Author: Ummul Khairi
•Monday, February 28, 2011



Pagi tadi, niat awal setelah belajar pemograman, berdiskusi sebentar dengan teman, kemudian menayangkan tulisan tentang apa yang terjadi semalam. Pagi tadi tak seindah selaksa angkasa raya menghujam. Karena ternyata hati tengah berjelaga dalam. Seperti ditusuk sembilu dari berupa-rupa dunia pualam. Tapi, sudahlah. Dunia toh belum tenggelam.

Pagi tadi, seorang teman meminta dompet saku dengan berujar,
"Eci mau ambil uang"
Apalah. Aku diam saja. Karena ia setengah tak wajar. Aku terlalu fokus dengan coding visual. Dan tahukah? ia menyelipkan selembar gambar hati. Merah pekat walau ukuran tak cukup untuk dikata akbar. Dari origami sisa hasil lipatan megar. Katanya,
"Bukan untuk semua orang".
Agaknya ia malu untuk memalingkan wajah demi mencerna dua pasang mata meminta jawaban atas tindakannya yang sedikit tidak biasa.

Pagi tadi, kepalaku langsung memutar pada almanak tanggal. Tepat hari ini, 2 tahun lalu, rumah ini kubangun bukan tanpa pasal. Ia jadi juga bukan karena asal. Ia jadi karena kesederhanaan sebuah semangat.
"Dirumah ini kau bisa bahagia juga kesal, namun jangan hanya berbual. Berilah walau hanya sedikit. Karena menulis itu membangun peradaban dan untuk keabadian".

Pagi tadi, aku sadar telah melewati banyak hal sederhana. Padahal Tuhan tidak menghitung derma dari banyaknya kucuran dana. Karena Tuhan menghitung kesyukuran dari mata dan telinga. Lepas dari itu, Tuhan menghibahkan kata melalui bahasa yang bisa terus berubah siiring masa. Maka, untukmu rumah yang kujaga, selamat ulang tahun ke-2. Jika serupa manusia, kau terbilang balita. Selamat sentosa. Semoga melalui kalam dan terus berkejar dengan masa, aku bisa belajar dengan menuliskan karya sederhana.

More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Thursday, February 24, 2011

Rasional adalah sebuah kenyataan yang selalu (bisa) masuk kedalam kepala, sedemikian sehingga jika pola penyusunan kata menyerap acakan penalaran makna, tetap saja bisa diterima dengan akal sehat. Rasional seperti logika matematika, jika kenyataan tidak berkata benar maka keyataannya adalah salah, sebaliknya, jika kenyataan berkata salah maka kenyataannya adalah benar. Rasional seperti biner, 0 atau 1. Lelaki berpikir dengan akal. Pikirannya rasional, maka lelaki berpikir secara rasional. More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, February 16, 2011



What a blassed balancing all of Allah's created! Saya belajar untuk lebih menghargai apa yang selalu dilihat dengan mata, telinga dan merasakan dengan hati. Seperti alam yang tercipta di Tangan Al-Khaliq. Perfect absolutely! Sewaktu sekolah menengah atas dulu, dan memang dari 4 tahun lalu hingga hari ini, saya tidak merasa salah memilih untuk mencintai Ilmu Science. Bagi beberapa personal, mungkin ilmu ini terlalu abstrak untuk di ekstraksi lebih dalam, namun bagi saya alam itu sesuatu yang hidup dan saya hidup di dalam muaranya. Hingga kini, saya kembali memilih science untuk mendapat sari pati hidup. It seems too simple for saying nature as a part of the simpleness of life. But, yes, it is. Ok, let’s thinking a bit deeper.

Semenjak belajar di bangku perkuliahan hingga sekarang, science lebih spesifik pada beberapa hal, seperti salah satunya matematika. Math? is it related on counting numbers? Hm, kebanyakan orang berpikir seperti itu. Sebenarnya tidak selamanya. Bahkan hingga saat ini saya hanya belajar menganalisa suatu "masalah" dan membuat sebuah range dalam interval tertentu yang dapat diinputkan dalam batasan tertentu. Input tersebut harus berlaku umum dan kecacatan sebuah "masalah" harus seminim mungkin agar tidak terjadi penolakan/ error yang berlebihan. Bagaimana jika terjadi error yang berlebihan? Maka range dalam sebuah interval tersebut bisa rusak dan mengganggu sistem yang lainnya. Sama halnya seperti benda-benda langit (bintang) yang memiliki orbitnya sendiri, jika salah satu bintang keluar dari garis orbit atau menubruk bintang yang lain maka akan merusak seluruh tatanan sistem tata surya.

Kalau berbicara masalah keseimbangan alam, maka tidak ada satupun yang timpang di dunia ini. Semua hal terjadi karena sebab-akibat. Tidak ada suatu yang kebetulan. Dan, semuanya memiliki proses timbal balik. Percaya tidak, bahwa sebenarnya alam memiliki denyut dari dunia. Ia mengerti dan merasakan segala bentuk pertanyaan-jawaban manusia. Apapun itu. Tentang keinginan, luapan emosi, marah, tangis, haru, bahagia dan segalanya tentang suara hati. Semua suara hati makhluk yang bernyawa selalu direspon alam sesuai dengan apa yang telah dikerjakan manusia itu sendiri. Ada sebab, maka ada akibat. Coba deh baca buku The Secret. Tapi saya lebih merekomendasikan buku Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu. Dan, kelanjutan bukunya, Law of Attraction juga Zona Ikhlas dengan penulis yang sama. Di buku tersebut banyak sekali dijelaskan tentang konsep alam secara science dan islam.

Saya masih punya satu buku yang sangat bagus karangan Dr.Masaru Emoto. Siapa lagi kalau bukan si penulis The True Power of Water. Secara garis besar di dalam buku tersebut menjelaskan tentang air, kenapa air dan bagaimana air merespon tiap kata, tindakan bahkan suara. Semuanya saling terhubung dengan bagian tubuh manusia yang setidaknya terdapat 75-80% air di dalamnya. Air bersifat netral dan mampu merespon apapun. Namun bagian menarik bagi saya, salah satu pengantar di buku tersebut adalah kata-kata bijak Aa’ Gym. Ia mengatakan, ”Kita adalah air, karena itu kita juga bisa merespon perilaku yang diberikan kepada kita. Air-air di dunia ini yang menurun kualitasnya juga karena akibat perilaku manusia yang melampaui batas. Bahkan menurut Dr. Masaru Emoto dalam bukunya yang lain The Secret Life of Water, bencana tsunami di Aceh bisa jadi karena akumulasi ketegangan dan ketakutan akibat perang RI-GAM sehingga air benar-benar membaca kecemasan seluruh masyarakat Aceh. Wallahualam bisshawab”.

Saya percaya, air dan alam menyatu untuk membentuk sebuah keseimbangan dan keseimbangan disini dari pergolakan kecemasan seluruh rakyat Aceh yang berlangsung selama bertahun-tahun akibat konflik (sebab) dan alam merespon seluruh kecemasan serta emosi tersebut (akibat). Mungkin di pasaran kawan juga menemukan buku yang mengejawantah seluruh hasil penelitian Emoto. Buku itu berjudul The Untrue Power of Water. Saya belum punya buku ini, jadi saya tidak bisa mengemukakan apapun. Setahu saya buku ini membantah kebenaran yang diungkap Emoto. Penulis mengungkapkan bahwa Emoto tidak mengambil seluruh sampel air untuk diteliti, sehingga membuat ketimpangan dari segi keakuratan data. Entahlah. Tapi bagi saya yang memiliki keyakinan akan islam, saya melihat air sangat dihargai islam sebagai media untuk mensucikan sesuatu. Coba lihat, kenapa di dalam buku fiqih pada awal mula dibahas tentang Thaharah (bersuci), kenapa sebelum shalat harus berwudhu dengan air, atau kenapa media ruqyah ala Rasul selalu menggunakan air dan bahkan dunia ini tercipta salah satunya karena Allah memberi air untuk segala yang hidup. Ayo, coba buka Firman Allah di Surat Al-Anbiya:30.

Sama halnya ketika kita memberi, pasti kita akan menerima atau mendapatkan sesuai yang diberikan. Jadi ketika bersadaqah, sungguh tidak akan membuat pemberian berkurang, bahkan malah bertambah. Berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, pastilah harus memberi dan mengasupi yang terbaik dulu. Eh, saya pernah berpikir seperti ini, bisa saja jumlah orang-orang mulia sama dengan jumlah dengan orang-orang yang belum mulia. Jadi masing-masing kebagian satu orang untuk mengajak orang-orang untuk lebih hidup mulia. Atau, sebenarnya potensi seseorang sebenarnya sama dengan orang lain. Misal, saya bisa Bahasa Inggris dan Matematika tapi belum mampu memainkan alat musik dan terkadang masih egois. Teman saya jago Filsafat, welcome terhadap semua orang dan pintar dalam orasi. Jadi jika dihitung-hitung, saya, teman saya dan seluruh potensi semua orang di dunia ini sama alias seimbang. Setiap orang masing-maing mendapatkan 100% potensi diri. Jumlah bayi-bayi yang lahir didunia sama dengan jumlah kematian itu sendiri. Kalau dulu Jepang menjajah Indonesia, nah sekarang sudah berdamai bahkan membuat banyak kesepakatan MoU negara. Seseorang mencintai seseorang akan mendapatkan balik kasih sayang, baik dari seseorang yang diharapkan atau dari orang-orang di sekitarnya.

Dan, masih banyak sekali keseimbangan-keseimbangan alam yang lain. Muslim dan muslimat menyebutnya sunatullah. Tapi, apakah semuanya se-seimbang yang dibayangkan? Jawabannya adalah YA. Terkadang kita tidak pernah menyadari sesuatu yang dilakukan akan balik seperti yang telah diberikan. Atau, terkadang apa yang kita lakukan tidak selamanya mendapatkan seperti harapan pada waktu dan tempat yang sama. Kadang kita harus mencari bahkan bersabar. Saya yakin akan janji Allah yang tidak akan pernah melesat. Semua kadar yang diberikanNya adalah sesuatu yang terbaik sesuai kecakapan manusia itu sendiri. Kawan, yakinlah untuk selalu berbuat yang terbaik untuk hidup, maka hidup juga akan memberikan yang terbaik walau kelihatannya pahit. Dan, hadiah dariNya pasti lebih indah dari yang pernah kita bayangkan.


Nb: Laptop saya tengah berulah. Beberapa aplikasi sudah berjalan sangat lambat bahkan untuk mengaktifkan modem sekalipun. Agaknya saya harus menambah asupan RAM. Mungkin ini sebab-akibat yang harus saya terima dulu, karena terlalu mem-force-kan si kotak persegi lipat terlalu lama dalam kapasitas yang cukup besar. Mungkin juga ini yang harus saya terima sebab kelalaian terus berlama-lama di depan laptop yang mengakibatkan kurangnya saya mengasah kemampuan untuk melihat lebih banyak rumus-rumus dalam buku catatan dan mau tak mau harus menabung untuk membeli RAM baru. Dan, mengapa pantai? Karena ingin sekali mendengar derunya menghempas dinding padu pada batu. Maaf jika tidak sering mampir untuk melihat keadaan rumah dan terima kasih telah berkunjung.
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Wednesday, February 09, 2011


Ada dua hal yang dijanjikan kebahagiaan dari Allah, ketika berbuka puasa dan ketika melihat wajahNya

Dear, February...Aku bahagia! Bukan karena mereka menukar kasih sayang dengan angka 14, bukan karena aku bisa mendapatkan kejelasan akan beberapa hal yang lama mengabur, bukan karena saat ayah berbicara pada malam itu dari hati ke hati, bukan pula karena tuah* tak hingga itu, bukan semuanya! Dan, apakah pohon pisang berubah menguning karena ku? Apakah pinsil bertukar pasangan rautan setelah berebutan kertas? Apakah juga membuat madu menjadi kecut? Ah..tidak, tidak ada yang berubah. Alam seimbang, dan tidak pernah menyalahkan manusia untuk menjadikan kun** Tuhan menjadi nyata. Senja juga masih hadir selalu sepulangnya dari siang. Angka-angka tetap bergerak searah jarum jam. Nilai phi juga tidak berubah dari 3,14 sekian-sekian.

Ada yang lebih dari itu. Setiap hari, setiap jengkal, setiap 180 derajat bumi berputar saban waktu, setiap berjalan, setiap masuk rumah, setiap melihat celupan kuas Tuhan di langit, setiap...setiap...

Duhai Yang Maha Agung, cukup Engkau menyaksi dan Ridha atas cukupku. Cukup Engkau tersenyum atas segala urusan dan kepayahan. Cukup segala asal Ridha di tangan. Cukup ketika aku bahagia, mereka pun demikian. Cukup saat keluarga menyerahkan segala label kepercayaan. Cukup ketika adik-adik menggelayut manja dalam pelukan. Cukup ketika anak-anak di sudut kota memanggil namaku. Cukup ketika bisa mengambil syukur dari melihat jingganya sore. Cukup ketika urai rindunya aku balas. Cukup ketika...Cukup ketika...

Alhamdulillah for being my God, Allah Nuurun 'ala Nuurin***


*Tuah(Aceh): kecupan sayang atau bisa berarti doa yang bermanfaat
**Kun: potongan ayat Al-Quran, Surat Yaasin:82 yang berarti "Jadilah!"
***Nuurun 'ala Nuurin: potongan ayat Al-Quran, Surat An-Nuur:35 yang berarti "Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)"

img:here
More...

Links to this post
Author: Ummul Khairi
•Tuesday, February 01, 2011


Ada banyak sekali bagian yang saya belum pahami tentang komunikasi dua arah. I'm talking about men and women. Kenapa dua arah? Karena terlalu banyak komunikasi yang sulit dipahami lelaki terhadap wanita dan komunikasi yang sulit dipahami wanita terhadap lelaki. Mungkin hal ini lebih banyak melibatkan sudut pandang dan cara menyampaikan sesuatu. Sebenarnya masih banyak sekali. Saya belum mampu merunutnya satu-satu. Coba lihat sekarang, banyak sekali buku-buku, lagu-lagu dan film-film yang membahas tentang perbedaan komunikasi, cara mengerti dan daya tangkap antara lelaki dan wanita. Hey, saya tidak membanding-bandingkan antara lelaki dan wanita itu punya perbedaan yang signifikan. Tapi justru dalam hal ini, perbedaan itu lebih tepatnya disebut keunikan. Itulah kenapa Tuhan menciptakan lelaki dan wanita untuk saling mengisi satu sama lain. Bukan untuk mencari persamaan-persaman, tapi menyatukan perbedaan pikiran dan hal lainnya untuk bisa saling mengisi satu sama lainnya. Jadi jika ada istilah, saya tidak mengerti lelaki atau saya tidak mengerti wanita, wajar saja.

Tau buku non-fiksinya Men are From Mars, Women Are From Venus karangan John Gray kan? Dulu sekali, saya sempat ingin beli, berhubung kantong tipis, saya urungkan niat. Di buku itu menceritakan Mars yang jatuh cinta pada Venus ketika melihatnya untuk pertama kali. Mereka melalui hari-hari dengan indah sampai suatu ketika ada banyak sekali kesalahpahaman dan perbedaan sepanjang hari-hari yang mereka lalui. Ada juga buku karangan Dr. Marianne J. Legato, yang berjudul Why Men Never Remember and Women Never Forget. Dalam buku ini jelas sekali dibahas tentang perbedaan tersebut. Seperti yang diceritakan Legato bahwa lelaki dan wanita berpikir secara berbeda, memahami permasalahan secara berbeda, menekankan pentingnya segala sesuatu secara berbeda, dan mengalami dunia di sekelilingnya lewat saringan yang sangat berbeda. Men Don't Listen & Women Can't Read Maps karangan Allan & Barbara Pease juga menyebutkan lebih ilmiah, seperti wanita punya jangkauan sudut pandangan yang lebih besar dari pada lelaki. Bila diukur dari hidung, bisa mencapai 45° ke arah kiri-kanan-atas-bawah, bahkan ada yang mencapai 180°. Dalam struktur otak wanita, kemampuan untuk berbicara terutama ada dibagian depan otak kiri dan sebagian kecil di otak sebelah kanan.

Sementara untuk lelaki, kemampuan berbicara dan bahasa itu bukan kemampuan otak yang kritis. Mereka memfungsikan otak kiri dan tidak ada area yang spesifik. Jadi jangan heran jika wanita senang berbicara dan banyak pula yang ingin dibicarakan, karena kedua belah otaknya mampu bekerja sekaligus. Mungkin inilah yang disebut wanita itu bisa multitasking atau bisa mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. Contoh lainnya seperti wanita bisa memasak sambil menelpon. Atau, bisa membaca sambil chatingan *saya banget ini*. Nah bagaimana dengan lelaki? Otak lelaki itu terkotak-kotak dan mampu memilah-milah informasi yang masuk. Lelaki bisa menyimpan semua di otaknya. Sementara otak wanita tidak bekerja seperti itu. Informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam otaknya. Dan ini tidak akan berhenti hingga ia bisa mencurahkan isi otaknya alias curhat. Itulah kenapa wanita lebih banyak butuh untuk di dengarkan dari pada mencari sebuah solusi. Ada beberapa film yang mengangkat tema-tema serupa seperti What Women Want terus lagu-lagu yang bertemakan hal serupa. Ada satu band Indo yang menyanyikan tema tentang wanita, tapi saya lupa nama band serta judul lagunya. Bahkan ada yang lebih satir disini.

Saya jadi teringat iklan teh sariwangi. Sang Istri selalu menanyakan ke suami hal yang sebenarnya hanya istrinya lah yang paling tau jawabannya. Dari iklan tersebut saya bisa menyimpulkan komukasi dua arah itu pasti sering terjadi, tapi lagi-lagi, semua masalah yang timbul juga diselesaikan dengan komunikasi pula, jadi jika teh sebagai jalan tengah, bagi saya teh hanya media. Media relaksasi agar keduanya bisa saling berkomunikasi dalam kondisi stabil atau saat santai. Banyak sekali teman-teman kampus saya yang berjenis kelamin lelaki. Beberapa diantara mereka sering intens berkomunikasi dan saya harus katakan kedekatan itu bukan jalan tengah sebuah kelancaran atau saling mengerti-nyambungnya satu sama lain dalam komunikasi. Dalam hal ini keduanya- lelaki maupun perempuan- harus memiliki saling keterkaitan/ kecocokan. Saya coba kutip sedikit karya pujangga Kahlil Gibran,

Cinta tidak pernah hadir dari keakraban yang lama atau pendekatan yang tekun, tetapi cinta hadir karena kecocokan jiwa, tanpa itu cinta tak akan pernah hadir dalam bilangan tahun bahkan milenia


Lelaki dan wanita, seyogyanya tidak akan pernah habis kata untuk dibahas, begitu juga dengan cinta. Well, semua penjelasan diatas hanya hitung-hitungan berdasarkan kajian riset. Sekalipun ilmiah, tetap ada yang tidak tercakup. Kajian tersebut membutuhkun lebih banyak spesifikasi seperti, budaya, gen, kebiasaan dan masih banyak lagi. Tapi secara garis besar memang seperti inilah adanya. Jika ada bagian yang tidak dijelaskan atau berbeda 180 derajat dari yang dipaparkan, artinya beberapa dari kita adalah unik.
More...

Links to this post