berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain.

Di Barat, orang yang melakukan hubungan intim terlalu muda, pada umumnya setelah diatas usia tiga puluhan akan mengalami hambatan-hambatan fisik. Meskipun, sekali lagi, tidak ada kriteria kapan seseorang matang secara fisik. Ketika sudah memilih calon, pada saat proses perkenalan, usahakan untuk mengetahui juga masalah fisiknya. Lalu kalau bisa, bukan hanya fisik si calon, tapi juga keturunannya. Jangan sampai ada yang anda ketahui, namun di kemudian hari anda tidak bisa menerimanya. Ini tidak boleh.

4. Kematangan Finansial
Saya sengaja memasukkan faktor finansial. Perkawinan juga kerja ekonomi, bukan hanya sekedar kerja cinta. Aspek ekonomi sangat terlibat. Tidak berarti anda harus punya rumah sebelum menikah, punya kerja tetap, atau punya semuanya sebelum menikah. Seorang wanita juga perlu menanyakan kepada calon suaminya tentang masalah ini. Tidak berarti bahwa wanita itu matrealistis. Tidak demikian. Seorang wanita perlu yakin bahwa seorang suami yang mengatakan i love you seribu kali sehari juga bisa memberikan susu bagi anak-anaknya. Paling bagus, beri susu buat anak-anak, nafkah buat istri, lalu katakan i love you. Anda bisa memberikan susu , tapi tidak mengatakan i love you itu juga salah. Dua-duanya perlu.

Kita harus melihat sesuatu dengan rasional. Unsur romantika sangat penting karena akan membuat hidup jadi indah. Romantika yang bagus dibangun atas realisme. Realisme tapi juga romantis. Realistis tapi tidak romantis jadi kaku. Banyak wanita menuntut perceraian dari suaminya bukan karena suaminya tidak baik atau tidak memenuhi kewajiban. Suami sangat baik. Hanya satu masalah. Dia tidak pernah mengatakan, “Aku cinta kepadamu”. Saya juga sering mendengar, banyak wanita minta cerai karena suami tidak bisa memberikan nafkah.

*Berdasarkan buku Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, milik H.M. Anis Matta, Lc

This entry was posted on Thursday, March 17, 2011 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

18 comments:

On March 17, 2011 at 9:32 PM , a cup of coffee said...

yup...stuju mb'...jgn smpe nikah cma dujadiin ajang ikut2an tren [akhwat bnyak pminat]..hehee...
inspiratif mb'..maen ke t4 q ya mbak..^^

 
On March 17, 2011 at 9:39 PM , ~ Budiman ~ said...

hanya empat... tapi...

begitu...


~ dy ~

 
On March 17, 2011 at 9:42 PM , Nova Miladyarti said...

hhmmm...terus, ai kapan???*paertanyaan standar lagi:P...hehhe...buku anis matta emang bagus ya. suka deh.hehhe

 
On March 17, 2011 at 11:34 PM , i-one said...

wah,makasih postingannya.salam kenal,kalau ada waktu kunjungi blog ane ya..

 
On March 18, 2011 at 1:22 AM , Fahrie Sadah said...

Wih, bagus nih Khairi..
Jadi tahu apa yang harus dipersiapkan sebelum.. :-)

 
On March 18, 2011 at 9:01 PM , Ummul Khairi said...

@i-one: salam kenal juga mas. yup, saya sudah ke tkp :)
@fahrie: eh panggil ayi saja ya, fahrie :)

 
On March 18, 2011 at 9:09 PM , Ummul Khairi said...

@nick: akhwat banyak peminat? maksudnya nick?

 
On March 18, 2011 at 9:13 PM , Ummul Khairi said...

@budiman: itu hanya empat mas, mungkin di buku-buku lain lebih dari itu. saya hanya merujuk ke satu buku saja. sila dicari lebih banyak referensi yang lain mas.

 
On March 18, 2011 at 9:25 PM , gemabaiturrahman.com said...

kelima, kesiapan supersiap dari upaya-upaya y tidak siap menghadapi yang aneh? dalam kehidupan pasca pernikahan. www.gemabaiturrahman.com

 
On March 18, 2011 at 9:32 PM , Ummul Khairi said...

@k'nova: nanti lah kak, lulus kuliah dulu :D

 
On March 19, 2011 at 11:17 PM , Ummul Khairi said...

@gemabaiturahman: *senang dikunjungi gema

 
On March 21, 2011 at 10:06 AM , ibnuflp said...

duh, ai.. saya jd teringat provokasi 12 jam dari salim :|

 
On March 21, 2011 at 11:18 PM , cho said...

percaya ato ga, saya punya buku ini. hahahahaha. saya juga punya buku blio yang pesona muslim abad 21 itu sama sebelum kuncupnya mekar jadi bunga. rasanya ga percaya kalo dia bisa kena kasus 10M.

 
On March 22, 2011 at 10:44 PM , Ummul Khairi said...

@b'ibnu: apa? selama itu? tidak makan tidak minum dong berarti, hehe

 
On March 22, 2011 at 10:46 PM , Ummul Khairi said...

@cho: buku beliau yang lain yang saya miliki "setiap saat bersama Allah" dan arsitek peradaban. eh, cho saya baru tau beliau punya kasus *curious

 
On March 26, 2012 at 2:48 PM , Rahmaline said...

kak ummul khairi... terimakasih sudah mampir ke blog saya ^^
setelah membaca ini, lalu menulisnya kembali di blog saya jadi beliau-yang-kala-itu-pacar-saya membacanya... ini bener2 jadi topik penting dalam diskusi kami. sehingga kemudian beliau berani mengambil keputusan itu.

terimakasih atas tulisan yang bermanfaat ini.
barakallah ya kak... ^^

 
On March 26, 2012 at 2:52 PM , Rahmaline said...

ini ya http://rahmaline.blogspot.com/2011/03/sebelum-mengambil-keputusan-besar-itu.html

 
On March 29, 2012 at 2:43 PM , Ummul Khairi said...

@rahmaline: sekali lagi, barakallahulakum wa baraka 'alaikum wa jama'a alaikuma fi khair :)
bukan cuma rahma saja yg mengambil banyak ibrah dr tulisan ini, saya juga, meski saya belum menikah, setidaknya tulisan anis matta ini salah satu bekal utk mengambil keputusan besar itu :D