Author: Ummul Khairi
•Friday, January 06, 2012



Dulu saya ingin sekali menjadi arsitek. Karena merangkum kembali sebuah objek dalam kanvas adalah salah satu cara mengabadikannya. Waktu bisa saja berputar, tapi menuangkan kembali dalam replika merupakan cara tangan menggantikan kelemahan kepala akan lupa. Beberapa tahun lalu tidak akan sama dengan sekarang. Kadang, bukan manusia yang membuatnya tidak sama, tapi takdir yang menuntun kita agar berjalan pada sisi yang telah ditulis Tuhan, sekalipun kita menolak kehendakNya. Sekarang, bukan saya yang tidak berusaha untuk menjadi seperti keinginan dulu, tapi sudah kehendak Tuhan yang membuat saya bergelut pada analisa angka setiap harinya. Kadang, ketika mengabadikan keadaan dengan menjalaninya sebagai rutinitas, kita harus menyadari, apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kebutuhan, juga kebaikan.

Pada satu masa dalam hidup. Ada bagian dimana kita harus melupakan. Melupakan apa yang pernah kita impikan. Mungkin pada awalnya banyak gerutuan tak setuju. Menjalani hari-hari dengan setengah hati. Walau nantinya, kita tau kebutuhan itu pasti diselingi dengan kebaikan yang dijanji Tuhan. Tidak singkat memang. Tapi nanti, suatu masa, kita pasti mengerti.

Sama seperti anak kecil merengek minta dibelikan mainan boneka. Keadaan yang menuntun ia minta dibelikan mainan dengan melihat teman-temannya bermain boneka. Selang sehari selanjutnya, teman-teman bermain kelereng, maka hati menuntun si anak untuk kembali merengek minta dibelikan kelereng. Mereka, anak-anak, selalu lupa dengan hari yang lalu. Mereka hanya senang pada sesaat. Saat apa yang mereka lihat, saat itulah yang paling berharga. Selebihnya tinggal kenangan. Mereka pun bahagia. Pada saatnya, mereka akan melupakan sesuatu yang pantas menjadi kenangan. Dan, kenangan tidak selamanya menyakitkan.

Lucunya, manusia dewasa tidak seperti anak-anak. Apa yang pernah singgah di hidup mereka tidak selamanya bisa dilepas sepenuhnya. Tidak bisa dilupakan sepenuhnya. Memang kenangan tidak selamanya menyakitkan, pun tidak selamanya menyenangkan. Saat yang tidak menyenangkan itu menggerus persendian hidup dan berbentur dengan hati, manusia manapun di dunia tidak akan melupakan begitu saja. Melupakan sama seperti membohongi hati. Melupakan sama seperti melepas tapi masih bisa melihat kembali. Melupakan sama seperti dosa yang dilakukan kesekian kali karena pernah melakukan untuk pertama kali. Melupakan sama seperti menertawai kesedihan sendiri. Melupakan apapun yang tidak menyenangkan sulit sekali, karena sekecil apapun luka yang tergores pasti meninggalkan jejak.

Lalu, melupakan itu ternyata anugerah dari Tuhan, bukan? Sepatutnya disyukuri, bukan? Usaha sekecil apapun untuk melupakan sesuatu yang pernah melukai hati, tetap akan dinilai Tuhan. Inilah yang abadi. Inilah yang akan ditulis Tuhan di kanvas. Replika setiap kejadian dalam hidup. Apa yang tidak bisa ditawar kepala akan lupa untuk terus diingat oleh sebuah kenangan.

This entry was posted on Friday, January 06, 2012 and is filed under , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 comments:

On January 20, 2012 at 7:16 PM , Nick Salsabiila said...

Huaaaaa...akhirnya blogmu di buka buat umum lagi Ai...aku selalu kangen sama bahasamu yg lugas dan tepat sasaran. Untuk apa kamu menghilang sejanak? Mengumpulkan semua rekam harian dan menjadikannya satu untuk kau curahkan begitu saja kah? Ah, itu terserah kamu sebenernya Ai...
tapi meski kita ga dekat dan ga begitu saja saling mengenal, tetap saja aku merindukanmu...^_^
Welcome ...

 
On January 24, 2012 at 10:16 PM , Ummul Khairi said...

errr...untuk apa ya?hehe..sebenarnya gak bermaksud menghilang nick, cuma lagi mengontrol diri aja *halah!

sama nick, rindu juga. InsyAllah akan sering blogwalking lagi deh^^