Author: Ummul Khairi
•Monday, June 06, 2011

Jika saya punya seribu kaki untuk berjalan dari selatan ke utara, hal itu yang akan saya lakukan ketika pertama kali menginjak bumi. Jika saya menguasai miliyaran tahun kecepatan cahaya, hal itu juga yang akan saya lakukan pertama kali untuk kesana, ke berbagai tempat yang tak mampu dijangkau mata dan kaki. Ada banyak hal yang belum bisa dijamah maupun dilampaui. Itulah kenapa saya terlalu tinggi berandai-andai, tapi Tuhan tidak suka pengandaian kan? Dan, saya akan menampik pengandaian itu dengan segala warning untuk kembali membuka mata pada sesuatu yang harus disikapi dengan nyata tanpa perlu dibuat-buat. Tanpa perlu ada kerumitan.

Banyak sekali hal yang tertinggal kebelakang, juga ada banyak yang luput dari pantauan untuk terus maju kedepan. Jika hal tersebut seumpama barisan, maka satu persatu hilang digerus zaman. Orang-orang selalu menyimpulkan, ada bagian dalam hidup yang tak bisa dipisahkan, pun ada bagian dalam hidup yang tak boleh dikekang. Seperti seseorang yang meyakini jalannya, hanya ada dua pilihan dalam hidup, maju kedepan atau terus terperosok kebelakang. Semua hanya masalah pilihan dan waktu.

Pilihan saya jatuh pada, menunggu untuk kembali datang. Dengan usaha dan doa, tentu saja. Ternyata, dunia memang berputar. Pada poros tertentu, Tuhan menegur ketika sesuatu yang timpang terjadi. Tak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk mengingatkan seseorang. Hanya butuh waktu sepersekian detik, Tuhan bisa berkata kun. Maka jadilah!

Apa yang timpang? Sebuah sapaan. Umat Tuhan yang dulu berkata, Silaturrahmi. Sebuah kata yang halus untuk menyapa segelintir umat yang lain. Menjejakkan kaki untuk bertemu, menghubungi lewat pesan singkat atau sekedar sapaaan lewat dunia maya. Semua adalah serangkaian cara untuk tetap bisa bertahan dalam lingkup pertemanan.

Lucunya, ada bagian yang hilang dalam hidup saya sekarang. Apa yang dilihat jauh sekali berbeda pada kenyataannya. Sedikit usaha-usaha itu tak begitu berarti bagi sebagian orang. Entah bagaimana lagi menyapanya. Entah bagaimana lagi melunakkan hatinya yang beku. Saya bukan pencari alasan. Karena kadang alasan hanya dibuat untuk pembelaan.

Mungkin saja segelintir orang belum begitu paham mengapa komunikasi itu penting. *Mungkin, saya salah seorang diantaranya. Diantara mereka ada yang memilih untuk bungkam. Untuk menjaga bagian yang tidak perlu dibagi pada orang banyak. Maka sebagaian dari mereka hidup dengan diam. Itu pilihan. Sekali lagi, itu pilihan.

Dan, memang benar, memahami satu orang saja itu sulit. Sama seperti sulitnya memahami konsep dasar dibandingkan teknik pengerjaannya. Itu yang saya pelajari sekarang, mencoba memahami, mencoba menghargai keinginannya dan, menunggu saat yang tepat untuk bergerak agar tidak melawan arus.

Oh ya, ada award dari Sam di ajjazair sana. Karena sudah lama tidak ngeblog, saya baru sempat pajang award ini. Sam yang baru saya kenal juga bagian dari silaturrahmi yang harus saya pertahankan agar sebuah pertemanan tetap utuh meski jarak memang tidak bisa dikata dekat.


More...

Author: Ummul Khairi
•Wednesday, May 25, 2011

Untuk kamu yang merasa tersisih dari lingkar pertemanan, asing sendiri saat yang lain tergelak riang, kamu yang berpikir telah dilupakan, dipinggirkan bahkan dalam nuansa candaan, baiknya berdialoglah dengan diri sekali kali;

Ada berapa panggilan yang kau abaikan? Berapa pesan dengan sengaja kau diamkan? Berapa sapaan yang kau jawab dengan keluhan? Sampai-sampai mereka mengira, mendatangimu hanya bikin kau beban.

Mereka tidak menepikanmu. Tapi kau bergerak terus ke tepi. Hingga tangan mereka tak kuasa lagi menepuk kau punya pundak.

Dunia yang kau bangun adalah asing. Tampak beda dengan dunia mereka. Dan, mereka tak menutup bagianmu dalam dunianya, kecuali kamu yang lupa menyediakan ruang untuk mereka dalam duniamu.

-Anonimous- More...

Author: Ummul Khairi
•Sunday, May 08, 2011

Sahabatku, dengan juntaian kata-kata ini kukirim sebuah senja untukmu. Agar kamu tahu, bahwa seberat apapun dunia meminta abdiku, aku masih ingat kamu, sederhanamu dan jiwa besarmu. Hari ini, aku melihat lagi pantai yang indah, walau tak sampai senja, walau tak ada jeda, walau bukan di tempat yang paling tinggi, aku hanya ingin berkata, aku ingat kamu, selalu dan selamanya.

Hari ini, semua sesak pada malam lalu hilang, karena hari ini aku banyak belajar tentang kejujuran. Mungkin setiap hari banyak sekali kebohongan yang di butakan oleh hati, mungkin juga karena terlalu banyak sampah yang membusuk di relung ini, mungkin itulah mengapa sinarmu selalu tertutupi. Padahal aku hanya butuh mengerti dan mencoba paham tentang yang kurasa atau setidaknya aku jujur dengan apa yang kurasa.

Langit cukup mendung, tapi sejenak kemudian semuanya tersapu awan yang bersih, jernih tanpa ada penghalang serupa belenggu. Ku pikir, perlu sedikit berjalan melintasi pasir-pasir disana. Aku menolak untuk duduk tenang. Bahkan aku tak punya alasan untuk berleha-leha sejenak. Mereka para pujangga selalu berkata, setiap sebuah perjalanan melahirkan cinta dan kedekatan padaNya. Tak ada salahnya aku coba. Jika saja aku punya mesin waktu, aku pasti akan menghadirkan senja secepat kidung awan kelabu membaluti putih awan disebelah selatan sana. Tak ada burung bangau yang kusuka melintas di kepala. Tak ada matahari. Sudah pasti tak ada rembulan karena senja masih gegas melomba waktu. Hanya ada aku sendiri berjalan di antara pasir-pasir dan tawa mereka. Juga ada sedikit ombak yang dicumbu angin.

Sahabatku yang manis, sering aku berkata, aku sangat menyukai tempat-tempat tertinggi. Bahkan sudah terhitung dua kali kita kesana, ke rumah di atas bukit. Aku dan kamu sama-sama melihat senja dengan mata tak berkedip. Sungguh indah. Dan, kita masih saja tak mau beranjak dari dudukan komidi putar itu. Ah..sebenarnya aku yang enggan melangkahkan kaki. Rasanya aku ingin selamanya berada disana dan tak ingin kembali ke kota Banda yang penuh sesak. Kamu selalu saja memutarkan kemudinya lagi dan lagi. Aku seperti anak ingusan yang sering kita lihat menaiki ayunan. Aku tak peduli, sahabatku sayang. Aku hanya ingin kemudi itu kita berdua saja yang punya. Biar mereka tau, terkadang kita semua butuh untuk tidak menjadi dewasa sesekali. Ego-ego yang kita bawa seringkali meruntuhkan segala kebebasan. Dan, aku benar-benar bisa melepaskan segala ego hanya di depanmu saja.

Katanya kamu ingin menangkap angin untukku. Aku selalu tertawa. Mana mungkin bisa, sahabatku yang lucu. Angin tak punya kemudi seolah komidi putar yang kita naiki. Biarkan saja, biarkan ia terbang sekehendak hatinya. Karena angin tidak terkungkung. Walau aku suka suara angin dan gemericik air, tapi aku tak ingin mereka menjadi milikku, karena tanpa mereka dunia akan mati. Cukup aku menghabiskan waktu berdua saja denganmu ketika senja. Ya, berdua saja. Kau dan aku. Sewaktu bangau-bangau pulang ke utara, kau berjanji akan menemaniku melihat kota Banda dari puncak sana. Kau berjanji ingin memperlihatkan kota kita seperti lilin-lilin yang tunduk pada sendu. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, betapa kota kita tak ada artinya. Segala kesombongan telah dipagar oleh sunyinya malam. Dan, kau ingin memberinya untukku lagi? Sudahlah sahabatku yang baik, aku hanya ingin senja saja. Tak lebih.

Aku masih disini sahabatku. Masih di pantai yang kucerita tadi. Masih dengan kidung awan yang menggelegar. Masih tanpa matahari. Masih belum muncul juga sinar rembulan yang tidak menusuk mata. Masih mengingat kamu yang sibuk menghadapi orang banyak. Harusnya hari ini pantai ramai. Ah..mungkin mereka takut tubuh-tubuh mereka terkena hujan dan jatuh sakit. Aku bahkan tidak peduli dengan tubuh lemahku yang tak kebal dingin. Biarkan saja. Karena ketika aku sudah tak lagi disini, tubuhku juga tidak akan bergerak selamanya. Mungkin aku perlu berjalan lebih jauh, agar suara-suara mereka tak menghalangi niatku untuk bermain pasir hari ini.

Sahabatku yang manis, sahabatku yang lucu dan menggemaskan, aku berjalan tanpa beralas tapak. Membenamkan sejenak kakiku kedalam pasir yang baru saja disapu ombak kecil. Ada beberapa terumbu yang terbawa air pasang. Juga ada bambu-bambu basah yang entah dari mana muasalnya. Aku ingin membuat sebuah istana dari pasir. Apalah arti kekokohannya. Karena sebentar lagi juga akan dimakan angin dan digerus air. Jika ada kamu disini, kamu pasti akan tertawa dan mengatakan aku seperti anak kecil. Lalu kamu akan membantu untuk membuatkan istana itu. Dan, kamu suka sekali mencandai ku sembari berkata, ini istana untuk sang putri, semoga putri hidup bahagia bersama pangeran. Sahabatku sayang, kau memang tau cara yang paling tepat untuk mengokohkan pikiranku yang kacau. Itulah mengapa aku tak peduli akan kekokohan istana pasir, karena aku tau kau selalu bersamaku untuk kembali menguatkan ketika aku lemah, ketika aku menangis, ketika aku butuh tau kenapa kau ada untukku.

Duhai, masihkah sibuk engakau disana? Masihkah aku boleh menghubungimu untuk sekedar menanya kabarmu hari ini? Sudahkah engkau makan siang tadi? Aku takut mengganggumu. Aku bahkan terlalu takut kehilanganmu. Sahabatku yang tak jengah mendengarkan, aku masih di sini. Duduk beralas pasir bersama istana pasirku. Aku ingin kamu disini. Jangan lupa selesai kamu memberi abdi pada dunia, kita akan bersama lagi. Walau sebentar saja, tapi tak apa. Aku bahagia.

Coba kamu lihat sahabatku sayang, awan sudah jernih. Tak ada lagi belenggu. Matahari juga sudah muncul. Hari ini sungguh istimewa. Meski aku tak bisa melihat senja dari sini, tapi nanti suatu hari ketika kita menginggalkan segala ego-ego yang menguap di kepala, kita akan melihat senja dari bukit tertinggi di kota kita. Ya kita, kau dan aku saja. Bersama arakan kapas putih di atas kepala, kukirim senja untukmu dari sudut hati yang paling rindu untuk bertemu denganmu lagi.

Banda Aceh, May 8th 2011. 00.10 am

More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, May 03, 2011

No body is perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Sekalipun dunia mengelukan ia orang yang paling baik. Sesekali pasti pernah berbelok, sesekali pernah untuk tidak bergerak, sesekali malas untuk bersikap wajar. Sebenarnya hati selalu memacu untuk terus melecutkan diri pada kebaikan. Karena hati manusia pasti akan lebih condong melihat dan merespon kebaikan, keindahan dan ketenangan. Mungkin sehari-hari bisa bersikap sewajarnya manusia berinteraksi dengan yang lain tanpa mengkalkulasikan sebab akibatnya. Ketika bergurau, kadang ada yang tersakiti meski tak ada satupun maksud hati untuk menyakiti. Lalu, kapan hati bisa mencapai kestabilan? Sedikit matematis, kestabilan sebuah kurva bukan ketika kurva tersebut monoton atau katakanlah linier pada satu titik. Kestabilan berarti satu titik yang tetap pada standarnya. Sekalipun titik-titik tersebut naik-turun, namun titik-titik tersebut tidak turun ekstrim atau merosot turun hingga standar terendah. Semoga hati-hati kita tetap seperti itu. Terjaga awal dan akhirnya.


Standar seperti apa yang seharusnya dipertahankan agar selalu stabil? Well, sebenarnya setiap manusia punya satu standar tersendiri untuk jadi sandaran berpijak. Satu standar tersebut yang akan menjadi titik awal ketika memulai dan mengakhiri sesuatu. Punya kertas dan pena, kan? Sekarang ambil selembar saja. Tidak perlu banyak. Tuliskan sesuatu yang menjadi satu standar, minimal untuk hari ini. Tuliskan agenda hari ini.


Jika ingin bersilaturahmi dengan teman-teman dimana saja, tuliskan juga alasan kenapa harus bertemu mereka. Ketika belajar menerima sesuatu, tuliskan kenapa hati dan pikiran harus lapang untuk tidak mengingkari sesuatu. Ketika melihat seorang tua berjalan tongkat, tuliskan kenapa harus membantunya. Ketika melihat kuntum bunga indah ditaman, tuliskan kenapa untuk tidak memetiknya. Ketika melihat seorang pencopet, tuliskan kenapa harus mengejar pencopet itu. Ketika melihat beberapa sampah di depan mata, tuliskan kenapa kita harus memungutnya. Ketika mencintainya, tuliskan seberapa banyak yang harus kau berikan bukan menerima. Ketika berbohong, tuliskan kenapa harus meminta maaf. Ketika membuatnya menangis, tuliskan kenapa harus mendiamkannya atau membiarkan sesaat meluapkan segala. Saat dunia penuh dengan ketidaksesuaian visi dan misi, tuliskan kenapa harus merenung untuk sejenak menarik diri dari miniatur dunia. Tuliskan kenapa kadang ingin untuk memanjat tebit-tebing tinggi. Tuliskan kenapa harus berteriak mengeluarkan kepahitan. Tuliskan kenapa kadang jalan yang diambil selalu bercabang. Tuliskan semuanya untuk dikeluarkan bersama jawaban. Jawaban yang tidak membutuhkan suatu hitung-hitungan matematis. Suatu jawaban yang tidak linier. Jawaban yang hanya kita masing-masing yang tau.


Kumpulkan jawaban itu di selembar kertas saja. Simpan semua kesalahan dalam sebuah kotak yang terjaga. Jangan pernah menghancurkannya sekalipun sesak menganga. Simpan agar ketika tua, kita bisa membukanya. Simpan agar kita ingat bahwa setiap diri punya kelebihan kekurangan. Simpan agar kita ingat bahwa setiap diri punya kebaikan juga keburukan. Karena, manusia tidak pernah mencapai kesempurnaan. Maka lakukan yang terbaik semampumu tanpa melupakan untuk terus selalu memperbaiki diri.

More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, April 23, 2011

Saya selalu tertarik dengan topik yang satu ini. Bagaimana proses panjang yang dibutuhkan seseorang dalam membangun relasi melalui komunikasi, kemampuan merespon, penyelesaian suatu masalah yang dihadapi dengan analisa yang tidak sembarangan, membuat saya ikut tertantang untuk mengetahui sedalam apa sesungguhnya sebuah otak mempengaruhi seluruh sentral kehidupan antara lelaki dan wanita.

Sebelas april lalu, saya tertarik dengan sebuah buku Female Brain-nya Louann Brizendine. Awalnya saya pikir, buku ini akan berisi hal-hal yang melegalkan kesebuah anugerahan, betapa wanita sungguh beruntung dicipta dengan otak yang kompleks yang akan jauh 180 derajat berbeda dengan lelaki. Tapi nyatanya tidak juga. Brizendine juga menelurkan pasangan buku ini, Male Brain. Hingga hari ini, saya belum ketemu couple si Female Brain ini.

Generally, buku-buku riset para peneliti tentang perbedaan otak wanita dan pria ini sudah banyak. Tapi tidak spesifik. Namun, lagi-lagi hasil penelitian juga menjadi tolak ukur untuk pencapaian suatu hal yang kita sebut komunikasi. Well, walau ujung-ujungnya itu juga, hasil penelitian ini tidak pernah bosan untuk saya bahas. Ketertarikan awal, ya karena dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari interaksi, baik laki-laki maupun wanita. Intinya seperti begini, tujuan akhir dari hasil telitian puluhan tahun dengan lebih 200 responden ini bukan menunjukkan seberapa hebat otak lelaki dan wanita dalam interaksi, bukan untuk menjadi ajang perdebatan dan judging ketimpangan suatu komunikasi dalam sebuah hubungan yang akhirnya bisa keluar statement ”saya berpikir seperti ini, karena otak saya sudah terprogram seperti ini”, bukan pula untuk saling membandingkan sebuah keuntungan memiliki atau diciptakan sebagai lelaki dan perempuan, bukan, bukan itu. The bigest idea is, how to accept each other, to be more tolerant and forgiving, the way we know we have different way to solve something.

Sebuah penelitian di University of Texas atas anak-anak perempuan dan anak laki-laki usia satu tahun memperlihatkan perbedaan dalam keinginan dan kemampuan mengamati. Sepanjang 3 bulan pertama kehidupan, keterampilan seorang bayi perempuan dalam kontak mata dan saling menatap wajah akan meningkat lebih dari 400 persen. Sejak lahir, bayi perempuan sudah berminat pada ekspresi emosi. Mereka mendapat makna tentang diri mereka berdasarkan tatapan, sentuhan, dan setiap reaksi dari orang-orang yang melakukan kontak dengan mereka. Dari petunjuk-petunjuk ini, mereka mengetahui apakah mereka berharga, layak dicintai atau menjengkelkan. Anak-anak perempuan tidak menoleransi wajah datar. Mereka menafsirkan wajah tanpa emosi yang diarahkan kepada mereka sebagai sinyal bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Untuk hal ini hampir 100% saya sepakat. Saya pernah meminta kesediaan seorang teman laki-laki untuk membantu saya menyelesaikan suatu hal. Saat itu saya menangkap ekspresi datar atas kesediaannya, walau akhirnya ia membantu juga. Nah, disini saya mulai menebak-nebak. Apakah ia ikhlas membantu saya atau tidak? Atau apakah saya harus berkata ”maaf sudah mengganggu”. Dan, saya pribadi tidak suka dengan kondisi menebak-nebak. Satu hal lagi, tentang sentuhan. Mayoritas sesama wanita sering berpelukan sambil cipika-cipiki ketika bertemu. Untuk apa? Mereka melakukan hal itu karena bagi wanita sentuhan adalah sebuah kondisi yang sangat dekat dan mampu mengekspresikan banyak hal, senagkah, sedihkan, marahkan, kesalkah, etc.

Riset atas mamalia oleh kelompok Michael Meaney telah memperlihatkan bahwa keturunan perempuan sangat dipengaruhi oleh seberapa tenang dan pedulinya ibu mereka.

Walau sebenarnya seorang anak tetap akan mewarisi sifat ayah dan ibunya, namun tetap saja seorang ibu punya peranan penting untuk tumbuh kembang anak secara fisik, mental juga otak. Mungkin itulah mengapa seorang wanita yang belum menikah banyak sekali wejangannya, apalagi untuk urusan kesehatan, pola hidup juga reproduksi.

Satu hal lagi, ledakan tangis seringkali mencengkram perhatian otak laki-laki. Air mata hampir selalu mengejutkan dan membuat sangat tidak nyaman seorang lelaki. Seorang perempuan karena ahli membaca wajah, akan mengenali bibir yang cemberut, mata yang menyipit, dan sudut-sudut mulut yang bergetar sebagai pembuka tangisan. Seorang lelaki tidak akan melihat hal ini. Biasanya tanggapannya, "Kenapa menangis?" atau "Eh, kok nangis. Duh...jangan nangis lagi ya". Para peneliti menyimpulkan bahwa skenario yang lazim ini menunjukkan kalau otak laki-laki menempuh proses lebih lama untuk menangkap makna emosi dalam berbagai persepsi yang masuk.

Ini pengalaman pribadi. Waktu itu saya punya problem yang sedikit pelik. Hampir pukul 2 pagi saya masih belum juga tidur karena menangis. Kebetulan messangger saya juga masih ON. Saya butuh teman untuk berbagi untuk setidaknya meringankan beban sejenak. Kemudian salah seorang sahabat saya menelpon untuk memastikan keadaan saya baik-baik saja. Jika kita mendapati seorang wanita menangis di depan seorang lelaki dan sikap mereka masih cuek, itu bukan berarti mereka betul-betul tidak peduli, tapi mereka bersikap demikian karena lelaki tersebut tidak tau harus berbuat apa. Mungkin itu sama halnya ketika kita sangat bahagia dan ingin mengeluarkan sebuah statement kebahagian, kadang kita hanya diam atau mengatakan i have no words to say untuk mengungkapkan kebahagiaan tersebut.

Buku Female Brain ini juga mengungkapkan tentang mengapa perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata perhari sedangkan lelaki hanya menggunakan 7000 kata perhari, atau mengapa perempuan dapat mengingat rincian suatu masalah yang tidak dapat diingat sama sekali oleh lelaki, juga mengapa perempuan cenderung membentuk ikatan yang lebih dalam dengan teman perempuan mereka daripada yang dilakukan para lelaki untuk teman lelakinya, dan masih banyak lagi. Buku ini layak untuk dimiliki oleh wanita maupun lelaki.

More...

Author: Ummul Khairi
•Saturday, April 23, 2011


Serupa tangga yang berliku, aku menaiki tiap terjalnya. Memahatnya, menghaluskannya bukan perkara mudah. Tapi kau diatas sana adalah sebuah pembeda. Tau apa yang kau jalani dan kenapa harus bertahan. Bukan memenangkan pualam sanjungan dunia dengan segala rupa-rupa.

Seperti tak layak, kau tak diperhitungkan. Dianggap gila. Maka yang keluar dari cercauan mereka adalah sampah! Lihat, kau dikata sampah.

Kalau ada yang mencari oase, mungkin seorang tua dengan punggung melengkung masuk tanpa izin. Sedang pintu terbuka untuk segelas air. Jika seorang tua menanya mana utara, telunjukmu bicara, ikuti saja arakan ufuk senja. Bangau merah muda pulang dengan kawanannya.

Jika ada orang derma memberi sekerat roti kembang, maka langkahmu gegas mencari tisu. Orang derma pulang membawa tanya. Lalu, pintumu masih terbuka pada anak-anak beringus meminta jatah roti mentega.

Dibawah bukit. Ada surau-surau bergaung merdu. Corong-corong menyaring merdu. Corong-corong kenal Tuhan. Corong-corong tak bantah Tuan.

Ada satu hal jika ada dua hal yang selalu mereka lupa. Mereka duduk di atas pagar karatan di tengah jalan. Sebentar lagi pukul 6 petang. Dari bukit terlihat bola-bola besar seperti lampion. Satu persatu nyala. Satu persatu balok-balok bermesin pulang. Kota pun tenang.

Pagar ilalang setinggi badan mulai menguning. Tak ada yang berani menyabit. Itulah kenapa mataku mencuri pandang sedikit.

Rumah diatas bukit. Kau diam. Kau tak angkuh. Katamu, inilah aku.

Katamu, aku berdiri bukan karena berpijak, tapi karena pijakan. Mereka hanya melihat apa yang terjadi, bukan melihat keadaan sebenarnya. Aku diam bukan berarti tak mampu bicara. Aku berjalan lurus, bukan berarti tak pernah berbelok. Aku merdeka bukan berarti tak punya aturan.

Rumah diatas bukit, lihat sore jingga benar! Di depanmu laut tergelar.

Aku pasti kembali. Untuk melihat perempuan kecil bermain gasing berputar. Walau, kantung plastik harus penuh dengan jagung bakar.

Dan, hey..Meski di bukit, saban kesana kulihat rambut-rambut selurus lidi bermata cipit tapi setiap pulang aku membawa hal baru.

Mataku memunggumimu tanpa gugu karena kau semanis madu.
More...

Author: Ummul Khairi
•Thursday, April 14, 2011

Saya harus bilang seperti ini, i'm in the super highest mood right now!
Why? Hm, jujur, saya sedang tidak ingin berspekulasi dengan keadaan yang melilit seperti sekarang. Sudah seminggu lebih, harus selalu berhubungan dengan peta Kota Banda Aceh. Ini hasil kerja praktik selama hampir 3 bulan (terhitung Februari) di Lab. GIS & Remote Sensing, di Integreated Universitas Syiah Kuala. Selama bulan februari, saya masih santai mengerjakan project, dan setelahnya saya terbawa pada kondisi "acuh" dengan semua kerjaan. Akhirnya tidak satupun selesai!

Awalnya pembimbing lapangan saya memberikan project yang melahirkan ide untuk saya teruskan di PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa). Dia menawarkan project yang berhubungan dengan model-model 2D pada peta kemudian di rendering untuk dijadikan model-model 3D. Sebagai informasi, objek 2D di dalam satu kecamatan saja ada 7000 lebih. Itu hanya bangunannya saja. Belum lagi objek pohon, jalan, sungai, vegetasi etc. Lha? Bagaimana saya harus men-digitasi semua objek jika Kota Banda Aceh memiliki lebih dari 5 kecamatan? Sila hitung sendiri berapa banyak model-model 2D yang harus saya rendering ke dalam model-model 3D. Karena tidak memungkinkan model-model tersebut selesai dalam deadline waktu kerja praktik, akhirnya scoupe peta di perkecil untuk satu kecamatan saja. Fiuh..
Dan, karya tulis ilmiah (untuk PKM) terpaksa harus ganti judul.

Kendala saya cuma satu, saya belum mengerti cara mengubah model-model tersebut kedalam 3D. Beberapa senior sudah sempat saya tanyakan, seperti kakak yang baik ini. Tapi mereka juga kurang paham. Lucunya, pembimbing lapangan saya juga belum tahu bagaimana rendering 2D ke dalam 3D. Beberapa minggu saya sempat tidak berani menunjukkan batang hidung ke Lab. Saya tidak pernah berani memberikan report tanpa progress apapun. Saya memang sudah membaca literatur tapi entahlah, otak saya bebal. Akhirnya saya berpikir keadaan sekarat sekalipun harus diberi tahu. Harus terbuka dan transparan. Karena siapapun juga tidak pernah tahu keadaan seseorang jika orang tersebut tidak pernah memberi tahu. Well, setelah saya jujur, ada perasaan lega yang membuncah, dan Alhamdullillah pembimbing saya sangat baik. Ia mengerti keadaan saya.

Saya ingat sekali ketika kami-saya dan pembimbing-belajar bersama-sama untuk memecahkan masalah rendering model tersebut. Entah karena waktu yang terlalu singkat, waktu itu kami juga belum bisa memecahkan persoalan tersebut. Padahal banyak sekali literatur di depan mata. Hingga keesokan harinya, pembimbing bisa dengan cepat memecahkan persoalan tersebut. Ternyata caranya sangat gampang. Dan, memang ketika memecahkan sebuah masalah harus dengan kepala dingin, sekalipun masalah sederhana jika otak tidak sejalan dengan hati juga bisa semraut. Dan, the time is goes on.

Saya harus selalu stay di Lab. Menunjukan progress, membahas kendala dan konsultasi. Saya jadi teringat tempo hari seusai shalat dhuhur di mushalla dekat kampus, seorang senior saya mengkerutkan kening membaca agenda harian saya yang tertinggal di mushala sebelum sempat saya ambil kembali. Dari catatan saya yang ia baca, ia menyimpulkan kalau saya orang yang melankolis. Semua harus teratur, terurut dan sistematis, sehingga sering kali terkesan perfeksionis. Jika ada satu hal saja yang rusak dari sistem yang telah dibuat, pasti akan merusak seluruh sistem. Untuk mengerjakan satu hal harus fokus terhadap kerjaan tersebut dan tidak bisa mengerjakan dua hal sekaligus dalam satu waktu bersamaan. Setelah senior saya berkata seperti itu, rasanya saya ingin memeluknya dan mengatakan "semua yang kakak bilang tidak ada kecacatan!"

Saat ini, saya tidak sedang ingin merusak mood "kumat rajin" yang bertengger. Biarkan sebentar ia bersarang agar saya paham untuk menyelesaikan prioritas pada batas waktu yang telah ditentukan. Saya takut merusak mood itu lagi dengan membuang waktu percuma. Doakan agar semua pekerjaan saya cepat selesai, kawan. More...