Author: Ummul Khairi
•Thursday, April 14, 2011

Saya harus bilang seperti ini, i'm in the super highest mood right now!
Why? Hm, jujur, saya sedang tidak ingin berspekulasi dengan keadaan yang melilit seperti sekarang. Sudah seminggu lebih, harus selalu berhubungan dengan peta Kota Banda Aceh. Ini hasil kerja praktik selama hampir 3 bulan (terhitung Februari) di Lab. GIS & Remote Sensing, di Integreated Universitas Syiah Kuala. Selama bulan februari, saya masih santai mengerjakan project, dan setelahnya saya terbawa pada kondisi "acuh" dengan semua kerjaan. Akhirnya tidak satupun selesai!

Awalnya pembimbing lapangan saya memberikan project yang melahirkan ide untuk saya teruskan di PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa). Dia menawarkan project yang berhubungan dengan model-model 2D pada peta kemudian di rendering untuk dijadikan model-model 3D. Sebagai informasi, objek 2D di dalam satu kecamatan saja ada 7000 lebih. Itu hanya bangunannya saja. Belum lagi objek pohon, jalan, sungai, vegetasi etc. Lha? Bagaimana saya harus men-digitasi semua objek jika Kota Banda Aceh memiliki lebih dari 5 kecamatan? Sila hitung sendiri berapa banyak model-model 2D yang harus saya rendering ke dalam model-model 3D. Karena tidak memungkinkan model-model tersebut selesai dalam deadline waktu kerja praktik, akhirnya scoupe peta di perkecil untuk satu kecamatan saja. Fiuh..
Dan, karya tulis ilmiah (untuk PKM) terpaksa harus ganti judul.

Kendala saya cuma satu, saya belum mengerti cara mengubah model-model tersebut kedalam 3D. Beberapa senior sudah sempat saya tanyakan, seperti kakak yang baik ini. Tapi mereka juga kurang paham. Lucunya, pembimbing lapangan saya juga belum tahu bagaimana rendering 2D ke dalam 3D. Beberapa minggu saya sempat tidak berani menunjukkan batang hidung ke Lab. Saya tidak pernah berani memberikan report tanpa progress apapun. Saya memang sudah membaca literatur tapi entahlah, otak saya bebal. Akhirnya saya berpikir keadaan sekarat sekalipun harus diberi tahu. Harus terbuka dan transparan. Karena siapapun juga tidak pernah tahu keadaan seseorang jika orang tersebut tidak pernah memberi tahu. Well, setelah saya jujur, ada perasaan lega yang membuncah, dan Alhamdullillah pembimbing saya sangat baik. Ia mengerti keadaan saya.

Saya ingat sekali ketika kami-saya dan pembimbing-belajar bersama-sama untuk memecahkan masalah rendering model tersebut. Entah karena waktu yang terlalu singkat, waktu itu kami juga belum bisa memecahkan persoalan tersebut. Padahal banyak sekali literatur di depan mata. Hingga keesokan harinya, pembimbing bisa dengan cepat memecahkan persoalan tersebut. Ternyata caranya sangat gampang. Dan, memang ketika memecahkan sebuah masalah harus dengan kepala dingin, sekalipun masalah sederhana jika otak tidak sejalan dengan hati juga bisa semraut. Dan, the time is goes on.

Saya harus selalu stay di Lab. Menunjukan progress, membahas kendala dan konsultasi. Saya jadi teringat tempo hari seusai shalat dhuhur di mushalla dekat kampus, seorang senior saya mengkerutkan kening membaca agenda harian saya yang tertinggal di mushala sebelum sempat saya ambil kembali. Dari catatan saya yang ia baca, ia menyimpulkan kalau saya orang yang melankolis. Semua harus teratur, terurut dan sistematis, sehingga sering kali terkesan perfeksionis. Jika ada satu hal saja yang rusak dari sistem yang telah dibuat, pasti akan merusak seluruh sistem. Untuk mengerjakan satu hal harus fokus terhadap kerjaan tersebut dan tidak bisa mengerjakan dua hal sekaligus dalam satu waktu bersamaan. Setelah senior saya berkata seperti itu, rasanya saya ingin memeluknya dan mengatakan "semua yang kakak bilang tidak ada kecacatan!"

Saat ini, saya tidak sedang ingin merusak mood "kumat rajin" yang bertengger. Biarkan sebentar ia bersarang agar saya paham untuk menyelesaikan prioritas pada batas waktu yang telah ditentukan. Saya takut merusak mood itu lagi dengan membuang waktu percuma. Doakan agar semua pekerjaan saya cepat selesai, kawan. More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, April 05, 2011


It's not about how long your hair. It's about the simpleness dreaming coming true in your life. It's not about how many lantern flying on the night sky and it's not something hard for reach it. No, not at all. It's something different way. Even i can't see on the dark, but i can see your coming with the simple happiness you'll share for me, for us then.

What if it's not everything i dream that would be? More...

So?
Author: Ummul Khairi
•Friday, April 01, 2011

Tiga belas maret lalu, Andrea Hirata kembali menemui public setelah hiatus 2 tahun lamanya. Sedikit excited juga ketika ia memilih Aceh sebagai permulaan pemunculannya kembali. Fakultas FKIP Unsyiah menjadi sasaran. Saya tak pikir panjang. Saya harus ikut Meet And Greet ini, whatever it takes! Peserta yang ikut juga melebihi kapasitas kursi yang tersedia, hingga membuat panitia terpaksa menolak antrian yang membludak. Saya termasuk beruntung, karena jika terlambat sedikit saja, sudah bisa dipastikan saya tidak dapat mengikuti acara tersebut. Beberapa orang penggemar Andrea banyak yang memuji dan mengeluh tentang karya-karyanya. Pertanyaan klasik yang terus ditanyakan padanya tak lain tentang ke-orisinilan tokoh-tokoh dalam tetralogi Laskar Pelangi juga dwilogi Padang Bulan. Saya yakin, si Ikal sedikit enggan menjawab pertanyaan dengan frekuensi berkala seperti ini. Pertama, terlihat dari jawabannya. “I have no obligation to tell you this is truth or not. Itulah kenapa saya selalu membuat awalan pengantar di cover depan “Sebuah Novel…” dan saya membutuhkan riset 4 tahun untuk sebuah kultur budaya dengan lebih dari 200 responden. Lalu, apakah kalian masih mempertanyakan ke-orisinilan dari karya-karya saya?”.


Awalnya saya juga ikut mempertanyakan tentang setiap kalimat yang ia torehkan dalam karya-karyanya dan benar-benar terpukau tentang science serta hitung-hitungan yang di akumulasikan dalam konsep-konsep sederhana sebuah cerita. Pembaca benar-benar diajak dalam dimensi fiksi-sains, tapi tetap mengedepankan alur yang humanis. Alasan kedua, dari matanya. Mata seseorang tidak pernah berbohong, kawan.

Seminggu setelah acara tersebut berlangsung, tepat tanggal 26 maret, Telkomsel Kompasiana Blogshop mengadakan workshop kepenulisan. Setiap daerah akan mendapat giliran tur untuk mengikuti workshop ini secara gratis. Sebenarnya, acara-acara seperti ini akan membahas tema yang sama, judul serta teknik-teknik kepenulisan yang tidak jauh berbeda dari yang sudah pernah saya dapatkan. Dari awal niat saya mengikuti acara ini hanya melengkapi pengetahuan yang sudah ada dan menjaga semangat untuk tetap menulis. Bonusnya, saya bisa bertemu dengan beberapa orang yang tulisannya sering saya baca di media lokal dan nasional, juga penulis buku-buku antologi. Setidaknya saya sudah pernah bertemu langsung dengan beberapa orang yang hanya saya kenal di blog dan jejaring sosial, seperti yang ini. Mata saya benar-benar terbuka pada sesi kedua workshop yang diadakan di The Pade hotel ini. Sebenarnya orang-orang yang menulis di media apapun adalah orang yang biasa-biasa saja, bukan? Seorang yang tidak dianggap sekalipun oleh dunia bisa menjadi orang hebat dalam sekejab mata jika ia bisa berbagi cerita dan menulisakan cerita tersebut untuk banyak orang.

Saat itu saya kembali berpikir. Apakah saya harus tetap menulis? Kenapa saya harus menulis secara berkala? Mengapa harus di media massa? Atau, kenapa saya nge-blog? Wacana seperti ini sudah lama menguap di kepala namun belum disalurkan dengan baik. Syukur saya masih ingat. Kawan, kadang dalam hidup kita selalu bertanya mengapa dan kenapa tanpa pernah tau jawaban tepatnya. Sesekali kita mendapat jawaban untuk sebuah alasan namun tidak sedikit pula semua pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban. Setidaknya kita pernah menanyakan tentang kenisbian suatu hal. Semuanya hanya untuk membuat kerangka berpikir kita dapat me-manage dengan baik setiap input dan output yang bersarang di kepala.

Saya yakin, setiap orang punya jawaban masing-masing kenapa harus menulis dan menyajikannya untuk dibaca oleh orang banyak. Sebagian lagi berpendapat, apa yang harus dibagi adalah sesuatu yang layak untuk diceritakan. Atau, banyak juga yang berpendapat untuk menuliskan sesuatu di media massa sekalipun isinya sampah! Semua punya jawaban dan alasan masing-masing.

Kenapa nge-blog? Saya juga tak begitu paham kenapa harus menulis sesuatu untuk disajikan dalam nampan indah bernama internet. Tidak muluk-muluk, pertama saya ingin konsisten dalam menulis. Bagaimana cara mendapatkan kekonsistenan itu? Saya butuh feel untuk merasakan kekonsistenan dalam tiap jemari ketika bercerita. Apakah saya sudah mendapatkannya? Ya (semoga) sudah. Buktinya saya tidak mau meninggalkan blog ini. Itulah mengapa saya pernah mengatakan izin sebentar untuk berjauhan dengan blog. Kenapa? Karena saya tidak ingin berpisah dengannya. Saya harus jujur, kegiatan menulis berkala ini sudah mendapat tempat dalam hidup. Dan, sebenarnya ketika kita minta izin untuk hiatus sebentar, sebenarnya kita meminta izin pada diri sendiri untuk sebentar saja berjauhan dari rutinitas ini dan berjanji untuk kembali pada masa yang tepat. See? Simple kan?

Jika ada yang menghargai setiap tulisan yang saya tulis, saya sangat menaruh apresiasi besar pada orang-orang tersebut. Kawan, apa yang lebih indah selain dihargai dan mendapatkan tempat tersendiri melalui tulisan-tulisan kita di hati banyak orang. Jika ada orang-orang yang ikut terpengaruh dan bisa mengubah satu episode dalam kehidupan seseorang, saya melangitkan syukur pada Tuhan Segala Kuasa. Itulah mengapa setiap tulisan yang kita sajikan pada massa tidak boleh asal. Karena kita tidak pernah tau, pada bagian kalimat mana orang-orang di sekitar ikut terpengaruh.

Satu hal lagi. Kenapa harus menulis untuk membaginya pada orang lain? Untuk sendiri saja belum cukup! Coba baca sejarah tentang berdirinya bangsa Yahudi. Ada satu nama yang paling berpengaruh untuk mendirikan sistem pemerintahan tersebut di tahun 1901 yaitu Theodor Herzl. Apa yang ia lakukan? Ia hanya menulis sebuah buku. Buku yang berjudul Der Judenstaat menjadikan Herzl sebagai pemimpin kongres zionis dunia pertama untuk selanjutnya mendirikan kekuasaan atas konsep zionis. Sekarang coba lihat, betapa kuat pengaruh Yahudi untuk dunia, hanya dari pemikiran seseorang yang ia tuangkan dalam sebuah buku. Bayangkan jika hanya pemikiran saja yang tidak pernah dipublikasikan, mungkin akan sama nasibnya seperti seorang sekaliber Leonardo Da Vinci. Mungkin kita lebih mengenal Da Vinci dengan lukisan monalisanya namun sebenarnya, ada banyak pemikiran-pemikiran bahkan sketsa-sketsa kapal-kapal dan pesawat yang ia rancang sendiri tapi tidak pernah ia coba realisasikan dalam bentuk nyata. Hanya berupa sketsa dan pemikiran dalam wadah kertas. Itulah mengapa Michael Hart tidak menempatkan Da Vinci dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia. Begitu juga dengan Al-Quran. Mungkin jika Usman Ibn Affan tidak pernah mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menyatukan kumpulan Al-Quran dalam bentuk mushaf, mungkin umat muslim tidak bisa membaca Al-Quran hingga hari ini. Usman tidak hanya merealisasikan pemikiran dengan idenya tapi juga menyatukannya dalam mushaf agar umat muslim lebih mudah membaca dan menghafalnya. Karena Usman tau, kepala seseorang tidak dapat menampung segala hal. Kepala manusia terbatas. Meskipun ada banyak penghafal Al-Quran tapi pada waktunya mereka juga kembali pada Tuhan.

Kedua, saya ingin setiap pemikiran yang saya tulis, bisa dibaca oleh anak-anak saya kelak atau bahkan saat mereka memiliki cucu dan cicit. Ide bisa hilang jika tidak disalurkan. Buku bisa rusak dimakan rayap. Seseorang bisa lupa dengan orang lain, tapi sebuah tulisan tidak akan lekang dimakan usia. Sekalipun kita sudah mati. Saya, kita, kalian dan kamu hanyalah orang yang biasa, namun bisa menjadi luar biasa dengan sedikit saja rasa berbagi. Mungkin saya tidak punya pengaruh apa-apa untuk dunia tapi dengan sebuah tulisan, saya menjadi bagian dari dunia untuk terus hidup. So? Tidak ada yang harus kita tunggu untuk memulai sesuatu selain mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang!*


*kalimat penggugah milik Aa' Gym
More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, March 22, 2011

Adalah ayah, yang bangun sebelum subuh untuk menjadi imam di masjid dekat rumah kami. Ayah, satu-satunya orang yang bersikeras menamai "ibu kebaikan" dalam ejaan Akta kelahiran, ijazah, KTP dan tanda pengenal lain milikku. Adalah ayah, yang keras terhadap anak-anaknya dalam urusan keyakinan beragama dan penerapannya. Kalau orang bilang ayah no 2 setelah ibu, aku tidak mau ayah ditempatkan pada nomor apapun. Ayah bukan level yang harus terus berada di puncak sekalipun di urutkan dalam bilangan 1, 2 dan 3 yang kalian kenal.

Ayah adalah lelaki satu-satunya yang memikul beban dalam keluarga, masyarakat juga keluarga kecilnya. Kawan, aku bisa mendiskripsikan ayah satu-satu. Kau pun juga. Punya deskripsi masing-masing untuk lelaki bernama ayah. Tapi, apa kita sudah mengenalnya utuh? Atau setidaknya pernahkah secara khusus menanyakan, apa yang ia inginkan agar punya bahagia?

Aku punya banyak buku tentang kenapa wanita seperti ini dan kenapa lelaki seperti itu, tentang perbedaan komunikasi wanita-lelaki dengan penulis ternama yang hebat-hebat. Tapi aku lupa satu nama, ayah. Ayah bisa mengenalku utuh dari raut muka dan mata. Hanya sekali baca dan aku telak, "iya ayah, aku seperti ini".

Ayah, bukan lelaki yang menghabiskan banyak waktu dirumah. Jika dirumah, ia membaca kitab-kitab huruf jawinya atau mengajarkan kami-aku dan adik lelakiku- islam secara ilmu fiqh. Meski kerap mata tak mau kompromi jika ayah membacakan kami isi di dalam kitabnya, ia hanya punya satu keinginan, bahwa jika ia bersaksi meghadap Tuhan, ia akan menyebut nama kami sekeluarga sebagai tanggungan amanahnya dalam memberikan ilmu.

Malam ini, ayah bercerita tentang kematian. Katanya seseorang harus mengingat mati dalam hidupnya 20 kali dalam sehari. Karena suatu saat manusia akan mati. Mati seperti kekasih yang tak lekang dimakan usia, kekasih yang pasti akan hadir, kekasih yang akan kembali pagi-siang-malam. Mati tak akan lari, meski kita tepis, meski kita hindari. Dan, untuk apa kita hidup? Tentu, untuk mempersiapkan kematian dengan pundi-pundi tabungan amal selama hidup.

Ayah, anakmu tak mengerti kenapa ia harus mencintaimu. Bagaimana mencintamu dengan caranya sendiri. Ayah, terkadang dalam hidup kita harus tau tentang sebuah alasan menjalani dan merasakan sesuatu, semua hanya untuk ketika kita keluar dari garis tersebut, kita kembali lagi dengan alasan semula. Namun ayah, terkadang dalam hidup kita tak perlu tau tentang sebuah alasan mencintai, karena nanti Tuhan akan menyisipkan alasan tersebut dengan bahasa, bukan dengan kata-kata. Maka, jangan tanya alasan kenapa aku mencintaimu. Aku bebal untuk urusan remeh-temeh itu dan tak mampu merangkainya untukmu. Aku ingin ayah tau, bahwa terkadang cinta tak perlu di ucap untuk membakukan rasa. Cukup ayah tau, aku punya segenap cinta untuk ayah yang tak berbatas. More...

Author: Ummul Khairi
•Thursday, March 17, 2011

Akhir-akhir ini, tepatnya menjelang semester akhir kuliah, teman-teman sering membicarakan tentang pernikahan. Pertanyaan mereka selalu standar, "Kapan nikah?" dan saya selalu menjawab dengan masih menggunakan idealisme mahasiswa, "Lulus kuliah dulu, kerja, baru ntar ambil gelar Master bareng suami". Selesai. Intinya saya belum siap untuk menikah. Namun, pada next level of life, mau tidak mau seseorang harus memikirkan hal ini juga. Cepat atau lambat siklus hidup harus terus berputar.

Mungkin banyak orang merasa ia sudah pantas atau layak berumah tangga jika dilihat dari kemapanan. Tapi bagaimana dengan prinsip hidup yang akan dibangun kelak? Atau, bagaimana seharusnya membentuk karakter pemikiran ketika akan dan setelah menikah? Dalam buku karya Anis Matta ini saya tulis ulang untuk saya sendiri dan untuk semua orang yang masih bertanya-tanya, sudahkah saya siap, sesiap apakah saya, dan, apakah ini disebut siap menikah atau ngebet. Dalam buku tersebut seluruh aspek teoritis dibahas dalam Islam. Semoga bermanfaat.


Minimal ada empat hal yang harus dimiliki oleh seseorang ketika ia ingin memasuki gerbang pernikahan.
Pertama: kesiapan pemikiran.
Kedua: kesiapan psikologis.
Ketiga: persiapan fisik.
Keempat: persiapan finansial.
-------------------------------------------------------------------------------------
1. Kesiapan Pemikiran
Yang dimaksud dengan kesiapan pemikiran ialah:
a. Memiliki kematangan visi keislaman.
b. Memiliki kematangan visi kepribadian.

1.a. Kematangan visi keislaman
Orang yang mempunyai kematangan visi keislaman berarti memiliki dasar-dasar pemikiran yang jelas tentang identitas ideologinya. Ketika seorang muslim ingin menikah, ia harus mengetahui dulu bahwa ia muslim, ia juga harus mengetahui mengapa ia menjadi muslim. Di dalam hidup ini, kita akan sesekali menghadapi banyak alternatif. Saat itu kita banyak menghadapi masalah yang pemecahannya sangat ditentukan oleh kematangan pengetahuan tentang mengapa kita menjadi muslim, sehingga kita mampu dihadapkan pada berbagai pilihan dalam kehidupan riil. Bila tidak, kita tak akan mampu mengambil satu keputusan yang tepat, karena dasar afiliasinya (dasar bergabungnya dengan islam) tidak ilmiah, tetapi hanya bersifat kultural. Itu berarti komitmen kita dengan islam tidak kuat.

1.b. Kematangan visi kepribadian
Kepribadian seseorang sering tidak kuat bertahan diatas status keberagaman yang terlalu kuat yang tidak dianjurkan oleh islam atau dengan kata lain, suatu pemahaman islam diserap dengan cara yang tidak bertahap. Misal tentang seorang wanita yang baru mempelajari islam kemudian berjilbab, atau tentang seorang laki-laki yang mempelajari islam ketika mahasiswa. Hal ini berarti, mereka ingin mengubah satu standar keberagaman yang selama ini tidak ada dalam dirinya. Apa yang ia lakukan? Ia ber-qiyamul lail. Setelah itu, ia membaca Al-Quran dengan jumlah yang sangat banyak. Mungkin juga terlibat dalam dakwah dengan semangat yang berapi-api. Hujan juga hadir ke pengajian. Sakit juga jalan.

Maksudnya adalah, orang yang sudah menikah ataupun akan menikah juga harus memiliki konsep diri yang jelas. Mengetahui apa kelemahan dan kekuatannya, apa ancaman yang bisa meruntuhkan dirinya. Sehingga pemahaman yang benar tentang diri sendiri akan melahirkan penerimaan diri yang baik. Membuat kita menerima diri secara apa adanya. Tidak menganggap diri kita melebihi kapasitasnya atau kurang dari kapasitasnya. Sikap realistis terhadap diri sendiri hanya bisa dibangun kalau kita memiliki ilmu pengetahuan yang benar tentang diri kita.

Sebab, dua hambatan terbesar dalam berhubungan dengan orang lain adalah:
Pertama: kita tidak memahami orang lain dengan benar.
Kedua: kita tidak mampu memahami diri kita sendiri dengan benar.

Itulah sebabnya banyak orang yang menikah tanpa memiliki konsep diri yang jelas. Apa yang mereka lakukan hanyalah mencari pasangan yang paling baik. Untuk apa? Karena mereka perlu menutupi kekurangannya. Carilah pasangan yang tepat. Kita tidak sedang berpikir mencari istri atau suami unggul. Carilah pasangan yang tepat dengan bingkai kita, dengan kepribadian kita. Sebab ternyata tidak semua orang cerdas membutuhkan orang cerdas lainnya, tidak semua orang gagah membutuhkan wanita yang cantik. Ada pula orang yang sangat dewasa membutuhkan pasangan yang sangat kekanak-kanakan. Sekali lagi, konsep diri yang jelas membuat kita mengerti siapa yang kita butuhkan, bukan istri atau suami yang unggul tapi istri atau suami yang tepat.

2. Kesiapan Psikologis
Orang dikatakan memiliki kepribadian yang matang bila ia mampu mentransfer semua visinya menjadi karakter. Banyak orang yang kepribadiannya mengalami dualisme. Artinya di satu sisi ia mempunyai pemahaman yang baik, tetapi ia tidak mampu mentransfer pemahamannya itu menjadi karakter. Ia mengalami dualisme dalam kepribadian, namun ada pula yang tidak memiliki visi dan tidak punya karakter.

Kesiapan psikologis yang saya maksud ialah kematangan tertentu secara psikis untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup. Untuk menghadapi semua tanggung jawab, untuk menghadapi masa-masa kemandirian. Apa yang pertama sekali harus dipikirkan ketika menikah? Ada sejumlah orang yang akan berlindung pada anda. Situasi jiwa antara sebelum dan sesudah menikah akan sangat berbeda. Kalau kita membagi waktu, kita dapat membaginya menajdi tiga. Ada waktu individu, sosial dan sejarah. Ada waktu untuk istri atau suami, waktu untuk anak-anak dan masyarakat. Waktu kita tidak lagi menjadi sepenuhnya milik kita.

Bahkan ada saat-saat tertentu dimana kita perlu tidak melihat istri, perlu tidak melihat anak-anak. Demikian juga istri, supaya ia mendapatkan privasinya kembali untuk membangun kesegaran ulang. Dengan demikian kesiapan psikologis seperti ini perlu diupayakan jauh sebelum menikah. Terutama keseimbangan psikologis pada keseimbangan ambivalensi emosi di dalam jiwa kita.

3. Kematangan Fisik
Islam sangat memperhatikan kematangan fisik. Ada beberapa hal terkait dengan fisik, yang menjadi persyaratan mutlak dalam sebuah perkawinan. Misalnya seorang laki-laki atau wanita yakin bahwa alat-alat reproduksinya baik sebelum menikah. Karena salah satu penyebab perceraian dalam islam ialah apabila alat-alat reproduksi tidak berfungsi dengan baik. Kita harus meyakini bahwa fisik kita sudah siap untuk menikah. Itulah sebabnya nikah terlalu dini juga tidak terlalu bagus. Walaupun kematangan fisik berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain.

Di Barat, orang yang melakukan hubungan intim terlalu muda, pada umumnya setelah diatas usia tiga puluhan akan mengalami hambatan-hambatan fisik. Meskipun, sekali lagi, tidak ada kriteria kapan seseorang matang secara fisik. Ketika sudah memilih calon, pada saat proses perkenalan, usahakan untuk mengetahui juga masalah fisiknya. Lalu kalau bisa, bukan hanya fisik si calon, tapi juga keturunannya. Jangan sampai ada yang anda ketahui, namun di kemudian hari anda tidak bisa menerimanya. Ini tidak boleh.

4. Kematangan Finansial
Saya sengaja memasukkan faktor finansial. Perkawinan juga kerja ekonomi, bukan hanya sekedar kerja cinta. Aspek ekonomi sangat terlibat. Tidak berarti anda harus punya rumah sebelum menikah, punya kerja tetap, atau punya semuanya sebelum menikah. Seorang wanita juga perlu menanyakan kepada calon suaminya tentang masalah ini. Tidak berarti bahwa wanita itu matrealistis. Tidak demikian. Seorang wanita perlu yakin bahwa seorang suami yang mengatakan i love you seribu kali sehari juga bisa memberikan susu bagi anak-anaknya. Paling bagus, beri susu buat anak-anak, nafkah buat istri, lalu katakan i love you. Anda bisa memberikan susu , tapi tidak mengatakan i love you itu juga salah. Dua-duanya perlu.

Kita harus melihat sesuatu dengan rasional. Unsur romantika sangat penting karena akan membuat hidup jadi indah. Romantika yang bagus dibangun atas realisme. Realisme tapi juga romantis. Realistis tapi tidak romantis jadi kaku. Banyak wanita menuntut perceraian dari suaminya bukan karena suaminya tidak baik atau tidak memenuhi kewajiban. Suami sangat baik. Hanya satu masalah. Dia tidak pernah mengatakan, “Aku cinta kepadamu”. Saya juga sering mendengar, banyak wanita minta cerai karena suami tidak bisa memberikan nafkah.

*Berdasarkan buku Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, milik H.M. Anis Matta, Lc
More...

Author: Ummul Khairi
•Friday, March 11, 2011



Kau dan hujan sama-sama merangkak menyusuri koridor langit
Kau dan hujan sama-sama melebat bersuara tajam pada atap tetangga
Kau dan hujan bersama turun selepas jingga
Setiap waktu meluruh penat ketika dunia meminta abdi,
Kau malah menahan langkahku untuk tinggal sejenak
Untuk sejenak saja selama 30 menit menemani kekosongan
Setelah itu, kita akan akan berjalan masing-masing
Mengikuti bayangan melaju ke utara
Hingga lingkaran waktu kembali berputar 360 derajat More...

Author: Ummul Khairi
•Tuesday, March 08, 2011


Coba katakan, apa perbedaan kedua kata benda di atas? Baik. Mari saya rujuk ke kamus oxford.

Pets:1.animal, eg a cat or dog, that you keep at home as a companion.
Animal: 1.living creature that can feel and move, 2. any such creature other than a human being

Saya dikontrak oleh Aceh Institut mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak kelas 4 sampai 6 SD. Setiap pengajar dibekali expected outputs atau semacam silabus agar terarah dengan penyerataan bahasan/outline yang diajarkan. Waktu itu memasuki pertemuan ke-7 dengan siswa-siswa ceriwis yang terus bertambah setiap hari. Padahal dalam absensi sudah hampir 30 nama yang tertera dan membuat saya kewalahan. Bukan karena terlalu lelah perjalanan dari kampus ke yayasan tempat mengajar, bukan karena sarana serta fasilitas belajar yang sederhana, tapi karena separuh suara saya hilang dimakan keributan dalam kelas. At least, otak saya masih normal dengan menjudge mereka "their just the kids".

Pertemuan ke-7 tidak membahas sepenuhnya tentang pets dan animals. Expected outputs hari itu tentang: Students are able to say and memorise many words of the following Vocabulary categories. Jauh-jauh hari koordinator program dari Aceh Institut sudah berpesan, penyampaian materi tidak usah terlalu kaku, kami bisa menyampaikan di luar konteks materi asal outlinenya tetap terjaga. Lagi pula, saya tahu berhadapan dengan siapa. Anak-anak!

Ya, jelas mereka berbeda dengan anak-anak SMP/SMA dan mahasiswa yang pernah saya ajar. Mereka -anak-anak- punya dunia sendiri. Punya bahasa yang bisa dimengerti oleh mereka sendiri. Dan, mereka tidak palsu, belum tergerus arus dunia, sehingga kadang pikiran mereka yang sederhana sering disalahartikan atau dianggap terlalu ribut untuk hal-hal sederhana.

Saya memutar otak. Bagaimana mereka bisa membedakan antara dua kata benda tersebut, pets dan animals tanpa harus terus menerus menghafal harfiah artinya. Aha! Gambar. Ya, beberapa manusia diciptakan dengan berbagai kecerdasan. Salah satunya kecerdasan visual. Banyak kajian tentang pembelajaran mengatakan bahwa media interaktif seperti multimedia sangat membantu proses pembelajaran. Apalagi anak-anak, mereka lebih bisa mengingat gambar dari pada text dan suara. Apalagi media gambarnya dapat digabungkan dengan audio. Itulah mengapa sinetron laku keras di indonesia, selain terlalu mendramatisir keadaan, media yang digunakan adalah audio-visual.

Dulu, saya senang menggambar. Itulah kenapa saya memilih arsitek sebagai pilihan pertama sewaktu SPMB 2007 silam. Namun, sekarang otak saya terlalu matematis. Apapun dibuat dalam interval. Bagian sederhanapun terlalu dirumit-rumitkan. Akhirnya, pada pertemuan ke-7, saya menggambar diagram venn. Gambar saya kaku. Hanya berupa lingkaran besar yang di dalamnya terdapat sub-lingkaran yang lebih kecil. Lingkaran besar yang katanya semesta itu saya tulisakan besar-besar A.N.I.M.A.L.S dan sub-lingkaran yang kecil saya tuliskan P.E.T.S. Sekian.

Apakah anak-anak itu mengerti? Ya, mereka sangat paham. Dan, saya puas dengan diagram venn kaku itu. Singkatnya, pets adalah hewan peliharaan dan pets adalah sub bagian dari animals yang jumlahnya lebih mendominasi dari pada pets. Sama seperti saya mengatakan bilangan kompleks itu lebih besar rangenya dari bilangan riil. Tiba saat latihan. Biasanya saya memang tidak pernah menyiapkan soal-soal latihan, karena soal-soal tersebut secara tiba-tiba muncul di otak. Biasanya soal-soal yang saya sajikan ditambah bumbu penyedap berupa jebakan. Bukan tanpa alasan, soal-soal yang diberikan agar mereka paham konsep, bukan cara/teknik. Ada satu soal yang cukup menjebak, jika tidak bisa dikatakan normal. Saya lupa persis soalnya seperti apa, tapi soal-soal yang saya berikan selalu pilihan ganda. Kenapa? Anak-anak suka pilihan ganda dari pada esai. Tidak percaya? Sila buktikan sendiri.

Pilihan gandanya memiliki 4 opsi. a.cat, b.lion, c.snake, dan d.ant, dengan pertanyaan, hewan manakah yang disebut pet? Rata-rata anak-anak perempuan memilih cat dan anak-anak lelaki memilih lion. Lagi-lagi, pikiran lelaki dan perempuan menempati kedudukan sebagai seorang feminim dan maskulin. Ada seorang anak yang bertanya. Saking penasarannya, ia maju kedepan setelah pilihan opsi lion dibuku latihannya saya salahkan. "Kenapa salah Kak Ayi? Kan lion hewan". Saya menjelaskan dengan setengah berpikir. Intinya saya menjelaskan padanya tentang hewan mana yang lebih dominan untuk kita jadikan sebagai spesifikasi pet. Bocah itu hanya ber "ow..." saja.

Sepulang dari tempat mengajar, saya berpikir keras. Sebenarnya tendensi apa yang bisa digunakan bahwa cat itu lebih dominan sebagai pet daripada hanya animal biasa. Bisa saja kan di dunia belahan lain, lion itu sebagai pet atau sebagai companion seperti rujukan kamus oxford. Tidak menutup kemungkinan pula snake itu menjadi pet. Atau hewan-hewan reptil lain juga predator alam yang sering kita liat sebagai hewan pemangsa mengerikan dan membuat otak kita mem-frame bahwa hewan-hewan mengerikan seperti yang terekam otak adalah hewan yang tidak layak disebut pets. Bahkan derajat sapi pun bisa lebih tinggi dari pada sekedar pets dan animals di India sana.

Ah..itulah uniknya anak-anak. Pikiran mereka belum terkontaminasi dengan dunia. Mereka berpikir melingkar dan menyeluruh. Itulah sebabnya otak mereka mampu berpikir optimal serta dapat menghafalkan berbagai benda-kata dalam waktu singkat. Anak-anak tidak ikut pusing memikirkan siapa yang menang dan kalah. Mereka hanya tau main. Jika berselisih pun, esoknya lupa. Anak-anak tidak lupa ikatan silaturahmi itu dengan menyalami gurunya. Meski selalu berebut salam untuk cepat pulang kerumah karena nanti malam harus mengaji di surau-surau. Anak-anak tidak pernah mengukur teman dari gulali, tapi mereka menghargai teman dengan kayuhan sepeda mini.


untuk: Jumadil Awwula, kelas 4 SD
More...