Author: Ummul Khairi
•Saturday, August 25, 2012

Punya buku Ust.Yusuf Mansur juga bagian dari book wish list saya. Keinginan itu saya tulis pada tanggal 17 Mei 2012 dan baru terealisasi 21 Juli 2012. Awalnya tidak terpikir memiliki salah satu buku beliau. Saya terkesan karena rekomendasi dari kajian jumat-an yang saya ikuti. Buku-buku Ust.Yusuf Mansur sangat banyak dan semuanya seri refleksi. Akhirnya saya memilih an Introduction to: The Miracle of Giving. Jika ada 6 bintang, maka saya akan memberi 10 bintang untuk buku ini. Setiap lembarannya sarat akan ilmu. Sederhana tapi sangat bermanfaat. Buku setebal 180-an ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca siapa saja dan oleh kalangan mana saja. Buku ini sangat sangat WAJIB dimiliki!

Ibadah; Jalan Rezeki Utama, Bekerja Dengan Allah, Bekerja Untuk Allah
1. Memperluas Jalan Usaha, Memperbesar Hasil Usaha
Semula banyak orang berpikir bahwa hasil usaha adalah seukuran kerja, seukuran usaha, seukuran proyek, seukuran dagangan atau seukuran modalnya. Begitulah selama ini pikiran kita bekerja. Tidak pernah terpikirkan atau jarang terpikirkan bahwa hasil usaha bisa DIPERBESAR lewat jalan ibadah, dan jalan usaha bisa DIPERLUAS lewat jalan ibadah.

Ya, banyak diantara kita yang tidak berani berpikir bahwa jalan ibadah bisa menambah dan memperluas rezeki. Mungkin hanya sebatas yakin saja tapi jika jalan ibadah bisa menjadi sebuah metode, menjadi sebuah solusi yang "dikertaskan", tidak sedikit yang kurang berani.

2. Ikhlas, doa dan harapan memberi spirit dalam beribadah
Ada yang mengatakan, tidak boleh ibadah karena dunia-Nya, harus karena wajah-Nya semata. Ibadah itu harus ikhlas. Tidak boleh mengharap apa-apa. Padahal, orang-orang yang mencari dunia milik Allah lewat jalan ibadah pun tidak mesti juga serta merta dikatakan tidak ikhlas. Bagaimana kalau mereka secara cerdas, "memisahkan" antara keikhlasan dan doa? "memisahkan" antara keikhlasan dengan harapan? Artinya ketika mereka menjalankan, mereka tahu dengan ilmunya, bahwa dengan beribadah, dunia akan Allah dekatkan, tapi pada saat yang sama, mereka beribadah sepenuh hati kepada Allah. Bahwa ia menempuh jalan ibadah, sebab karena Allah dan Rasul-Nya memberi petunjuk demikian.

"Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan" (QS. Ath-Thalaq: 7)

Salahkan kita? Apakah kita disebut tidak ikhlas hanya karena beribadah karena berharap akan kebenaran janji-Nya? Salahkah kita bila percaya pada "omongan"-Nya? Sama "iming-iming"-Nya? Salahkan juga kalau kita kemudian bersedekah karena ingin diberikan kemudahan atau karena kita ingin segala kesulitan dihapuskan-Nya? Sedang inilah Firman-Nya. Tega betul jika disebut tidak ikhlas.

Matematika Dasar Sedekah
1. Kehebatan sedekah
Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa, dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah juga kasih sayang serta bantuan Allah. Tapi kepada siapa Allah berikan semua ini? Kepada siapa yang mau bersedekah, kepada yang mau membantu orang lain, dan kepada yang mau peduli serta berbagi.

"Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya" (HR. Muslim)

2.Matematika Dasar Sedekah
Apa yang kita lihat dari matematika dibawah ini?
10-1=19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan dari mana?
Kok ketika dikurangi hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10-1=9?
Ini kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah diatas adalah matematika sederhana yang diambil dari Surat Al-An'am ayat 160 ketika Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

Tentang matematika sedekah ini lebih lengkap bisa dilihat disini. Lho katanya kita harus mengeluarkan hak orang lain 2,5 %? Sedekah kita yang 2,5 % itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita di dunia ini maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat selalu dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah, ba'diyah, hajat, dhuha, tahajud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal dan banyak maksiatnya. Maka jadilah kita orang-orang yang merugi.

an Introduction to The Miracle of Giving
1. Karena ilmu dan keyakinan
Ada seseorang yang butuh kejadian sesuatu, yang kemudian mengantarkannya kepada Allah. Ada juga yang cukup dengan ilmu dan keyakinan yang mendorongnya beribadah, tunduk dan patuh kepada Allah. Dua-duanya istimewa. Yang salah adalah yang tidak bergeming, tidak beribadah; baik dengan ilmunya, maupun pengalamannya. Jadi jika punya hajat, punya keinginan perbanyak ibadahnya seperti shalat dhuha, tahajud, sedekah, doa dan dibarengi ikhtiar. InsyAllah pertolongan Allah pasti datang lewat jalan mana saja dan siapa saja.

2. Karena kejadian dan pengalaman
Ada yang melakukan ibadah karena ilmu dan keyakinan, dan ada yang melakukannya karena pengalaman. Seperti kisah seorang bapak yang kehilangan seorang anak. Anaknya bisa dikatakan sensor motorik dan sensor otaknya kurang sempurna yang membuatnya berbeda dari anak lain. Ayah si anak sangat sedih, bingung, gundah dan khawatir dan ia mengadukan semuanya pada Allah lewat munajatnya di tengah malam. Alhamdulillah karena hal ini si Ayah jadi rajin tahajudnya. Ada yang mengatakan, ya begitu lagi punya masalah rajin banget sujudnya, begitu sudah lepas, lepas juga ibadahnya. Sedangkan bagi saya, barangkali seperti itulah cara Allah mengajarkan dan mengingatkan hamba-Nya. Kita harus yakin, bahwa meminta dengan jalan ibadah, itulah cara terbaik, sesuai petunjuk-Nya. Apabila kita lupa ibadah, atau sekedar meyurutkannya, maka siklus kesusahan akan berulang juga kejadiannya. Nah, capek kan? Masa untuk bisa mengingat Allah harus terus-menerus lewat pintu kesusahan? Akan lebih baik lagi bila kita mau berkenan ibadah karena syukurnya kita kepada Allah. Tentang anaknya si Ayah tersebut, melalui doa-doanya, akhirnya si anak ketemu dan Subahanallah dengan kuasa-Nya, bertambah baik motoriknya, fisiknya dan bolehlah bila ia disebut sebagai anak normal.

3. Ibadah karena kebiasaan
 Ada yang bukan karena ilmu, atau karena sebuah peristiwa ia beribadah. Tapi karena kebiasaan. Ada seorang nenek yang dari kecil diajarkan orang tuanya untuk selalu tahajud. Kalau biasanya kita sering nanya "Ada enggak obat yang bikin kita enak tidur, bisa tidur nyenyak?" Nah kalau si nenek sebaliknya, "Ada enggak obat yang bikin susah tidur?" Si nenek suka sebel, menurutnya lebih baik tidak tidur dari pada tidak tahajud. Subahanallah. Kebiasaan bisa dibiasakan. Asal punya kemauan, punya niat, dan sungguh-sungguh memulai kebiasaan yang mau dibiasakan. Kebiasaan akan menjadi karakter. Maka hati-hatilah dengan kebiasaan buruk.

4. Bukan karena meminta, tapi karena syukur
Ada yang melakukan ibadah sebab syukurnya dia sama Allah, Tuhannya. Seperti cerita seorang ibu yang rajin bangun malam karena anaknya lulus SMU dan masuk perguruan tinggi yang diidam-idamkan anaknya, di jurusan yang juga diinginkan anaknya. Dia bangun malam karena bersyukur. Lain lagi dengan kisah seorang istri yang rajin dhuhanya, sebab dia sadar dhuha ini yang mengantarkan suaminya jadi bekerja di perusahaan yang bagus, dengan karir dan punya peluang yang bagus. Dia dhuha lantaran syukurnya.

5. Tidak selalu dibayar dengan uang
Sedekah bisa mengantarkan seseorang agar hajatnya dipenuhi oleh Allah, seperti keinginan naik haji, dapat jodoh, menyelamatkan perusahaan, naik karier, mendapat kekayaan, bayar utang, punya anak, persoalan penyakit, modal usaha, persoalan keluarga, bisnis, dagang, pendidikan, persoalan suami-istri, anak-cucu-mantu, anak autis, punya rumah, mobil, memberangkat orang tua ke haji, dll. Sedekah uang tidak selalu dibalas dengan uang. Sebagaimana sedekah, yang tidak harus melulu berbentuk uang. Kenapa kenyataannya tidak selalu demikian? Memang seperti itulah, tapi kadang bukan berbentuk uang tunai, melainkan yang senilai dengan uang tunai tersebut. Sebut saja: penyakit atau kehadiran kesehatan bagi badan kita, umur, bala, kesempatan hidup yang lebih baik, anak yang sehat atau kehadiran anak itu sendiri, sehatnya keluarga, selamatnya diri dan keluarga, karier yang lebih baik, status sosial yang lebih baik, dll. InsyAllah, Allah akan betul-betul membayar tunai segala kebaikan kita. Sebab itulah memang janji-Nya. Baik sangka kepada Allah adalah sebagian dari iman.

Sedekah yang dilengkapi dengan amalan lain, maka kemuliaan dan keberkahan si pelakunya akan melesat tinggi dengan cepat. Apabila sedekah kita kurang, amalan yang lainnya juga kurang, apalagi ditambah dengan sederet dosa dan keburukan yang kita lakukan, akan semakin jauhlah kita dari kebercukupan. Sebaliknya, bila kita melengkapi amaliyah keseharian kita dengan banyak hiasan kebaikan yang terdiri dari amalan-amalan sunnah, maka InsyAllah hidup kita akan tercukupi. Misal kita punya hajat besar terus sedekah seadanya aja. Allah memang mencukupkan kebutuhannya tapi masih terasa kurang. Itu terjadi karena sedekahnya memang "tidak sebanding" dengan hajatnya. Istilahnya sedekahnya belum nyampe ukuran seharusnya.

6. Rahasia dibalik kisah; jadi metode, jalan cepat, jalan mudah
 Peraturan rumus/metode:
  • Siapa yang memberi 1 akan dibalas 10, atau bila Allah berkehendak maka Allah akan membalas hingga 700 kali lipat atau tak terhingga.
  • Balasannya dari Allah bisa jadi yang senilai atau setara, tidak harus selalu uang.
  • Kalau Allah bayar tunda perbuatan baik seseorang, maka bayaran atau balasannya itu akan semakin besar. Ini berlaku untuk perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
  • Manusia bisa lupa, tapi Allah Yang Maha Mencatat tidak akan pernah lupa perbuatan seseorang. Besar kecilnya tetap akan Allah balas, tetap Allah akan hargai. Tentang kapan balasan, tergantung kehendak Allah.
  • Berbuat baik terhadap anak yatim dan tak mampu, balasannya lebih istimewa ketimbang berbuat baik kepada anak yang orang tuanya lengkap dan mampu.
Ada sebuah kisah nyata tentang seorang penjual singkong dan seorang anak kecil yang tidak punya uang dan sangat ingin singkong. Hari pertama si anak hanya berdiri di gerobak penjual singkong. Hari ke-2 si penjual masih tidak bergeming memberi si anak walau hanya buntut singkong. Lalu pada hari ke-3 si penjual luluh dan ia dengan ikhlas memberi buntut singkong pada si anak tersebut. Hari esoknya si anak tidak kelihatan lagi. Si penjual singkong pun menjalani hari-harinya seperti biasanya. Sempat bingung juga kenapa anak itu tidak muncul-muncul lagi. Dua puluh empat tahun kemudian, si anak kembali menjumpai penjual singkong itu. Namun, ia tidak mengenal anak yang sudah tumbuh dewasa. Hingga si anak membuat muka memelas dan meminta buntut singkong, sama persis seperti si anak meminta singkong pertama kali. Barulah si penjual  mengenal anak tersebut, si anak buntut singkong. Si anak menceritakan kisahnya, pada saat itu ia baru saja ditinggal Ayahnya yang sudah meninggal dan tidak punya uang untuk membeli singkong hingga dijauhi teman-temannya karena tidak punya jajan. Setelah diberi singkong, pada esoknya ia pindah ikut ibunya. Si anak tersebut ingin membalas kebaikan si bapak dengan memberangkatkannya umrah. Subahanallah. Inilah buah dari ikhlas. Buah dari sedekah.

Kadang kita manusia, karena kurangnya ilmu, ketika jalan sudah dibukakan Allah, malah Allah lebih sering ditinggal. Atau kalaupun tidak ditinggal, maka terhadap Allah kita sering juga mengurangi jatah perhatian dan waktu untuk-Nya. Meniti jalan-jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, itulah jalan-jalan ikhtiar yang terbaik. Apalagi kalau kemudian bisa lurus dan istiqamah. Dunia akan dibukakan Allah buat mereka yang mengabdi kepada Allah. Sebab dunia adalah milik-Nya. Dan Dia akan menguasakan lagi kepada siapa yang Dia kehendaki. Wallahualam.

This entry was posted on Saturday, August 25, 2012 and is filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 comments:

On September 19, 2012 at 9:49 PM , ibnuflp said...

Menarik. Ibnu juga suka tausyiah Ustd Yusuf :)

 
On October 22, 2012 at 12:40 PM , Ummul Khairi said...

*give me five :)

 
On February 6, 2014 at 8:15 AM , mei li said...

Thanks nice post