Setiap orang tidak butuh kata-kata yang berat dan bermakna berbelit-belit.Percayalah!Saya telah membuktikannya.Anehnya, saya bisa melihat jika orang-orang tersebut hanya berbicara seenak jidat dengan mengalor-ngidulkan dari beberapa pertanyaan yang ingin kudiskusikan.orang-orang seperti itu hanya ingin dianggap ia telah dewasa dalam tiap makna kata-katanya dengan menyembunyikan makna sebenarnya melalui kata-kata tersebut.Kuncinya terletak,ia memainkan suara,tekanan atau intonasi juga gestur tubuh yang berubah-ubah tiap waktu.Sesekali ia menyudutkan dan mengkombinasikan kata-kata dengan pengalaman hidup yang sebenarnya biasa saja.Yaa,tapi kuhargai juga.Kunci kedua adalah ia tak membiarkan lawan bicaranya menyanggah atau memiliki kesempatan untuk mempertanyakan hal-hal kecil yang mengundang umpan balik atau sesekali ia membalikkan fakta dengan mencari celah kelemahan si penanya.
Saya beberapa kali menemukan orang yang seperti ini.Tipe orang seperti ini adalah orang yang tidak mengerti kenapa telinga diciptakan dua dan mulut diciptakan satu.Sebenarnya mudah mengetahui keadaan ini,cukup kau lihat dua bola matanya saja.Tentunya kau perlu memaknai terlebih dahulu arti tatapan itu,seiring waktu dan penilaian kau akan tahu.Cobalah memahami orang lain.Temanmu tak butuh banyak cincong mu kawan,ia butuh seorang pendengar yang baik dan ”hadir” dalam pembicaraan.
Saya jadi teringat film 3 idiots,ketika Rancho mendefinisikan kata mesin.Ia tak perlu basa-basi menyampaikan mesin bla..bla...ini..itu..padahal sederhananya berfungsi sebagai alat pembantu meringankan aktifitas manusia,push then ON.Saya juga punya seorang teman yang menyederhanakan sesuatu tapi tetap tidak melupakan hakikat/kadar yang sebenarnya.Misalnya ketika marak kajian di penghujung tahun dengan tema ”Muhasabah Akhir Tahun”.Ia menyederhanakan konsep muhasabah tersebut tidak hanya terjadi di akhir tahun tapi seharusnya di sepanjang hari dan waktu.Baginya,kenapa segala bentuk pemantapan dan perenungan diri hanya terjadi di akhir tahun dan kenapa harus di kumpulkan menjadi kesatuan yang harus di evaluasi di bagian akhir.Dan sampai saat ini kajian-kajian rutin masih saja mengangkat tema itu.
Selasa kemarin,saya juga di sentakkan seorang teman karena pemikiran saya yang masih rumit dan berbelit.Satu hal lagi kawan,sebagaimana kerumitan berpikir kepala mu,serumit itu pula bahasa yang dirimu keluarkan,baik melalui bahasa verbal atau non-verbal.Nah,kembali pada pemikiran sederhana.Waktu itu,ia meminta saya menguraikan program kerja kedepan untuk Club English yang saya tangani.Sebagai ketua terpilih,saya harus mempropagandakan seluruh program kerja selama 1 semester tersebut.Ia dan ketua Jurusan Fakultas kami memiliki harapan paling besar untuk Club English ini.Ternyata ia ”melirik” keterbelitanku.Program yang kuuraikan stagnan dan hanya mengikuti program kerja tahun lalu yang sangat banyak.
Ia berkata ”Kamu tau mercusuar?”
”Iya,tau”
”Biasanya terletak dimana?”
”Di dekat pantai”
”Perlukah bangunannya besar?”ia menambahkan.
Dengan lugu kujawab ”hm..iya”
”Ya,memang benar,logikanya semakin tinggi bangunan tersebut diperlukan kekokohan dari fisiknya yang besar,tapi mercusuar yang tinggi tersebut hanya butuh lampu diatasnya yang bisa menerangi setiap ia menyapu seluruh permukaan lautan.Artinya lampu tersebut yang bertanggung jawab untuk menentukan tiap kapal terkena biasan sinarnya,padahal lampu tersebut hanya berjumlah satu sampai dua buah.Jika di ibaratkan bangunan tersebut adalah orang-orang dalam organisasi dan lampu tersebut adalah program kerja, artinya program kerja lah yang bertanggung jawab dalam memeriahkan dan membesarkan nama organisasi karena biasnya akan dilihat oleh orang lain dan mengundang partisipasi orang banyak.Sederhananya seperti ini,program kerja tak perlu banyak,cukup satu sampai tiga buah yang penting acaranya meriah dan orang lain juga ikut berpartisipasi,serta dapat menggugah orang banyak agar mengakui keberadaan organisasi tersebut. ”
Untuk hal ini cukup berbelit tapi saya suka prinsip mercusuarnya.Secara tidak langsung ia mengajarkan saya untuk tidak stagnan dan out of the box.Ya, hanya berupa kalimat sederhana.Sesederhana pikiran mengurai pola pikir menjadi sesuatu yang diucap,ditulis dan disikapi.
More...

Saya sedikit kesulitan dalam menanggapi pertanyaan teman, “Menurutmu, pintar itu apa dan seperti apa?”.Perihal yang membuat ia bertanya seperti itu hanya karena ia menganggap ia kurang di beberapa sisi yang cukup inti.Ia merasa kesulitan mendefinisikan kata “pintar”.Jangankan dia, saya saja sedikit kewalahan dalam menjawab pertanyaan tersebut.Bagiku tak ada jawaban dan indikator yang pasti untuk menjudge seseorang pintar.Hanya saja ia cerdas dalam mengolah kepintarannya.Saya akan mencoba menjawab dengan critical thinking, melihat dari segala sudut.Pintar secara general dapat di artikan: menyesuaikan diri sewajarnya dengan sekitar, mempelajari konsep dan ide-ide baru, serta mampu menyelesaikan masalah.Dari hal tersebut, Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, membagi kecerdasan manusia pada 9 hal yaitu:
• Kecerdasan Logis Matematis.
• Kecerdasan Linguistic verbal.
• Kecerdasan Spasial visual.
• Kecerdasan Musical.
• Kecerdasan Kinestetic ragawi.
• Kecerdasan Naturalis.
• Kecerdasan Intrapersonal.
• Kecerdasan Interpersonal.
• Kecerdasan Spiritual.
Nah,mari kita bahas satu-persatu secara runut.Kecerdasan Logis Matematis (saintis, ilmuwan, dan ahli matematika atau yang bersifat hitungan angka) dan Kecerdasan Linguistic-verbal (penulis,ahli berbahasa dan merangkai kata-kata) yang sering dikategorikan sebagai kecerdasan secara intelektual dan sering dianggap sebagai faktor inti kepintaran seseorang.
Kecerdasan spasial visual (pelayar, arsitek, artis atau tour guide), musical (musisi dan penyanyi), dan kinestic ragawi (penari).Kelima jenis kecerdasan tadi dapat dikelompokkan sebagai kategori ketrampilan yang dimiliki oleh manusia untuk bertahan hidup.
Kecerdasan Naturalis, Intrapersonal (ahli falsafah dan psikologi), dan Interpersonal (psikiater, psikolog, konselor) dapat membantu seseorang menjadi sukses dalam karier, kehidupan berkeluarga, serta hubungan antarsesama manusia dan alam. Kecerdasan ini mencangkup kemampuan membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, serta hasrat keinginan diri sendiri dan orang lain.
Ada juga yang disebut dengan kecerdasan spiritual, yang dapat membantu seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya karena sudah menyadari makna dari hidup itu sendiri. Apabila seseorang dapat mengasah kecerdasan spiritualnya, orang itu akan memiliki kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter, dan nilai hidup yang dimilikinya.
Tahap kepintaran seseorang itu berbeda-beda,secara umum tahapan tersebut di tentukan dari kemahiran berfikir dan membuat pertimbangan, serta pendidikan semasa kecil dan interaksi sosial dengan yang lain.Karena tiap manusia mengalami perbedaan terhadap tahapan-tahapan di atas maka tiap kepintaran manusia pun berbeda-beda.Kecerdasan yang beragam inilah yang membuat masing-masing orang memiliki kepribadian yang unik sehingga tidak sama dengan yang lainnya. Seseorang bisa memiliki beberapa, bahkan semua kecerdasan tersebut apabila selalu diasah dan dilatih seluruh potensi yang ada pada dirinya.
Ilmu pengetahuan sendiri telah melakukan riset secara produktif dan berkala.Para pakar menamai tiap kecerdasan teori dan matematis sebagai IQ (Intelligence Quotient) dan kecerdasan empati, pemahaman terhadap orang lain, motivasi, sebagai EQ (Emotional Quotient).Secara riset dan bahkan sampai hari ini masih banyak orang menganggap kecerdasan IQ adalah satu-satu nya hal yang mutlak dalam pencapaian kesuksesan seseorang.Namun, apa jadinya jika ia hanya mengandalkan teori-teori serta rumusan angka-angka baku sebagai lambang kesuksesannya dan mengabaikan indikator lain dalam hidupnya?Ia akan menjadi orang yang hanya digerakkan oleh sistem semata tanpa melihat dunia luar.Otaknya telah “terkotak” menjadi wujud perlambangan yang statis.
Ada hal yang lain dalam menunjang kesuksesan seseorang yang seharusnya berbanding lurus dengan teori yang ia pelajari.Ya, kecerdasan EQ.Kecerdasan Naturalis, Intrapersonal dan Interpersonal. Kecerdasan hubungan antarsesama manusia dan alam.Kita hidup berdampingan dengan alam dan manusia itu sendiri.Hidup berarti meminta tapi hidup juga berarti memberi.Dan, apakah hal ini sudah cukup?Bukankah semua hanya berorientasi pada materi semata?Tidak adakah sebuah konsep lain dengan cara pandang berbeda dapat melahirkan sebuah muara selain hanya materi?Bukankah dua konsep itu hanya mengejar kebendaan yang berarti hanya mencakup satu tujuan saja, yaitu amaliah duniawi semata?Tak adakah sebuah konsep akhir menamai sebuah bentuk kecerdasan?
Saya masih akan menjawab dengan ilmu pengetahuan.sebuah bentuk kecerdasan tersebut diberi nama, SQ (Spiritual Quotient).Kecerdasan spiritual merupakan temuan terkini secara ilmiah, yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif.Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual di paparkan Zohar dan Marshall dalam SQ, Spiritual Quotient (The Ultimate Intelligence, London,2000).Hasil risetnya berupa, kecerdasan SQ berperan 80 % dalam kehidupan sedangkan 20 % lagi adalah IQ.
Riset pengetahuan boleh berbangga akan temuannya, tapi jauh sebelum 1400 tahun yang lalu Rasulullah telah menjelaskan ayat-ayat Nya dalam surat Ar-Rum:30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Fitrahnya manusia adalah makhluk ketuhanan, makhluk yang bertuhan dan memiliki Tuhan yang satu yaitu Allah.Maka, kaitkanlah dengan kecerdasan spiritual yang telah mencakup segala hal akan kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter, dan nilai hidup yang dimilikinya.Kekuatan spiritual mampu mensinergikan terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan secara komprehensif.Saya ingin mengutip perkataan BC Gorbes “Ukuran tubuhmu tidak penting;ukuran otakmu cukup penting,ukuran hatimu itulah yang terpenting”.
Bagi saya, cerdas berarti kita telah mengetahui potensi diri.Cerdas berarti kita bisa berbagi.Cerdas berarti tidak membohongi diri.Cerdas berarti menjalani karna cinta.Cerdas berarti menghargai diri dan nilai hidup.Cerdas berarti bersungguh-sungguh.Cerdas berarti tak pernah mengizinkan diri dipengaruhi oleh unsur diluar diri.Cerdas berarti menggunakan hati.Cerdas berarti cerdas mengelola pintarnya.Cerdas berarti ia mengenal siapa Tuhannya, untuk apa dia hidup dan kemana akhir hidupnya.
Nb:Didedikasikan untuk sahabat zikirku Henny Wilda.Kalahkan ketakutanmu.Pekik ia dengan hatimu.Dan, menangislah hanya untuk Rabb mu.Sungguh dunia ini lebih hina dari isak tangis mu untuk Nya...
More...
Semalam..setelah shalat magrib,seperti biasa yang umat muslim lakukan,berdoa,tilawah Al-Quran,sedikit mengulang ayat-ayat yang ada di luar kepala dan muhasabah sebagai pengakuan makhluk Tuhan yang lemah.Tapi,semalam merupakan hal jarang terjadi.Bahkan bisa kuhitung dengan jari kapan momen-momen tersebut terjadi dalam petak kecil ukuran kamar pribadiku.Adalah seorang anak kecil bernama Lala menyambangi kamarku di akhir shalat magrib.Dia adikku yang paling kecil.Akhir-akhir ini,Alhamdulillah,dia membiasakan untuk shalat,minimal shalat magrib.Hal ini tidak akan pernah terjadi jika mama ku tidak pernah membelikannya mukena baru.Mukena itu sangat ia benggakan.Berulang kali ia memamerkannya padaku sembari mengatakan,"kak ai,adek ada mekena baru" bangganya sambil menunjuk mukena yang berwarna putih cerah itu.Aku melihat dengan seksama.Ternyata mukena itu sedikit longgar pada bagian dagunya,sehingga rambut nya yang coklat itu kelihatan jika ia menngunaknnya.Aku tersenyum geli.
Sebenarnya aku sedikit terusik,karena saat magrib adalah saat istirahat terbaikku dan merupakan waktu yang paling aku senangi untuk berduaan dengan Rabb ku.Tapi kali ini kupikir,yasudahlah tidak apa-apa.Setidaknya aku bisa mendendangkan Asmaul Husna bersama gadis kecil berusia 8 tahun itu.Mama meminta secara special agar aku mengajarinya mengaji Iqra.Selama ini Lala mengaji Iqra dengan mama.Denganku hanya sesekali.Bukan..bukan karena aku tak pandai mengajarkan Iqra,bukan itu.Bukan juga aku tak bisa Tajwid,juga bukan karena itu.Bukan pula karena aku malas.Tapi hal ini disebabkan kepulanganku kerumah yang hampir selesai waktu magrib sehingga membuat aku tak sempat mengajarnya Iqra.
Lala,sejatinya bukan anak yang malas disuruh mengaji.Ia hanya malas seperti anak-anak seumurannya malas.Malas memebereskan mainannnya sendiri,malas merapikan buku-buku sekolahnya,malas mengambil handuk untuk mandi dan terkadang malas makan.Semalam ia juga dengan senang hati kuajarkan Iqra.Waktu kutanya,"adek udah Iqra berapa?",dengan bangga ia balas "Iqra 6".Wow..Kupikir ia masih Iqra 4 atau mungkin 5,tapi setelah mendengar ucapan Pe-De nya,aku bangga.
Nah,dimulailah mengaji perbaris.Baris pertama,mulus.Baris kedua,masih mulus.Baris ketiga,sudah agak karuan makhrajnya.Baris keempat,belepotan panjang pendeknya.Baris kelima,sudah sangat tak karuan panjang pendeknya.Aku pun mengerang dan muka ku sudah tak berbentuk.Ingin kumarahi rasanya tak tega dan aku bukan tipe orang pemarah.Kuhirup napas dalam-dalam,kupandangi dia lamat-lamat meski dengan mimik serius dan aku mulai sedikit menceramahi nya dengan bahasa seilmiah mungkin."adek..sekarang adek udah Iqra berapa?",Iqra 6"jawabnya malas.Sepertinya ia sudah menerka apa yang ingin kusampaikan....to be continou
More...
Hm,apa ya?Rasa nya sudah bosan ada di Kota Banda Aceh ini..Menyesali sangat kenapa tawaran train sebulan ke semarang kutolak mentah-mentah,huh!Sebenarnya simple saja,aku yakin sebagai manusia tak pernah suka jika hidup nya statis.Hidup yang hanya di bentuk oleh sistem-sistem menjadikannya seperti manusia yang susah bergerak alias tidak menjadi dirinya sendiri.Melakukan sesuatu untuk orang lain tapi menyakiti diri sendiri..
*aku masih semangat untuk nulis tapi rutinitas rapat yang tiada henti terus memanggil.Tak punya otak orang-orang yang menerorku melaui makian SMS itu!!
More...

Iya,aku kangen nulis lagi..pingin "nyampah" lagi tapi terbentur dengan tugas-tugas yang menumpuk dan final exam yang di depan mata.Rasa nya pingin cepat berlalu saja bulan juni ini.kenapa?Karena beberapa keputusan yang harus aku ambil dalam waktu yang super singkat bernama bulan juni.Keputusan pergi ke Kota Semarang yang mempunyai andil besar dalam memutuskan berhak atau tidak nya aku ke negeri Kemal Ataturk.Argh...sedikit lagi, kalau saja bulan juni ini berakhir cepat pasti aku tidak pikir panjang.
Bulan juni juga menjadi keputusan terberat mengambil tantangan menjadi leader terbaru di club English ku dan segala fasilitas yang harus secepat mungkin aku tangani.Terus?yaa,batal ke Malay,Thai dan Sing dalam bulan juli tapi,oh..mendapat kabar di bulan genting bernama juni.
i just wanna let it go by flow the truth.I could'nt complaint at all because "they" always stop my way.Thats way i wanna get free by flying...
*nyambung gak sih?
More...

Saya sedikit merasa aneh dengan kebiasaan orang-orang menganggap saya aneh ketika saya hanya terbengong-bengong sendiri atau terkadang beberapa orang melihat saya mengangis seusai shalat.Eh,sebenarnya mereka tidak melihat langsung nangis sesenggukan itu, tapi mereka mengetahui dari mata saya yang cukup merah seusai shalat.Sebenarnya persepsinya seperti ini lebih sering kita lihat pada dunia televisi.Otak-otak manusia sudah di frame, bahwa ketika seseorang menangis artinya ia memiliki masalah yang berat.Ketika ia sedang berpikir artinya harus di bantu dengan menjadi pendengar yang baik.Ah..dunia kapitalis menang akan hal ini.Sebenarnya kita adalah budak-budak dari konsumsi tontonan yang kurang bermutu.
Sebenarnya hal tersebut lumrah dan sering terjadi.Saya sama sekali tidak menyalahkan keadaan tersebut.Terkadang memang masalah berat identik dengan mengeluarkan air mata dan seseorang cenderung melamun.Tapi,di sisi lain saya merasa sangat perlu melakukan hal tersebut.Bahkan kalau boleh, saya harus mengatakan butuh akan hal tersebut.Ada saat seseorang harus berpikir sendiri menjalani semuanya.Saat saya memang tak ada masalah yang tak terlalu berat untuk di pikirkan,pun tak bisa dikatakan ringan untuk diselesaikan dengan segera,di situlah saya merenungi segalanya.Kadang Tuhan memberi hal semacam itu untuk membuat kita lebih dewasa dan melihat banyak hal dari berbagai sisi.Berpikirlah melingkar!Satu lingkaran penuh adalah 360 derajat.Ya,sama persis seperti shalat yang biasa kita lakukan.Seluruh gerakannya membentuk lingkaran penuh.Allahuakbar.Hidup kita adalah shalat kita.
Satu lagi.Menangis..saya hanya bisa tertawa getir ketika ditanya kenapa menangis seusai shalat.Hei..teman,ini murni urusanku dengan Tuhan ku,Allah SWT ku.Jika kau benar-benar membutuhkannya, kau pasti menangis.Anggap lah diri sebagai pengemis di hadapannya.Sesekali kau perlu menangis untuk melunakkan hatimu.Percayalah,sangat indah menangis di hadapannya.Lebih indah dari dunia yang kau jalani.Bahkan, Lebih indah dari melihat orang tua mu bahagia.
Teman,tulisan ini untuk mu..aku baik-baik saja.Jangan khawatirkan aku melebihi dirimu jika kau percaya akan Rabb mu.Anggaplah aku sedang berdialog dengan Rabb Ar-Rahman.Mencintai Nya dalam diam dan tangisku, agar aku hidup untuk hidupku^^
nb:That picture?i don't care it made any senses to the posting or not(n_n)
More...

Suatu masa, Tuhan pernah memberi mu kesakitan yang luar biasa berat nya.Hingga kau mengeluh penuh derita.Tak terasa kau bahkan menghina nya dan menjadikannya seperti obeng yang ketika tak perlu kau buang.Di sisi lain Tuhan memberi mu kenikmatan tiada tara namun masih juga angkuh hati menipu semua indera yang Ia ciptakan.Mungkin tak secara gamblang dalam doa mu yang tiap hari kau lantun kan tapi terkadang keluhan mu “memukul” mu hingga sesekali kau merasa sesal dengan yang terjadi.
Sebenarnya ini tentang ku.Lebih kurang tiga tahun lalu sampai hari ini aku menjalani hari dengan menerka apa yang terjadi padaku di pagi hari.Saat malam ku rebahkan tubuh ini dengan menerawangi langit-langit kamar.Aku selalu memikirkan betapa bahagianya jika Tuhan memberiku sepasang sayap yang dapat kugunakan untuk terbang.Sayangnya, aku hanya senang memikirkan hal itu dalam perlahan tutupan mata lelahku.Sistem otak limbic ku bekerja seperti seolah ia mengatakan, terbang bisa membuat mu bahagia karena kebahagiaan tertinggi itu bernama terbang, sedangkan jika kau terbang berarti kau telah melampaui batas ketinggian.Walau, otak logika ku berontak akan hal itu namun tetap saja selalu posisi-posisi limbic unggul di tiap-tiap malam nya dan aku sangat bahagia akan hal itu.Biarkan.Biarkan sejenak kurasakan kebahagiaan dalam terbang ku karena esok pagi nya akan ada hal berat menanti hari ku.Sungguh! Karya Tuhan tak pernah menuai cerca.Jika aku bisa menggunakan otak ku untuk berpikir maka di malam hari nya kupaksa ia bermimpi.Tapi Tuhan menciptakan indera yang satu ini berbeda dengan yang lain.Bagi ku ia hanya satu fungsi.Berjalan.Ah..aku ingin menyebut nya “motor” Tuhan.Dan, bagi ku tiada kesakitan berlebih sekaligus bahagia yang luar biasa yang tersirat yang Tuhan berikan, selain sepasang kaki untuk berjalan.Untuk menggunakan satu fungsi indera ini, aku harus membuka hati agar hati membukakan mata dan mata membukakan pikiran serta pikiran membukakan telinga.Hal ini adalah yang paling berat dan manis untuk tiga tahun terakhir ini.Manis sekali.Semanis madu dan seindah pualam.
Setiap harinya aku merasa setahap lebih jauh dalam penaklukan terhadap diri sendiri.Suatu ketika aku pernah bertanya pada seorang Rainbow Radar.Ia tentu manusia.Pernah kutanya suatu hari kenapa ia membubuhi Rainbow sebagai nama pena sebuah jejaring sosial tapi ia menolak untuk memberi tahu sebenarnya.Ah..mungkin ia menyukai keindahan beragam warna^^
Sejatinya aku tak pernah tau setiap pasang otak manusia berfikir seperti apa.Aku mengklasifikasikan tiap manusia pun berbeda-beda.Setiap pribadi memiliki dunia nya masing-masing.Mereka berjalan seperti apa yang mereka ketahui.Melangkahkan kaki dan masuk kesebuah tempat.Selebih nya mereka akan menjadi manusia dalam tempurung.Mereka akan menjadi seperti apa yang mereka jalani.Jika ia seeorang tukang becak, ia akan bekerja keras menjadi tukang becak tapi bila ia berada dirumah, ia akan berubah 180 derajat menjadi ayah yang menyenangkan.Seperti gambaran manusia dalam tempurung.Hanya bahasaku saja.Karena setiap orang adalah manusia dalam tempurung.Pengaturan alami yang telah di catat Tuhan.
Aku mengenal orang karena apa yang ia kerjakan dalam hidupnya.Aku menghargai orang karena apa yang telah ia lakukan untuk hidup nya.Dan, aku sangat menghargai seseorang karena dunia yang ia jalani untuk menjadi diri apa adanya.Kadang aku berpikir tentang orang-orang yang sanggup mencapai puncak tertinggi dalam hihup nya yang singkat, mencari makna dalam tiap perjalanan menaklukan keangkuhan diri.Tak banyak orang seperti itu.Menyadari apa yang ia jalani adalah sebuah pencarian hakiki.Aku pernah bertanya pada Rainbow tentang penaklukan alam yang ia jalani ketika ia di selimuti hutan.Dia juga manusia dalam tempurung Tuhan.Ketika di alam ia bernama “Pecinta Alam” dan ketika belajar ia bernama “Mahasiswa”.Apa jawab nya? “Mungkin setiap orang akan mencari dan merasakan hal-hal yang berbeda tentunya.Sebelumnya saya ingin membahas tentang kata-kata “menaklukkan alam”. Sebenarnya apa iya kita bisa menaklukkan alam. Apa bisa kita menaklukkan tsunami yang begitu dahsyat? Adakah orang yang telah berhasil melakukannya? Adakah orang yang telah menaklukkan gunung-gunung ciptaan Allah yang begitu megah dan tegak berdiri, apakah gunung-gunung itu ingin menghancurkan kita sehingga kita perlu menaklukkannya? Saya rasa hal yang kita lakukan adalah bukan menaklukkan alam tapi bersahabat dengan alam. Bersahabatlah dengan alam maka alam pun akan bersahabat dengan kita. Jika kita tidak bersahabat dengan alam, misal dengan merusak alam, maka alam pun akan memberikan apa yang kita perlakukan terhadap mereka.Jika saya tidak salah dalam Al-Quran ada firman Allah yang isinya mengambarkan bahwasannya gunung-gunung berzikir dengan cara mereka sendiri yang mungkin tidak kita mengerti sama sekali. Saya rasa kita tidak menaklukkan alam tapi kita menaklukkan diri kita sendiri. Menaklukkan ketakutan kita, menaklukkan rasa hanya mementingkan diri sendiri saat melakukan perjalanan bersama tim, menaklukkan keangkuhan diri kita, bahwasanya kita itu kecil tidak ada apa-apanya dengan alam yang begitu besar.Kita menjelajah bukan untuk menjajah.Pergi dengan selamat dan pulang membawa manfaat.”
Aku ingin mengutip kata-kata seorang jurnalis dan penegak HAM dalam sebuah buku nya yang berjudul “The Journal of A Moslem Traveler”, Dr.Heru Susetyo.Seperti ini katanya,“Saya teringat jawaban George Mallory ketika di tanya alasan mengapa ia ingin mendaki Everest, dengan mudah ia menjawab. “Because it's there!”Benar juga, pikir saya dalam hati.Kalau saya naik gunung menembus gua, atau pun menjelajah hutan semata-mata karena gunung, gua, atau hutan itu berada di sana (ala George Mallory) lalu dimana nilai tambahnya selain capai dan kebanggaan pribadi belaka? Kalau ingin di analogikan dengan ibadah puasa, apabila kita berpuasa semata-mata untuk menahan lapar dan haus saja, tapi tak menghalangi kita dari perbuatan keji dan munkar, lalu buat apa puasa?Pergumulan spiritual tersebut akhirnya mengantarkan saya kepada pemahaman baru.Bahwa saya menjadi pecinta alam bukan semata-mata karena saya mencintai alam dan senang menjadi anak gunung, backpacker, traveler, apapun namanya.Bukan juga karena ingin menaklukan alam, karena alam tak mungkin kita taklukkan.Ungkapan yang lebih pas adalah menjadi pecinta alam dalam rangka semakin mencintai Sang Pencipta Alam.Dan alam tak mungkin di taklukkan, karena kitalah yang sejatinya menaklukkan diri sendiri.Manaklukkan kecapaian, kemalasan, kesakitan, kelelahan, kelaparan, kehausan, kelemahan, dan sebagainya.”
Sebenarnya aku hanya melihat dari satu sudut yang kecil sekali.Aku tidak melihat siapa dia.Apakah pecinta alam, backpacker, traveler, orang biasa, seseorang yang mengkonsepkan teori relativitas atau orang lain.Aku bahkan tidak melihat kemana tujuan mereka, apakah ke hutan, gunung atau berada pada benua.Aku hanya melihat dua hal saja.Penaklukkan diri, pencarian dan perjalanan.
Sekecil apapun perjalanan yang dilakukan, sebenarnya kita sudah meraup setahap demi setahap pendekatan dengan Tuhan yang satu, Allah.Tanpa di sadari ternyata ujung yang di cari tak lain adalah Rabb Yang Maha Sempurna.Dengan berjalan kita melihat, mendengar dan merasakan.Dengan melihat, mendengar dan merasakan kita dapat mencari.Dalam mencari, kita menaklukkan diri sendiri.Menaklukkan jiwa yang bahkan kita sendiri tak kenal.Tapi ketika kita telah mengenal diri sendiri, Pasti kita mengenal siapa Tuhan kita.Ah..aku teringat Hadits Nabi yang ini:
“Jika Aku telah mencintai nya,Aku adalah pendengaran nya,yang dengannya ia mendengar.Aku adalah matanya yang dengannya ia melihat.Aku adalah tangan nya yang dengannya ia berbuat.Aku adalah kaki nya yang dengannya ia berjalan.Jika dia meminta kepada Ku, pasti berikan.Jika dia minta perlindungan Ku ,pasti Aku lindungi”
Aku hanya berjalan dengan bermodal kan sepasang kaki.Menjejaki sudut-sudut kecil di kota ku Banda Aceh.Menilik tiap masyarakat dengan beban yang selalu dipikul.Melihat tumpahan keringat beberapa koki di beberapa rumah makan Aceh.Melihat seorang paruh baya yang tak memiliki kaki dan dengan semangat nya ia mendayung gerobak untuk mencari nafkah.Melihat muda-mudi terkekeh di lampu merah.Melihat orang-orang dalam labi-labi membuang sampah bekas air mineral ke jalan dengan seenak perut nya.Melihat seorang kaya membuang puntung rokok dibalik kaca hitam mobil nya.Melihat kernek labi-labi berebut penumpang.Melihat seorang penjaga toko meubel hanya terbengong menunggu pembeli, tertawa sendiri sambil memegang ponsel atau bahkan hanya mengisi TTS.Melihat ceria di balik duka anak-anak yang memegang kantung-kantung plastik di jalanan.Melihat anak-anak berteriak lepas sambil melepaskan tangan menaiki sepeda.Melihat orang-orang berlomba pulang kerumah karena hampir tiba waktu magrib.Melihat burung-burung berseliweran mengejar satu sama lain.Melihat syahdu nya Baiturrahman di malam hari.Melihat dan bergabung dengan orang-orang yang membaca shalawat atas Nabi.Menangis dan pulang membawa hati yang baru.
Dia, temanku Rainbow, juga berujar, “Di sana, di atas puncak saya melihat pemandangan kota Banda Aceh di malam hari indah sekali, benar-benar indah. Lampu-lampu yang menghiasi kota menjadikannya indah untuk dilihat dari puncak gunung, mungkin jika kita berada di kota, kita tidak bisa melihat keindahan kota kita. Mungkin ini juga salah satu yang kita dapatkan dari perjalanan kita, melihat dari tiap sisi atau posisi yang berbeda maka akan berbeda pula rasanya”.
Nanti.Suatu saat nanti Tuhan ku yang Mulia memperkenankan kaki ku beranjak kesana.Melihat kota ku dari sisi yang berbeda.Dan, aku berjanji, tak hanya kota indah ini tapi pada suatu masa di tempat yang berbeda pada belahan benua yang berbeda.
More...

