Author: Ummul Khairi
•Wednesday, July 07, 2010


Semalam..setelah shalat magrib,seperti biasa yang umat muslim lakukan,berdoa,tilawah Al-Quran,sedikit mengulang ayat-ayat yang ada di luar kepala dan muhasabah sebagai pengakuan makhluk Tuhan yang lemah.Tapi,semalam merupakan hal jarang terjadi.Bahkan bisa kuhitung dengan jari kapan momen-momen tersebut terjadi dalam petak kecil ukuran kamar pribadiku.Adalah seorang anak kecil bernama Lala menyambangi kamarku di akhir shalat magrib.Dia adikku yang paling kecil.Akhir-akhir ini,Alhamdulillah,dia membiasakan untuk shalat,minimal shalat magrib.Hal ini tidak akan pernah terjadi jika mama ku tidak pernah membelikannya mukena baru.Mukena itu sangat ia benggakan.Berulang kali ia memamerkannya padaku sembari mengatakan,"kak ai,adek ada mekena baru" bangganya sambil menunjuk mukena yang berwarna putih cerah itu.Aku melihat dengan seksama.Ternyata mukena itu sedikit longgar pada bagian dagunya,sehingga rambut nya yang coklat itu kelihatan jika ia menngunaknnya.Aku tersenyum geli.

Sebenarnya aku sedikit terusik,karena saat magrib adalah saat istirahat terbaikku dan merupakan waktu yang paling aku senangi untuk berduaan dengan Rabb ku.Tapi kali ini kupikir,yasudahlah tidak apa-apa.Setidaknya aku bisa mendendangkan Asmaul Husna bersama gadis kecil berusia 8 tahun itu.Mama meminta secara special agar aku mengajarinya mengaji Iqra.Selama ini Lala mengaji Iqra dengan mama.Denganku hanya sesekali.Bukan..bukan karena aku tak pandai mengajarkan Iqra,bukan itu.Bukan juga aku tak bisa Tajwid,juga bukan karena itu.Bukan pula karena aku malas.Tapi hal ini disebabkan kepulanganku kerumah yang hampir selesai waktu magrib sehingga membuat aku tak sempat mengajarnya Iqra.

Lala,sejatinya bukan anak yang malas disuruh mengaji.Ia hanya malas seperti anak-anak seumurannya malas.Malas memebereskan mainannnya sendiri,malas merapikan buku-buku sekolahnya,malas mengambil handuk untuk mandi dan terkadang malas makan.Semalam ia juga dengan senang hati kuajarkan Iqra.Waktu kutanya,"adek udah Iqra berapa?",dengan bangga ia balas "Iqra 6".Wow..Kupikir ia masih Iqra 4 atau mungkin 5,tapi setelah mendengar ucapan Pe-De nya,aku bangga.

Nah,dimulailah mengaji perbaris.Baris pertama,mulus.Baris kedua,masih mulus.Baris ketiga,sudah agak karuan makhrajnya.Baris keempat,belepotan panjang pendeknya.Baris kelima,sudah sangat tak karuan panjang pendeknya.Aku pun mengerang dan muka ku sudah tak berbentuk.Ingin kumarahi rasanya tak tega dan aku bukan tipe orang pemarah.Kuhirup napas dalam-dalam,kupandangi dia lamat-lamat meski dengan mimik serius dan aku mulai sedikit menceramahi nya dengan bahasa seilmiah mungkin."adek..sekarang adek udah Iqra berapa?",Iqra 6"jawabnya malas.Sepertinya ia sudah menerka apa yang ingin kusampaikan....to be continou

This entry was posted on Wednesday, July 07, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 comments:

On July 9, 2010 at 6:27 PM , Arif Munawwar Ahadi said...

Lho lho kok ceritanya di ulangnya ya ? :D

 
On July 12, 2010 at 12:35 PM , ai said... said...

huaaa....kesalahan ternyata bukan karena buru2(eh,tapi iya juga) tapi kesalahan diriku ngutaj-ngatik code html nya,makanya jadi double...PR lagi buat diriku