Author: Ummul Khairi
•Wednesday, January 09, 2013

Salam..
Tempo hari saya berjalan di sebuah jalan yang cukup lebar. Tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat, meski cukup bising. Mata saya tertuju pada sebuah rumah sederhana. Tamannya begitu luas, hingga saya bisa melihat matahari tenggelam kesukaan saya. Disana, semua rumput segar yang berwarna hijau tidak mengganggu jalan setapak menuju taman yang diberi nama 'Rumah Tinggal Selamanya'.

Pikiran saya kembali terbentang pada 3 tahun silam. Ketika saya memutuskan untuk tinggal disini lebih lama. Ternyata waktu begitu cepat berganti hingga 3 tahun itu punya banyak sekali kenangan yang sangat sulit dilupakan. Disini, saya begitu banyak mendapatkan cinta dan rasa. Banyak yang menemani. Banyak yang mengisi. Banyak yang datang. Begitu banyak pula yang pergi. Termasuk saya. Saya memutuskan untuk tidak tinggal disini lebih lama. Apakah terlihat begitu gegabah? mungkin iya jika hanya 'dilihat' tapi rasa tidak seperti yang 'dilihat', karena rasa menggunakan hati untuk 'melihat'.

Saya akan pulang kerumah baru. Untuk selamanya. Sebuah tempat hidup penuh kebahagiaan bersama orang-orang yang saya cintai, selamanya :)


 With Love,     

-Ummul Khairi-
More...

Author: Ummul Khairi
•Sunday, December 30, 2012


Aku tahu, ketika hujan turun ke permukaan bumi, ia akan meminta seluruh janjiku kepada Tuhan. Tentang segala yang harus kuluruskan setelah semua tercerai berkeping-keping dan menunggu untuk menjadi renik. Hujan datang lagi. Ia memohon kepada hati untuk mengambil jalannya, segera atau tidak mengambil tempo lama. Hujan datang lagi. Kukatakan padanya bahwa butuh waktu lama untuk melihat seluruhnya, bukan hanya melihat dari satu sisi tapi juga sekat terkecil. Lalu Hujan datang lagi. Terkadang ia membawa mimpi yang sebenarnya mimpi. Semu. Mimpi yang sama dan akan berulang menyakitkan. Hujan kembali datang. Kukatakan padanya lagi bahwa aku telah bertanya pada Tuhan sepenuh sungguh, benarkah semua jalan ini yang harus kuambil? 

Aku kuyup. Bahkan hujan tak tahu buliran hangat jatuh di pelupuk mata, karena titik-titik hujan menutupi buliran yang terhempas di pipiku yang telah kupendam menahun lamanya dengan egonya. Hujan tak tahu aku menangis sendiri karena ia datang dan pergi sekena hati. Hujan tak tahu aku menangis karena ia tak peduli siapa yang akan kuyup karenanya. Karena aku tahu, ia akan datang sebentar saja lalu pergi. Karena hujan tak pernah menggantikan kehangatan atas dinginnya sebuah ego. Tak akan pernah.

Namun disana, di suatu jarak yang sangat dekat, akan selalu ada rumah yang tak pernah pergi dan selalu ada, meski aku kuyup akan hujan. Rumah yang selalu menjagaku dari derasnya hujan. Rumah tempatku pulang. Rumah yang penuh kehangatan, cinta, kasih sayang dan kepastian. Dan disanalah aku akan tinggal, selamanya..

Nb: Agar ketika hujan datang lagi, semua telah luruh, semua telah selesai dan terbebas dari semua beban. Kadang, kita harus meninggalkan sesuatu, harus mengorbankan sesuatu atau hal yang menjadi ataupun bukan tujuan awal kita, demi kebahagiaan, demi kebaikan.

-Dalam derasnya hujan diluar sana-
More...

22
Author: Ummul Khairi
•Saturday, November 17, 2012

Ketika kita ingin semua berakhir dalam gerakan yang lambat.
Ketika kita ingin duduk sejenak menyantap manisan dalam waktu yang semakin cepat.
karena aku tak bisa menunggu lama, setelah kamis siang nanti. More...

Author: Ummul Khairi
•Friday, August 24, 2012

Seseorang bernama baik pernah berkata, jika kamu memeluknya, mengecup keningnya, pernahkah ia tau bahwa kau melakukannya karena cinta? Aku berkata, tidak pernah. Karena ia akan mengerti. Karena waktu akan mengubah perlakuanku menjadi bahasa yang akan ia mengerti dengan sendirinya. Lalu kau berkata, kau salah. Cinta adalah sikap dan bahasa. Jika mereka dipisahkan, bak menceraikan awan dan angin. Mereka saling melengkapi. Saling berpegangan untuk menurunkan hujan ke bumi dan menaburkan cinta bagi anak manusia, tumbuhan maupun ternak. Cinta tidak bekerja sendiri. Cinta adalah kesatuan tertinggi yang harus diperjuangkan. Itulah mengapa Tuhan punya Ar-Rahim, sebuah cinta yang dibahasakan. More...

Author: Ummul Khairi
•Thursday, August 23, 2012

Lamaaa sekali tidak menulis di rumah ini. Saking lamanya 'aaa'-nya menjadi triple. Sebuah analogi betapa rumah ini jarang saya kunjungi. Hanya sesekali mampir untuk mengobati rindu. Bukan. Bukan karena saya sedang "mempoles" rumah baru atau menggandakan properti disana. Bukan itu. Tapi karena saya punya banyak kekurangan, salah satunya sulit mengatur waktu antara blogging dan skripsi. Jujur. Jika sudah menulis disini, ada segudang kerinduan yang ingin saya tulis, ada ide-ide yang ingin disuarakan, ada kritikan tajam yang ingin saya asah, juga sampah-sampah di kepala yang hampir menjadi sarang laba-laba. Jika dibandingkan waktu antara mengerjakan skripsi, blogging juga blogwalking maka skala perbandingannya 1:2. Sangat tidak efisien menghabiskan waktu kesenangan dibandingkan melakukan tugas yang kapasitasnya lebih urgent, seperti skripsi misalnya. Oleh karena itu, saya memilih untuk tidak berlama-lama menulis juga blogwalking. Bukan tidak ada waktu. Tapi waktu yang ada ingin dipergunakan dengan lebih bijaksana. Toh, nantinya jika selesai skripsi, saya bisa menulis sepuasnya. Dari pagi hingga petang, dari petang hingga pagi lagi. Alasan lainnya, saya takut kebablasan curhat yang tidak penting :p *lha ini curhat kan?

Ujung-ujungnya, sebagai pengobat kerinduan akan blogging, saya merealisasikan impian 10 Agustus lalu, untuk membuat blog khusus foto-foto. Saya tidak berbakat di bidang fotografi. Hanya saja-meminjam istilah teman- ingin melihat dunia dari sisi yang berbeda. Serunya punya blog khusus foto itu, salah satunya tidak perlu banyak berkata-kata. Karena satu gambar saja sudah menceritakan banyak hal. Hanya sesekali saya mengkaitkan beberapa situasi yang menurut kaca mata saya sepeti ini dan itu dengan perlakuan itu dan ini.

Pernah tidak, saya mengatakan kalau saya ini orang yang terstruktur? Mudahnya seperti ini. Jika ada formasi atau target yang telah disusun tapi tidak berjalan semestinya, saya gampang terpuruk. Seringkali hal ini mendominasi jika semangat saya meletup. Segala usaha sudah maksimal tapi eh ujung-ujungnya gagal. Ini juga salah satu kekurangan saya. Saya gampang sekali kecewa. Tapi sisi baiknya adalah, saya tidak mau berlarut-larut. Tidak baik untuk pikiran maupun hati. Oleh karena keterstrukturan tersebut saya lebih sering membuat agenda harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Biasanya agenda atau target-target itu sudah tersusun dalam buku harian ataupun mading pribadi di kamar. Untuk apa? Agar saya selalu bisa mengingat kembali jika kemudian lupa. Beberapa target harian kadang saya Kicaukan di laman pribadi. Percaya atau tidak, karena sering dilihat dan dibaca, semuanya bisa terealisasi, dengan usaha tentunya. Dengan izin Allah pula, jika ingin sesuatu dan diucap, dibaca, dilihat secara berulang-ulang, secara tidak sadar semuanya terekam ke alam bawah sadar, dan InsyAllah pasti dikabulkan. Jadi kawans, keinginan saya yang paling besar tahun ini adalah lulus sarjana di bulan November 2012. Doa ini pula yang selalu saya pinta pada Allah di bulan Ramadhan lalu. InsyAllah, dengan usaha, doa dan tawakal, Allah merealisasikan doa-doa saya dan doa-doa kawan semua.

Jadi, tidak apa-apa ya, kalau rumah ini hanya saya kunjungi sesekali. Hanya untuk memastikan bahwa semua save and secure. Pintu, jendela, kran air, kompor gas tidak menyala, lampu selalu dimatikan juga gembok  pagar selalu terkunci. Tapi, saya (sungguh) tidak bisa menahan diri jika punya referensi buku yang sangat bagus untuk ditulis ulang disini. Bagi saya tulisan berupa referensi buku-buku yang dibaca adalah sedekah. Jika ada kawans yang belum mampu beli buku tersebut lalu tanpa sengaja mampir dirumah ini, tidak ada salahnya saya menjamu dengan tulisan-tulisan yang berbobot. Walau saya bukan si pengarang buku, setidaknya rumah ini menjadi perpanjangan lisan dari intisari buku tersebut. Yaa, inilah sedikit amal jariyah yang bisa saya bagi.

Mulai kedepannya, mungkin skala menulis saya menjadi berkurang. Tapi InsyAllah, walau sedikit bermanfaat. Doakan doa-doa saya dikabulkan ya dan InsyAllah akan digandakan juga pahalanya untuk kawan-kawan.
Tetap semangat untuk berbuat kebaikan dan selalu hadirkan Allah dalam setiap gerakan :) More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, July 17, 2012

It's about honesty...Sometimes a little discomfort in the beginning, can save a whole lot of pain down the road.

*All these year, we never really talked. More...

Author: Ummul Khairi
•Sunday, July 08, 2012

Yesterday, love was such an easy game to play...
More...

Author: Ummul Khairi
•Sunday, June 10, 2012

Dulu sekali, sejak saya berkenalan dengannya, ada sesuatu yang dapat saya lihat. Entah karena sebuah bentuk kekaguman atau terpikat. Bagaimanapun cara ia berkisah, cara ia menyampaikan, caranya berjalan, memeluk, caranya memanjakan, membuat ia begitu istimewa. Dalam sebuah Rumah Tuhan ia pernah bercerita. Tentang apa yang ia kejar. Tentang yang sebenarnya dicari. Untuk siapa dan kemana muaranya kelak.

Seorang Wanita yang terpaut usia cukup jauh jaraknya dengan saya. Mungkin orang lain boleh berpendapat bahwa usia bukan faktor utama seseorang disebut dewasa. Bagi saya, usia linier dengan pengalaman. Pengalaman yang menjadi batu-batu loncatan. Sejauh apa ia mempelajari hidupnya, sendiri atau bersama dengan orang lain, sebanyak apa ia bertemu dengan karakter orang berbeda dan bagaimana ia ‘menyentuh’ hati-hati mereka. Dan ia, berhasil menembus hati saya. Hanya ketika ia menatap, saya mampu menangis berlipat-lipat.

Kawan, tahukah kalian bahwa kadang, apa yang menurut kita tak cukup pantas untuk dipertahankan, yang menurut kita keluar dari ‘jalur’ untuk segera diperbaiki, lebih banyak diperankan oleh ego. Dan jika ego lebih banyak dimainkan, maka bersiaplah untuk kecewa.

Siapapun kita, saya, bahkan wanita itu pernah ingin mengubah ‘jalur’ itu dengan dominasi egonya. Merasa ia pantas mengubahnya dengan bekal puing-puing pengalaman hidup. Waktu demi waktu, ‘jalur’ yang ingin ia ubah itu tidak membuahkan hasil. Cenderung stagnan. Bahkan jejaknya pun tak tampak. Ia tidak menyerah. Wanita bermata empat itu melihat lagi kedalam hatinya dengan menambal semua kekurangan. Sampai tiba dimana ia butuh sendiri. Pada posisi vertikal. Ia dan Tuhan. Melihat sekeliling hanya akan menambah beban. Dan kemudian, ia hanya berdua saja. Kembali dengan egonya.

Sebenarnya, apa yang ia kejar? Apa yang ia cari dengan harus mengubah ‘jalur’ itu? Untuk mendapat pujian bahwa ia hebat? Untuk membuktikan bahwa ia bisa menghadapi siapa saja? Pertanyaan dasarnya adalah, kenapa harus manusia yang mengubahnya kalau sebenarnya ada Tangan Tuhan yang lebih menggenggam? Bukankah kita-manusia hanya perantara saja?

Ini aneh. Ketika ia berusaha meregangkan sedikit saja genggamannya atas ‘jalur’ itu, perlahan apa yang diinginkan ia dapatkan. Ia tak berusaha barang sejengkalpun untuk mengubah keadaan lagi. Ia tunduk pada Tangan Tak Tampak. Dengan sendirinya kebaikan yang diharapkan muncul. Lalu, adakah hal lain yang ia kejar jika manis madu itu telah diteguk? Adakah hal yang lebih baik selain Tangan yang telah mengusap lembut tiap sela hatinya?

Kenapa ya? Pada saat hati terlalu memaksa kehendak, justru ia menjauh. Namun, pada saat hati berani melepaskan, menyerahkan seutuhnya pada Tangan Tak Tampak, justru keadaan berubah terbalik. Ia mendekat. Mungkin saat menggenggam terlalu erat, ia berpaling untuk mencari kelapangan. Mungkin juga mencari sesuatu yang dibutuhkan. Karena sering kali kebutuhan tidak berbanding lurus dengan keinginan. Dan, kadang keinginan hati belum tentu lebih baik dari kebutuhan itu sendiri. Dunia kadang memang aneh. Pada akhirnya kebaikan itu akan terus mencari hakikatnya.

More...

Author: Ummul Khairi
•Friday, January 13, 2012

Katakan satu hal yang membuatku tersenyum hari ini. Tercekat pada bayang-bayang. Kepada malam rindu ini selalu mengadu. Dingin. Dan sunyi. Tak ada jawaban yang membuatku berpaling untuk menetap. Tak ada gerakan yang menghentikan langkah berjalan. Datar. Seperti angin. Datang dan pergi. Tetap tak bisa digenggam.


More...

Author: Ummul Khairi
•Friday, January 06, 2012



Dulu saya ingin sekali menjadi arsitek. Karena merangkum kembali sebuah objek dalam kanvas adalah salah satu cara mengabadikannya. Waktu bisa saja berputar, tapi menuangkan kembali dalam replika merupakan cara tangan menggantikan kelemahan kepala akan lupa. Beberapa tahun lalu tidak akan sama dengan sekarang. Kadang, bukan manusia yang membuatnya tidak sama, tapi takdir yang menuntun kita agar berjalan pada sisi yang telah ditulis Tuhan, sekalipun kita menolak kehendakNya. Sekarang, bukan saya yang tidak berusaha untuk menjadi seperti keinginan dulu, tapi sudah kehendak Tuhan yang membuat saya bergelut pada analisa angka setiap harinya. Kadang, ketika mengabadikan keadaan dengan menjalaninya sebagai rutinitas, kita harus menyadari, apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kebutuhan, juga kebaikan.

Pada satu masa dalam hidup. Ada bagian dimana kita harus melupakan. Melupakan apa yang pernah kita impikan. Mungkin pada awalnya banyak gerutuan tak setuju. Menjalani hari-hari dengan setengah hati. Walau nantinya, kita tau kebutuhan itu pasti diselingi dengan kebaikan yang dijanji Tuhan. Tidak singkat memang. Tapi nanti, suatu masa, kita pasti mengerti.

Sama seperti anak kecil merengek minta dibelikan mainan boneka. Keadaan yang menuntun ia minta dibelikan mainan dengan melihat teman-temannya bermain boneka. Selang sehari selanjutnya, teman-teman bermain kelereng, maka hati menuntun si anak untuk kembali merengek minta dibelikan kelereng. Mereka, anak-anak, selalu lupa dengan hari yang lalu. Mereka hanya senang pada sesaat. Saat apa yang mereka lihat, saat itulah yang paling berharga. Selebihnya tinggal kenangan. Mereka pun bahagia. Pada saatnya, mereka akan melupakan sesuatu yang pantas menjadi kenangan. Dan, kenangan tidak selamanya menyakitkan.

Lucunya, manusia dewasa tidak seperti anak-anak. Apa yang pernah singgah di hidup mereka tidak selamanya bisa dilepas sepenuhnya. Tidak bisa dilupakan sepenuhnya. Memang kenangan tidak selamanya menyakitkan, pun tidak selamanya menyenangkan. Saat yang tidak menyenangkan itu menggerus persendian hidup dan berbentur dengan hati, manusia manapun di dunia tidak akan melupakan begitu saja. Melupakan sama seperti membohongi hati. Melupakan sama seperti melepas tapi masih bisa melihat kembali. Melupakan sama seperti dosa yang dilakukan kesekian kali karena pernah melakukan untuk pertama kali. Melupakan sama seperti menertawai kesedihan sendiri. Melupakan apapun yang tidak menyenangkan sulit sekali, karena sekecil apapun luka yang tergores pasti meninggalkan jejak.

Lalu, melupakan itu ternyata anugerah dari Tuhan, bukan? Sepatutnya disyukuri, bukan? Usaha sekecil apapun untuk melupakan sesuatu yang pernah melukai hati, tetap akan dinilai Tuhan. Inilah yang abadi. Inilah yang akan ditulis Tuhan di kanvas. Replika setiap kejadian dalam hidup. Apa yang tidak bisa ditawar kepala akan lupa untuk terus diingat oleh sebuah kenangan. More...

Author: Ummul Khairi
•Friday, December 02, 2011

Saya merasa aneh akhir-akhir ini. Hati mulai tidak tetap pada beberapa pilihan lalu. Seperti memutuskan dan diputuskan. Seperti ada yang hilang. Semua tersekat rapi hanya dalam tempurung kepala sendiri. Beberapa kali melihat orang-orang yang berhasil dengan caranya, seperti ada motivasi sendiri untuk bergerak. Semalaman suntuk berkutat pada hal-hal yang harus saya dapatkan. Namun beberapa menit kemudian semua hilang. Saya beralih dari 'kewajiban' itu. Lalu, keesokan harinya saya berdiskusi dengan orang lain, mendapat jawaban yang berbeda dengan target yang sama, saya kembali terkecoh untuk santai sejenak dari rutinitas dengan target terdekat. Sama halnya ketika saya membaca beberapa artikel di dunia maya, pikiran ini benar-benar tidak pada tempatnya. Kemudian berada di depan layar komputer untuk-seharusnya-bekerja demi 'kewajiban' itu tapi setelah beberapa saat saya sadar bahwa kehilangan konsentrasi membuat saya kehilangan fokus pada kewajiban-kewajiban menumpuk itu.

Seperti ada pribadi ganda yang mengkomandoi untuk lari dari semua dan merelaksasikan kepala, tapi di saat yang sama ada perintah untuk terus berkutat pada rutinitas. Saya bahkan benci jika harus mengibakan diri dengan mengatakan, "Jalani saja". Kenapa setiap manusia selalu punya alasan untuk berdalih pada hal-hal yang selalu merusak konsentrasinya? Kenapa manusia selalu harus punya tenaga ekstra untuk mengalah pada hal-hal yang merusak segala targetnya? Padahal nanti menyesal pula. More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, November 08, 2011

Orang-orang di sekitar kita pasti bertanya kapan dan mengapa.

"Kapan kamu masuk sekolah?", "Kapan kamu kuliah?", "Kapan kamu selesai skripsinya?", "Kapan kamu nikah?", "Kapan kamu kerja?", "Kapan kamu punya anak?", kapan si kakak punya adik? atau
"Kok lama banget sih ngerjain skripsinya? main aja ya kerjanya?"

semua pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Huff...

Sah-sah saja sih. Mungkin pengalaman belum mengajarkan mereka bahwa kadang ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Seperti perihal di atas itu. Ah, jujur saja, saya mulai terganggu. Mungkin itu salah satu sebabnya saya membuat sekat-sekat yang tidak perlu di lalui semua orang dalam hidup saya. Cukup saya saja yang tau dan biarkan waktu yang memulihkan segalanya. Bukan bermaksud untuk menghindar, tapi hanya perlu privacy agar perbandingan jarak yang boleh di lalui orang-orang mampu saya kontrol dengan baik. Semoga tidak menjadi ke-ambiguan.

Saat ini, tepatnya semester akhir ini, di saat yang sama saya mengambil mata kuliah, tugas akhir, mengajar 2 kelas mahasiswa dan membimbing adik-adik kelas untuk memperlanjar bacaan iqranya, adalah waktu yang paling urgent untuk saya lalui dengan agenda yang bermanfaat. Sering kali jika saya mengerjakan tugas kuliah dari dosen, saya berpikir hal tersebut juga sia-sia. Atau ketika saya mempersiapkan bahan ajar untuk MEC (Mathematics English Club), saya juga seperti menganggap sebagai wasting time. Alasannya hanya satu, saya selalu membandingkan dengan capaian tugas akhir yang masih berjalan lebih lambat dari pada semua agenda yang lain. Benarlah memang, tugas akhir itu seperti weker yang siap-siap berdering, sedang kegiatan lainnya adalah saat-saat jeda waktu antara weker yang berdering itu. Sebenarnya bukan saya ingin melambatkan atau tidak melakukan apapun untuk setidaknya seminar proposal. Saya hanya belum menemukan benang merah sesuai keinginan. Saya belum menemukan titik ledak dalam pengerjaannya. Sedang untuk masalah data-data yang tersedia masih sangat umum sekali. Tidak ada yang spesifik untuk dapat dijadikan batasan masalah. Saya lebih suka benang merah tersebut bisa menjadi bahan analisa. Dengan membuat A maka saya bisa menemukan B. Dan lagi, untuk sebuah tantangan saya tidak ingin diburu waktu. Sungguh. Adopsi dan penjiplakan kata-kata bahkan analisa deskriptif semata jelas bukan saya.

Sedih sekali rasanya. Saya belum menemukan teman diskusi yang sesuai. Pembimbing utama pun seperti tidak mau ambil pusing soal ini. Mottonya seolah-olah seperti "Yang penting beres". Oh Tuhan, saya paling tidak bisa menyelesaikan suatu perkara hanya bermodalkan kemudahan tanpa jerih payah. Saya lebih suka diberi tugas berat dengan hasil maksimal dan bermanfaat daripada tugas ringan yang tidak perlu ambil pusing dan langsung lulus sebagai sarjana!

Kata seorang teman, setelah saya mengemukakan apa keinginan saya terhadap skripsi ini, saya terlalu banyak mengeluh. Asthgfirullah...jangan-jangan memang benar. Hanya karena ketidakfokusan menjadikan faktor-faktor yang mudah terlihat rumit. Dan, katanya lagi, saya belum tau apa yang sebenarnya saya mau. Jadi makin sedih setelah percakapan dalam log maya itu.

Saya takut sekali semua yang ingin dicapai tidak sesuai dengan target. Lebih-lebih jika orang-orang yang paling dekat dengan saya menanyakan hal serupa. Kadang saya tidak bisa membedakan yang mana menyudutkan, yang mana motivasi. Seolah keduanya terlihat seperti dua sisi. Saya senang ada yang memperhatikan, sekaligus takut tidak bisa seperti yang dulu pernah ditargetkan. Ah, terlihat sekali sejauh apa kegalauan saya saat ini, bukan?

Saya hanya butuh ide segar. Hanya hal itu. Saya juga butuh teman diskusi yang baik, bisa mensupport dan tidak menjatuhkan, serta bacaan-bacaan aktual yang mampu mencerahkan. Ada satu quote yang saya suka dari Mary Kay Ash,

"For every failure, there's an alternative course of action. You just have to find it. When you come to a roadblock, take a detour"
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, November 01, 2011

Benarlah bahwa kita bergerak bukan karena orang lain. Kita bergerak horizontal melalui bagian vertikal yang melekat dekat, kepala. Kita berjalan terhadap waktu karena ideologi. Seseorang tidak bisa di ukur ideologinya berdasarkan lingkungan juga teman. Semua prinsip terbentuk dari apa yang di persaksikan mata ketika meminta jawaban hati. Semua butuh waktu untuk mendefinisikan apa yang harus kita teguhkan. Sampai disini, aku sangat mengerti kenapa siapapun bisa berubah dalam waktu yang relatif singkat. Semua hanya permainan pikiran. Karena pikiran adalah tanduk. Bagian yang harus di hormati sekaligus menjadi bumerang. Sampai saat ini semakin yakin, bahwa aku tak ingin tetap lama disini. Karena rumah yang sesungguhnya harus kudapati. Saat ini, aku hanya ingin sendiri... More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, August 17, 2011

Jika Tuhan menciptakan dunia ini bundar, maka manusia yang berjanji membawa dunia berada di genggamannya akan mencari himpunan titik-titik yang membentuk utuh sebuah lingkaran dalam hidupnya. Meski pada rentetan jarak terbentang bidang berupa-rupa, manusia tidak boleh menyerah. Manusia hanya boleh mencari untuk sebuah alasan, bukan mencari demi sebuah jawaban. Hingga sampailah ia pada titik pusat yang ia cari. Aku, kehilangan hampir sebagian besar titik yang kucari. Meski telah berputar satu putaran penuh. karena belenggu... More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, July 30, 2011


Datar. Tidak ada gelombang. Tidak berundak. Tidak menggebu. Datar saja. Dua puluh menit lalu masih banyak suara, gerak, bualan, caci maki, air pekat hitam dalam cawan-cawan di pinggir jalan, maka semua yang diam disebut datar. Dua puluh detik dari sekarang bersiap pergi. Meninggalkan tenggat waktu. Membungkus dengan sekepal tangan. Memberi jatah pada janji lalu. Untuk Setia pada jarak. Untuk Tidak ingkar pada garis Tuhan. Kemudian satu persatu tubuh-tubuh berjalan. Tanpa disuruh dengan ketiba-tibaan. Semua mengalir. Tanpa percepatan. Meski tetap datar. Meski diam saja…

More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, July 16, 2011

Dalam kepala kita sudah banyak benang kusut. Hanya tinggal menunggu waktu seperempat detik lagi agar kepala kita mengeluarkan tangan-tangan. Kemudian kaki-kaki akan berjalan tanpa kepala. Satu raga. Satu jiwa. Satu tubuh utuh yang terpisah. Kepala kita sudah menelan mentah-mentah keabsurdan. Logika persamaan benar salah sudah tidak padu. Pikiran kita jelas tidak buntu. Tidak sama sekali. Pikiran kita sudah banyak menebak-nebak. Mungkin karena terlalu banyak ego. Mungkin juga karena jarak. Namun lagi-lagi kita juga yang tidak membunuh waktu. Dan, segalanya kembali pada siapa yang lebih dulu mengalah. Nanti. Satu bulan lagi. Semoga kepala tetap berada di atas. Kaki berada di bawah. Semoga, nanti, tetap pada satu tubuh, satu raga, satu jiwa padu. More...

Author: Ummul Khairi
•Thursday, June 16, 2011

Rasa kehilangan itu tidak mudah digantikan dengan apapun. Karena semua rasa tidak akan pernah setara dengan rasa yang dulu dan pernah ada. Mereka timbul tenggelam. Kadang tak pernah kembali. Sama seperti malam lalu. Pasti tidak akan sama dengan malam kemarin. Saya rindu. Pada malam lalu, yang dihabiskan untuk sendiri saja. Menepi dengan waktu. Meregang dengan segala emosi. Melewati pukul 12 tengah malam hanya untuk sendiri saja. Saya rindu. Pada sosok saya yang dulu. Pada malam-malam yang tak diganggu. Malam yang hanya saya lah pemegang kuasa. Meretas pada selubung rindu untuk menuliskan sekelebat di kepala.

Malam kemarin, malam lalu, banyak dunia yang hilang. Adiksi sudah tidak bisa lagi muncul. Dunia yang dulu digenggam seperti hilang. Hilang sama sekali. Saya rindu. Rindu sekali pada malam-malam sendiri. Saya dan buku. Saya dan kata. Saya dan imaji. Saya dan diri sendiri.

Saya dan "Saya" yang hilang ditelan malam hanya untuk bercakap hingga pagi. Saya dan "Saya" yang hilang mendengar alun musik sendiri. Saya dan "Saya" yang hilang berjalan pada log bisu. Saya dan "Saya" ketika menangis untuk bait-bait Tuhan yang syahdu. Saya dan "Saya" seperti dua tubuh tak padu. Saya dan "Saya" yang berada di tengah-tengah rutinitas dunia.

Saya ingin menepi. Untuk menemukan kembali siapa "Saya". Dan, berlaku konsisten juga adil pada diri "Saya". Hanya untuk saya.

More...