
ia adalah perlambangan kesederhanaan dalam berbagai warna
mereka menancapkan tiap warna dalam hidupnya
mereka simbol ketaklukan pada perpaduan rima
ia diam,menjiwai alur nya sendiri
ia senyum,merekah dan tak bersuara
racun jingga telah berkecamuk,semraut pikiran tiada henti berlipat
pikiran mereka digulung
hati berdesir hebat
buncah di dada bertalu-talu
ia diam,diam...
mereka menyusuri koridor warnanya,mereka tercekat karena tak sampai
bilahan warnanya tak dapat ditukar oleh kelinieran palsu
durja..
ia warna,ia beragam,ia satu..
ia penuh dengan kekosongan kecerdasan
tapi ia diam,diam,diam...
mereka terbahak,
ia melirik mereka,
mereka melirik ia,
ia dan mereka menemukan warna
warna yang memiliki rima
yang dirundung rindu.apalah arti 3 tahun itu..
More...

Aku berhenti dulu sekarang.Tapi bukan meninggalkanmu,karena tak mampu.Bukan pula mengingkarinya.
Di luar sangat riuh.Begitu banyak kemunafikan.
Namun setia Mu belum juga melepuh.
Aku beruntung..
Rindukah Engkau?
Aku rindu,sangat rindu..
Kenapa hanya 30 hari saja?
Kenapa tak selamanya?
Duhai...Cahaya di atas Cahaya,
Aku rindu,hanya rindu
Aku ingin mendekat,ingin merasakannya kembali
Bawa aku padanya,sebelum matiku..
4 hari menjelang Ramadhan
More...
There's no especially rule when i listen the song.Which one is better then i picked it up randomly.Based on my playlist,85% is a western,the others is combine,indo,chinese,japanese,arabic,some turk and one achenese.I trully love a full of meaning song.It have an own inner philosophi inside the words.Beside that,i also love the simple words meaning.It's not really difficult to get it and no need extra dictionary to understood.well,i think Binoculars's song one was of them.It was softly and easy to listen.By the title of "Deep",it can catch your ear...check this out!
So this is what you mean
And this is how you feel
So this is how you see
And this is how you breathe
Sometimes
I know
Sometimes
I go down deep
Oh
So this is what you mean
And this is how you feel
So this how you see
And this is how you breathe
Sometimes
I know
Sometimes
I go down deep
Oh
Beneath the deep blue sea
Touching every breath
All a slight off hand
For everything you left
Sometimes
I know
Sometimes
I go down deep
Oh
Sometimes
I give myself for you
Sometimes
I know down deep
More...
Sudah dua malam terlewati di rumah sakit ini.Ternyata seperti ini rasanya.Pemindahan
sebagian barang-barang penting dalam sepetak kamar seukuran seperempat kamarku.Sering sekali hal-hal kecil yang terlupa,sisir,handuk,odol juga dedorant.Aku tak keberatan harus bolak-balik antara rumah dan rumah sakit tempatku menginap,asal aku tak mencium bau darah kental saja sudah cukup.Kedatangan tamu adalah sesuatu yang diharapkan sebagai wujud kepedulian dan perbaikan gizi :D ya,kadang buah-buahan yang berplastik-plastik habis dilahap oleh orang yang tidak sakit,sedangkan orang yang sakit hanya bisa pasrah dengan kegetiran lidah melahap apapun.Malang nian.Kedatangan tamu juga terkadang mengganggu privacy,menurutku.Seperti malam tadi.Jika tamu mengganggu acara tidur santai untuk meregangkan otot sejenak adalah hal biasa,namun jika sudah mengganggu hal-hal yang privacy dan sensitif adalah kurang ajar.
Aku kesal jika mereka mengungkit sebuah fakta dengan kenyataan pahit, dan kekurangan
itu sudah mereka tau tapi hanya karena tak ada bahan pembicaraan,moncong mereka berkicau seenak dengkul-jika mereka punya dengkul.Aku sering kali tak paham dengan
maksud mereka mempertanyakan ulang kebenaran atas sebuah kekurangan yang jelas-jelas
telah mereka lihat setiap saat,seumur hayatku.Dan, hal yang paling menggelikan ketika mereka memanas-manasi dengan menambah-nambah cerita.Kupingku panas.Sasaran objek mereka tak lain adalah aku.Aku beringsut dari tidur-tiduran malas-manjaku dan
beranjak ke lantai atas rumah sakit.Rumah sakit ini terdiri dari 4 lantai tapi hanya
tiga lantai yang berfungsi.Sementara kamar rawat adikku yang sakit berada di lantai2
rumah sakit.Aku menyendiri.Lantai 3 yang kunaiki tampak lebih senyap karena pasien hanya segelintir.Lantai 3 juga mempunyai balkon yang terbilang cukup nyaman,setidaknya untuk posisiku menyendiri saat ini.Hanya sesekali lewat kucing kurap berbelang hitam-kepirangan mengeong.Entah apa yang ia rasakan,dari tadi hanya mondar-mandir saja.Agaknya ia kehilangan anak.Tubuh renta kurapannya terlihat semakin kurus.Barangkali terlalu banyak melahirkan.Kasihan ia.
Saat ini hanya ada aku dan angin yang membuatku sedikit kedinginan dan bersin.Hmm,aku mulai menikmati lantai 3 rumah sakit ini.Aku bisa melihat orang-orang
dibawahku.Beberapa kendaraan roda empat mengatur posisinya,sesekali mundur kedepan
atau kebelakang mematuhi suara peluit juru parkir.Di sebelahnya beberapa pemuda tanggung asyik dan masyuk pada sebatang rokok.Sesekali terkekeh pada dua teman lainnya.Entah apa yang mereka obrolkan.Tak kupusingkan.Aku mendesah sedikit panjang dan angin mekin melebarkan desahanku.Syukur tak banyak nyamuk berdenging.Aku kembali mulai memikirkan obrolan tamu tadi.Mereka menyesalkan kenapa adikku sakit.Mereka lebih melihat ia banyak memebantu keluarga.Bukan dalam hal finansial tapi dalam hal kesetiannya memenuhi segala permintaan orang tua dalam transportasi.Ah kawan,sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku belum mampu mengendarai motor dan hal ini berbanding terbalik dengan adikku yang bisa mengendarai motor bahkan mobil.Aku benci hal ini terus ditanyakan ulang dan diperbincangkan seperti headline dalam sebuah surat kabar,seperti tahi ayam yang sedang hangat-hangatnya dan seperti tabung gas elpiji yang gemar meledakkan diri akhir-akhir ini.Bukan,bukan aku tak bisa mengendarainya,tapi hanya karena trauma yang tak kunjung hilang 5 tahun silam.Ketika nyaris terjadi tabrakan maut antara aku dan sepupuku.Jika saja Tuhan tak menyelamatkanku dari maut di seputaran simpang 5 yang padat kendaraan itu,kepalaku bisa saja terlepas dari tubuhnya.Aku terlempar beberapa kilo dari motor yang sepupuku kendarai.
Sepupuku?Aku tak ingat.Beruntungnya aku tak perlu tak perlu merasakan kamar operasi
untuk mengangkat darah beku dari tubuh seperti yang dialami sepupuku.Hal yang hampir
serupa terjadi setahun kemudian.Aku terlempar dari motor yang temanku
kendarai.Jalanan aspal yang kasar mendarat halus di kepalaku sehingga mengeluarkan
banyak darah.Sejak hari itu aku benci darah.Aku takut darah yang menggenang dan
kental.Aku takut sekali melihat seseorang berdarah.Kupikir phobia ini hanya
ketakutanku yang berlebihan tapi ternyata kubuktikan ketika aku tes golongan darah
pertama kalinya dalam seumur hidupku dan itu setahun yang lalu.Tes itu dilakukan oleh seorang mahasisiwi kedokteran seumuran jagung yang waktu itu membuka stand Fakultas Kedokteran dalam acara Unsyiah Fair.Hal yang pertama kali kulakukan adalah memberanikan diri.Mengorbankan jari tengah kiriku untuk diambil sampel darahnya dan diteteskan pada kaca preparat.Entah karena perasaan takut atau apa,akhirnya setelah mengucapkan terimakasih pada mahasiswi yang mungkin pertama kali menancapkan jarum kecil ke tanganku sebagai tumbal,maka tiba-tiba ruh ku seakan lepas dari tubuhnya.Aku pitam dan tak tau apa-apa.Untung saja sebelum tubuhku rebah,temanku langsung menangkapku.Mereka panik.Aku melayang.Mahasiswi kedokteran tersebut langsung minta maaf sesaat setelah aku siuman.Minta maaf atas apa?Aku juga tak tau,tapi kuiyakan saja karena kulihat ada sebening embun menggumpal siap turun dari matanya.Ah,sudahlah..perkara darah-mendarahi tak kuhiraukan lagi.
Aku masihh bergelut dengan semua pikiran yang berkelebat.Satu persatu trauma tersebut mulai bermunculan.Aku tak menangis karena tak ada gunanya.Perkara bisa mengendarai motor mungkin hal remeh temeh bagimu kawan tapi tidak bagiku.Aku harus mengalahkan ketakutan 5 tahun silam.Aku bukan tidak berusaha tapi lagi-lagi ketika memegang stang motor saja aku sudah mulai ciut.Lagi pula aku tak mempersoalkan perkara tak bisa membawa motor hingga saat ini.Walau aku harus mengakui,terkadang aku masih bergantung pada orang rumah untuk mengantarku ke tempat-tempat yang tidak dilalui kendaraan umum,selebihnya aku mampu,walau menghabiskan waktu berjam-jam sekalipun.
Aku tak melihat keadaan ini dengan sebelah mata.Aku melihat sisi lain dari keterbatasanku.Masih ada kendaraan umum yang bisa kunaiki.Aku bahkan belajar banyak
hal tentang orang-orang dalam labi-labi*.Aku bisa membaca tabiat kernek labi-labi.Labi-labi dan terminalnya semacam lab perlakuan.Teori-teori yang 3 tahun
terakhir ini kudapatkan dari hasil pengamatanku secara tak sengaja kepada
mereka.Teori tersebut tak akan ada di buku-buku yang kubaca.Teori tersebut adalah
hasil konspirasi alam,pengalaman pribadi dan pengamatan secara berkala dan
komprehensif.Aku bisa menamatkan beberapa halaman buku selama 1 jam dalam labi-
labi,yang hal ini tak dapat kulakukan jika aku mengendarai motor atau di bonceng.Aku
juga bisa berkenalan dengan kakek tua di depan Pizza Hut Banda Aceh,walau sampai
sekarang belum kudapat nama beliau.Aku bisa makan dalam labi-labi jika hal tersebut
tak bisa kulakukan pada waktu biasa jam makan.Terkadang aku mendapatkan inspirasi
dari melihat berbagai karakter orang-orang dalam labi-labi.Hal-hal yang kecil menurutmu kawan tapi bernilai besar bagiku.
Aku tak menganggap keterbatasanku sebagai hal yang patut disesali.Selama aku tak
merepotkan dan mengganggu ketentraman hidup orang lain,aku menganggap hal ini adalah
anugerah dan ibrah dari Nya.Seiring waktu Allah mengajarkanku kesabaran dan aku yakin suatu saat akan berbuah manis.Siapa tau besok aku menikah dengan suami berakhlak mulia dan dengan setia mengantar-jemputku sepenuh cinta nya :D,hehehe..
Angin malam yang dingin terus membuaiku.Kucing kurap pun tak lewat lagi.Beberapa
perawat telah masuk kamar khusus perawat.Hanya ada aku dan cicak di lantai 3.Jam
tanganku telah menunjukkan pukul 23.00-kurangi sendiri 20 menit.Jam tanganku cepat20
menit-aku harus turun ke lantai 2.Berharap keadaan mau berteman denganku lagi.
1 Agustus 2010
Lantai 3,Rumah Sakit Harapan Bunda,Banda Aceh
More...
Setiap orang tidak butuh kata-kata yang berat dan bermakna berbelit-belit.Percayalah!Saya telah membuktikannya.Anehnya, saya bisa melihat jika orang-orang tersebut hanya berbicara seenak jidat dengan mengalor-ngidulkan dari beberapa pertanyaan yang ingin kudiskusikan.orang-orang seperti itu hanya ingin dianggap ia telah dewasa dalam tiap makna kata-katanya dengan menyembunyikan makna sebenarnya melalui kata-kata tersebut.Kuncinya terletak,ia memainkan suara,tekanan atau intonasi juga gestur tubuh yang berubah-ubah tiap waktu.Sesekali ia menyudutkan dan mengkombinasikan kata-kata dengan pengalaman hidup yang sebenarnya biasa saja.Yaa,tapi kuhargai juga.Kunci kedua adalah ia tak membiarkan lawan bicaranya menyanggah atau memiliki kesempatan untuk mempertanyakan hal-hal kecil yang mengundang umpan balik atau sesekali ia membalikkan fakta dengan mencari celah kelemahan si penanya.
Saya beberapa kali menemukan orang yang seperti ini.Tipe orang seperti ini adalah orang yang tidak mengerti kenapa telinga diciptakan dua dan mulut diciptakan satu.Sebenarnya mudah mengetahui keadaan ini,cukup kau lihat dua bola matanya saja.Tentunya kau perlu memaknai terlebih dahulu arti tatapan itu,seiring waktu dan penilaian kau akan tahu.Cobalah memahami orang lain.Temanmu tak butuh banyak cincong mu kawan,ia butuh seorang pendengar yang baik dan ”hadir” dalam pembicaraan.
Saya jadi teringat film 3 idiots,ketika Rancho mendefinisikan kata mesin.Ia tak perlu basa-basi menyampaikan mesin bla..bla...ini..itu..padahal sederhananya berfungsi sebagai alat pembantu meringankan aktifitas manusia,push then ON.Saya juga punya seorang teman yang menyederhanakan sesuatu tapi tetap tidak melupakan hakikat/kadar yang sebenarnya.Misalnya ketika marak kajian di penghujung tahun dengan tema ”Muhasabah Akhir Tahun”.Ia menyederhanakan konsep muhasabah tersebut tidak hanya terjadi di akhir tahun tapi seharusnya di sepanjang hari dan waktu.Baginya,kenapa segala bentuk pemantapan dan perenungan diri hanya terjadi di akhir tahun dan kenapa harus di kumpulkan menjadi kesatuan yang harus di evaluasi di bagian akhir.Dan sampai saat ini kajian-kajian rutin masih saja mengangkat tema itu.
Selasa kemarin,saya juga di sentakkan seorang teman karena pemikiran saya yang masih rumit dan berbelit.Satu hal lagi kawan,sebagaimana kerumitan berpikir kepala mu,serumit itu pula bahasa yang dirimu keluarkan,baik melalui bahasa verbal atau non-verbal.Nah,kembali pada pemikiran sederhana.Waktu itu,ia meminta saya menguraikan program kerja kedepan untuk Club English yang saya tangani.Sebagai ketua terpilih,saya harus mempropagandakan seluruh program kerja selama 1 semester tersebut.Ia dan ketua Jurusan Fakultas kami memiliki harapan paling besar untuk Club English ini.Ternyata ia ”melirik” keterbelitanku.Program yang kuuraikan stagnan dan hanya mengikuti program kerja tahun lalu yang sangat banyak.
Ia berkata ”Kamu tau mercusuar?”
”Iya,tau”
”Biasanya terletak dimana?”
”Di dekat pantai”
”Perlukah bangunannya besar?”ia menambahkan.
Dengan lugu kujawab ”hm..iya”
”Ya,memang benar,logikanya semakin tinggi bangunan tersebut diperlukan kekokohan dari fisiknya yang besar,tapi mercusuar yang tinggi tersebut hanya butuh lampu diatasnya yang bisa menerangi setiap ia menyapu seluruh permukaan lautan.Artinya lampu tersebut yang bertanggung jawab untuk menentukan tiap kapal terkena biasan sinarnya,padahal lampu tersebut hanya berjumlah satu sampai dua buah.Jika di ibaratkan bangunan tersebut adalah orang-orang dalam organisasi dan lampu tersebut adalah program kerja, artinya program kerja lah yang bertanggung jawab dalam memeriahkan dan membesarkan nama organisasi karena biasnya akan dilihat oleh orang lain dan mengundang partisipasi orang banyak.Sederhananya seperti ini,program kerja tak perlu banyak,cukup satu sampai tiga buah yang penting acaranya meriah dan orang lain juga ikut berpartisipasi,serta dapat menggugah orang banyak agar mengakui keberadaan organisasi tersebut. ”
Untuk hal ini cukup berbelit tapi saya suka prinsip mercusuarnya.Secara tidak langsung ia mengajarkan saya untuk tidak stagnan dan out of the box.Ya, hanya berupa kalimat sederhana.Sesederhana pikiran mengurai pola pikir menjadi sesuatu yang diucap,ditulis dan disikapi.
More...

Saya sedikit kesulitan dalam menanggapi pertanyaan teman, “Menurutmu, pintar itu apa dan seperti apa?”.Perihal yang membuat ia bertanya seperti itu hanya karena ia menganggap ia kurang di beberapa sisi yang cukup inti.Ia merasa kesulitan mendefinisikan kata “pintar”.Jangankan dia, saya saja sedikit kewalahan dalam menjawab pertanyaan tersebut.Bagiku tak ada jawaban dan indikator yang pasti untuk menjudge seseorang pintar.Hanya saja ia cerdas dalam mengolah kepintarannya.Saya akan mencoba menjawab dengan critical thinking, melihat dari segala sudut.Pintar secara general dapat di artikan: menyesuaikan diri sewajarnya dengan sekitar, mempelajari konsep dan ide-ide baru, serta mampu menyelesaikan masalah.Dari hal tersebut, Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, membagi kecerdasan manusia pada 9 hal yaitu:
• Kecerdasan Logis Matematis.
• Kecerdasan Linguistic verbal.
• Kecerdasan Spasial visual.
• Kecerdasan Musical.
• Kecerdasan Kinestetic ragawi.
• Kecerdasan Naturalis.
• Kecerdasan Intrapersonal.
• Kecerdasan Interpersonal.
• Kecerdasan Spiritual.
Nah,mari kita bahas satu-persatu secara runut.Kecerdasan Logis Matematis (saintis, ilmuwan, dan ahli matematika atau yang bersifat hitungan angka) dan Kecerdasan Linguistic-verbal (penulis,ahli berbahasa dan merangkai kata-kata) yang sering dikategorikan sebagai kecerdasan secara intelektual dan sering dianggap sebagai faktor inti kepintaran seseorang.
Kecerdasan spasial visual (pelayar, arsitek, artis atau tour guide), musical (musisi dan penyanyi), dan kinestic ragawi (penari).Kelima jenis kecerdasan tadi dapat dikelompokkan sebagai kategori ketrampilan yang dimiliki oleh manusia untuk bertahan hidup.
Kecerdasan Naturalis, Intrapersonal (ahli falsafah dan psikologi), dan Interpersonal (psikiater, psikolog, konselor) dapat membantu seseorang menjadi sukses dalam karier, kehidupan berkeluarga, serta hubungan antarsesama manusia dan alam. Kecerdasan ini mencangkup kemampuan membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, serta hasrat keinginan diri sendiri dan orang lain.
Ada juga yang disebut dengan kecerdasan spiritual, yang dapat membantu seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya karena sudah menyadari makna dari hidup itu sendiri. Apabila seseorang dapat mengasah kecerdasan spiritualnya, orang itu akan memiliki kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter, dan nilai hidup yang dimilikinya.
Tahap kepintaran seseorang itu berbeda-beda,secara umum tahapan tersebut di tentukan dari kemahiran berfikir dan membuat pertimbangan, serta pendidikan semasa kecil dan interaksi sosial dengan yang lain.Karena tiap manusia mengalami perbedaan terhadap tahapan-tahapan di atas maka tiap kepintaran manusia pun berbeda-beda.Kecerdasan yang beragam inilah yang membuat masing-masing orang memiliki kepribadian yang unik sehingga tidak sama dengan yang lainnya. Seseorang bisa memiliki beberapa, bahkan semua kecerdasan tersebut apabila selalu diasah dan dilatih seluruh potensi yang ada pada dirinya.
Ilmu pengetahuan sendiri telah melakukan riset secara produktif dan berkala.Para pakar menamai tiap kecerdasan teori dan matematis sebagai IQ (Intelligence Quotient) dan kecerdasan empati, pemahaman terhadap orang lain, motivasi, sebagai EQ (Emotional Quotient).Secara riset dan bahkan sampai hari ini masih banyak orang menganggap kecerdasan IQ adalah satu-satu nya hal yang mutlak dalam pencapaian kesuksesan seseorang.Namun, apa jadinya jika ia hanya mengandalkan teori-teori serta rumusan angka-angka baku sebagai lambang kesuksesannya dan mengabaikan indikator lain dalam hidupnya?Ia akan menjadi orang yang hanya digerakkan oleh sistem semata tanpa melihat dunia luar.Otaknya telah “terkotak” menjadi wujud perlambangan yang statis.
Ada hal yang lain dalam menunjang kesuksesan seseorang yang seharusnya berbanding lurus dengan teori yang ia pelajari.Ya, kecerdasan EQ.Kecerdasan Naturalis, Intrapersonal dan Interpersonal. Kecerdasan hubungan antarsesama manusia dan alam.Kita hidup berdampingan dengan alam dan manusia itu sendiri.Hidup berarti meminta tapi hidup juga berarti memberi.Dan, apakah hal ini sudah cukup?Bukankah semua hanya berorientasi pada materi semata?Tidak adakah sebuah konsep lain dengan cara pandang berbeda dapat melahirkan sebuah muara selain hanya materi?Bukankah dua konsep itu hanya mengejar kebendaan yang berarti hanya mencakup satu tujuan saja, yaitu amaliah duniawi semata?Tak adakah sebuah konsep akhir menamai sebuah bentuk kecerdasan?
Saya masih akan menjawab dengan ilmu pengetahuan.sebuah bentuk kecerdasan tersebut diberi nama, SQ (Spiritual Quotient).Kecerdasan spiritual merupakan temuan terkini secara ilmiah, yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif.Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual di paparkan Zohar dan Marshall dalam SQ, Spiritual Quotient (The Ultimate Intelligence, London,2000).Hasil risetnya berupa, kecerdasan SQ berperan 80 % dalam kehidupan sedangkan 20 % lagi adalah IQ.
Riset pengetahuan boleh berbangga akan temuannya, tapi jauh sebelum 1400 tahun yang lalu Rasulullah telah menjelaskan ayat-ayat Nya dalam surat Ar-Rum:30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Fitrahnya manusia adalah makhluk ketuhanan, makhluk yang bertuhan dan memiliki Tuhan yang satu yaitu Allah.Maka, kaitkanlah dengan kecerdasan spiritual yang telah mencakup segala hal akan kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter, dan nilai hidup yang dimilikinya.Kekuatan spiritual mampu mensinergikan terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan secara komprehensif.Saya ingin mengutip perkataan BC Gorbes “Ukuran tubuhmu tidak penting;ukuran otakmu cukup penting,ukuran hatimu itulah yang terpenting”.
Bagi saya, cerdas berarti kita telah mengetahui potensi diri.Cerdas berarti kita bisa berbagi.Cerdas berarti tidak membohongi diri.Cerdas berarti menjalani karna cinta.Cerdas berarti menghargai diri dan nilai hidup.Cerdas berarti bersungguh-sungguh.Cerdas berarti tak pernah mengizinkan diri dipengaruhi oleh unsur diluar diri.Cerdas berarti menggunakan hati.Cerdas berarti cerdas mengelola pintarnya.Cerdas berarti ia mengenal siapa Tuhannya, untuk apa dia hidup dan kemana akhir hidupnya.
Nb:Didedikasikan untuk sahabat zikirku Henny Wilda.Kalahkan ketakutanmu.Pekik ia dengan hatimu.Dan, menangislah hanya untuk Rabb mu.Sungguh dunia ini lebih hina dari isak tangis mu untuk Nya...
More...
Semalam..setelah shalat magrib,seperti biasa yang umat muslim lakukan,berdoa,tilawah Al-Quran,sedikit mengulang ayat-ayat yang ada di luar kepala dan muhasabah sebagai pengakuan makhluk Tuhan yang lemah.Tapi,semalam merupakan hal jarang terjadi.Bahkan bisa kuhitung dengan jari kapan momen-momen tersebut terjadi dalam petak kecil ukuran kamar pribadiku.Adalah seorang anak kecil bernama Lala menyambangi kamarku di akhir shalat magrib.Dia adikku yang paling kecil.Akhir-akhir ini,Alhamdulillah,dia membiasakan untuk shalat,minimal shalat magrib.Hal ini tidak akan pernah terjadi jika mama ku tidak pernah membelikannya mukena baru.Mukena itu sangat ia benggakan.Berulang kali ia memamerkannya padaku sembari mengatakan,"kak ai,adek ada mekena baru" bangganya sambil menunjuk mukena yang berwarna putih cerah itu.Aku melihat dengan seksama.Ternyata mukena itu sedikit longgar pada bagian dagunya,sehingga rambut nya yang coklat itu kelihatan jika ia menngunaknnya.Aku tersenyum geli.
Sebenarnya aku sedikit terusik,karena saat magrib adalah saat istirahat terbaikku dan merupakan waktu yang paling aku senangi untuk berduaan dengan Rabb ku.Tapi kali ini kupikir,yasudahlah tidak apa-apa.Setidaknya aku bisa mendendangkan Asmaul Husna bersama gadis kecil berusia 8 tahun itu.Mama meminta secara special agar aku mengajarinya mengaji Iqra.Selama ini Lala mengaji Iqra dengan mama.Denganku hanya sesekali.Bukan..bukan karena aku tak pandai mengajarkan Iqra,bukan itu.Bukan juga aku tak bisa Tajwid,juga bukan karena itu.Bukan pula karena aku malas.Tapi hal ini disebabkan kepulanganku kerumah yang hampir selesai waktu magrib sehingga membuat aku tak sempat mengajarnya Iqra.
Lala,sejatinya bukan anak yang malas disuruh mengaji.Ia hanya malas seperti anak-anak seumurannya malas.Malas memebereskan mainannnya sendiri,malas merapikan buku-buku sekolahnya,malas mengambil handuk untuk mandi dan terkadang malas makan.Semalam ia juga dengan senang hati kuajarkan Iqra.Waktu kutanya,"adek udah Iqra berapa?",dengan bangga ia balas "Iqra 6".Wow..Kupikir ia masih Iqra 4 atau mungkin 5,tapi setelah mendengar ucapan Pe-De nya,aku bangga.
Nah,dimulailah mengaji perbaris.Baris pertama,mulus.Baris kedua,masih mulus.Baris ketiga,sudah agak karuan makhrajnya.Baris keempat,belepotan panjang pendeknya.Baris kelima,sudah sangat tak karuan panjang pendeknya.Aku pun mengerang dan muka ku sudah tak berbentuk.Ingin kumarahi rasanya tak tega dan aku bukan tipe orang pemarah.Kuhirup napas dalam-dalam,kupandangi dia lamat-lamat meski dengan mimik serius dan aku mulai sedikit menceramahi nya dengan bahasa seilmiah mungkin."adek..sekarang adek udah Iqra berapa?",Iqra 6"jawabnya malas.Sepertinya ia sudah menerka apa yang ingin kusampaikan....to be continou
More...

