Author: Ummul Khairi
•Monday, December 12, 2011

Malam ini saya excited. Karena baru saja menemukan "the matter" untuk proyek akhir. Dan, taukah? Saya menemukannya ketika menonton animasi kesukaan, Naruto. Beberapa bulan kebelakang saya sering melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Hasilnya memang tidak sepadan ketika saya melakukan satu hal dengan fokus. Tapi entah kenapa, saya begitu takut membuang waktu, hingga tadi sore saya kembali menemukan "jiwa" itu. Jiwa yang kembali bersemangat untuk melakukan semuanya lagi. Melalui sitenya Marion yang saya dapat secara tidak sengaja, saya ingin sekali menulis ini. Tentang rasa terima kasih yang saya dapatkan selama ini. Tentu saja, Tuhan menempati posisi pertama. Thank's Allah.

Pada setiap senja yang terbenam dengan jingganya, juga awan, hujan, bintang-bintang dan semua goresan alam Allah yang tidak bisa saya sebut satu-persatu.

Teman-teman. Jika mereka tidak ada, saya mungkin tidak bisa "hidup" dengan bahagia.

Tugas Akhir saya. Walau begitu "kejam" terlihat, tapi saya banyak belajar untuk lebih disiplin.
Ayah, ayah dan ayah.
Dia.

Its kind of silly, my motorcycle.
Semua buku-buku yang minta dibaca ulang.

Saya rindu dedek, tapi syukur ada laptop Lab GIS yang sangat setia untuk tidak saya install antivirus sejak februari lalu. Ups!

Semua orang-orang dalam lingkaran hidup. Mereka benar-benar guru terbaik.

Oh my, i can't life without music!
Kalau dipikir-pikir, banyak sekali hal yang patut disyukuri. Dan, kenyataannya, kebahagiaan itu bukan seberapa besar yang kita dapatkan tapi seberapa berartinya kebahagiaan itu walau hanya hal-hal kecil sekalipun. Anyway, semoga "the matter" itu bisa saya develop lagi dan diterima. Amin.

More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Sunday, December 04, 2011

Meski galau ini sudah bertumpuk, meski sesak jika harus jujur menulisnya disini, aku bersyukur. Karena Tuhan selalu adil. Tuhan selalu punya cara terbaik untuk merespon setiap doa. Ada doa yang segera dikabulkan, ada yang ditunda, juga ada doa yang ditangguhkan di akhirat kelak. Jika saat ini doaku ditunda, artinya Tuhan punya rencana lain yang lebih baik dan aku butuhkan. Dimanapun aku berada, aku harus punya cara terbaik untuk terus berusaha, bertawakal juga berpikir positif. Jika nanti doa itu dikabulkan, aku akan tau dari pengalaman dan pembelajaran sebelumnya, bahwa apa yang aku harapkan harus tetap aku kejar. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan karena apa yang kudapat adalah sebuah kepayahan. Tuhan mengajak aku berpikir rasional. Jika aku berusaha sekian, maka aku juga dapat sekian bagian. Sedikit atau banyak, baik-buruk, juga seberapa tulusnya niat akan menjadi tolak ukur.

Hidup ini tak ada yang pasti. Hari ini dimalam yang sama aku bisa melihat bintang gemintang. Nanti di tahun berikutnya pada waktu yang sama, belum tentu aku bisa melihat bintang lagi, meski aku berusaha dan berkeinginan kuat untuk melihatnya. Namun, hal ini juga tidak boleh membuat diri pesimis. Ujung-ujungnya kembali lagi pada dua konsep yang berbeda, mana keinginan, mana kebutuhan. Dua-duanya sama baik, tapi kebaikan menurut diri belum tentu baik menurut Tuhan. Lalu, bagaimana membuatnya seiring sejalan?

Memang tidak bisa dikatakan mudah. Tapi percayalah, pada akhirnya kita akan sadar bahwa apa yang Tuhan putuskan itu adalah sebuah kebutuhan yang nantinya berujung kebaikan. Beberapa hari lalu, aku kembali dipertemukan pada orang-orang utusan Allah. Sebenarnya jika kurunut dari semua persoalan hidup dan juga kebutuhan, Tuhan selalu memberiku jalan melalui berbagai orang. Bahkan pada waktu dan tempat yang tak disangka. Aku bersyukur mereka ada. Mereka adalah guru yang sangat berharga. Mungkin mereka atau siapapun di dunia ini tak akan sadar bahwa hal sekecil apapun akan menjadi kebaikan jika dijalani dengan tulus. Jika kita berprinsip suatu saat apa yang akan kita lakukan sekarang akan berdampak di masa yang akan datang, maka hasil itu akan kita alami sedikit demi sedikit dari sesuatu yang tak terduga.

Dunia ini berputar. Dan, tidak akan berhenti hingga hari akhir. Begitu juga hidup. Tidak selamanya bisa menyenangkan juga tidak akan selalu dirundung kesedihan. Hanya diri sendiri yang mengerti apa yang menjadi kebutuhan. Hanya diri sendiri yang mengerti seberapa besar kesulitan yang dihadapi. Aku yakin, suatu hari nanti, Allah akan mengabulkan setiap mimpi. Nanti. Pada waktu yang paling tepat dalam hidupku. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Friday, December 02, 2011

Saya merasa aneh akhir-akhir ini. Hati mulai tidak tetap pada beberapa pilihan lalu. Seperti memutuskan dan diputuskan. Seperti ada yang hilang. Semua tersekat rapi hanya dalam tempurung kepala sendiri. Beberapa kali melihat orang-orang yang berhasil dengan caranya, seperti ada motivasi sendiri untuk bergerak. Semalaman suntuk berkutat pada hal-hal yang harus saya dapatkan. Namun beberapa menit kemudian semua hilang. Saya beralih dari 'kewajiban' itu. Lalu, keesokan harinya saya berdiskusi dengan orang lain, mendapat jawaban yang berbeda dengan target yang sama, saya kembali terkecoh untuk santai sejenak dari rutinitas dengan target terdekat. Sama halnya ketika saya membaca beberapa artikel di dunia maya, pikiran ini benar-benar tidak pada tempatnya. Kemudian berada di depan layar komputer untuk-seharusnya-bekerja demi 'kewajiban' itu tapi setelah beberapa saat saya sadar bahwa kehilangan konsentrasi membuat saya kehilangan fokus pada kewajiban-kewajiban menumpuk itu.

Seperti ada pribadi ganda yang mengkomandoi untuk lari dari semua dan merelaksasikan kepala, tapi di saat yang sama ada perintah untuk terus berkutat pada rutinitas. Saya bahkan benci jika harus mengibakan diri dengan mengatakan, "Jalani saja". Kenapa setiap manusia selalu punya alasan untuk berdalih pada hal-hal yang selalu merusak konsentrasinya? Kenapa manusia selalu harus punya tenaga ekstra untuk mengalah pada hal-hal yang merusak segala targetnya? Padahal nanti menyesal pula. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Thursday, November 24, 2011

Lelaki itu rapuh. Belum kuat untuk membangun diri. Hanya berpikir jiwanya paling buruk tanpa berusaha menjadi lebih baik. Dan, ia terpuruk pada keadaan yang ia cipta sendiri. Lalu, bagaimana bila nanti? Bila berbilang tahun sudah berganti. Semua jawaban harus diakumulasi.


Dan lalu, bagaimana bila nanti? Jika waktu jelma pasti. Pada suatu hari ia tak boleh lagi sendiri. Entah bagaimana ia kuat untuk berdua pada percepatan hidup, jika dan hanya jika ia adalah seorang lelaki rapuh.
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, November 08, 2011

Orang-orang di sekitar kita pasti bertanya kapan dan mengapa.

"Kapan kamu masuk sekolah?", "Kapan kamu kuliah?", "Kapan kamu selesai skripsinya?", "Kapan kamu nikah?", "Kapan kamu kerja?", "Kapan kamu punya anak?", kapan si kakak punya adik? atau
"Kok lama banget sih ngerjain skripsinya? main aja ya kerjanya?"

semua pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Huff...

Sah-sah saja sih. Mungkin pengalaman belum mengajarkan mereka bahwa kadang ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Seperti perihal di atas itu. Ah, jujur saja, saya mulai terganggu. Mungkin itu salah satu sebabnya saya membuat sekat-sekat yang tidak perlu di lalui semua orang dalam hidup saya. Cukup saya saja yang tau dan biarkan waktu yang memulihkan segalanya. Bukan bermaksud untuk menghindar, tapi hanya perlu privacy agar perbandingan jarak yang boleh di lalui orang-orang mampu saya kontrol dengan baik. Semoga tidak menjadi ke-ambiguan.

Saat ini, tepatnya semester akhir ini, di saat yang sama saya mengambil mata kuliah, tugas akhir, mengajar 2 kelas mahasiswa dan membimbing adik-adik kelas untuk memperlanjar bacaan iqranya, adalah waktu yang paling urgent untuk saya lalui dengan agenda yang bermanfaat. Sering kali jika saya mengerjakan tugas kuliah dari dosen, saya berpikir hal tersebut juga sia-sia. Atau ketika saya mempersiapkan bahan ajar untuk MEC (Mathematics English Club), saya juga seperti menganggap sebagai wasting time. Alasannya hanya satu, saya selalu membandingkan dengan capaian tugas akhir yang masih berjalan lebih lambat dari pada semua agenda yang lain. Benarlah memang, tugas akhir itu seperti weker yang siap-siap berdering, sedang kegiatan lainnya adalah saat-saat jeda waktu antara weker yang berdering itu. Sebenarnya bukan saya ingin melambatkan atau tidak melakukan apapun untuk setidaknya seminar proposal. Saya hanya belum menemukan benang merah sesuai keinginan. Saya belum menemukan titik ledak dalam pengerjaannya. Sedang untuk masalah data-data yang tersedia masih sangat umum sekali. Tidak ada yang spesifik untuk dapat dijadikan batasan masalah. Saya lebih suka benang merah tersebut bisa menjadi bahan analisa. Dengan membuat A maka saya bisa menemukan B. Dan lagi, untuk sebuah tantangan saya tidak ingin diburu waktu. Sungguh. Adopsi dan penjiplakan kata-kata bahkan analisa deskriptif semata jelas bukan saya.

Sedih sekali rasanya. Saya belum menemukan teman diskusi yang sesuai. Pembimbing utama pun seperti tidak mau ambil pusing soal ini. Mottonya seolah-olah seperti "Yang penting beres". Oh Tuhan, saya paling tidak bisa menyelesaikan suatu perkara hanya bermodalkan kemudahan tanpa jerih payah. Saya lebih suka diberi tugas berat dengan hasil maksimal dan bermanfaat daripada tugas ringan yang tidak perlu ambil pusing dan langsung lulus sebagai sarjana!

Kata seorang teman, setelah saya mengemukakan apa keinginan saya terhadap skripsi ini, saya terlalu banyak mengeluh. Asthgfirullah...jangan-jangan memang benar. Hanya karena ketidakfokusan menjadikan faktor-faktor yang mudah terlihat rumit. Dan, katanya lagi, saya belum tau apa yang sebenarnya saya mau. Jadi makin sedih setelah percakapan dalam log maya itu.

Saya takut sekali semua yang ingin dicapai tidak sesuai dengan target. Lebih-lebih jika orang-orang yang paling dekat dengan saya menanyakan hal serupa. Kadang saya tidak bisa membedakan yang mana menyudutkan, yang mana motivasi. Seolah keduanya terlihat seperti dua sisi. Saya senang ada yang memperhatikan, sekaligus takut tidak bisa seperti yang dulu pernah ditargetkan. Ah, terlihat sekali sejauh apa kegalauan saya saat ini, bukan?

Saya hanya butuh ide segar. Hanya hal itu. Saya juga butuh teman diskusi yang baik, bisa mensupport dan tidak menjatuhkan, serta bacaan-bacaan aktual yang mampu mencerahkan. Ada satu quote yang saya suka dari Mary Kay Ash,

"For every failure, there's an alternative course of action. You just have to find it. When you come to a roadblock, take a detour"
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, November 01, 2011

Benarlah bahwa kita bergerak bukan karena orang lain. Kita bergerak horizontal melalui bagian vertikal yang melekat dekat, kepala. Kita berjalan terhadap waktu karena ideologi. Seseorang tidak bisa di ukur ideologinya berdasarkan lingkungan juga teman. Semua prinsip terbentuk dari apa yang di persaksikan mata ketika meminta jawaban hati. Semua butuh waktu untuk mendefinisikan apa yang harus kita teguhkan. Sampai disini, aku sangat mengerti kenapa siapapun bisa berubah dalam waktu yang relatif singkat. Semua hanya permainan pikiran. Karena pikiran adalah tanduk. Bagian yang harus di hormati sekaligus menjadi bumerang. Sampai saat ini semakin yakin, bahwa aku tak ingin tetap lama disini. Karena rumah yang sesungguhnya harus kudapati. Saat ini, aku hanya ingin sendiri... More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, October 26, 2011

Selalu ada kebahagiaan yang menelusup diam-diam. Meski jauh sekali. Meski kembali harus menunggu. Meski setahun lagi. Malam yang kuingat sepanjang lalu selalu memutar mozaik-mozaik lama. Malam ketika mata kupaksa terpejam demi sebuah nama. Malam diantara sepertiga bermunajat pada Al-Mulk. Malam yang tiada terlepas satu kata saja agar diberi ketetapan hati. Malam yang menjadi bisu dan kosong. Kemudian satu tubuh kaku rebah dalam kasur empuk. Di tengah hujan yang mengalir. Bahwa aku berharap untuk sejauh mungkin pergi. Berdua saja. Walau itu nanti, pada waktu-Nya, pada sebuah kekuatan, pada sebuah keabsahan, bersandar pada sebuah nama. Lalu aku tau dunia. Yang selama ini hanya terlihat indah dibalik jendela. Akan kuambil semua potongan mozaik lagi di dunia yang berbeda. Walau nanti. Walau itu nanti…

More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Saturday, October 15, 2011

Taiwan. Bukan negara yang asing lagi untuk saya. Perangainya, logatnya, hingga pelitnya pun saya sudah hapal. Sejak-kurang lebih- 2007 lalu mereka sudah gencar datang ke Aceh. Mungkin tahun-tahun awal kedatangan mereka tidak terlalu digubris, karena mereka hanya berurusan dengan beberapa pihak yang mengundang hanya sebatas urusan akademik kampus intern, juga penandatanganan MoU menyangkut kesepakatan kerjasama bilateral. Ah...saya tidak tau pasti. Pada tahun berikutnya hingga sekarang, Taiwan gencar membuka peluang selebar-lebarnya untuk masyarakat Aceh yang ingin mendapatkan beasiswa by research atau course-work. Dan, terbukti beberapa mahasiswa Aceh yang berniat melanjutkan magister dan doktor diterima dengan sangat "welcome". Jika ada event besar yang menjadi benang merah antara kesuksesan penyedia beasiswa dengan mahasiswa, pasti keterkaitan itu adalah Taiwan Higher Education.

Siapapun yang merasa tertarik melanjutkan study ke Taiwan-terutama bidang Sains dan Teknologi- wajib datang ke acara setahun sekali ini. Dua ribu sebelas adalah kedua kalinya negara anak emas Amerika ini datang ke Aceh. Masih dengan misi yang sama, membuka informasi dan peluang selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin melanjutkan study ke Taiwan. Konsep dan teknis acara sama seperti tahun lalu. Saya juga pernah membuat satu postingan khusus disini. Tahun ini adalah pengalaman kedua saya sebagai booth-companion. Karena secara teknis dan konsep tidak ada yang berbeda, saya tidak merasa kesulitan sama sekali, walau tetap ada perbedaan yang cukup signifikan antara Chiao Tung University dan National Taiwan University of Science and Technology...


Me Vs National Taiwan University of Science and Technology
Universitas ini terletak di Taipei. Menurut seorang International Admission Office of International Affairs-yang saya lupa namanya siapa- lokasinya berdekatan dengan Taipei 101. Layaknya penyedia beasiswa, mereka menawarkan jurusan-jurusan yang bisa dipilih sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Seperti, Computer Science, Construction Engineering, Chemistry Engineering, Mechanical Engineering, Architect, Management Business, dll. Khusus untuk program Magister dan Doctor, mereka menawarkan Full English Taught. Dan, untuk Bachelor hanya tersedia kelas bahasa Mandarin. Dalam brosur yang dibagikan, saya melirik bahwa Taiwan Tech-sebutan lain untuk National Taiwan University of Science and Tecnology- adalah kampus nomor wahid untuk fokus sains dan teknologi. Saya tidak tau benar atau tidak, karena seperti itu yang tertulis. Jika berminat apply beasiswanya, sila kemari.

Jadi, ada apa antara saya dan Taiwan Tech? Sebenarnya saya tak ingin membuka lebar-lebar apa yang terjadi 1 oktober lalu. Cukuplah saya dan beberapa panitia inti yang berhak tau. Tapi, saya pikir nilai sebuah tulisan itu bukan terletak dari seberapa banyak diksi ataupun polemik yang dijabarkan, tapi keaslian tulisan itu sendiri. Tulisan yang nyata dan apa adanya lebih menembus ke hati. Mengapa ada perbedaan yang cukup signifikan antara tahun lalu dan tahun ini? Karena saya membuat sebuah pembanding. Pembanding tidak selamanya bernilai negatif. Sebaliknya, tidak selamanya juga pembanding bernilai positif, seperti sedikit rasa kecewa yang saya alami dengan Taiwan Tech.

Sebagai booth-companion, tugas kami adalah membantu mereka dari A hingga Z. Mulai dari pemasangan segala properti kampus seperti poster, bendera, mengatur booklet, memajang souvenir, mengingatkan mereka untuk lunch tepat waktu bahkan menggunting selotip dan membuang sisa sampah. Selebihnya, booth-companion membantu menerjemahkan segala informasi yang ingin diketahui pengunjung dari bahasa Inggris ke bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Setelah acara selesai, segala properti yang ada harus dilepas dan dimasukkan ke tempat semula. Seperti itu. Sederhana saja.

Booth-companion juga harus ramah memperkenalkan diri dan menayakan apa yang bisa dikerjakan agar semua pekerjaan cepat selesai. Saya juga, memperkenalkan diri dan menanyakan apa yang bisa saya kerjakan. Walau ujung-ujungnya mereka sendiri yang lebih tau posisi properti yang diinginkan. Jika tidak bisa mengerjakan sendiri, mereka meminta bantuan dengan sesama Taiwanese dalam bahasa Mandarin. Saya yang mengerti mandarin seujung kuku hanya bisa bengong-bengong saja. Huh...

Baru saja selesai meletakkan properti dan segala atribut universitas, kami sudah harus pindah ke booth yang lain. Saya tidak mengerti kenapa booth Taiwan Tech harus pindah, karena sekali lagi, mereka berbicara bahasa Mandarin tanpa pernah mau melibatkan saya sebagai booth-companion. Saya sudah mengendus kondisi yang tidak enak. Secepat mungkin kami pindah dan ba-bi-bu semua selesai dengan tanpa bantuan saya. Kawans, sungguh tak enak jika diacuhkan. Waktu berlanjut ke sesi pembagian booklet. Saat itu pengunjung sedang ramai-ramainya. Saya bertugas membagi booklet sambil berdiri tidak dipersilahkan duduk untuk sekedar melepas penat sesaat. Malangnya, kursi yang tersedia hanya untuk 3 orang dan semua sudah diduduki oleh mereka, Taiwan Tech's International Admission Office of International Affairs. Padahal saya sudah lelah sekali, sedang datang tamu bulanan pula. Oh, lengkaplah sudah.

Sekali lagi, jika harus membuat perbandingan, saya bisa mengatakan bahwa mereka tidak ramah. Tidak ada chit-chat sekedar bicara santai di sela-sela break. Mereka dengan sesama mereka saja. Bahkan waktu makan siang yang seharusnya saya ingatkan, mereka lakukan tanpa sepengetahuan saya. Jadilah saya sendiri dengan pengunjung yang berdesakan mencari informasi dan memburu souvenir.

Apakah semua orang Taiwan seperti itu? Saya rasa tidak juga-walau katanya mereka lebih individualis-banyak orang indonesia yang seperti itu, bahkan lebih. mungkin mood mereka sudah tidak karuan ketika booth Taiwan Tech harus dipindah. Atau mungkin saya saja yang sedang sensitif karena "si tamu" itu.

Me Vs Chiao Tung University
Sebelum hari-H, booth-companion dan calon booth-companion harus hadir ke KBA (Komisi Beasiswa Aceh) untuk mendengar sedikit pengarahan tentang jalannya acara. Di sela-sela pengarahan, saya dan teman-teman sempat berdiskusi dengan interviewer dan menyampaikan beberapa kendala jika ada. Secara teknis tidak ada masalah yang berarti, tapi saya sangat berharap ditempatkan pada booth yang sama seperti tahun lalu, Chiao Tung University. Ternyata booth tersebut sudah dipenuhi oleh seorang mahasiswa yang akan berangkat melanjutkan study disana. Alasannya agar mahasiswa tersebut bisa lebih dekat dengan universitas yang menjadi tujuannya. Sebenarnya sah-sah saja alasan itu. Saya pikir bagus juga, selain lebih dekat secara personal, informasi yang lebih akuratpun bisa digali langsung dari admissionnya.

Admission Chiao Tung yang akan datang adalah orang yang sama, Janet. Janet sangat ramah dan ekspresif. Saya tidak menduga booth kami bersebelahan. Saya pikir Janet akan lupa dengan seorang perempuan yang sudah membantu boothnya tahun lalu. Ternyata dia ingat dan langsung menyapa saya sambil berpelukan. Wanita berkaca mata ini juga memberi hadiah special yang ia tanya langsung pada seorang senior saya yang sedang melanjutkan study di Chiao tung. Such a honorable thing. What a beautiful making friendship.

Chiao Tung Vs National Taiwan University of Science and Technology
kawans, sekarang terbukti bukan? Bahwa etika dan perangai ternyata cukup mendominasi. Seorang yang cerdas sekalipun jika sombong tetap dipandang sebagai orang yang tidak berilmu. Itulah kenapa knowladge berada di urutan kedua setelah integrity. Dan hal ini berlaku bagi saya sebagai sebuah pembanding. Nilai-nilai apa yang harus saya garis bawahi sebelum mengambil keputusan. Jika pada akhirnya saya akan melanjutkan study ke Taiwan, sudah bisa saya pastikan Chiao Tung berada dalam daftar pilih. Dan, sudah bisa saya pastikan pula bahwa Natioanl Taiwan University of Science and Technology tidak berada dalam daftar pilih maupun dalam "kamus" hidup saya.

English, again and again!
Bahasa Inggris menjadi jaminan untuk melalui tahap akademik dan komunikasi verbal yang global. Saya tidak pernah mendapat kerugian dengan belajar-mengajar bahasa Inggris. Jujur, saya juga tidak pernah belajar bahasa Inggris secara intensif dan berkala dengan mengikuti les khusus bahasa Inggris. Tidak. Tidak pernah sama sekali. Saya hanya cinta bahasa Inggris. Saya tidak pernah berpikir rumit untuk belajar mencintainya. Saya mencintainya dari waktu ke waktu dengan berlatih, berlatih dan berlatih. Dengan apapun dan siapapun. Jadi, benar jika belajar atas dasar ketulusan dan cinta, kesuksesan itu akan ikut dengan sendirinya. Manis sekali bukan?

personal documentation belongs to Ria Purnama dan Suci Farahdilla
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, October 05, 2011

Ah...tidak kemana-kemana. Masih berada di Aceh. Masih berstatus mahasiswa tingkat akhir, dan masih belum menikah :D
Lama tidak ngeblog jadi bingung mau nulis apa. Bukan masalah ide juga sih. Anyway, selama ramadhan lalu hingga Idul Fitri sampai hari ini, saya punya banyak cerita. Tapi justru bingung harus mulai dari mana. Mungkin sedikit gambar-gambar ini bisa manjadi awal baru tanpa harus mengumbar banyak kata. Ya sudah, dinikmati saja ya :)

ka-ki: Kak Meutia, Ayu, Frau Nova, saya, imel dan putri

Ramadhan tahun lalu saya sempat ikut kelas Jerman. Tahun ini Alhamdulillah masih diberi kesempatan lagi untuk lebih mengenal bahasanya negeri Hitler ini. Keberkahan ramadhan kami tutup dengan buka puasa bersama sekaligus farewell kecil-kecilan. Kebetulan dalam bulan agustus Frau Nova-Deutschlehrerin kami-berulang tahun. Kami menghadiahinya sebuah jilbab BB :D

Benar sekali. Gambar diatas adalah sebuah koin. Saking specialnya ini koin sampai saya masukkan dalam kotak khusus. Ada apa dengan koin ini? Hm, i need to keep it till the right time.


Postcard Taiwan ini dari Neng Rifka. Agustus lalu si Neng pulang ke Indonesia. Sebelum pulang saya sempat ditanyai alamat rumah. Saya pikir dianya mau main ke Aceh. Rupanya saya mau dikirimi postcard. Xie xie ni.

Yippi...Alhamdulillah Jurusan Matematika FMIPA Unsyiah dapat mempertahankan akreditasi A. Dan, jurusan kami adalah satu-satunya yang mendapat akreditas A di Pulau Sumatera. Bangga? Tentu saja. Untuk itu, dosen-dosen berinisiatif membuat syukuran dengan mengundang seluruh pihak yang membantu kesuksesan akreditasi tersebut. Salah satunya letting kami. Momen kebersamaan ini mungkin tak akan berlangsung lama, mengingat setiap orang pasti akan menempuh jalan masing-masing. Kenangan seperti ini yang akan saya rindukan.






ki: gumleaf bookmark, makanan kesukaan koala/ ka: tasmanian lavender postcard


Tepat di hari yang sama -syukuran akreditasi- saya berjanji bertemu seseorang. She has just return from Adelaide, Australia. Dia adalah tentor English saya sewaktu Bimbel. Kira-kira tahun 2005. Saya masih SMA. Dia adalah tentor English favorit saya. Kami berjanji bertemu setelah sekian lama. Pembicaraan masih tak jauh-jauh, melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ada rasa iri yang begitu dalam ketika bertemu Kak Eli. Tentang mengapa ia menjadi tentor favorit saya. Tahukah kawans? Ia sarjana dan master di bidang Matematika tapi ia sukses karena English. So, saya sangat percaya seseorang bisa sukses karena apa yang ia jalani sepenuh jiwa, bukan karena tuntutan.

Rumah bantuan tsunami di Alue Naga

Tugas akhir, tugas akhir dan tugas akhir. Yup, i'm on it. Tidak muluk-muluk, saya menargetkan pertengahan tahun depan lulus sarjana. Untuk itu, selama semester ini saya harus rajin-rajin membaca buku "wajib", mencari jurnal ilmiah dan berdiskusi dengan dosen pembimbing. Karena tugas akhir saya berhubungan dengan Recovery Aceh dengan kasus sosial dan menggunakan analisa serta hitung-hitungan statistik, saya perlu "buka mata", "buka telinga" lebih lebar untuk study case yang cukup abstrak ini. Saya diperkenalkan oleh pembimbing tugas akhir dengan seorang mahasiswa magister asal Jepang. Namanya Toshikazu Hiwaki. Lingkup daerah yang kami pelajari sama, Banda Aceh dengan tambahan Aceh Besar untuk riset magister Toshi. Untuk itu, selama Toshi di Aceh, kami -saya dan kedua teman lainnya- jalan-jalan melihat bangunan bantuan tsunami. Salah satunya di kawasan Alue Naga ini. Jika kawans ingin tau lebih lanjut, sila membuka Google Earth untuk melihat perbedaan warna atapnya. Dan bandingkan dengan warna atap perumahan Jacki Chan ini.

ki: seluruh panitia THEE 2011/ ka: hadiah dari Janet

Satu Oktober lalu saya dan kawan-kawan kembali disibukkan dengan event sekali setahun, THEE 2011 (Taiwan Higher Education Expo 2011). Konsep acara dan teknisnya sama seperti tahun lalu dan saya kembali bertugas sebagai booth companion. Tahun ini saya mendapat universitas yang berbeda, National Taiwan University of Science and Technology. Sayangnya saya sedikit bad impress dengan universitas tersebut. Nanti saya akan buat satu postingan khusus tentang THEE 2011. Ah...lets talk another part.


Namanya Janet. Dia adalah Chiao Tung's International Admission Office of International Affairs. Yaa...semacam orang yang menangani langsung mahasiswa-mahasiswa international di Chiao Tung University. Tahun lalu saya menjadi booth companionnya di acara yang sama, THEE 2010. Orangnya ramah sekali. Saya pikir Janet sudah lupa dengan saya karena kami tidak saling memberi kabar dalam kurun waktu setahun. Tanpa saya duga, ia masih ingat saya. Malahan saya lebih dulu ditegurnya pada acara THEE 1 Oktober lalu. Setelah bertukar kabar dan menanyakan kesibukan masing-masing, Janet membisiki saya sesuatu.
"Ai, i have something for you"
Lalu ia mengeluarkan sebuah agenda, bookmark dan sumpit Jepang. Saya pikir, pastilah ia membawa hadiah tersebut tidak dengan persiapan khusus karena tiap tahun dan tiap booth menyediakan souvenir gratis bagi para pengunjung. Ternyata saya salah. Sebelum dia ke Aceh, Janet menyempatkan diri bertanya tentang apa yang saya sukai, langsung ke salah satu senior di kampus saya yang sekarang mengambil magister di Chiao Tung, Taiwan. Dan, senior saya mengatakan,
"She is Japanese Lover"

Mungkin itulah mengapa Janet memberi saya sumpit Jepang. Walau bagi saya semua sumpit terlihat sama, tapi sumpit yang ini beda. Dari seseorang yang ramah dan hanya saya temui tidak lebih dari 10 jam. What a wonderful making friend :)

Hari minggu lalu saya diminta abaty untuk menggantikan pengajian khusus anak-anak. Saya kebagian anak-anak SD kelas 1-3. Saya memberi materi tentang Ibu. Pengajian ini nomaden. Minggu lalu di Museum Tsunami. Meski museum rancangan Ridwan Kamil ini sangat terkenal di Aceh tapi baru minggu lalu saya bisa masuk dan explore langsung. Nah, gambar di atas adalah salah satu tempat pajangan lukisan-lukisan yang menggambarkan dahsyatnya tsunami Desember 2004 silam.

That's all. Selebihnya saya "wajib" menenggelamkan diri pada beberapa rutinitas, kuliah, mengajar, survei, dan tugas akhir. Alhamdulillah, semuanya berjalan seperti yang saya harapkan.
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, September 14, 2011

"And marry the unmarried among you and the righteous among your male slaves and female slaves. If they should be poor, Allah will enrich them from His bounty, and Allah is all-Encompassing and Knowing" (An-Nur: 32)
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, August 17, 2011

Banyak orang-orang di luar sana yang berpikir dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak mengikuti bagaimana orang lain bertingkah laku. Aturan dibuat sendiri tanpa ada paksaan untuk mengikuti sesuatu yang biasa orang-orang lihat. Mereka punya aturan membiasakan yang benar daripada membenarkan yang biasa. Berlari, bersikap, berbicara, menanyakan, menemukan jawaban, masuk, keluar, dan hidup dengan cara yang tak biasa. Kadang saat-saat seperti itu mereka dinilai ganjil dan seringkali cap aneh selalu dibawa-bawa. Apa pula yang aneh jika mereka menganggap hal itu adalah sesuatu yang orang lain tak punya, yang orang lain tak biasa melakukannya, tak biasa dipikirkan orang kebanyakan.

Orang-orang memang akan selalu menanyakan kenapa melakukan ini, kenapa berkata seperti itu, kenapa hanya diam saja tak melerai, kenapa harus ribut saat orang lain ingin diam, kenapa harus mati saat orang lain ingin merasakan sari pati hidup, kenapa banyak tanya saat belum habis membaca? Sudah lanjut saja dulu!

Ini tentang apa? Tentang sebuah pergolakan batin yang orang lain tak tahu. Hanya diri sendiri yang merasakan. Saat ketika merasakan benci yang teramat sangat pada sesuatu yang paling disayangi, saat kata-kata berontak tiba-tiba harus dibungkam agar tidak menjadi sampah yang berurai cacian, saat kita harus mengikuti orang lain tapi sebenarnya enggan dan saat ingin sekali menenggelamkan segala ego untuk berpindah pada sebuah tempat dengan sekali helaan nafas, berpindah pada sesuatu yang paling ingin kita tahu kenapa harus mulai untuk melangkah, saat ketetapan hati kembali di obrak-abrik waktu, waktu dan waktu.

Setelah lengkap semua gegabah, baru mengasingkan diri menjadi pribadi yang lain untuk -tentu saja- mengganti diri yang meledak-ledak dulu agar lebih tenang pada helaan nafas berikutnya. Kita perlu sebuah tempat, dimana segala muak telah ditelan bulat-bulat oleh kepala-kepala kita. Kita perlu sebuah tempat yang orang lain sama sekali tak pernah tau keberadaan kita hingga benar-benar bisa mengasingkan diri tanpa memusingkan semua ego yang lalu.

Kita perlu keluar dari hingar bingar caci maki agar langkah-langkah kecil tak lagi menjadi jarak. Kita perlu sebuah tempat, tempat untuk seorang diri saja yang miliki, tempat yang hanya diri saja berbuat sesuka hati. Titik.
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, August 17, 2011

Jika Tuhan menciptakan dunia ini bundar, maka manusia yang berjanji membawa dunia berada di genggamannya akan mencari himpunan titik-titik yang membentuk utuh sebuah lingkaran dalam hidupnya. Meski pada rentetan jarak terbentang bidang berupa-rupa, manusia tidak boleh menyerah. Manusia hanya boleh mencari untuk sebuah alasan, bukan mencari demi sebuah jawaban. Hingga sampailah ia pada titik pusat yang ia cari. Aku, kehilangan hampir sebagian besar titik yang kucari. Meski telah berputar satu putaran penuh. karena belenggu... More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Saturday, August 06, 2011

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang
pada akhlak yang manis,lembut dan wangi
hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

-Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah-

nb: Percayakah kalian bahwa dunia tidak linier? Aku percaya. Namun hingga detik ini aku tak mengerti kenapa dunia tidak pernah terbalik untuk setiap rangkaian persaudaraan yang telah digaris Tuhan dalam hidup. Kenapa kita harus bertemu maupun berpisah. Kenapa kita harus mendengar dan berbagi. Kenapa ada tangis juga rindu. Untuk semua sahabat yang telah diutus Tuhan dalam hidupku, dimanapun kalian berada, demi nama Allah, aku sayang kalian...
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, August 02, 2011


Aku binggung! Di depanmu, aku linglung. Kamu seperti sebuah lorong. Mau tak mau harus terdesak masuk dalam likunya. Diam. Dingin. Bisu. Aku dihadapkan dengan garis-garis semraut. Berkelok dan tak tau akhir lintasannya. Didepanku ada sebuah lintasan panjang yang menuju beberapa titik. Mencapai ujungnya harus bergegas dengan waktu. Sesekali berkelok sebentar untuk singgah di tempat yang tak semestinya. Kemudian lintasan semakin panjang, sedang aku harus mencapai titik terdekat. Jika belum bertemu titik perintang yang kucari, kakiku akan diam ditempat. Kemudian kembali lagi pada keadaan semula. Aku berjalan dua kali pada lintasan yang sama. Pada jarak acak yang kubuat sendiri. Sungguh! Sulit sekali berada pada satu lintasan yang sama denganmu. Mensejajarkan dengan inginmu. Egomu. Lucunya, meski mencari lintasan terdekat adalah hal absurd yang telah kulakukan, aku bahagia...



nb: Algoritma Dijkstra. Salah satu algoritma yang digunakan untuk mencari lintasan terpendek dari suatu graf. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Saturday, July 30, 2011


Datar. Tidak ada gelombang. Tidak berundak. Tidak menggebu. Datar saja. Dua puluh menit lalu masih banyak suara, gerak, bualan, caci maki, air pekat hitam dalam cawan-cawan di pinggir jalan, maka semua yang diam disebut datar. Dua puluh detik dari sekarang bersiap pergi. Meninggalkan tenggat waktu. Membungkus dengan sekepal tangan. Memberi jatah pada janji lalu. Untuk Setia pada jarak. Untuk Tidak ingkar pada garis Tuhan. Kemudian satu persatu tubuh-tubuh berjalan. Tanpa disuruh dengan ketiba-tibaan. Semua mengalir. Tanpa percepatan. Meski tetap datar. Meski diam saja…

More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, July 19, 2011

Hari ini ada pesta rakyat di kampus saya. Pemira. Pemilihan Raya untuk menentukan siapa Presiden Mahasiswa untuk setahun mendatang. Selama kuliah, ini Pemira ke-4 yang saya ikuti. Jauh sebelum mengenal Presiden Mahasiswa itu apa, saya sudah lebih dulu paham apa itu organisasi. Bagaimana kesatuan yang dibangun dalam struktur. Agar nanti jika terburai lakon-lakon di dalamnya, mereka masih punya pegangan untuk kembali mengikat. Ujung-ujungnya akan kembali lagi pada wadah semula, kesatuan.

Organisasi bagi saya cukup urgent. Saya sudah bercokol di dalamnya sejak SMP. Baru merasakan organisasi sebenarnya ketika menginjak bangku SMA. Dimulai dari organisasi rohis, OSIS dan Pemimpin Redaksi tabloid sekolah. Jika mengingat masa itu lagi memang tak pernah lekang. Syukur hingga saat ini saya masih menyimpan jejak-jejak kejayaan dulu dalam bentuk visual maupun tulisan. Masa SMA adalah sebuah batu loncatan. Semua momentum yang saya cari ada disana. Inilah awal ketika saya mengenal beberapa orang yang nantinya berpengaruh dalam hidup hingga hari ini. Diawali dengan sesuatu yang paling sederhana, ukhuwah. Persaudaraan.

Saya pikir Presiden Mahasiswa itu melebihi jabatan rektor. Ia memiliki segalanya. Kawan banyak. Prestasi segudang. IPK di atas rata-rata. Pengalaman organisasi jangan tanya. Intinya Presiden itu memiliki kuasa. Agak takjub pertama sekali memilih presiden yang di usung sebuah lembaga. Kami mahasiswa-mahasiswa baru yang tergabung dalam lembaga kampus itu harus memilih satu nama berikut nomor yang harus di coblos. Ternyata sistem pemilihan presiden kampus sama seperti pemilihan presiden pada pemilu. Bedanya, kami mahasiswa. Pemilu, kita rakyatnya. Apalagi waktu itu saya mahasiswa baru yang masih dungu dan lugu.

Suatu ketika di tahun 2009 saya ditugaskan mengikuti sebuah rapat lembaga. Ternyata pada hari itu rapat tidak jadi dilaksanakan karena suatu kendala. Pada saat yang sama beberapa tim sukses juga sedang mengadakan rapat. Kondisi saat itu minus 3 hari pemilihan presiden kampus. Setiap lembaga yang bernaung pada organisasi maupun ormas A, B maupun C sedang gencar-gencarnya merencanakan strategi. Entah strategi apa itu. Hingga lambat laun saya sadar banyak politik yang bermekaran. Daripada kami mahasiswa-mahasiswa semester awal ini menjadi cecunguk, kami diajak masuk untuk mengikuti rapat sembunyi-sembunyi yang dihadiri beberapa petinggi-petinggi politik kampus.

Saya lebih banyak diam saat itu. Tidak mengerti kenapa begitu banyak selebaran yang bergambar calon A dengan nomor sekian yang di sudut kanan selebaran berisi ajakan untuk memilihnya. Saya sedikit tertawa dengan beberapa kalimat yang salah penulisan EYDnya. Foto hasil copyan calon yang di usungpun agak sedikit nyentrik-jika bisa dikata berlebihan. Beberapa mata tertuju pada saya ketika secara blak-blakan saya ungkapkan beberapa kekeliruan yang maksud hati ingin memberi saran tapi di respon sedikit negatif oleh mereka. Saat itu juga saya sadar telah berada pada ruangan yang salah dan pembicaraan yang belum terlalu saya mengerti.

Sekarang sudah tahun 2011. Sedikit banyak saya sudah tau pergerakan kampus dan menjelang kampanye kepresidenan. Agenda mereka yang mengelu-elukan calonnya begitu banyak dengan serentetan acara hingga debat kendidat. Semuanya dilakukan secara terstruktur hingga tanpa cela. Semua mahasiswa mendapat hak melihat langsung ketika calon-calon mereka naik panggung untuk menyampaikan visi-misi. Sebuah pesta rakyat yag transparan di muka. Meski kami para mahasiswa belum pernah sekalipun bertatapan jauh-jauh hari sebelum calon presiden di usung, tapi tiap tahun saya mendapat puluhan sms untuk memilih calon ini dan itu. Mendekati hari-H, sms makin gencar hingga bernada sedikit memaksa untuk memilih Calon Presiden (Capres) Apel, Melon dan Manggis. Sama seperti Capres yang kebanyakan tak dikenal para mahasiswa, sama juga halnya seperti beberapa teman saya yang terlibat langsung dalam Pemilihan Raya ini. Jika memperhitungkan logika, wajar saja calon yang diusung sebagai Capres tidak pernah terlihat sebelumnya. Mahasiswa dari fakultas tempat belajar sendiri saja jarang terlihat, apalagi mahasiswa dari fakultas lain. Namun, beda halnya dengan teman-teman saya yang sehari-hari sering saya lihat dan kenal pula.

Beberapa teman di sekeliling saya memiliki potensi untuk menjadi orator maupun Tim Sukses (TS). Teknis mereka dipilih beragam. Bisa jadi karena kedekatan dengan suatu lembaga atau organisasi, bisa karena potensi-potensi tadi dan bisa juga karena sering ikut-ikutan. Saya sendiri pernah hampir dilibatkan dalam masalah Pemilihan Raya, namun secara perlahan saya mundur. Bukan karena cacat potensi. Tapi hanya karena satu hal yang sebentar lagi akan saya jabarkan.

Kondisi gencar sms dimulai kira-kira seminggu sebelum hari-H Pemira. Berbagai sms "iklan" untuk mendukung dan menycoblos calon bernama "Melon" saya dapatkan hampir setiap hari dengan waktu tak pasti. Hingga tengah malampun sms masih berdatangan. Syukur saya menganut ilmu vampir. Produktif di malam hari :D Jadi tidak terlalu mengganggu, juga tidak pernah sebarispun digubris. Hari yang dinanti tiba. Saatnya Pemira. Semua yang masih terdaftar sebagai Mahasiswa Unsyiah berhak mendapatkan hak pilih. Seperti hari ini. Pagi tadi seluruh komponen maupun petinggi yang kelak menduduki sebagai pengurus Pemerintahan Mahasiswa nanti berkumpul di titik-titik yang berbeda dan tentu saja sudah di organisir serapi mungkin. Kampus pagi tadi, dan pagi-pagi pada Pemira tahun-tahun lalu, seperti sunyi. Seperti ada banyak rahasia dalam mulut-mulut. Rahasia-rahasia tersembunyi itu tidak akan dimuntahkan sekarang. Tapi nanti ketika mereka sudah punya kursi. Ketika nama-nama mereka tercatat dalam dokumen asli.

Sekitar pukul 10 selepas berkutat dengan rumus-rumus rotasi dan partikel, saya menggunakan hak sebagai mahasiswa. Setelah mencoblos saya langsung ke mushala depan kampus untuk Dhuha. Tanpa ba-bi-bu seseorang menyapa saya dengan,

"Eh, udah nyoblos?". Saya berkilah,
"Hmm, belum"

Raut mukanya berubah masam. Rasanya ingin sekali menjawab lagi "Ini mushala. Mengapa tak tanya sudah Dhuha, apa kabar atau sudah sarapan belum?". Maaf kawan. Saya sengaja berbohong untuk melihat reaksimu. Untuk membuktikan apa yang selama ini saya yakini benar. Menolak mundur untuk turut terlibat teknis langsung dalam Pemilihan Raya.

Semalam Abaty sms seperti ini " Esok kita menikmati pesta demokrasi mahasiswa. Pastikan esok kita berpartisipasi dalam Pemira dan jangan lupa bawa kartu pengenal untuk menyoblos. Kakak yakin kalian tau siapa yang akan kalian pilih. Semoga Allah membersamai kita ". Bahasa yang halus, singkat, jelas dan tanpa paksaan. Lalu, kenapa juga kawan-kawan saya yang berkecimpung langsung dalam Pemira harus sms seperti ini "Diintruksikan kepada seluruh jajaran bla...bla...untuk dapat mencoblos dari pukul 8 -9 pagi. Jangan lupa pilih "Melon" dengan nomor "3443". Jika sudah selesai mencoblos segera hubungi saya". Bahasa yang sangat memaksa dan kental unsur politik.

Saya dan Abaty cukup dekat. Setiap minggu kami bertemu untuk saling bertukar ilmu, mengingatkan satu sama lain, merekonstruksi ibadah yang sedikit melemah dan banyak hal lain. Sebuah struktur yang rapi dalam kelompok kecil untuk selalu memperbaiki diri. Kawan-kawan saya yang berlabel organisasi atau lembaga A, B maupun C, hanya sesekali bertemu, jarang komunikasi maupun interaksi juga jarang berada di kampus. Seperti mereka hanya mengenal mahasiswa ketika Pemira tiba. Seketika menjadi syahdu dengan tausyiah melalui sms. Seketika menjadi yang terdepan jika memilih "Melon". Seketika menjadi demikian akrab dengan junior-junior di kampus. Menunggui gerbang kampus untuk sekedar bertanya "dek, udah nyoblos?". Lupakah mereka sapaan umat islam "Assalamualaikum" atau sekedar bertanya "Apa kabar?". Seketika menjadi baik mentraktir beberapa orang yang sedikit "bebal mencoblos" untuk di antar ke depan kotak TPS. Seketika begitu banyak pesan singkat yang masuk dan deringan telepon untuk -lagi-lagi- mengingatkan orang-orang "udah nyoblos belum?" bukan diingatkan "nanti jangan lupa sarapan ya". Mukanya berseri hari itu. Cuma sehari itu saja untuk selanjutnya meninggalkan semua keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Besok sudah bisa dipastikan tidak ada satupun batang hidung mereka, teman-teman saya penyelenggara Pemira. Ternyata rasa manis sehari hanya untuk Pemira. Beginikah interaksi itu dibentuk?

Saya dibesarkan dalam struktur organisasi maupun lembaga yang disusun rapi. Dalam sebuah organisasi yang padat makna. Saya tak akan berani menerima jabatan ini-itu jika satu senti pun tak tau makna mengapa harus melakukan tugas dari jabatan tersebut. Apa yang menjadi lakon dalam hidup, disitulah semua gerak. Disitulah semua berproses. Bukan hasil yang menjadi tujuan utama, tapi sekali lagi, proses untuk berkembang menjadi yang lebih baik. Tak mudah memang. Karena kepayahan itulah yang dinilai Sang Maha Kuasa. Kepayahan mengeluarkan pendapat kala ide berada di minoritas penerimaan, bersitegang dengan kepala-kepala yang tak sepaham, pintar-pintar mengelola manajemen waktu, dan terus bertemu dengan karakter berbeda dari tiap generasi. Nanti semuanya akan di akumulasikan melalui gerak untuk berbuat. Paham dengan apa yang dijalani. Semuanya hanya untuk memperkuat ukhuwah. Persaudaraan. Tak-tik apa yang menyebabkan Kafir Quraisy menang melawan Islam pada masa setelah wafatnya Rasulullah? Bukan karena harta, tahta, jabatan, maupun wanita. Tapi karena jalinan ukhuwah yang sudah terburai kemana-kemana. Interaksi dan komunikasi yang dibangun setengah-setengah. Itulah mengapa saat ini terlalu banyak kubu yang kita jumpai. Terlalu banyak kepala-kepala yang beranggapan kelompoknyalah yang paling benar. Kelompoknyalah yang seharusnya menang. Kelompoknyalah yang pantas berkuasa.

Kawan, hidup bukan persoalan kalah-menang. Hidup bukan seumpama piala yang selalu di elu-elukan. Hidup juga bukan 5+5 sama dengan 10. Hidup adalah proses mencari hingga menemukan. Kemudian berproses lagi. Begitu seterusnya. Ketika berproses juga tidak bisa sendiri. Kita butuh pegangan. Butuh sandaran. Butuh pedoman. Adalah mereka, orang-orang di sekitar kita yang tidak datang sehari maupun kemarin. Karena sesuatu yang instan maka juga pergi dengan instan. Dialah ukhuwah. Persaudaraan kuat yang akan selalu mengingatkan ketika kita lupa lakon hidup sebagai makhluk lemah. Sudah dari semalam badan saya seperti remuk-remuk. Baby oil pun tak mempan. Agaknya saya perlu istirahat lebih awal dan meninggalkan sejenak dunia "vampire" :D

nb: Bagian terakhir tidak terlalu penting. Hanya untuk menambah keorisinilan tulisan dan keadaan saja. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, July 19, 2011


El, Tuhan tengah bermain diatas
Kata malaikat sedang menyusun labirin hidup

Semua makhluk langit tersentak kaget!

Katanya labirin itu hanya untuk dua orang saja

Percayakah kau, El?

El, tak pernah kau dengar bisikan macam-macam, bukan?

Karena liku-liku labirin tak beragam

Mereka padu saja

Hanya ketulusanmu yang mencegah dari limbung
Tuhan kata, ini persoalan benar-benar, bukan main-main

Nanti, jika jiwamu tak lagi meledak-ledak seperti molotov yang terburai dan meletup-letup
Kamu akan bertemu dengannya di akhir labirin
Waktu tak kenal jeda

Pun tak gegas pergi

Sudah larut malam

Labirin itu ternyata milikmu, El

Senangkah?

Itu namamu, El

Tapi siapa?


img src More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Saturday, July 16, 2011

Harusnya beberapa tugas ringkasan selesai malam kemarin. Tapi kepala saya kian terganggu hingga hari ini. Saya tau kenapa kepala saya double error. Ini diakibatkan semua memori berputar yang seharusnya bisa saya lenyapkan dalam waktu seminggu. Mestinya semua kenangan itu tidak mengalami retorika. Atau seharusnya memang saya bagi. Menceritakan pada orang yang tepat. Tapi sudahlah. Semua hal yang perlu di endap sementara sudah bisa dituang dalam kertas. Dalam beberapa agenda ke depan.

Sebentar lagi Ramadhan. Saya, kamu dan kita semua tidak tahu apakah Allah masih mempertemukan dengan bulan penuh berkah itu. Tak ada yang mampu menduga hingga hari ini. Saya dan teman-teman diharuskan membuat target Ramadhan oleh Abaty. Untuk semua ibadah yang akan dilakukan. Jika nantinya Allah berkehendak lain, toh Allah sudah mencatat niat baik dengan satu pahala. Dan, itu yang saya lakukan setengah hari ini. Ternyata apa yang saya perlukan hanya menuangkan semua gundah. Memajangnya menjadi target. Membaca sembari meniatkan semua yang sudah ditulis serta berdoa agar keberkahan itu juga dilipat gandakan melalui hal-hal yang kecil tadi.

Sebenarnya target Ramadhan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Hanya proporsinya saja ditambah. Namun, ada satu target yang paling sering saya abaikan. Dulu sewaktu sekolah saya sering mengerjakannya bersama Hiu. Setiap jam istirahat selepas dhuha di mushala sekolah. Bahkan kami rela tidak jajan hanya untuk mentadaburinya. Seiring pergerakan waktu semua tak lagi sama. Mesin waktu tidak pernah benar-benar ada. Jika pun ada pasti harganya sangat mahal. Kita tidak pernah bisa mengulang waktu. Apa yang sudah dikerjakan tempo dulu pasti jauh berbeda dengan sekarang. Kami memang masih berkomunikasi namun rutinitas juga kesibukan mau tak mau menjadi sekat penghalang.

Sayangnya perkuliahan dimulai awal September. Kondisi ini yang paling saya tidak suka. Jika Allah mempertemukan dengan Ramadhan, saya ingin tetap ke kampus. Tetap beraktifitas seperti biasa. Tidak hanya dirumah saja dengan buku dan laptop. Saya sangat menyesalkan kenapa jauh-jauh hari menolak tawaran mengajar. Saya pikir akan sibuk di kampus, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Memang benar ya. Tak ada yang pasti dalam hidup. Yang pasti itu ketidakpastian itu sendiri.

Ramadhan kali ini juga saya niatkan untuk bersilaturrahim lebih banyak. Saya sudah bisa membayangkan untuk duduk bersama teman-teman menunggu waktu berbuka. Atau tilawah beberapa lembar demi menambah target. Sungguh sudah tidak sabar rasanya.

Tahun ini juga saya targetkan antologi tulisan non-fiksi bersama teman-teman FLP Aceh terbit dan semoga saya juga termasuk diantaranya. Untuk hari-hari lalu yang saya habiskan dengan sia-sia ingin saya isi dengan lebih banyak menulis. Baik tulisan ilmiah maupun beberapa referensi buku-buku. Ah...ya, jejaring sosial akan deactive untuk sementara waktu karena ada proyek besar yang akan saya jalani dan tahun ini harus selesai.

Kesibukan-kesibukan ini yang teramat saya rindukan. Tidak apa jika kelelahan menjadi penutup hari, asal semua dijalani dengan bahagia. Semoga kita selalu diberi kebahagiaan yang cukup, diatur segala urusan oleh Allah dan Allah ridha karenanya. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Saturday, July 16, 2011

Dalam kepala kita sudah banyak benang kusut. Hanya tinggal menunggu waktu seperempat detik lagi agar kepala kita mengeluarkan tangan-tangan. Kemudian kaki-kaki akan berjalan tanpa kepala. Satu raga. Satu jiwa. Satu tubuh utuh yang terpisah. Kepala kita sudah menelan mentah-mentah keabsurdan. Logika persamaan benar salah sudah tidak padu. Pikiran kita jelas tidak buntu. Tidak sama sekali. Pikiran kita sudah banyak menebak-nebak. Mungkin karena terlalu banyak ego. Mungkin juga karena jarak. Namun lagi-lagi kita juga yang tidak membunuh waktu. Dan, segalanya kembali pada siapa yang lebih dulu mengalah. Nanti. Satu bulan lagi. Semoga kepala tetap berada di atas. Kaki berada di bawah. Semoga, nanti, tetap pada satu tubuh, satu raga, satu jiwa padu. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, July 12, 2011

I've always believed in numbers. In the equations and logics that lead to reason. But, after a lifetime of such persuits, i ask...what trully is logic? Who decides reason? My quest has taken me through the physical, the metaphysical, the delusional and back. And, i've made the most important discovery of my carrer. The most important discovery of my life. It is only the mysterious equations of love. That any logical reason can be found. I'm only here tonight because of you. You are the reason i am. You are all my reason...


-John F. Nash's speech on the nobel prize ceremony, Stockholm, Sweden on December 1994. Taken from A Beautiful Mind- More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Monday, June 27, 2011

Penghujung Juni ini begitu nikmat dihabiskan dengan duduk sore-sore menjelang petang bersama kerabat. Menyeruput teh hangat, makan kue coklat dan teman paling setia, buku. Atau bersenda gurau dengan teman-teman di bawah jembatan Lamnyong sambil makan rujak. Aha...Selasa di penghujung sore akan ada beberapa wanita. Saya juga disana nantinya. Tapi itu cerita lain. Liburan yang akan saya reguk masih panjang kedepan. Bulan Juli ini akan padat. Lebih tepatnya saya padat-padatkan.

Saya anak rumahan yang baru 4 bulan dihadiahi motor. Namanya Memi. Anggaplah begitu. Dulu, sebelum memiliki Memi, saya manja ingin selalu minta diantar oleh Ayah juga Adik lelaki saya, Ekal. Seiring waktu dan kebutuhan juga jadwal (sok) padat di kampus, saya merasa terlalu manja untuk terus minta di antar. Terkesan sedikit memberatkan mereka juga. Saya memutuskan untuk bisa mandiri dengan naik kendaraan umum. Di Aceh namanya labi-labi. Naik labi-labi ternyata menyenangkan juga. Kalau tidak sempat sarapan pagi, saya kadang makan di dalam labi-labi. Apalagi jika ada ujian di pagi hari, saya bisa menyicil menyerap berbulir-bulir formulasi Matematika dengan teorema-teorema plus analisisnya pula. Kegiatan yang paling saya suka di dalam labi-labi ada 2. Membaca dan memperhatikan orang-orang di dalamnya. Wajah-wajah mereka serasi dengan kehidupan yang dijalani.

Suatu ketika saya pernah melihat keluar jendela labi-labi untuk merasakan angin sore. Ah...meskipun Aceh terik di siang hari, namun sore merupakan pemandangan lain. Seperti Tuhan memutar bumi 360 derajat untuk disaksikan manusia di ujung Sumatera. Dunia seperti tidak berhenti untuk menunjukkan jingga yang mempesona. Syahdu benar. Sore hari semua aktifitas berjalan lambat. Saya rasa seluruh dunia bagian manapun berlaku ketentuan seperti itu. Sore hari saatnya nyak-nyak yang sudah renta pulang ke rumah. Pantai-pantai ramai. Warung kopi riuh. Muka mahasiswa seperti orang tak kuasa hidup lagi. Semua biasa saja. Seperti senja yang hari ini muncul, lalu beberapa jam kemudian lenyap di balik langit.

Pemandangan yang menarik itu sebenarnya bukan rutinitas tadi. Pemandangan yang menarik itu ada di luar jendela labi-labi. Seorang Ayah dengan 3 orang anak-anaknya yang lucu. Sepertinya anak-anak itu baru pulang mengaji di Baiturrahman. Saya tau dari seragam yang mereka pakai dan meja mengaji yang selalu mereka bawa. Meja lipat bertulis 26 huruf hijayyah berwarna hijau. Ditambah dengan peci hitam kekecilan yang membuat rambut mereka berantakan. Mereka bercakap-cakap. Kepala Ayahnya kadang melihat kebelakang jok motor. Mengingatkan anak-anak untuk selalu mengencangkan tangan ke pinggang Ayahnya sambil sesekali tertawa kecil mendengar cerita sepanjang pengajian. Ayahnya kelabakan membagi pendengaran. Siapa yang harus di dahulukan karena anak-anak selalu punya cerita. Masing-masing tak mau kalah dengan ceritanya. Seakan-akan cerita mereka paling penting untuk dijadikan headline hari ini. Jika ayahnya tak mendengar cerita sepanjang pengajian maka Ayahnya akan rugi besar. Lampu hijau menyala. Riuh suara anak-anak kecil tadi dan Ayah mereka dalam satu boncengan motor hilang ditelan asap dan kendaraan bermesin lainnya.

Adalah Ayah saya yang selalu menjemput dan mengantar ke sekolah, sedari TK dulu. Dulu saya sengaja Ayah tempatkan di TK yang sejengkal jaraknya dengan kantornya. Semua dilakukan untuk menghemat perjalanan dari kantor ke TK. Meski saya kerap menunggu lama hingga kawan-kawan sudah dijemput orang tua masing-masing sampai saya merasa kesepian karena tidak ada lagi kawan bermain, tapi saya senang karena ketika Ayah datang menjemput, saya pasti dibawanya ke warung kopi untuk makan kue apa saja sepuas hati sambil minum teh hangat. Walau nantinya Ayah berbincang dengan teman-teman kerja, bagi saya tak masalah, asal saya bisa kenyang siang itu.

Ayah juga selalu suka mengamit kepala saya dengan dagunya ketika melewati polisi tidur. Ia mengemudikan motornya perlahan dengan menjenakai saya dan mengatakan "Op bam bam". Begitu seterusnya hingga melewati 3 polisi tidur.

Sewaktu pulang kampung, jika ada yang ingin berkenalan dengan saya yang masih berumur 6 tahun itu, saya selalu malu dan bersembunyi di balik kaki Ayah. Kemudian Ayah selalu menggendong untuk mempertemukan tangan saya pada orang yang minta berkenalan sembari mengeja nama saya "Namanya Ummul Khairi".

Jika malam tiba, saya selalu diajarinya tajwid. Di umur yang masih kecil saya harus sudah bisa mengaji Al-Quran dan Ayah keras dalam hal ini. Pernah Ayah membentak ketika saya salah melafalkan Doa Qunut. Saya menangis dan Ayah menyuruh mengambil wudhu. Begitu pula dirinya. Semua berlaku hingga saya SMA.

Ayah dengan 3 anak kecil tadi mengingatkan saya pada Ayah. Pada lelaki manapun di dunia ketika ia bisa menemani anak-anaknya sepulang kerja. Saya pernah melihat seorang Ayah mengajak anaknya pergi ke Taman Sari ketika sore. Ayahnya mengamit dua lengan anak-anaknya. Mereka sedang bermain "jarak-jarakan". Jarak kaki siapa yang melangkah kedepan dengan cepat dan lebar-lebar, maka dia yang akan menang. Tentu saja Ayahnya mengalah dan kedua anak-anaknya yang menang. Skenario yang dibuat seorang Ayah agar kedua buah hatinya bahagia sore itu.

Saya juga pernah melihat seorang remaja laki-laki pergi bersama Ibunya ke sebuah toko roti. Kebetulan di toko itu juga merangkap sebagai cafe. Mereka duduk di depan saya. Mereka memesan ice cream. Ibu dan anak lelaki ini mengobrol sambil sesekali tertawa. Pasangan yang serasi antara Ibu dan anak lelaki. Saya juga punya teman yang selalu menemani Ibunya belanja ke pasar saban Minggu pagi. Menggantikan Ayahnya untuk menemani ibu. Semua bukan skenario yang dibuat-dibuat seperti menyenangi hati anak-anak kecil tadi. Jika pun hanya skenario, saya yakin lelaki-lelaki yang seperti itu tulus.

Lelaki. Meski kadang egonya tinggi dan selalu bersikap rasional, mereka punya bagian dimana mereka harus memberikan respect sebagai lelaki. Sebagai pelindung. Sebagai hero. Semuanya berlaku untuk orang-orang yang mereka sayangi. Mereka tak segan memberi apapun jika wanita bisa memberikan apa yang mereka butuhkan, pelabuhan untuk segala kepenatan hari-hari yang dijalani. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Saturday, June 18, 2011


Wanita! Bagaimana saya bisa mendeskripsikan makhluk ini? Padahal saya sendiri wanita, tapi seujung kuku pun belum ada yang benar-benar mampu mengerti keadaannya, cara berpikir, cara mengeluarkan pendapat, diamnya, tangisnya, dan semua yang wanita rasakan selama hidup. Baik wanita dewasa, remaja maupun kanak-kanak. Semua tentang wanita bisa serba tak berujung sesuai dengan sudut pandang pembicaraan. Saya juga, kadang belum mengerti keinginan sendiri. Keinginan seorang wanita pada umumnya selalu berubah-ubah. Saya pernah sangat mengerti ibu saya ketika moodnya sedang seperti ini dan itu. Tapi di lain waktu semua mood yang sudah saya rekam dikepala bisa buyar seketika. Alih-alih saya harus merekam jejak mood yang baru lagi sebagai antisipasi jika dihadapkan dengan masalah A pasti saya bertindak sesuai yang dikehendaki si A. Dan begitu seterusnya. Lagi-lagi, wanita itu -dengan berat hati- terlalu kompleks untuk sesuatu hal yang dianggap ringan tapi kadang di berat-beratkan. Saya pernah membahas wanita secara khusus disini.

Wanita punya kehidupan sendiri. Siklus hormonal khusus, dan yang paling penting, wanita bisa cepat tanggap dengan segala bentuk emosi. Namun, jangan sesekali memberi jawaban dengan wajah datar, karena hal ini selalu dianggap wanita sebagai bentuk acuh dan tidak peduli, bahkan marah. Karena wanita rumit dengan segala yang ia miliki, anggap saja wanita itu seperti warna. Mari kita sebutkan satu persatu sesuai dengan makna warnanya. Kalau ditanya warna pasti terbayang pelangi. Baik, tak masalah. Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Perfect! Bahkan tidak ada dua huruf yang sama dalam satu ejaan. Artinya setiap warna punya definisi yang berbeda. Punya karakter. Punya sikap. Sama seperti wanita.

Seperti merah. Seseorang dengan penuh ketegasan, kuat, berani mengambil sikap, tidak takut juga percaya diri. Ada beberapa wanita dalam hidupnya menganggap masalah-masalah yang berat seperti "a peace of cake" dan cenderung easy going. Sangat mudah bergaul, selalu bahagia juga ceria. Bagaimana dengan warna hijau? Ya, warna hijau identik dengan daun. Selalu penuh kesejukan, memiliki kesehatan dan kesuburan yang baik. Warna laut dan langit selalu menunjukkan kedamaian, kesetiaan juga ketenangan. Warna apalagi jika bukan biru namanya. Saya cinta biru. Ah...cinta, pasti ingat dengan kasih sayang dan remaja. Mungkin inilah mengapa merah muda identik dengan nuansa cinta. Kita tidak boleh lupa ada warna tergelap yang kita sebut hitam. Saya rasa tidak perlu banyak kata untuk mendefinisikan hitam.

Terakhir, putih. Ketika menyebut putih, justru yang terlintas seperti bendera kita itu, Indonesia. Putih, suci, bersih dan, semoga seluruh rakyat Indonesia selalu bersih dari penyakit fisik dan batin. Apakah warna putih itu ada? Dari spektrum warna yang saya ketahui warna putih itu tidak ada. Justru dari warna putih semua warna bermula. Jika ditinjau ulang, putih itu filosofis sekali. Mungkin itulah mengapa manusia tidak ada yang benar-benar "putih". Ada satu warna yang paling sering disebut-sebut untuk mewakili kata J-A-N-D-A. Sebenarnya saya sendiri kurang sepaham ungu itu identik dengan janda. Padahal, warna ungu itu merefleksikan kebanyakan wanita pada umumnya.Ungu dimaknai dengan sifat terdalam seorang wanita. Saya sendiri sulit mengartikannya. Lalu, bagaimana dengan warna jingga dan nila? Saya tidak tahu persis apa makna di balik warna ini. Jika ada yang menanya jingga, tanpa banyak kata saya segera menunjuk langit sore. Nila? Ah...tidak beda jauh dengan ungu.

Masih banyak lagi warna-warna yang lain. Dasar dari sebuah warna itu Merah, Hijau dan Biru. Dalam ilmu pencitraan. Dasar dari 3 warna ini disingkat menjadi RGB (Red-Green-Blue). Kombinasi sebuah warna bisa diganti-ganti dari 0 hingga interval paling tinggi yaitu 255. Ah...sudah meluber kemana-mana ini.

Back to the Topic. Women. Tidak semua wanita -termasuk pria- memiliki satu refleksi warna saja. Kadang bisa berupa penggabungan beberapa warna menjadi satu. Dan, orang-orang seperti itu disebut unik. Bersyukurlah memiliki keunikan. Karena unik itu sesuatu pembeda dari kebanyakan yang dijumpai. Bisakah setiap representasi warna dapat berubah sewaktu-waktu? Tentu bisa. Apalagi jika dikaitkan dengan wanita dan emosi. Bayangkan sebuah peta yang memperlihatkan area-area untuk emosi dalam otak keduanya, wanita dan pria. Dalam otak pria, rute-rute penghubung antar area akan berupa jalan desa, alias berliku-liku. Dalam otak perempuan, rute-rute itu berupa jalan tol. Well, saya sendiri jika dihadapkan dengan realita sesungguhnya juga tidak terlalu mampu membaca peta. Saya sampai harus memiringkan kepala beberapa derajat untuk menganalisa deskripsi rute-rute dari peta. Pernah baca buku Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps nya Allan and Barbara Pease? Dibuku tersebut lebih lengkap dijelaskan kenapa wanita kurang mampu membaca peta.

Menurut para peneliti di University of Michigan, wanita menggunakan kedua sisi otak untuk menanggapi pengalaman-pengalaman emosi, sedangkan pria hanya menggunakan satu sisi. Penelitian juga memperlihatkan bahwa wanita biasanya mengingat semua peristiwa emosional seperti tanggal lahir, saat liburan, pertengkaran hebat, tanggal-tanggal penting dalam hidup, momen-momen berharga dan mampu menyimpan ingatan itu lebih lama dari pria.

Yup, seperti warna, seperti wanita. Saya tertarik menulis kehidupan dan emosional wanita lebih spesifik dalam dua warna, Merah dan Biru. Kenapa dua warna itu yang menjadi pilihan? Saya sendiri tidak tahu pasti. Somehow, saya percaya sesuatu yang kita pilih merupakan bagian dari cerminan diri. Inside out dan Outside in. Semua warna di dunia punya ciri khas sebagai pembeda. So women, act and thought as own yourself, as own on your way. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Thursday, June 16, 2011

Rasa kehilangan itu tidak mudah digantikan dengan apapun. Karena semua rasa tidak akan pernah setara dengan rasa yang dulu dan pernah ada. Mereka timbul tenggelam. Kadang tak pernah kembali. Sama seperti malam lalu. Pasti tidak akan sama dengan malam kemarin. Saya rindu. Pada malam lalu, yang dihabiskan untuk sendiri saja. Menepi dengan waktu. Meregang dengan segala emosi. Melewati pukul 12 tengah malam hanya untuk sendiri saja. Saya rindu. Pada sosok saya yang dulu. Pada malam-malam yang tak diganggu. Malam yang hanya saya lah pemegang kuasa. Meretas pada selubung rindu untuk menuliskan sekelebat di kepala.

Malam kemarin, malam lalu, banyak dunia yang hilang. Adiksi sudah tidak bisa lagi muncul. Dunia yang dulu digenggam seperti hilang. Hilang sama sekali. Saya rindu. Rindu sekali pada malam-malam sendiri. Saya dan buku. Saya dan kata. Saya dan imaji. Saya dan diri sendiri.

Saya dan "Saya" yang hilang ditelan malam hanya untuk bercakap hingga pagi. Saya dan "Saya" yang hilang mendengar alun musik sendiri. Saya dan "Saya" yang hilang berjalan pada log bisu. Saya dan "Saya" ketika menangis untuk bait-bait Tuhan yang syahdu. Saya dan "Saya" seperti dua tubuh tak padu. Saya dan "Saya" yang berada di tengah-tengah rutinitas dunia.

Saya ingin menepi. Untuk menemukan kembali siapa "Saya". Dan, berlaku konsisten juga adil pada diri "Saya". Hanya untuk saya.

More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, June 08, 2011


Pagi tadi, mama memaksa saya bangun dari tidur. Ada berita yang kurang menyenangkan. Bayi dalam janin adik sepupu saya meninggal. Bayi tersebut lahir prematur. Saya pikir bayi kecil itu sudah lebih dulu tiada sebelum dilahirkan. Bayi itu lahir melalui opreasi ceasar dan sesaat kemudian Ia dipanggil Tuhan. Saya tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebab janin berumur 7 bulanan tersebut lahir prematur. Apakah fisik si ibu kurang sehat atau sesuatu terjadi pada janinnya sebelum bayi lahir pada saatnya. Saya hanya mencoba memahami bahwa hal ini adalah rencana Tuhan.

Adik sepupu saya masih berumur 20 tahun. Beda satu tahun di atas saya. Ia menikah di awal menjejaki kuliahnya di Fakultas Kedokteran. Bahkan di usia yang cukup muda ia sudah berani mengambil keputusan untuk menikah. Saya masih ingat ketika kecil, kami pernah bermain bersama dan saya pernah menginap di rumahnya. Satu hal yang membuat ia berbeda karena ia lebih ceriwis dibanding abang, kakak dan adiknya. Saat ia remaja, ia sudah merantau ke pulau Jawa. Dan, lagi-lagi sebuah keputusan yang besar ia ambil dalam usia dini.

Mungkin, saya belum terlalu paham bagaimana kehilangan seorang anak yang lahir dari rahim sendiri. Karena saya belum menikah apalagi punya anak. Tapi, satu hal yang saya paham bahwa kehilangan seseorang yang paling dekat dan sangat berarti dalam hidup, sungguh bukan merupakan hal yang mudah. Saya pernah kehilangan adik kandung saya. Saat itu saya masih kelas 5 SD dan adik lelaki saya kelas 3 SD. Anehnya, kami sekeluarga tidak pernah tahu ia sakit apa. Ia hanya demam layaknya anak-anak dan ia lebih banyak mengingau dari pada terjaga. Ia tidak menunjukkan reaksi seperti layaknya orang yang mengidap penyakit. Beberapa hari kemudian, saat ayah dan mama membawa adik kerumah sakit beserta keluarga yang lain, belum sempat di diagnosis mengenai penyakitnya, adikku sudah lebih lebih dulu dipanggil Tuhan. Pada usia sedini itu, saya sudah harus mengerti tentang rasa kehilangan dan itu menyakitkan.

Ayah pernah berkata, setiap ruh seseorang sebelum ia hidup di dunia, akan dimintai perjanjian. Apakah itu langkah, jodoh, rezeki, juga ajal. Ketika ditanyai satu persatu oleh Allah tentang kesanggupan ruh tersebut menjaga dan menjalanakan amanah Allah di dunia, ada 3 jawaban yang akan diberikan. Ada ruh yang menjawab tidak sanggup sama sekali untuk menjaga dan menjalankan amanah Allah. Ruh dalam jasad seorang manusia akan bertahan ketika ia masih bayi. Kemudian ada ruh yang menjawab kadang sanggup kadang tidak. Maka, ruh dalam jasad seorang manusia akan bertahan kisaran umur remaja yang belum akil baligh. Dan, yang terakhir, ada ruh yang menjawab dengan kesanggupan penuh, maka ruh dalam jasad seorang manusia akan bertahan hingga ia dewasa kisaran umur 20-an ke atas. Wallahualam bishawab.

Hingga hari ini, adik sepupu saya masih di rumah sakit. Jiwanya masih terguncang. Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup sungguh tidak mudah. Dan, memerlukan waktu lama untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Apalagi yang dialami ibu untuk seorang anaknya. Saya yakin, seorang wanita akan mengerti bagaimana sakitnya melahirkan seorang anak ketika suatu saat nanti ia juga akan merasakan hal serupa. Bagaimana kasih seorang ibu tidak akan pernah layak dibalas walau kita punya emas segunung pun. Jadi, sangat benar jika surga memang terletak di bawah kaki ibu. Karena cinta dan sayang seorang ibu, kita ada dan kita hidup. Dan, seseorang tidak akan pernah tau bahwa seseorang begitu berharga dalam hidupnya sampai ia benar-benar kehilangan orang tersebut.

Luangkan sejenak waktu untuk mereka, orang-orang yang paling dekat dengan kita, keluarga. Kita bisa meraih segala kesuksesan bukan karena keringat kita, melainkan doa mereka, ayah dan bunda.

nb: Untuk adik sepupuku, Oni. Allah tidak diam. Bersabarlah, karena Allah sedang mempersiapkan hadiah yang lebih baik lagi. Dan, untuk adik kecilku, Akin. Apalah yang bisa kulakukan, karena Akin sudah bahagia di Syurganya Allah. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Monday, June 06, 2011

Jika saya punya seribu kaki untuk berjalan dari selatan ke utara, hal itu yang akan saya lakukan ketika pertama kali menginjak bumi. Jika saya menguasai miliyaran tahun kecepatan cahaya, hal itu juga yang akan saya lakukan pertama kali untuk kesana, ke berbagai tempat yang tak mampu dijangkau mata dan kaki. Ada banyak hal yang belum bisa dijamah maupun dilampaui. Itulah kenapa saya terlalu tinggi berandai-andai, tapi Tuhan tidak suka pengandaian kan? Dan, saya akan menampik pengandaian itu dengan segala warning untuk kembali membuka mata pada sesuatu yang harus disikapi dengan nyata tanpa perlu dibuat-buat. Tanpa perlu ada kerumitan.

Banyak sekali hal yang tertinggal kebelakang, juga ada banyak yang luput dari pantauan untuk terus maju kedepan. Jika hal tersebut seumpama barisan, maka satu persatu hilang digerus zaman. Orang-orang selalu menyimpulkan, ada bagian dalam hidup yang tak bisa dipisahkan, pun ada bagian dalam hidup yang tak boleh dikekang. Seperti seseorang yang meyakini jalannya, hanya ada dua pilihan dalam hidup, maju kedepan atau terus terperosok kebelakang. Semua hanya masalah pilihan dan waktu.

Pilihan saya jatuh pada, menunggu untuk kembali datang. Dengan usaha dan doa, tentu saja. Ternyata, dunia memang berputar. Pada poros tertentu, Tuhan menegur ketika sesuatu yang timpang terjadi. Tak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk mengingatkan seseorang. Hanya butuh waktu sepersekian detik, Tuhan bisa berkata kun. Maka jadilah!

Apa yang timpang? Sebuah sapaan. Umat Tuhan yang dulu berkata, Silaturrahmi. Sebuah kata yang halus untuk menyapa segelintir umat yang lain. Menjejakkan kaki untuk bertemu, menghubungi lewat pesan singkat atau sekedar sapaaan lewat dunia maya. Semua adalah serangkaian cara untuk tetap bisa bertahan dalam lingkup pertemanan.

Lucunya, ada bagian yang hilang dalam hidup saya sekarang. Apa yang dilihat jauh sekali berbeda pada kenyataannya. Sedikit usaha-usaha itu tak begitu berarti bagi sebagian orang. Entah bagaimana lagi menyapanya. Entah bagaimana lagi melunakkan hatinya yang beku. Saya bukan pencari alasan. Karena kadang alasan hanya dibuat untuk pembelaan.

Mungkin saja segelintir orang belum begitu paham mengapa komunikasi itu penting. *Mungkin, saya salah seorang diantaranya. Diantara mereka ada yang memilih untuk bungkam. Untuk menjaga bagian yang tidak perlu dibagi pada orang banyak. Maka sebagaian dari mereka hidup dengan diam. Itu pilihan. Sekali lagi, itu pilihan.

Dan, memang benar, memahami satu orang saja itu sulit. Sama seperti sulitnya memahami konsep dasar dibandingkan teknik pengerjaannya. Itu yang saya pelajari sekarang, mencoba memahami, mencoba menghargai keinginannya dan, menunggu saat yang tepat untuk bergerak agar tidak melawan arus.

Oh ya, ada award dari Sam di ajjazair sana. Karena sudah lama tidak ngeblog, saya baru sempat pajang award ini. Sam yang baru saya kenal juga bagian dari silaturrahmi yang harus saya pertahankan agar sebuah pertemanan tetap utuh meski jarak memang tidak bisa dikata dekat.


More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, May 25, 2011

Untuk kamu yang merasa tersisih dari lingkar pertemanan, asing sendiri saat yang lain tergelak riang, kamu yang berpikir telah dilupakan, dipinggirkan bahkan dalam nuansa candaan, baiknya berdialoglah dengan diri sekali kali;

Ada berapa panggilan yang kau abaikan? Berapa pesan dengan sengaja kau diamkan? Berapa sapaan yang kau jawab dengan keluhan? Sampai-sampai mereka mengira, mendatangimu hanya bikin kau beban.

Mereka tidak menepikanmu. Tapi kau bergerak terus ke tepi. Hingga tangan mereka tak kuasa lagi menepuk kau punya pundak.

Dunia yang kau bangun adalah asing. Tampak beda dengan dunia mereka. Dan, mereka tak menutup bagianmu dalam dunianya, kecuali kamu yang lupa menyediakan ruang untuk mereka dalam duniamu.

-Anonimous- More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Sunday, May 08, 2011

Sahabatku, dengan juntaian kata-kata ini kukirim sebuah senja untukmu. Agar kamu tahu, bahwa seberat apapun dunia meminta abdiku, aku masih ingat kamu, sederhanamu dan jiwa besarmu. Hari ini, aku melihat lagi pantai yang indah, walau tak sampai senja, walau tak ada jeda, walau bukan di tempat yang paling tinggi, aku hanya ingin berkata, aku ingat kamu, selalu dan selamanya.

Hari ini, semua sesak pada malam lalu hilang, karena hari ini aku banyak belajar tentang kejujuran. Mungkin setiap hari banyak sekali kebohongan yang di butakan oleh hati, mungkin juga karena terlalu banyak sampah yang membusuk di relung ini, mungkin itulah mengapa sinarmu selalu tertutupi. Padahal aku hanya butuh mengerti dan mencoba paham tentang yang kurasa atau setidaknya aku jujur dengan apa yang kurasa.

Langit cukup mendung, tapi sejenak kemudian semuanya tersapu awan yang bersih, jernih tanpa ada penghalang serupa belenggu. Ku pikir, perlu sedikit berjalan melintasi pasir-pasir disana. Aku menolak untuk duduk tenang. Bahkan aku tak punya alasan untuk berleha-leha sejenak. Mereka para pujangga selalu berkata, setiap sebuah perjalanan melahirkan cinta dan kedekatan padaNya. Tak ada salahnya aku coba. Jika saja aku punya mesin waktu, aku pasti akan menghadirkan senja secepat kidung awan kelabu membaluti putih awan disebelah selatan sana. Tak ada burung bangau yang kusuka melintas di kepala. Tak ada matahari. Sudah pasti tak ada rembulan karena senja masih gegas melomba waktu. Hanya ada aku sendiri berjalan di antara pasir-pasir dan tawa mereka. Juga ada sedikit ombak yang dicumbu angin.

Sahabatku yang manis, sering aku berkata, aku sangat menyukai tempat-tempat tertinggi. Bahkan sudah terhitung dua kali kita kesana, ke rumah di atas bukit. Aku dan kamu sama-sama melihat senja dengan mata tak berkedip. Sungguh indah. Dan, kita masih saja tak mau beranjak dari dudukan komidi putar itu. Ah..sebenarnya aku yang enggan melangkahkan kaki. Rasanya aku ingin selamanya berada disana dan tak ingin kembali ke kota Banda yang penuh sesak. Kamu selalu saja memutarkan kemudinya lagi dan lagi. Aku seperti anak ingusan yang sering kita lihat menaiki ayunan. Aku tak peduli, sahabatku sayang. Aku hanya ingin kemudi itu kita berdua saja yang punya. Biar mereka tau, terkadang kita semua butuh untuk tidak menjadi dewasa sesekali. Ego-ego yang kita bawa seringkali meruntuhkan segala kebebasan. Dan, aku benar-benar bisa melepaskan segala ego hanya di depanmu saja.

Katanya kamu ingin menangkap angin untukku. Aku selalu tertawa. Mana mungkin bisa, sahabatku yang lucu. Angin tak punya kemudi seolah komidi putar yang kita naiki. Biarkan saja, biarkan ia terbang sekehendak hatinya. Karena angin tidak terkungkung. Walau aku suka suara angin dan gemericik air, tapi aku tak ingin mereka menjadi milikku, karena tanpa mereka dunia akan mati. Cukup aku menghabiskan waktu berdua saja denganmu ketika senja. Ya, berdua saja. Kau dan aku. Sewaktu bangau-bangau pulang ke utara, kau berjanji akan menemaniku melihat kota Banda dari puncak sana. Kau berjanji ingin memperlihatkan kota kita seperti lilin-lilin yang tunduk pada sendu. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, betapa kota kita tak ada artinya. Segala kesombongan telah dipagar oleh sunyinya malam. Dan, kau ingin memberinya untukku lagi? Sudahlah sahabatku yang baik, aku hanya ingin senja saja. Tak lebih.

Aku masih disini sahabatku. Masih di pantai yang kucerita tadi. Masih dengan kidung awan yang menggelegar. Masih tanpa matahari. Masih belum muncul juga sinar rembulan yang tidak menusuk mata. Masih mengingat kamu yang sibuk menghadapi orang banyak. Harusnya hari ini pantai ramai. Ah..mungkin mereka takut tubuh-tubuh mereka terkena hujan dan jatuh sakit. Aku bahkan tidak peduli dengan tubuh lemahku yang tak kebal dingin. Biarkan saja. Karena ketika aku sudah tak lagi disini, tubuhku juga tidak akan bergerak selamanya. Mungkin aku perlu berjalan lebih jauh, agar suara-suara mereka tak menghalangi niatku untuk bermain pasir hari ini.

Sahabatku yang manis, sahabatku yang lucu dan menggemaskan, aku berjalan tanpa beralas tapak. Membenamkan sejenak kakiku kedalam pasir yang baru saja disapu ombak kecil. Ada beberapa terumbu yang terbawa air pasang. Juga ada bambu-bambu basah yang entah dari mana muasalnya. Aku ingin membuat sebuah istana dari pasir. Apalah arti kekokohannya. Karena sebentar lagi juga akan dimakan angin dan digerus air. Jika ada kamu disini, kamu pasti akan tertawa dan mengatakan aku seperti anak kecil. Lalu kamu akan membantu untuk membuatkan istana itu. Dan, kamu suka sekali mencandai ku sembari berkata, ini istana untuk sang putri, semoga putri hidup bahagia bersama pangeran. Sahabatku sayang, kau memang tau cara yang paling tepat untuk mengokohkan pikiranku yang kacau. Itulah mengapa aku tak peduli akan kekokohan istana pasir, karena aku tau kau selalu bersamaku untuk kembali menguatkan ketika aku lemah, ketika aku menangis, ketika aku butuh tau kenapa kau ada untukku.

Duhai, masihkah sibuk engakau disana? Masihkah aku boleh menghubungimu untuk sekedar menanya kabarmu hari ini? Sudahkah engkau makan siang tadi? Aku takut mengganggumu. Aku bahkan terlalu takut kehilanganmu. Sahabatku yang tak jengah mendengarkan, aku masih di sini. Duduk beralas pasir bersama istana pasirku. Aku ingin kamu disini. Jangan lupa selesai kamu memberi abdi pada dunia, kita akan bersama lagi. Walau sebentar saja, tapi tak apa. Aku bahagia.

Coba kamu lihat sahabatku sayang, awan sudah jernih. Tak ada lagi belenggu. Matahari juga sudah muncul. Hari ini sungguh istimewa. Meski aku tak bisa melihat senja dari sini, tapi nanti suatu hari ketika kita menginggalkan segala ego-ego yang menguap di kepala, kita akan melihat senja dari bukit tertinggi di kota kita. Ya kita, kau dan aku saja. Bersama arakan kapas putih di atas kepala, kukirim senja untukmu dari sudut hati yang paling rindu untuk bertemu denganmu lagi.

Banda Aceh, May 8th 2011. 00.10 am

More...

Links to this post