Author: Ummul Khairi
•Thursday, June 16, 2011

Rasa kehilangan itu tidak mudah digantikan dengan apapun. Karena semua rasa tidak akan pernah setara dengan rasa yang dulu dan pernah ada. Mereka timbul tenggelam. Kadang tak pernah kembali. Sama seperti malam lalu. Pasti tidak akan sama dengan malam kemarin. Saya rindu. Pada malam lalu, yang dihabiskan untuk sendiri saja. Menepi dengan waktu. Meregang dengan segala emosi. Melewati pukul 12 tengah malam hanya untuk sendiri saja. Saya rindu. Pada sosok saya yang dulu. Pada malam-malam yang tak diganggu. Malam yang hanya saya lah pemegang kuasa. Meretas pada selubung rindu untuk menuliskan sekelebat di kepala.

Malam kemarin, malam lalu, banyak dunia yang hilang. Adiksi sudah tidak bisa lagi muncul. Dunia yang dulu digenggam seperti hilang. Hilang sama sekali. Saya rindu. Rindu sekali pada malam-malam sendiri. Saya dan buku. Saya dan kata. Saya dan imaji. Saya dan diri sendiri.

Saya dan "Saya" yang hilang ditelan malam hanya untuk bercakap hingga pagi. Saya dan "Saya" yang hilang mendengar alun musik sendiri. Saya dan "Saya" yang hilang berjalan pada log bisu. Saya dan "Saya" ketika menangis untuk bait-bait Tuhan yang syahdu. Saya dan "Saya" seperti dua tubuh tak padu. Saya dan "Saya" yang berada di tengah-tengah rutinitas dunia.

Saya ingin menepi. Untuk menemukan kembali siapa "Saya". Dan, berlaku konsisten juga adil pada diri "Saya". Hanya untuk saya.

This entry was posted on Thursday, June 16, 2011 and is filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

14 comments:

On June 16, 2011 at 3:39 PM , Qefy said...

Subhanallah, saya benar-benar takjub dengan saya. Semalam saya menjadi pusat perhatian, hehe. Nyambung ga? Salam Bloofers :)

 
On June 16, 2011 at 4:02 PM , Edi Kurniawan said...

catatan yang bagus. mantap dan salut dengan genrenya. keep writing. ^_^

 
On June 16, 2011 at 5:55 PM , auraman said...

siip dah buat dirimu mbak ummi, semoga bisa menepi pada suatu konsistensi ^_^

 
On June 16, 2011 at 6:05 PM , armae said...

jadi teringat satu buku, yang menuliskan tentang dualisme "aku" dan aku, tapi dengan konsep yang berbeda.

 
On June 16, 2011 at 8:57 PM , Diah Wardani Chaidesar said...

"saya" yang bingung akan jati diri seakan hilang tiba-tiba dari saya yang bahkan membuat "saya" kembali tersesat di saya :(

 
On June 17, 2011 at 9:11 AM , Nick Salsabiila said...

nice...terkadang kita kehilangan ka-aku-an diri...bahkan terkadang lebur dan bukan sekedar berbaur...^^

 
On June 17, 2011 at 4:22 PM , Sam said...

Menepi mencari 'saya' nya jangan ke jurang tepi laut terus loncat yaaa....susah nemunyaaa entar....hehehe...^^

 
On June 19, 2011 at 12:30 AM , Ummul Khairi said...

@Qefy: salam ya mas buat si "saya", hehe

 
On June 19, 2011 at 12:32 AM , Ummul Khairi said...

@edi: terima kasih mas edi :)

 
On June 19, 2011 at 12:36 AM , Ummul Khairi said...

@aulia: haduh, panggil ayi saja bang aulia =_="

 
On June 19, 2011 at 12:39 AM , Ummul Khairi said...

@armae: hmm..bahkan dalam kehidupan nyata pun juga seperti itu. Satu tubuh, dua kepribadian.

 
On June 19, 2011 at 12:42 AM , Ummul Khairi said...

@diah: iya dek, kakak juga tersesat baca komen dia,hehe..peache ^_^v

 
On June 19, 2011 at 12:47 AM , Ummul Khairi said...

@nick: eh nick, saya kok jadi teringat jargon "say no for khalwat but yes for ikhtilat" ya? :D

 
On June 19, 2011 at 12:50 AM , Ummul Khairi said...

@sam: ya ampun sam, saya gak se-nekat itu kok :D